Sudah tiga hari ujian semester ganjil berlangsung. Dan sudah tiga hari juga Kristi tidak main ke rooftopnya Amal. Kristi jadi kangen sama rooftopnya bukan Amalnya. Setelah belajar untuk ujian besok, Kristi menutup buku paketnya dan akan belajar lagi nanti sebelum tidur. Ia menatap keluar jendela tepatnya ke rooftop rumah Amal. Pas sekali hari ini jingganya langit sedang cantik-cantiknya.
Kristi pun menghidupkan daya ponselnya yang sengaja ia matikan saat belajar supaya ia bisa lebih fokus, lalu ia mengirim chat pada Amal.
To Amal : Amal, lo lagi apa?
From Amal : Kenapa? Kangen ya?
To Amal : Gue kangen rooftop rumah lo, bukan kangen elo.
From Amal : Kenapa sih gengsi banget cuma buat bilang kangen, heran. Yaudah sini ke rooftop, gue juga lagi di sini
To Amal : Okey
Setelahnya, Kristi bergegas keluar kamar. Ia menuju dapur terlebih dahulu untuk mengambil se-mug besar jus alpukat lalu memindahkannya ke dua gelas plastik. Setelahnya Kristi pun bergegas ke rumah Amal.
"Sore Tante," sapa Kristi saat membuka pintu toko Dekava's Flower.
Mama Amal sedang sibuk menata bunga di pot-pot besar, menoleh pada Kristi seraya tersenyum.
"Sore juga Kristi, cari Amal ya? Ada tuh di atas."
"Iya tante. Kalau gitu aku ke atas dulu." Sehabis itu, Kristi pun menaiki anak tangga yang berada di sudut toko. Ia terus naik hingga sampai pada pintu menuju rooftop.
Saat membuka pintu rooftop Kristi dibuat berseru-seru kagum dengan tampilan rooftop yang lebih berwarna. Karna lantai semen rooftop juga digambari lukisan abstrak yang masih seperempat jadi. Agaknya Amal sang seniman masih mencari referensi untuk gambar pada lantai rooftopnya.
"Amal lo keren banget!!! Suer gak boong!!"
"Apa sih Kris? Lo berisik banget!"
Di sofa segitiga, Amal duduk sembari menunduk menekuni ponselnya. Terdengar suara cewek dengan bahasa inggris bilang, "one kill, double kill..."
"Game mulu, gak belajar Mal?" Kristi pun duduk di sofa segitiga sebelah Amal. Ia mendekatkan gelas plastik ke Amal dan menyelipkan ujung sedotan pada bibir cowok itu.
"Gue udah belajar Kristi. Sekarang waktunya main game." Amal menaruh ponselnya, karena jus alpukat yang dibawa Kristi lebih menggugah selera.
"Lo belajarnya kapan?"
"Tadi."
"Kok gue gak liat."
"Lo kan abis pulang ujian di rumah mulu, mana bisa liat gue belajar."
"Hehe, oh iya ya."
Dalam sekejap, jus alupakat dalam gelas plastik yang Amal sedot sudah habis. Cowok itu pun kembali dengan game di ponselnya. "Thanks ya Kris, jus alupkatnya."
Kristi melirik Amal yang kembali asik di dunia gamenya. Ia pun lalu menjatuhkan kepala ke sandaran sofa segitiga dan memandang langit senja. Seketika jiwa milenialnya tergugah untuk memposting sesuatu di instastorynya.
Kristi mengarahkan kamera ke langit dan mencari posisi yang tepat untuk ia potret, hingga siluet Amal yang sedang menunduk dengan background langit jingga tampak sangat keren. Alhasil Kristi pun memotret Amal.
"Wah! Kerennn!" seru Kristi spontan. Ia menunjukkan foto itu pada Amal, dan direspon Amal dengan gumaman. Kemudian Kristi langsung saja mengunggah foto itu ke instastorynya dengan tambah caption, senja dan Amal, serta tak lupa mentag akun sosial media cowok itu.
Setelahnya, Kristi mengganti akun dengan akun yang ia gunakan untuk stalking. Langsung saja ia mendapati instastory baru dari mantannya Raka. Di postingan pertama, gadis itu memotret gelas kopi, di postingan kedua gadis itu memotret langit jingga disertai caption, you will comeback to me.
Refleks saja Kristi berujar, "Dih pede banget lu."
"Apaan Kris?" Amal malah balas menyahut.
"Eh gak ada Mal, ini orang pede banget soalnya."
"Ohh..."
