27. Feelings

1368 Kata
Esoknya hari libur yang dinanti-nanti oleh Kristi pun datang. Sejak pagi-pagi sekali Kristi sudah bersiap. Ia menyiapkan bekal makanan. Tidak susah-susah, Kristi hanya membuat roti lapis saja. Dan untuk minumannya Kristi membuat es limun lagi, karna request Amal yang ingin es limun buatan Kristi. Kristi juga menyiapkan keperluan dirinya sendiri. Seperti bedak, sunscreen, liptint, parfume, powerbank, charger, dan jaket. Saat menyiapkan itu semua, Kristi mendapati plester luka di dalam laci meja riasnya. Entah kenapa Kristi merasa perlu membawa plester itu, maka dari itu ia juga memasukkannya ke dalam tasnya. Sesudah itu Kristi mengirim pesan pada Amal. To Amal : Amal kita berangkat jam berapa? From Amal : Kalau lo udah siap kita berangkat. Udah siap belum? To Amal : Tinggal nata rambut aja, bentar ya. From Amal : Oke, kalau gitu gue ambil mobil dulu. Kristi pun segera menata rambutnya. Simple saja, Kristi mencoba menjalin rambutnya menjadi satu ikatan. Ia sedang ingin tampilan seperti putri rapunzel. Lagipula, dengan rambut dijalin, Kristi tidak terlalu repot membenarkan rambutnya saat terkena angin nanti. Kemudian Kristi mematut diri di depan cermin setinggi dirinya. Ia kali ini memakai gaun selutut warna kuning. Karena dari postingan di akun sosial media tentang lokasi wisata yang akan mereka kunjungi, dengan vibes pohon-pohon pinus yang tinggi Kristi rasa cocok dengan bajunya yang berwarna kuning cerah. Untuk alas kaki, Kristi memakai sneakers sebab lokasi wisata itu merupakan wisata alam yang tentunya tidak cocok jika Kristi memakai flat shoes. Jadi, untuk menunjang gaya casualnya Kristi membawa jaket lepis yang cocok dengan gaun kuning cerahnya dan sneakers yang ia pakai. Tapi, jaket itu nanti saja Kristi pakai kalau udara di lokasi wisata benar-benar dingin. Katanya sih, di sana udaranya sejuk sebab pepohonan yang tinggi dan juga tempat wisata itu berada di dataran tinggi. Selang sepuluh menit kemudian, Kristi sudah berpamitan pada orang tuanya dan keluar toko untuk menunggu Amal. "Udah siap?" tanya Amal, cowok itu keluar dari mobilnya. Kristi menggangguk sebagai tanggapan. "Gue ke dalem dulu, mau izin sama bokap nyokap lo." "Masuk aja." Tak lama, Amal sudah keluar lagi. "Yuk Kris." Kristi menurut, lalu duduk di samping kemudi. Ia menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan pada Ayahnya yang juga melambaikan tangan dari dalam toko. Kristi nyengir saja dan merasa kalau hal tersebut lucu. Sedangkan Amal susah payah menahan tawa karna baginya yang Kristi lakukan benar-benar lucu. Amal jadi tidak sabar melihat kelakuan Kristi yang akan membuatnya tertawa di lokasi wisata nanti. "Kris lo udah sarapan?" "Udah. Lo?" "Belum." "Kok belum?" "Lagi pengen bubur ayam sih, makanya tadi gak sarapan. Tapi, lo nya malah udah sarapan." "Eh, bubur ayam yang di perempatan ke sekolah kita." "Iya. Kan cuma disitu yang enak." "Kok gue jadi pengen ya?" "Emang masih muat di perut?" "Kalau pesen setengah bisa kok. Lagian bubur ayamnya enak banget, gue gak bisa nolak." "Dasar!" Amal tertawa. Cowok itu lalu melajukan mobilnya menuju pangkalan gerobak bakso yang mereka bicarakan. Setibanya disana, Amal langsung memesan dan Kristi duduk menunggu di meja plastik yang memang sudah disediakan. Selagi menunggu, Kristi membuka ruang chatnya dan melihat sudah ada beberapa buble chat dari group chat ciwi-ciwi. Dea : temen-temen hari ini gue mau pergi sama Bang Martha ke gor di taman kota, bagusnya gue pake baju apa ya? Rara : ecieeeeeee cieeeeeeee, yang mau ngedate cieeeeeee Dea : Rara!!! Rara : Awokwowkwok Kristi : ke gor ngapain? Dea : liat tanding basket. Kristi : kalau gitu pake baju yang senyaman lo aja De. Gue saranin lo jangan pake gaun karna bakal ribet. Rara : iya, jangan pake rok juga, pokoknga jangan tampil like a princess ya dek. Disana bakal banyak orang, sempit-sempitan. Emang sih Bang Martha bakal jagain elo, tapi kalau lo masih pake rok sama aja ngeribetin diri sendiri dan Bang Martha juga Dea : untung gue nanya di grup, padahal gue baru aja mau make rok selutut. Rara : Lo kira mau ngedate di mall apa?!!!! Dea : hehehe. Sorry, iya ini gue ganti. Mending pake jeans aja ya. Kristi : nah iya, pake baju kaos lengan pendek aja De, biar ga gerah-gerah banget. Dea : oke Kristi, Rara makasih yaaaa saranya Dina : Dea mau ke gor juga liat tanding basket