"Kamu keluar sekarang!" Dion berkata dengan suara dingin dan menakutkan kepada gadis yang tidak diketahui namanya itu. Gadis itu tahu jika ia mengatakan seperti itu berarti pria itu benar-benar sudah memberikan titahnya untuk tak boleh di bantah. Namun gadis itu berpikir bahwa yang disuruh keluar bukanlah dirinya melainkan gadis yang ada di depan mereka—Via. Gadis asing itu mencoba merangkul lengan Dion dengan manja.
"Ah … Dion," rayunya kepada Dion sambil sedikit mendesah terhadap pria itu. Dion memelototinya, sorot matanya yang tajam seperti ingin membunuh orang.
"Keluar!" seru Dion dengan suara yang menggelegar. Gadis asing itu terkejut, dengan cepat ia berpakaian dan dengan cepat pula ia melangkah pergi, sekretaris Dion juga ikut keluar. Dion kembali ke kursi kerjanya dan menatap wanitanya.
“Ada perlu apa kamu ke sini?” tanya Dion kepada Via. Gadis itu masih memegang sapu tangan di hidungnya.
“Aku hanya ingin tahu bagaimana kamu melakukannya,” ucap Via dengan santai. Dion tiba-tiba menoleh ke arah Harry.
"Mengapa Anda biarkan mereka berdua datang secara bersamaan ke sini?" bisik Dion kepada anak buahnya.
"Karena saya melihatnya di lobi, dia tahu tentang Macan Hitam, jadi saya membawanya ke sini," jawab Harry dengan sopan.
Via masih mencium bau menjijikkan itu meski hidungnya di balik sapu tangan tersebut, ia meletakkan saja sapu tangan itu ke dalam tasnya, dan mencoba mencium sesuatu, ada hiasan bunga Edelweis kering di sana, lantas ia mencium benda itu.
"Lukamu masih belum pulih betul, makanan dan minuman diperhatikan, jangan makan terlalu banyak lemak, dan jangan terlalu banyak gerak," ucap Via sambil menatap wajah Dion.
"Baik Vialetta-ku, jangan terlalu khawatir," jawab Dion dengan santai.
Harry panik ketika ia mendengar bahwa atasannya terluka, ia selama ini berada di USA untuk menangani beberapa pekerjaan yang ditugaskan Dion kepadanya, jadi ketika Dion terluka, ia sama sekali tidak mengetahuinya karena Dion sendiri yang memblokir akses berita tentang dirinya yang terluka supaya tidak terpublikasi.
"Tuan? Tuan terluka? Coba saya lihat luka Anda Tuan?" Harry panik sambil hendak memeriksa tubuh boss-nya. Ia memegang lengan Dion sambil melihatnya ke depan dan ke belakang.
"Jangan bergelayut seperti itu, saya bukan seorang artis terkenal, dan Anda bukan dokter saya, jadi tidak perlu memeriksa saya seperti itu," Dion dengan tubuh yang masih lemah itu menolak permintaan Harry. Harry menyipitkan matanya pada Via sambil seolah-olah memikirkan sesuatu.
"Vialetta? Apakah Anda seorang dokter yang terkenal itu?" tanya Harry sambil mengerutkan kening.
"Kalian berdua sudah saling mengenal?" tanya Harry lagi sambil menatap heran ke arah kedua orang di sana.
"Oke oke, benar saya orangnya, senang bertemu denganmu," ucap Via sambil tersenyum tipis. Mendengar itu Harry membuka lebar matanya.
"Vialetta? Serius, Anda adalah Dokter Via? Seseorang yang selalu aku kagumi, dia idolaku? Oh Tuhan," ucap Harry masih tak menyangka bila ia kini sedang berhadapan dengan idolanya.
Harry menggerakkan bibirnya pelan, ia melihat gadis itu untuk memastikannya sekali lagi. "Anda benar-benar Dokter Via? Tuan apa Anda tahu dia artis terkenal?"
Via mengangguk pelan, pemuda itu tak menyangka bisa bertemu gadis secantik Dokter Via sekaligus juga seorang pemimpin hebat di arena balap. Harry menatap curiga kepada atasannya, ada rasa ingin tahu yang kuat dalam dirinya.
"Tuan, Dokter Via adalah—" ucapan Harry terpotong, karena Dion sudah menunjukkan wajah dingin terhadapnya.
"Ini wanitaku," jawab Dion dengan cepat. Harry begitu terkejut, ia menoleh untuk melihat Dokter Via dari ujung kepala hingga ujung kaki gadis itu.
"Memiliki kemiripan dengan gadis itu, apakah Tuan menyukai tubuhnya karena masih cinta pada gadis itu?" gumam Harry pelan, tetapi terdengar oleh atasannya. Dion menatap Harry dengan sorot mata tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Dion dengan tegas. Harry menggelengkan kepalanya panik, kenapa ia berani berpendapat seperti itu, apakah ia ingin membangunkan harimau yang sedang tertidur.
"Tidak Tuan," jawab Harry dengan cepat.
"Pergilah!" perintah Dion dengan ekspresi dingin sedingin es yang bisa membekukan orang lain. Harry berjalan dengan kaku keluar ruangan, dengan hati-hati ia menutup pintu.
"Kemarilah," ajak Dion kepada Via dengan suaranya yang terdengar dingin, tetapi ada kelembutan.
Via mendekat ke Dion, ia ditarik ke pangkuannya dan duduk di atas pangkuannya, pria itu meletakkan kepalanya di leher wanitanya, terus-menerus ia menghirup aroma di tubuh wanitanya.
"Mengapa kamu tahu bahwa aku suka memakan para gadis?" tanya Dion dengan lembut. Via menoleh untuk menatapnya, kemudian ia mengedipkan matanya pelan.
"Kamu ingin tahu, mengapa?" tanya Via. Dion mengangguk sambil menatapnya.
"Sebenarnya hidungku berbeda dari orang biasa, kamu bisa membandingkan hidungku seperti hidung anjing," jawab Via jujur, ia juga tidak menyembunyikan kelebihannya. Mendengar ucapan Via, Dion tertawa. "Hidung anjing?" batinnya. Dalam hatinya ia masih ragu, dan ia tidak percaya akan kata-kata Via.
"Aku bertanya padamu, apakah gadis-gadis itu datang ke sini untuk merayumu, kamu tidak pernah merasa rugi sedikit pun, kan?" ucap Via. Dion menyipitkan matanya, seolah-olah apa yang Via katakan itu semuanya benar. Via mengerti dengan ekspresi Dion tentang membenarkan ucapan Via.
“Kamu hanya akan melakukannya ketika dia mengikuti semua kemauanmu, kan?” tebak Via lagi. Dion mengangguk sambil berkedip kepadanya.
“Mengapa kamu mengetahui semuanya?" tanya Dion bingung. Via tertawa.
"Itu karena aroma parfum di tubuhnya menempel pada tubuhmu. Aku juga dengar kamu sering melakukan hal ini di kantor sebelumnya, jadi untuk mengambil alih posisi presiden direktur, kamu hanya perlu mengandalkan mereka," ucap Via. Dion menunjukkan senyum jahatnya kemudian ia mencium gadis itu.
"Sepertinya kamu juga mengamatiku dengan sangat hati-hati?" tanya Via sambil tersenyum.
"Tentu saja, siapa pun yang berhubungan dengan saya meskipun mereka hanya tahu sedikit saja, saya harus menemukan mereka supaya mereka mengerti dan berhati-hati untuk menghindari bahaya." Dion menunjukkan tatapan penuh kasih di matanya, ia mencubit hidung wanitanya.
"Kamu juga tahu bahwa hidungku memiliki kemampuan khusus jadi aku harap kamu tidak melakukan hal-hal itu di depanku, jika kamu melakukannya, tolong menjauhlah dariku, aku tidak bisa mencium aroma itu—merusak hidungku," Via dengan lembut mengingatkannya tentang hal-hal untuk dihindari Dion karena gadis itu merasa tidak nyaman. Dion tiba-tiba tersenyum menyeringai terhadapnya.
"Jika saya berhasil memastikan Anda tidak mendapat masalah, apa imbalannya untukku?" tanya Dion sambil menunjukkan senyuman liciknya. Pipi Via merah merona, ia merasa malu, ia berdiri dan membelalakkan mata ke arah pria itu.
Dion melihat ekspresi wajah Via, ia tidak bisa menahan tawanya. Via mengeluarkan taringnya kepada pria licik itu.
"Apa yang kamu tertawakan? Itu benar! Aku ingin kamu mengganti rugi kerusakan hidungku karena bau wanita itu. Aku lapar!" teriak Via. Dion mendekat dan memeluk pinggangnya.
"Oke, ayo kita pergi makan," Dion setuju untuk menemani Via makan. Dalam hati Via, ia tertawa nakal penuh kelicikan.
"Kali ini aku menemaninya makan, dia pasti akan mencintaiku," batin Dion.
Dion memeluk pinggangnya dan turun ke lobi, semua orang menatap mereka berdua, semua orang mengira ia telah berganti pacar lagi. Mereka masuk ke mobil Dion, mereka pergi ke restoran.
"Aku menyuruh supir untuk mengambil mobilku di kantormu," ucap Via dan Dion mengangguk. Kemudian mereka tiba di restoran.
"Kamu pasti bawa uang, kan?" tanya Via sambil tersenyum menyeringai. Dion bingung dengan pertanyaan Via kemudian menatap ke arahnya.
"Hanya untuk makan saja biayanya tidak perlu dipikirkan."
Dion membukakan pintu mobil untuk wanitanya, dan menggenggam tangan Via untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang bisa dikatakan sangat mewah. Pelayan mempersilakan mereka untuk memilih menu apa yang ingin dipesan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Dion kepada Via. Gadis itu membaca buku menu sambil tersenyum. Ia memilih semua menu makanan yang ingin dimakannya.
"Ini! Ini! Ini! Ini! Ini juga! Dan yang ini ..." Via memilih menu-menu itu, bahkan bisa dikatakan semua menu yang ada di restoran itu ia pesan semua untuknya. Dion memandangnya heran, ia mengerutkan alisnya.
"Apakah kamu bisa menghabiskannya, mengapa pesan semuanya?" tanya Dion heran.
"Sebentar lagi kamu akan tahu apakah aku bisa menghabiskannya atau tidak," ucap Via sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat, semua hidangan disajikan dan ia dengan cepat memakan setiap hidangan, untuk sementara Dion benar-benar hanya diam mematung melihat pemandangan di depannya, ia hanya bisa menelan saliva.
Seketika meja yang tadi penuh dengan makanan dan kini tidak ada yang tersisa di sana, padahal Dion hanya bisa makan sedikit menu makanan, Dion benar-benar tidak bisa mempercayai penglihatannya. Gadis kecil dengan tubuh standar seperti itu memiliki nafsu makan yang luar biasa, seluruh makanan di meja makan bisa dikatakan cukup untuk makanan lima orang, tetapi Via bisa makan semuanya sendiri, dan untungnya Dion punya banyak uang untuk membayar menu yang Via pesan hari ini.