Miageta sangat ketakutan tetapi masih kuat di hatinya untuk berbicara. "Kamu kaya sekarang karena Dewi Fortuna masih berpihak kepadamu."
"Oh tidak. Tentu karena kami berusaha," ucap Via menyeringai dekat dengan wajah mereka berdua.
Via menoleh untuk melihat Harry. "Nanti jika dua orang ini masih muncul di sini, telepon polisi saja untuk menangkap mereka," ucapnya dengan dingin. Harry mengangguk.
Setelah mengatakan itu, Via berjalan masuk, Dion juga mengikutinya dari belakang. Di dalam, pelayan telah menyiapkan makanan di atas meja untuk dua orang. Banyak dari mereka yang heran melihat Via memakan semua hidangan tanpa sisa. Sementara Dion sudah tidak asing dengan kekuatan makannya Via, tetapi Harry untuk pertama kalinya melihat seorang gadis makan seperti itu. Mata mereka tidak berkedip sama sekali, mulut mereka masih menganga—terkejut dan tak percaya saat pertama kali melihat seorang gadis makan begitu banyak. Setelah selesai makan, Via berdiri dari kursinya.
"Aku mau mandi dulu," ucap Via kemudian berjalan ke kamar untuk mengambil handuk untuk mandi, Dion juga bangun dan berjalan ke kamar mereka.
Keesokan harinya di Christ Corporation, Via melangkah masuk, ia melihat bahwa Dion sedang mendiskusikan pekerjaannya dengan seseorang. Via mendekat ke sana, lalu ia terkejut, panik, dan membelalakkan matanya ketika ia melihat ada seorang gadis yang duduk di seberang kekasihnya.
Dion segera melihat ke arah Via. "Di sana ada kamar. Tunggu di kamar sebentar ya," ucap Dion kepada Via.
Via tidak mengatakan apa-apa dan dengan cepat masuk ke kamar dan menutup pintu. Via mengeluarkan telepon dan buru-buru menelepon temannya.
"Angel! Tahu tidak, siapa yang baru saja datang ke perusahaan Dion?" ucap Via dengan panik.
Angel yang sedang belajar menembak dengan Manda merasa bingung mendengar ucapan temannya.
"Siapa yang baru kamu temui? Siapa yang membuat kamu panik?"
"Jane. Dia Jane," Via berkata pelan, takut orang luar akan mendengarnya.
"Apa? Nama siapa yang baru saja kamu katakan? Jane? Ada apa dia ke sana?" Angel terkejut ketika ia mendengar nama ini. Ia bisa menebak bahwa penyihir itu sudah mendengar keberadaannya.
Manda juga menebak mereka telah mendengar keberadaan temannya di negara ini ketika mendengar nama itu disebut oleh Angel.
"Aku yakin dia ada maksud lain, bukankah dia kerabatnya Lianna? Kenapa coba dia ada di sini?" ucap Via.
"Aku tidak tahu, tapi pasti tidak ada hal baik setahuku jika dia datang ke sini, jadi penyihir Lianna menyuruhnya datang ke sini untuk meminta Dion membunuhku," ucap Angel dengan raut wajah kesal.
"Angel, yakinlah, mereka tidak akan berhasil membunuhmu di kota ini. Aku akan meminta Dion untuk menyelidiki apa tujuan dia datang ke sini? Jika benar seperti yang kita katakan, itu akan menunjukkan bahwa mereka menemukan orang yang salah. Saat itu ajal mereka telah tiba," ucap Via.
Via mendengar pintu terbuka dan buru-buru menutup teleponnya dan berpura-pura sedang memainkan ponselnya. Dion masuk dan melihatnya memainkan teleponnya, ia duduk di sebelahnya, tangannya ia lingkarkan di pinggang Via.
"Bagaimana jika kita memesan sebuah restoran agar datang ke sini untuk membawakan makanan?" canda Dion.
Via mendengar tentang ini, darahnya mendidih, mata Via menatapnya dengan tajam, serta giginya terkatup.
"Jangan coba-coba membicarakan ini di sini!" jawab Via kesal.
"Oh ya, gadis yang barusan ada di sini, ada keperluan apa?" tanya Via dengan santai. Dion mengangkat alisnya dan menatapnya dan tersenyum sedikit.
"Mengapa? Cemburu?" tanya Dion. Mendengar itu Via malah cemberut.
"Cemburu? Apa yang membuat aku cemburu? Begini, karena aku sudah pernah bertemu dengannya ketika aku bepergian ke La Ángel. Aku tahu dia adalah seorang bangsawan, jadi aku tanya kepadamu," ucap Via menjelaskan ia tidak menyembunyikan apa yang diketahuinya.
"Putri Lianna adalah anak tertua dalam keluarga mereka. Dia datang ke sini meminta saya untuk melindungi mereka ketika mereka datang ke sini. Mereka akan berkunjung ke negara kita, mereka tidak sepenuhnya mempercayai keamanan pemerintah sehingga mereka mengirim dia datang ke sini untuk bertemu denganku," jelas Dion. Via mengerutkan kening.
"Apakah maksudmu, mereka takut menghadapi teror? Takut akan pembunuhan?" tanya Via curiga. Dion mengangguk.
"Jadi kamu setuju atau tidak?" tanya Via sambil menyipitkan matanya. Dion mengangkat alisnya, dan menganggukkan kepalanya.
"Ya. Ini bagus untuk kedua belah pihak, kata mereka ketika aku menyetujui ini, aku bebas membeli salinan s*****a di negara mereka dan mereka bahkan akan membeli s*****a kami dengan harga tinggi. Ini terlalu disayangkan untuk tidak menyetujuinya," ucap Dion. Via menyeringai, matanya menatap dingin.
"Memang kamu beruntung saat ini," ucap Via kemudian berdiri.
"Bro, aku harus pergi ke Gedung Merpati Putih untuk pergi makan siang dengan teman-temanku," ucap Via kemudian segera meninggalkan perusahaan dan pergi dengan cepat ke Gedung Merpati Putih yang masih berada dalam satu kota itu—tidak terlalu jauh dari posisi Christ Corporation.
Angel melihat temannya datang, ia langsung berdiri dan bertanya. "Ada apa?" tanya Angel penasaran dengan yang terjadi pada Via tadi. Via bersandar di kursinya.
"Mereka ingin meminjam pisau untuk membunuh orang," jawab Via, wajahnya tampak serius. Manda mengerutkan kening, ia tampak bingung.
"Apa maksudmu? Pinjam pisau pembunuhan? Maksud dari pepatah itu bahwa mereka ingin Dion menyelidiki keberadaan Angel?" tanya Manda memastikan. Via menggelengkan kepalanya.
"Mereka akan datang ke sini dari luar negeri untuk berkunjung liburan tapi sebenarnya untuk membunuhmu, Angel. Mereka mengirim Jane ke sini untuk menemui Dion. Mereka takut dibunuh di sini, jadi mereka ingin meminta Macan Hitam untuk melindungi mereka, dan Dion setuju," ucap Via menjelaskan. Angel mengerutkan alisnya, ia masih tidak mengerti dengan jelas akan penjelasan Via barusan.
"Aku masih tidak mengerti maksudmu?" tanya Angel lagi. Via menjelaskan kepadanya.
"Menurut tebakanku, ketika mereka datang ke sini, mereka pasti akan melakukan sesuatu untuk membuatmu muncul karena mereka tahu, kamu adalah orang yang merasa tidak aman berada di kota ini. Tidak ada yang tahu kalau kamu adalah seorang putri. Jadi ketika kamu muncul mereka akan mengatakan bahwa kamu ingin membunuh mereka. Orang-orang dari Macan Hitam pasti akan membunuhmu untuk melindungi mereka. Itulah mengapa pada saat mereka datang ke sini, kamu sama sekali tidak boleh mengungkapkan keberadaanmu, kamu harus sembunyi."
Angel mengangguk dengan wajah serius, Via memikirkan hal lain dan melanjutkan penjelasannya.
"Kecuali dari agen rahasia pemerintahan yang melindungimu, aku akan memberitahu Dion agar meminta orang-orang dari anggota BIN untuk bertanggung jawab melindungimu."
"Apakah dia akan setuju dengan permintaanmu?" tanya Manda sambil mengerutkan kening. Pertanyaan Manda membuat Via khawatir. Via tertawa untuk menutupi kegugupannya. Ketika ia tertawa, Angel meletakkan lengannya di bahunya Via sambil terkekeh.
"Hm …. Apakah kamu menyukai Dion?" tanya Angel. Via menanggapi dengan tegas ketika ia mendengar bahwa Angel begitu gamblang bertanya penuh curiga.
"Apa yang kamu bicarakan? Via tidak mungkin begitu," ucap Manda yang masih memiliki prasangka buruk terhadap Dion, jadi ia masih tidak percaya bahwa Via menyukainya. Manda mengatakan bahwa ia tidak terlalu menyukai ucapan Angel. Angel cemberut dan mengangkat alis untuk menatap Via.
"Anda tidak bisa menipu saya, mata saya mengatakan bahwa Anda sangat mencintai pria yang kaku itu, saya mungkin tidak mengenali pria itu tapi saya bisa langsung tahu," ucap Angel menatap mata temannya. Via merasa bahwa menyangkal dan menyembunyikan sesuatu bukanlah sifatnya sehingga ia harus mengakui semuanya.
"Sedikit," jawab Via pelan.