CHAPTER 7

1115 Kata
Via mengusap perutnya kemudian berdiri dari tempat duduknya. Dion menatap perut gadis itu heran. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil Dion. "Kita mau jalan dulu atau langsung pulang?" tanya Via kepada Dion yang masih memikirkan pemandangan tadi. Dion masih menatap Via heran. "Sekarang Anda tahu poin lain dari saya," ucap Via sambil tertawa. Dion menatapnya penuh dengan kecurigaan. "Perutmu terbuat dari apa?" tanya Dion. Via tertawa, ia melihat ekspresi wajahnya Dion sangat lucu, bahkan ketika pria itu melihat ke arahnya, Via pasti tertawa terpingkal-pingkal. *** Di malam hari, di sebuah bar, di ruang VIP, asap vape memenuhi ruangan, lima pria tampan dengan aura dinginnya seakan memenuhi seluruh ruangan. Masing-masing pria itu selain memiliki aura dingin, mereka memiliki aura positif yang lebih, pada diri mereka. Hingga kini mereka adalah pria lajang dengan kekayaan yang luar biasa tentunya pria yang diimpikan semua gadis. Lilac bersandar di kursinya sambil sesekali menghisap vape-nya. "Apakah karena Via memiliki beberapa kesamaan dengan Grace, salah satunya pekerjaannya, jadi kamu merasa nyaman di sampingnya?" tanya Lilac kepada temannya. Dion yang baru saja mendengar nama Grace disebut, wajahnya tampak sendu, sorot matanya agak sedih. “Benar! Memang benar bahwa pada awalnya ketika aku melihatnya sebelum pingsan malam itu, aku merasa dia seperti Grace. Tapi bukan hanya karena itu saja, terutama karena aku melihat tingkahnya, lidahnya begitu tajam sehingga bersamanya membuatku begitu bersemangat." Arion—pria keren yang sangat licik itu tertawa mendengar kejujuran Dion. Lantas ia menanyakan sesuatu yang sering para pria itu pikirkan. "Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah mencicipinya tadi malam?" tanya Arion. Wajah Dion tampak kaku, ia sedikit malu untuk menjawab. "Belum," jawab Dion singkat dengan wajah sendu. Arion, Ming Chandra, Sinclair, dan Lilac sangat terkejut mendengar ia berkata bahwa ia belum memakan gadis itu. Sinclair tidak percaya bahwa ia tidak memakannya. "Apakah kamu bercanda? Aku tidak percaya, dia cantik dan tubuhnya seksi mana mungkin kamu tidak memakannya?" Dion tertawa terbahak-bahak, sesekali ia memasukkan vape ke mulutnya dan menarik sedikit isapan dari benda tersebut. "Aku diabaikan olehnya," ucap Dion sambil tertawa. Ketika Ming Chandra mendengarkan kata-katanya, rasanya ia ingin menenggak semua anggur ke mulutnya. "Aku mengira aku yang salah dengar," ucap Ming Chandra. "Hebat! Dia menolakmu? Kamu juga melepaskan?" tanya Ming Chandra lagi. Kian ditanya, kian Dion merasa kehilangan muka, pertama kali ia ditolak wanita dengan cara yang begitu tragis. "Dia menolak, dia bilang dia hanya setuju menjadi wanitaku, bukan mengatakan dia setuju akan jadi teman tidurku. Aku juga tidak mengatakan itu kepadanya, lagi pula aku bukan tipe orang yang suka memaksa orang lain." Mereka berempat mendengar pria itu berkata, mereka tidak bisa menahan tawanya, Dion juga menertawakan dirinya sendiri. "Kalian tidak tahu dia benar-benar memiliki lebih banyak poin pembicaraan daripada orang biasa." Sinclair mengangkat alis, dengan penasaran ia bertanya. "Apa poin yang menonjol?" Dion segera memberi tahu keempat saudara laki-lakinya. "Dia memiliki hidung yang bisa didengar dan bisa membedakan banyak bau, dari kejauhan dia bisa menciumnya, ada satu hal lain yang harus kalian tahu bahwa kekuatan makannya sangat luar biasa, meja makan yang memungkinkan empat atau lima orang untuk makan, bersih dalam sekejap oleh dia." "Apakah hidungnya lebih tajam daripada anjing? Kamu harus hati-hati suatu hari nanti, mengerikan," Arion tertawa terbahak-bahak. *** Di luar, ada dua gadis masuk ke bar, keduanya memancarkan aura dingin tetapi sebenarnya sangat hangat. Manda, dingin seperti es di luar, tetapi di dalam ia senang berteman dengan siapa saja. Datang ke bar sangat menyenangkan bagi Manda, tetapi untuk Via, ia kurang suka datang ke bar, tempat ini terlalu keras, bau alkohol yang menyengat mengalir di hidungnya membuatnya merasa tidak nyaman, dan ada juga bau parfum. Banyak bau campur aduk membuatnya merasa mual. ​​Kedua gadis itu duduk di kursi bar. "Sebotol wiski, koktail Negroni," ucap Manda kepada bartender. Via mengerutkan kening dan memandang Manda heran. "Apa kamu akan menghabiskan sebotol wiski?" tanya Via. Manda tersenyum lebar dan meletakkan tangannya di kepala Via kemudian mengelus rambut temannya. "Jika aku mabuk, maka ada seseorang yang akan menyetir dan mengantarku pulang," ucap Manda. Via menyeringai. "Ya, Jika kamu seberani itu, aku akan mengantarmu pulang," ucap Via. Manda melihat senyumannya yang aneh, ia segera meminum segelas koktail. Kemudian meletakkan tangannya kembali ke bawah, yang awalnya tadi berada di kepala sahabatnya—bermaksud untuk menggoda temannya. Namun, ketika ia mendengar bahwa Via ingin membawanya pulang, ia ketakutan. Tidak pernah terlupakan dari isi kepalanya, perasaannya ketika berada di dalam mobil Via, mobil itu bak berlari seperti roket yang berputar di jalanan, membuatnya pusing, mual, perutnya seperti dibolak-balik ketika dibawa oleh gadis pembalap itu. "Tidak perlu Nona! Kamu juga tahu. Sebotol wiski itu tidak mampu membuatku mabuk," ucap Manda dengan cepat. Setelah itu pelayan juga membawa anggur dan koktail ke meja mereka, melihat pesanan Manda datang, Via tertawa terbahak-bahak. "Apa sekarang kamu tidak tahu apa yang kamu minum?" ucap Via sambil tertawa. Manda tiba-tiba mengatakan sesuatu yang remeh kepadanya. "Ah benar. Kamu harus mencobanya," ucap Manda. Tiba-tiba Via menjadi sangat kaku, ia diam mematung tidak berani berbicara setelah melihat pria kejam ada di belakang Manda. "Bagus! Besok saya akan datang untuk bereksperimen sebentar dengan Anda tanpa ada orang yang menjalankan eksperimen juga. Tahukah Anda bagaimana cara membuat Anda agar tidak bosan? Tim baru saja membuat obat yang sangat bagus, besok Anda mungkin bisa mencoba obat itu secara gratis," ucap Prof. Laurent menggoda Manda. Ketika Manda melihat beberapa wajah sangar lainnya, merinding di sekujur tubuhnya, muncul ketakutan. Ia tidak tahu persis seperti apa percobaan Prof. Laurent yang mematikan dan banyak manusia yang menjadi kelinci percobaannya—meninggal dengan cara yang menakutkan dan menjijikkan. Prof. Laurent memiliki laboratorium rahasianya sendiri—di dalamnya yang penuh dengan eksperimen jahat dan menakutkan. "Dasar c***l!" teriak Manda kepada pria itu. Tiba-tiba hidung Via mengendus bau sesuatu. "Geng itu! Aku mencium bau yang sangat familier," ucap Via kepada Manda sambil mengerutkan keningnya. "Bau apa?" tanya Manda bingung. Via mencoba mengingat aroma feromon yang familier itu. "Itu adalah aroma Dion dan keempat temannya adalah Ming Chandra, Arion, Sinclair, dan Lilac. Tiga aroma lagi milik Andreas, Evans dan Harry, bawahannya Dion yang kuat," jelas Via. Manda yang mendengarnya berkata begitu, semakin ia mengerutkan kening, nama-nama yang baru saja Via katakan adalah semua orang dengan darah di jalur hitam dan putih, kedalaman yang menakutkan dan tak terduga adalah orang yang sangat berbahaya. Manda benar-benar tidak menyangka bahwa hanya dalam waktu yang singkat sahabatnya itu mengenal orang-orang tersebut, semakin ia khawatir dengan Via, bahaya yang mengintai di belakang temannya. Manda mulai dalam keadaan linglung, tiba-tiba di pundak Manda, ada tangan yang besar berada di pundaknya. Di pundak Via juga ada tangan itu, keduanya menoleh untuk melihat ke depan. Siapa pria dengan senyuman jahat itu, mulut busuknya mengeluarkan kata-kata. "Bisakah aku mengenal kalian berdua?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN