Namun, sayangnya tangan pria c***l itu tidak ditakdirkan untuk merangkak pada d**a para gadis itu.
"Patahkan!" teriak Manda. Via dan Manda, masing-masing meraih lengannya dan memukul tangan pria itu dengan keras.
Di dalam ruang VIP, Andreas yang berdiri di samping Dion, ia mengatakan sesuatu. "Tuan! Nona Besar ada di sini dan dalam masalah."
Dion mengerutkan kening dan bangkit, langsung berjalan keluar, Ming Chandra, Lilac, Sinclair, dan Arion juga bangun dan berjalan keluar untuk menonton kesenangan itu. Berdiri dari kejauhan, di mata mereka, mereka melihat dua gadis dikelilingi oleh kerumunan pria yang ganas.
"Baiklah," ucap Manda tersenyum, senyumannya membuat orang lain ketakutan—terlalu ngeri, dalam sekejap, mata pedang dibelah di kepala pria itu dan rekan-rekannya, mereka ketakutan dan gemetar.
Manda dan Via, masing-masing dari mereka, menjatuhkan pria c***l itu ke tanah. Tiba-tiba Prof. Laurent memegang lengan Via—menghentikan mereka untuk menghakimi pria c***l itu. Gadis itu mengangkat wajahnya, profesor itu tersenyum padanya. Kemudian penuh dengan kekejaman, menakutkan, dan suara dingin yang aneh ia meminta kepada Via dan Manda.
"Tidak! Jangan habisi dia, aku bisa menjadikannya sebagai kelinci percobaan bagiku."
Ketika pria c***l itu mendengar kata-kata Prof. Laurent, ia gemetar ketakutan, semua orang tahu betapa menakutkannya dia. Mereka lebih suka meminta ampun pada Manda daripada mengaku bersalah kepada Via. Karena Via tahu bagaimana cara menyiksa orang lain.
Via menggunakan sepatu tajamnya untuk menendang keras tangan pria itu lalu pergi, Manda juga pergi bersamanya. Via dan Manda tahu bagaimana cara menghalangi tindakan Prof. Laurent. Mereka pergi untuk membiarkan pria yang sudah babak belur oleh mereka itu juga pergi. Prof. Laurent mencoba mengejar mereka tetapi bayangan mereka menghilang dari hadapannya. Namun, anak buah Manda tidak akan sudi membiarkan pria c***l itu kabur, itu adalah tugas mereka untuk menyelesaikannya dan membawanya ke ruang rahasia milik bossnya.
Via mengendarai mobilnya kembali ke mansion. Ia melangkah ke kamar tidurnya. Ada sesuatu yang tidak beres di kamarnya.
"Kenapa ada barang milik Dion di kamarku?" gumam Via. Ia segera berjalan ke lemari, membuka pintunya, dan di lemari pakaiannya seperti disulap menjadi barnya sendiri. Sudah tersusun rapi berbagai jenis minuman di sana.
"Apa yang terjadi?" Via berbicara sendiri.
Setelah beberapa saat, Dion kembali pulang dan berjalan ke kamar Via. Ia membuka pintu dan langsung duduk di sofa dengan kaki bersilang, wajahnya penuh amarah, sorot matanya tajam seperti peluru yang siap menembus kepalanya saat pria itu menatapnya. Via mengetahui apa yang membuatnya marah.
"Ada apa? Apakah kamu menunggu aku kembali? Sudah berubah pikiran untuk menghangatkan tempat tidur kita?" ucap Dion santai. Via sangat marah sekaligus tersipu, ia menggertakkan gigi sampai terdengar oleh Dion.
"DION! Kenapa pakaian dan barang-barangmu ada di kamarku?"
"Aku tidak melakukannya, kamarmu adalah kamarku, aku hanya memindahkan barangku ke kamar ini," ucap Dion kemudian pergi ke lemari. Ia mengambil pakaiannya dan berjalan ke kamar mandi.
Via benci atas kelakuan pria itu, andai saja jika ia bisa memotong pria itu menjadi lembaran-lembaran kertas kecil, pasti sudah dilakukannya. Setelah beberapa saat Dion berjalan keluar dari kamar mandi, sementara wajah Via masih saja ditekuk sedari tadi. Pria itu tertawa dan menyeretnya ke tempat tidur.
"Sudah marahnya, waktunya tidur," ucap Dion dengan suara lembut dan memeluk gadis itu. Via terkejut mendengar suara lembutnya ini, untuk pertama kalinya ada seorang pria yang berbicara dengan begitu lembut padanya.
***
Keesokan paginya, Via bangun dan secara diam-diam ia pergi ke kamar mandi, agar harimau itu tidak terbangun dari tidurnya.
Saat harimau itu masih tidur, Via duduk di depan meja rias untuk mengoleskan sedikit make up ke wajahnya, dan tiba-tiba dari belakang sebuah suara yang berat terdengar di telinga Via.
"Apakah kamu akan merawat pria tadi malam? Atau membunuhnya?" Dion bertanya. Via berbalik dan tersenyum kepadanya.
"Dapat dianggap bahwa sebelum mati, dia harus mati, dia harus menderita sedikit kesakitan," ucap Via dengan lembut sambil tersenyum. Dion tertawa, kata-katanya lembut tapi sangat kejam.
"Saya seorang dokter. Tugas dokter adalah menyelamatkan orang. Aku bisa menyelamatkan orang tapi juga membunuh orang. Selama orang itu memata-mataiku, aku tidak akan menyesali uang mereka untuk bertemu Raja Neraka yang pertama."
Dion setuju dengannya, kata-kata yang sangat kejam.
"Jadi, jika saya menyebabkan Anda kehilangan nyawa Anda juga akan memberi saya uang?" tanya Dion sambil tertawa.
"Mungkin," Via berkata sedikit jujur sambil bercanda. Dion tertawa ringan di tempat tidur. Kemudian mengambil pakaian sebelum pergi ke kamar mandi, ia menoleh ke arah wanitanya.
"Sarapan dulu sebelum pergi," perintahnya. Via turun ke lantai bawah kemudian duduk di meja makan. Dengan perasaan yang tak terlukiskan, Via menunggu pria itu untuk sarapan bersama.
Dion berjalan menuruni anak tangga, kemudian duduk di meja makan, makanan sudah disajikan. Dion menatapnya dengan lembut dan penuh perhatian.
"Kamu bersamaku di sini dan tidak bekerja, apakah keluargamu tidak khawatir?" tanya Dion tentang keluarga Via. Raut wajah dan sorot mata Via segera berubah ketika menyangkut keluarga.
"Khawatir?" batin Via. Ia merasa sangat sedih ketika mendengar kata khawatir ini.
"Aku menjadi mandiri sejak usia muda, mereka selalu percaya padaku tanpa khawatir," ucap Via sambil memberikan senyuman palsu.
Dion sedikit mengernyit padanya dan tidak mengatakan apa-apa, ia bisa melihat dari sorot mata yang dipenuhi dengan kebencian dan kemarahan ketika ia menyebutkan tentang keluarganya. Gadis itu juga menepiskan senyuman terpaksa, tetapi kemudian pria itu tidak bertanya lagi padanya.
***
Via baru saja turun dari mobil, segera ia menggiring anjingnya ke sebuah ruang rahasia, yang merupakan tempat p********n—markas penghakiman Merpati Putih untuk para musuh dan bawahan yang membangkang. Berjalan memasuki markas itu, penuh kegembiraan di dalam hatinya dan maniak yang luar biasa, semua bawahan membungkuk kepadanya. Manda juga ada di sana menunggunya untuk menyambut kedatangannya. Dengan senang hati Manda memberikan sebuah papan nama kepada Via dan menunjuk ke arah orang itu. Nama itu bersalah pada mereka berdua malam itu.
Orang itu bisa melihat mata amarah yang sangat berdarah milik Via, seperti iblis yang sedang melihatnya.
Binatang rayap yang bisa menghisap darah yang sangat mengerikan. Itulah s*****a mereka dalam memberi p********n. Via mengeluarkan botol kaca dari dalam tasnya yang berisi cairan berwarna merah darah. Manda dan bawahannya di sana melihat Via mengeluarkan botol kaca tersebut, mereka kemudian menelan saliva dan bergidik ngeri. Mungkin saja, Via tersenyum pada pria itu, senyuman itu membuat orang itu merasa kematian sudah mendekatinya.
"Tidak apa-apa! Ini yang baru saja saya buat, tidak terlalu berbahaya, tidak perlu khawatir," ucap Via kemudian ia meremas mulut pria itu. Ia menuangkan cairan merah ke mulut pria itu, dituangkannya dengan sangat teliti sehingga cairan merah tidak akan keluar bahkan untuk sedikit saja. Cairan itu tertelan dan mengalir dalam tubuhnya.
Hanya dalam sekejap, pria itu terbaring di tanah dalam kesakitan dan penderitaan yang luar biasa. Manda memandangnya sedikit ketakutan, meski melihat seperti itu berkali-kali, tetapi ia tetap tak bisa menghindari keringat dingin dan menggigil seperti yang ia rasakan sekarang.
"Via, dengan memberikan cairan itu akan membuat orang lain menderita kesakitan?" tanya Manda. Via melangkah mendekati temannya.
"Kamu akan tahu hanya dengan menontonnya," jawab Via santai.
Di tubuh lelaki itu tiba-tiba muncul banyak larva rayap yang keluar dari mata, hidung, mulut, di telinganya, belatung merayap keluar dalam jumlah yang sangat banyak—mengerikan. Melihat itu Manda merasa mual, tangannya terkatup di mulutnya. Para bawahan di sana melihat itu penuh keringat dingin, gemetar tak menentu meski orang itu bukan mereka.