"Maaf ya De kalau gak nyaman." Kristi berujar dan melangkah masuk ke kamar dengan semangkuk masker organik yang baru selesai ia buat. Dea yang tadi rebahan di atas kasur beranjak untuk duduk. Kristi lalu mendekat dan mulai mengaplikasikan masker ke wajah Dea. Sebelumnya, Dea sudah memakai bando kain di kepalanya supaya rambutnya tidak ikutan dimasker.
Sebelumnya, saat Dea tiba-tiba muncul di toko Olana's Bakery, Kristi langsung mendekati Dea dan memeluk gadis itu. Seperti bertemu dengan teman lama. Kristi bahkan terharu. Namun, setelahnya mereka berdua jadi canggung. Alhasil Kristi menawari Dea untuk menginap saja sekalian, seperti dulu yang sering mereka lakukan. Tadinya, Kristi kira Dea akan menolak, tapi gadis itu malah setuju dan tampak senang.
"Lo ngomongnya kok gitu, gue jadi sedih dengernya." Dea menanggapi omongan Kristi tadi, kali ini ia masih bisa bicara karna masker yang Kristi aplikasikan masih disekitar dahi gadis itu.
"Abisnya lo dateng dadakan gak pake bilang-bilang dulu."
"Namanya juga surprise . Masa bilang-bilang."
Kristi berdecak pelan. Ia sudah selesai mengaplikasikan masker di seluruh wajah Dea. Sekarang, giliran Dea yang mengaplikasikannya di wajah Kristi.
"Sorry ya. Gue pergi gitu aja. Sebenernya gue pergi bukan karna Fero, kok."
Fero ini nama pacarnya Dea dulu saat masih SMP dan sudah berganti status menjadi mantan.
"Gue denger rumor yang aneh-aneh setelah lo pergi."
Dea tertawa. "Rumor yang bilang gue tidur bareng Fero terus hamil?"
Kristi mengangguk.
"Anjir! Dasar mulut orang emang saammmpahhh!"
"Gue juga gak percaya, De. Meskipun gue marah sama lo yang jauhin gue sama Rara, tapi Rara tetep yang paling kenceng ngomong ke semua orang kalau lo bukan cewek kayak gitu. Lo tau sendiri kan kalau Rara udah ngomong gimana?"
Dea tergelak. Ia sudah tidak peduli pada maskernya. Mau pecah atau atau tidak merasuk sempurna ke kulit wajah, Dea mah bodo amat. Lagian anak sultan seperti Dea, tipe skincarenya jauh beda dengan Kristi yang biasa-biasa saja. Setelah mengaplikasikan masker di wajah masing-masing. Kristi dan Dea lalu tiduran. Keduanya sama-sama memandang langit-langit kamar.
"Gimana kabar lo sama Amal Kris?" Dea tiba-tiba berceletuk.
"Lo ngomongnya seolah gue sama Amal itu pacaran."
"Jadi kalian belum pacaran?"
"..."
"Bego."
"..."
"Asli Kris, lo sama Amal sama-sama bego."
Kristi dan Dea berteman sudah lama. Lebih lama daripada Kristi dengan Rara. Pertama kali Kristi bertemu dengan Dea adalah saat kelas 5 SD. Saat itu Dea adalah murid baru di sekolah Kristi. Tidak ada yang mau berteman dengan Dea sebab kata mereka Dea sombong karena pergi sekolah diantar mobil hitam mengkilat. Saat istirahat, Dea hanya memakan bekalnya seorang diri. Kristi jadi kasihan, lalu Kristi mencoba menyapa Dea. Ternyata Dea tidak sombong seperti yang anak-anak lain bilang. Dari sanalah pertemanan mereka dimulai.
Dea adalah anak tunggal, sama seperti Kristi. Keduanya sering bersama. Dea juga sering menginap di rumah Kristi begitupun sebaliknya. Seperti pertemanan perempuan biasanya, mereka juga saling curhat. Hingga Dea menyadari kalau Kristi menyukai Amal, begitu pula dengan Amal yang menyukai Kristi. Meskipun Kristi tak menceritakan tentang perasaannya terhadap Amal pada Dea, namun Dea dengan mudahnya langsung tahu. Pernah, suatu kali Dea mengerjai Kristi bilang kalau ia menyukai Amal. Reaksi Kristi begitu aneh, gadis itu langsung diam dan tau-tau matanya merah lalu ia menangis. Itu terjadi saat mereka kelas 1 SMP. Setelahnya, Dea dibuat tertawa dan bilang kalau dirinya hanya bercanda.
Lalu, bagaimana dengan Amal?
Karena Dea dan Kristi selalu bersama, otomatis Dea pun juga kenal dengan Amal. Dan setiap saat melihat interaksi antara keduanya. Dan membandingkan bagaimana interaksi antara Amal dengan gadis lain. Dari sana pulalah Dea tahu bagaimana perasaan Amal pada Kristi. Jadi, melihat keduanya sampai hari ini belum menjalin hubungan pacaran Dea dibuat gemas bukan main.
"Maunya lo apa sih Kris?"
"Maunya gue? Gak tau. Gue pengen terus deket sama Amal, tapi gue juga gak seneng ada cewek yang suka sama dia."
"Udah fix sih Ini lo suka dia. Dia juga gitu."
"Tapi De, kita udah nyaman kayak gini."
"Mau sampai kapan Kristi?"
"Gak tau."
"Ya ampun! Gue kesel sumpah! Udah ah gue mau cuci muka dulu."
Ditinggal sendiri oleh Dea, Kristi jadi kepikiran. Tadi sore saat ia dan Amal duduk-duduk di rooftop berdua dan jujur saja Kristi selalu merasa nyaman saat berdua dengan Amal. Apa benar ia menyukai Amal? Apa benar Amal juga menyukainya? Kenapa jadi seperti ini sih? Kristi tiba-tiba jadi migrain.
Ia lalu bangkit dan mengikuti Dea ke kamar mandi untuk membasuh maskernya.
"Wahh jadi ini merek sabun cuci muka anak sultan?!" Kristi berdecak kagum dan geleng-geleng kepala melihat merek sabun cuci muka Dea yang harganya saja menghabiskan uang jajan Kristi selama dua minggu.
"Ck. Ini gratis. Gue di endorse."
"Ha? Beneran?"
"Beneran. Masih banyak di rumah kok. Besok gue bawain buat lo sama Rara."
"Wuahhh makasih De!! Tapi gimana caranya lo ngeendorse? Lo endorse di sosmed? Kok gue gak pernah nemu akun lo."
"Bukan di sosmed. Gue jadi ambassador mereka. Perusahaan yang bikin produk ini tuh, anaknya perusahaan Papi gue."
"Oh begituuuuuuu." Kristi mengangguk paham. Keduanya sudah kembali ke tempat tidur lagi.
"Gue gak paham sama sosmed-sosmed-an, gak ngerti gue."
"Astaga Dea! Besok gue ajarin. Anak sultan gak boleh kudet pokoknya! Gue yakin dalam seminggu, followers lo pasti bakal naik drastis."
"Emang bisa?"
"Bisalah! Kan ada gue sama Rara. Followers kita tuh udah lumayan. Tapi belum cukup buat jadi seleb endorse. Nah mana tau setelah kita posting-posting foto bareng terus para folllowers kita juga follow akun lo, otomatis followers lo juga ikut bertambah dan lo juga bisa ngeendorse produk sabun cuci muka tadi di akun lo, kan nantinya jadi banyak yang liat dan juga beli, bakal dapat untung juga kan perusahaannya?"
"Oh gitu."
"Iya gitu. Nah, kita kan udah maskeran. Jadi, sekarang gue pengen tau alasan lo pergi terus balik dengan sejujur-jujurnya dan selengkap-lengkapnya."
"Udah kayak proklamasi aja pake selengkap-lengkapnya." Dea nyengir.
Kemudian ia mencari posisi nyaman di atas kasur sebelum bercerita. "Lo tau kan Kris Mami gue dulu yang sering bolak balik rumah sakit. Pas di hari itu, gue denger langsung Fero bilang sama temen-temennya kalau dia cuma manfaatin gue. Persis kayak yang lo sama Rara bilang ke gue. Dan di saat itu juga, gue dapat kabar kalau Mami masuk ICU."
Kristi terkejut. Namun, ia tak bersuara dan memilih diam mendengarkan Dea melanjutkan kalimatnya.
"Mami bertahan di ICU sampai tengah malem. Gue selalu didekat Mami. Papi juga. Tapi, ternyata takdir gak ngebolehin Mami lebih lama sama gue dan Papi. Mami pergi tepat jam satu pagi.
"Gue syhok, hancur, dunia gue hilang gitu aja. Meskipun gue jarang banget ngabisin waktu bareng Mami, tapi Mami tetep aja Mami gue, dunia gue. Gue waktu itu gak bisa mikir jernih lagi yang bisa gue lakuin cuma nangis dan nangis. Sampai seminggu gue cuma nangis dan ngurung diri di kamar. Gue nyesel karna selama Mami masih ada, gue gak gunain waktu itu baik-baik.
"Papi yang juga sedih kehilangan Mami berusaha buat gak nangis di depan gue. Papi yang bilang ke gue kalau gue kayak gitu terus, Mami juga bakal sedih di sana. Perlahan-lahan gue coba, tapi karna rumah kita di tiap sudutnya punya kenangan tentang Mami, gue tetep aja gak bisa berhenti nangis
"Terus Papi bilang ke gue gimana kalau kita pindah. Cari lingkungan baru dan rumah baru. Gue setuju. Dan akhirnya kita pindah. Gue yang udah banyak ketinggalan pelajaran lebih milih homeschooling, Papi juga gak masalah sama itu. Dan di sini cerita lain dimulai.
"Semenjak Mami pergi, banyak rumor beredar kalau akuntan Papi godain Papi buat jadi istri muda. Akuntannya Papi gue ini baru lulus kuliah dan langsung kerja karna resume dia bagus dan kerjanya juga cocok sama prinsip Papi gue. Gue gak percaya dan nyelidikin itu semua. Untungnya karna gue homeschooling dan Papi juga kerja dari rumah, gue jadi gampang nyelidikin akuntan Papi yang tiap hari bolak-balik ke rumah. Ternyata rumor itu bohong dan yang nyebar rumor itu yang sebenernya godain Papi.
"Gue sebenernya udah pengen balik pas kita mau masuk SMA. Dan gue mau masuk SMA yang sama kayak lo. Kita kan dulu pernah cerita mau masuk SMA yang sama. Tapi, karna Papi juga masih sedih soal Mami yang udah pergi dan gak pernah cerita apa-apa sama gue, Papi jadi sakit. Gue yang cuma punya Papi harus jagain Papi dan selalu ada buat Papi. Tapi, tenang aja sekarang Papi udah baik-baik aja. Kata Papi waktu emang bisa ngubah keadaan tapi, kenangan yang udah berlalu enggak akan bisa berubah. Mami akan selalu ada di hati Papi dan hati Dea. Tapi, Mami Bakalan sedih kalau kita kayak gini terus. Gimana kalau kita sama-sama janji buat jalanin hidup lebih baik untuk Mami, Papi akan selalu ada buat Dea dan Dea akan selalu ada buat Papi." Dea mengakhiri ceritanya dengan mengusap sudut mata yang berair.
"..."
"Kok diem aja Kris?" Dea menoleh. Ia merasa kerongkongannya kering karna sejak tadi banyak bicara. Ia lalu duduk dan mengambil ponselnya hendak memesan minuman lewat aplikasi pesan antar.
"Gue sedih tau. Maaf gue gak ada di saat lo sedih. Maaf Dea." Kristi betulan nangis. Ia pun tersedu-sedu.
"Jangan minta maaf. Lo gak salah apa-apa. Yang salah gue karna gak cerita ke lo."
"Gue inget Mami lo pernah masakin gue ayam goreng pedes manis yang enak banget. Gue jadi pengenn." Kristi masih menangis, ia menghapus sisa air matanya sendiri.
Dea yang mendengar Kristi ingin ayam goreng pedas manis pun juga menginginkannya. Ia lalu beralih ke menu makanan yang ada. Dea lalu memperlihatkan ponselnya dan meminta pendapat Kristi ingin ayam goreng pedas manis dari restoran yang mana.
"Gue rekomen yang ini sih Kris, rasanya hampir mirip kayak masakan Mami." Dea mengklik satu restoran yang ia bicarakan.
"Ternyata lo gak kudet-kudet banget ya De. Cuma kenapa lo gak main sosmed sih?"
"Kok nanya itu lagi?" Dea lalu memesan dua porsi setelahnya ia beralih ke menu minuman. Ia memlih satu kafe kekinian yang menjual minuman kekinian pula. Dea kembali mengulurkan ponselnya pada Kristi. Meminta Kristi untuk memilih minuman yang diingini gadis itu.
"Gue penasarannn De."
"Ada sesuatu yang bikin gue gak main sosmed Kris. Tapi, kayaknya gak sekarang gue ceritain ke lo."
"Okee. Gue bakal tunggu kapan lo ceritain ke gue."
Lalu keduanya pun kembali mengobrol soal teman lama di SMP mereka dulu, kedai makanan yang dulunya sering mereka kunjungi, serta melakukan video call dengan Rara hingga membuat Rara menangis mendengar alasan kepindahan Dea yang sebenarnya keluar kota.
Malam itu, sahabat lama yang pergi telah kembali. Kristi sangat bersyukur karna dipertemukan dengan Dea lagi.
**