Untungnya, Amal sedang sibuk dengan gamenya. Cowok itu biasanya cerewet mengenai apa pun yang Kristi lakukan. Kristi sangant berterimakasih dengan game itu.
Kembali ke mantannya Raka, setelah hari pendaftaran diputuskan jadwal les akan dimulai setelah libur semester ganjil. Setelah berhari-hari, hasil dari stalkingnya Rara dan Kristi mereka mendapatkan nama gadis itu adalah Amelia. Dia sekolah di sekolah swasta yang terkenal di kota ini.
Amelia Sudah memiliki pacar bernama Cakra. Mereka baru berpacaran selama dua bulan, ini Rara ketahui karna ada satu caption Amelia yang menampilkan tanggal jadian mereka. Cakra satu sekolah juga dengan Amelia. Lalu, awal dekat Amelia dengan Raka diperkirakan bermula satu bulan yang lalu, saat Raka les di tempat les yang sama dengan Amelia. Jadi, awalnya Amelia duluan yang les di sana, ini Rara ketahui dari salah satu postingan highlight Amelia yang menampilkan lembar pendaftaran les.
Lalu melihat kedekatan mereka sampai pergi ke toko buku bersama, Rara dan Kristi yakin kalau Amelia belum move on dari Raka. Sebab, melihat reaksi Raka yang biasa saja saat Dina, Kristi dan Rara les di tempatnya les maka dipastikan kalau Raka sama sekali belum tergoda untuk kembali pada mantannya itu. Mungkin nanti saat di tempat les, Rara dan Kristi akan lebih tahu siapa sebenarnya mantan Raka itu.
"Oh iya Mal, gue udah bisa bawa motor."
Karena tempat les hanya berjarak empat blok dari rumah Kristi, dan jalanan menuju tempat les bukanlah jalan lintas antar kota yang ramainya minta ampun, Kristi dibolehkan membawa motor oleh Ayahnya. Sudah dua minggu ini, Kristi rutin belajar sepeda motor. Bahkan ia sudah bisa membantu ibunya mengantar pesanan kue dengan motornya seorang diri.
Amal yang mendengar kabar itu langsung menaruh ponselnya dan mengalihkan pandangan pada Kristi. "Jangan lupa pake helm. Kalo bisa lo bawa motor pakai jaket ya, kita gak tau kecelakaan apa yang bakal kejadian. Jaket bisa lindungin tangan lo dari luka lecet terus jangan pake rok kalau bawa motor. Please, jangan. Lo pake motor cuma ke tempat les aja. Kalau ke sekolah lo harus sama gue. Ngerti?"
Amal begitu serius mengucapkan kalimat itu. Kristi bahkan terpana beberapa saat mendengar ucapan Amal tersebut. Dan ia hanya bisa mengangguk saja, menurut dan akan mengingat ucapan dari Amal. Setelah mendapat anggukan dari Kristi, Amal pun kembali fokus pada gamenya. Kristi jadi gemas melihat cowok itu.
"Amal main game terusssssss sihhhhh...." Kristi menusuk-nusuk pipi Amal dengan jarinya.
"Bentar ini bentar lagi selesai."
"Masa?" Kristi mendekat untuk melihat ponsel Amal. Ia tak mengerti sama sekali dan malah pusing melihatnya.
"Ih gue gak ngerti!"
"Awas pala lo nutupin!" Amal mendorong kepala Kristi menjauh.
"Ck." Kristi berdecak sebal. Ia jadi bosan kalau Amal sibuk sendiri dengan ponselnya begini.
Tujuannya ke sini kan karna kangen rooftop, bukan Amal. Tapi, dicuekin Amal seperti ini Kristi jadi tidak suka. Apa sebenarnya Kristi kangen Amal ya?
**
Setelah menghabiskan waktu di rooftopnya Amal sore tadi, perasaan Kristi jadi lebih baik. Agaknya karna ia memang kangen rooftopnya Amal dan Amalnya juga. Tadi juga, sehabis mengganggui Amal dengan game di ponselnya, cowok itu merengut kesal dan balik menjaili Kristi dengan menggelitiki gadis itu. Alhasil keduanya terlibat kejar-kejaran di rooftop dengan gelak tawa yang keluar dari belah bibir.
Malam ini, persediaan roti di toko Olana's Bakery sudah hampir habis. Ke dua orang tua Kristi sedang tidak di rumah, karena keduanya pergi jalan-jalan malam. Biasa, meskipun sudah memiliki Kristi, romansa di antara keduanya masih sama seperti dulu.
Kristi memilih duduk-duduk di dalam toko sembari berlarian dalam kanal internet mencari-cari resep masakan unik dan baru untuk ia coba di hari minggu. Denting bel di pintu terdengar, Kristi mendongak dan melihat ke arah pintu. Di sana Rafdan dan Fina melangkah masuk. Sontak saja Kristi langsung bangkit dari duduknya dan memasang senyum lebar.
"Selamat malam, selamat datang di Olana's Bakery." Sapaan Kristi untuk pelanggann yang baru datang.
Rafdan yang berjalan lebih dulu tertawa kecil dan balas menyapa, "Halo Kristi!!"
"Halo juga Bang."
"Akhirnya kita ketemu anaknya pemilik toko. Fina sini. Kamu udah kenal Kristi kan?"
"Iya Bang." Fina pun mendekat, ia lalu tersenyum pada Kristi dan berujar, "Halo Kak Kristi."
"Halo juga Fina."
"Oh, iya Kristi ini yang dulu tinggal di rumah kita loh dek."
"Rumah kita yang sekarang?"
"Iyaaa. Dia penghuni lama."
"Wahh, dunia sempit ya."Kristi hanya tertawa menanggapinya. Lalu kedua kakak beradik itu sibuk berdebat hendak membeli kue yang mana.
"Bang, roti dari tepung gandum lebih ngenyangin dari pada roti dari tepung terigu." Fina mengawali perdebatan opininya.
"Sama aja tau dek, mau dari gandum kek, tepung kek, jagung kek, kalau dimakan sama-sama ngenyangin."
"Abang tapi yang dari gandum teksturnya lebih padat dan udah teruji klinis kalau lebih mengenyangkan."
"Teruji klinis apaan? Kamu kira roti itu sama kayak sabun cuci piring?"
Kristi yang melihatn keduanya jadi dibuat tertawa dan moodnya semakin baik saja melihat ke dua kakak beradik di hadapannya. Ada yang kurang sedikit, tidak ada popcorn sebagai cemilan menonton perdebatan mereka.
"Aduuhhh, aku capek deh ngomong sama Abang!" Fina cemberut, ia bersedekap daadaa dan memunggungi Rafdan.
Rafdan hanya berdecak dan tersenyum malu pada Kristi, ia lalu menyerahkan catatan berisi roti apa yang harus dibeli. Setelahnya Kristi pun menyiapkan roti-roti mereka.
"Maaf ya Bang, selai strawberrynya abis. Baru ada lusa, gapapa?"
Selain menjual roti tawar, kue ulang tahun dan kue kering, Olana's Bakery juga menjual selai. Dari rasa coklat, pandan, anggur, strawberry dan nanas yang paling laku. Namun, hari ini kebetulan sekali pelanggann yang datang tadi siang membeli dua kaleng selai strawberry sekaligus. Alhasil stok selai strowberry sudah habis.
"Ah gitu ya, gimana dek? Selai strawberrynya abis."
Fina yang masih cemberut. Menoleh sedikit, bukan ke Rafdan melainkan ke Kristi. Gadis itu pun berujar, "Selai apa aja yang ada Kak?"
"Tinggal nanas sama sarikaya. Yang sarikaya baru dibuat tadi pagi."
"Kalau gitu yang sarikaya aja Kak."
"Oke."
Kristi lalu mengambil sekaleng selai sarikaya dan memasukkannya ke dalam bungkusan. Setelah mengecek sekali lagi, Kristi lalu menghitung dan menyerahkan belanjaan itu pada Rafdan dengan menyebut total uang yang harus dibayar. Rafdan pun menerimanya dan mengulurkan uang tunia sesuai total belanjaan.
"Makasih Kristi." Begitu kata Rafdan sembari tersenyum.
"Makasih Kak." Fina juga, namun gadis itu langsung berjalan keluar mendahului Rafdan. Agaknya gadis itu masih kesal dengan Rafdan.
"Terimakasih kembali. Selamat malam, ditunggu kedatangannya lagi." Seperti biasanya, Kristi mengucapkan kalimat itu pada pelanggann tiap selesai mereka belanja.
Kedua Kakak beradik itu pun sudah keluar dari toko. Kristi lalu berbenah sedikit dan kembali mendengar suara bel berbunyi. Ia segera mendongak dan tersenyum menyambut kedatangan pelanggann selanjutnya. Namun, ia malah dibuat terkejut, karna ini kali pertamanya bertemu pelanggann itu setelah sekian lama.
"Dea? Anak sultan?"
Gadis yang disebut Dea dan Anak sultan oleh Kristi hanya nyengir dan melambaikan tangan. "Halo Kristi, apa kabar?"
**