kan? Dea : Iya Dina. Dina : Wah sama! Gue juga bareng Raka mau kesana. Kita ketemuan di sana yuk. Rara : oh, roman-romannya bakal ada double date nih di gor. Hemm, sekali-kali bagus tuh kita quadrupledate Kristi : quadruple date? Astaga gue ngakak awokawokwkwkwk Dea : boleh tuh, tapi gue sama Bang Martha kan bukan siapa-siapa. Rara : lo sama Bang Martha tu udah dijalan menuju apa-apa Dek. Jadi, gak usah menyangkal lagi. Kristi : kalau gue gimana? Gue kan gak punya pacar. Gimana mau ikut quarter date? Rara : kenapa gue punya temen yang begonya kebangetan. Dea : Kris, serius deh lo b**o banget. Dina : Kristi, lo sebenarnya punya perasaan gak sih? Rara : ASTAGA! DINA SEKALI NGOMONG NYELEKIT NJIRR Dina : sorry, tapi gue ngerasa gitu, soalnya setelah diliat-liat Kristi sama Amal emg cocok Dea : tuh kan Krissssss Kristi : -_- Kristi meninggalkan ruang obrolan begitu saja. Ia yakin dari notifikasi yang masuk, sekarang ia yang jadi bahan gibah di group chat ciwi-ciwi. Amal lalu datang dengan dua mangkuk bubur, satu mangkuk penuh milik Amal dan setengah mangkuk milik Kristi. "Nih makan. Oh iya gue sengaja minta lebihin bawang goreng buat lo, lo kan suka banget bawang goreng." "Wah Amal baik banget, jadi sayang deh." Kristi menatap haru mangkuk baksonya yang banyak bawang goreng. Melihatnya saja Kristi keroncongan. Amal berdecak pelan. "Kalau sayang gue beneran gimana, tuh." gumam Amal pelan sebenarnya. Namun, Kristi bisa mendengar dan karna pengaruh dari group chat ciwi-ciwi, Kristi pun dengan berani berceletuk, "Gue emang sayang sama lo Mal?" Amal yang sedang mengunyah buburnya pun tersedak. Kristi jadi panik dan langsung menngisi gelas minum Amal dengan air putih hangat yang sudah tersedia. Akhirnya, Amal sudah tidak tersedak lagi. Tapi, sebagai gantinya cowok itu malah mengomel. "Lo kalau ngomong coba dipikirin dulu. Jangan asal bacot aja." "Ck. Maaf. Tapi kan gue emang beneran say... " "Kalau lo ngomong gitu lagi, kita batal pergi." Ancam Amal kemudian. Kristi terpaksa diam dan menghabiskan porsi buburnya. Kalau tidak jadi pergi, sia-sia saja dong Kristi membuat roti lapis sejak subuh tadi. Lokasi wisata yang mereka tuju memakan waktu satu setengah jam perjalanan dari mesin penunjuk arah yang terpasang di dalam mobil Amal. "Satu setengah jam, bisa jadi dua jam kalau kita ketemu macet. Semoga aja jalanan lancar ya kris," ujar Amal begitu selesai makan bubur dan mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Cowok itu lalu menyetel penunjuk arah dan mulai menjalankan mobil. "Kita beli cemilan dulu atau beli di sana aja?" "Gak usah Mal. Gue udah bikin roti lapis banyak banget." "Mana liat?" Kristi membuka tutup tuperware nya. Di dalamnya, ada sekitar sepuluh potong roti lapis. Lumayan banyak sih, tapi agaknya Amal tidak sependapat. "Gue rasa itu gak bakal cukup. Tapi kita liat aja nanti di sana pasti ada makanan enak." "Okey." Kristi cemberut. Padahal ia sudah susah payah membuat roti lapis itu, tapi Amal malah tidak mengapresiasinya. Apa susahnya sih bilang, wah lo baik banget Kris udah bikin roti lapis! Kristi lalu memalingkan wajah dan lebih memilih melihat pemandangan di bagian kirinya. Sayangnya, Amal sepertinya tidak peka. Karna cowok itu hanya diam saja dan fokus menyetir. Kristi jadi sangsi kalau Amal memang suka pada dirinya. Apa teman-temannya salah ya? Setengah jam perjalanan hanya diisi keheningan. Kristi jadi merasa bersalah karna sudah kesal dengan hal yang tidak penting. Mau Amal memang suka padanya atau tidak pun yang paling penting hari ini Amal mau menuruti pintanya untuk pergi ke lokasi wisata yang jaraknya lumayan jauh. "Amal," panggil Kristi pelan. "Hm." "Gue puterin musik ya?" "Tumben lo minta ijin gue dulu." "Mana tau lo lagi gak pengen denger musik." Amal tertawa kecil. "Puter aja Kris." "Okee." Kristi pun menghidupkan speaker bluetooth dan memilih lagu dari ponselnya. Akhir-akhir ini, Kristi suka lagu-lagu western dengan judul Feelings. Namun, agaknya lagu itu cocok sekali dengan yang Kristi rasa dan ia malah menyesal sudah memutar lagu itu karna salah satu liriknya benar-benar menohok. Andai saja Kristi tahu kalau Amal di belakang setir mati-matian menahan perasaannya karna lagu tersebut benar-benar menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara perasaan dirinya untuk Kristi. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN