Dea sedang asik makan keripik kentang saat ponselnya menampilkan chat grup yang berisi ia, Rara, Kristi dan Dina. Dengan Kristi dan Rara yang masih perang stiker. Dea menyerah, stiker di aplikasi chatnya sudah habis, padahal Dea punya 200+ tapi masih kalah dari Kristi dan Rara. Bahkan sekarang bubble chat grup tersebut sudah mencapai 500+, Dea lelah melihatnya dan beralih ke ruang chatnya. Perasaannya tadi ada yang mengirim chat, tapi kelupaan Dea baca karna banyaknya chat dari perang stiker Kristi dan Rara.
+62000xxxxxx
Hai
To +62000xxxxxx
Siapa ya?
+62000xxxxxx
Loh? Oh iya belum kenalan
Halo Dea, ini Martha yang minta nomor lo tadi
To +62000xxxxxx
Bang Martha? Maaf Bang, udah gak sopan
From Bang Martha
Gapapa cantik. Btw, save nmr gue ya
To Bang Martha
Udah kok bang
From Bang Martha
Okee Dea
Dina send a picture to Grup Ciwi-ciwi : /image/
Notif tersebut muncul di bar ponsel Dea. Dea yang penasaran langsung meninggalkan kolom chatnya dengan Martha, kemudian ia beralih pada grup chat Ciwi-ciwi.
Dina : /send image/ Guys help?
Rara : ASDFGHJKL ASSUU
Kristi : Ra language!
Rara : gawat Kris, liat bener-bener dulu!!
Kristi : WTH
Rara : KAN!!
Dina : Kenapa sih sama kalian?
Dea : Loh, itu kan akunnya Amelia.
Dina : Lo kenal Amelia De?
Rara : Adek? Kayaknya kita perlu penjelasan.
Kristi : Dea jelasinn, Dina juga jelasin, gue greget
Dina : Telpon aja ya, gue capek ngetik
Dea : Oke Dina
Rara : Oke bos
Kristi : Okeeeeeee
Ponsel Dea bergetar, tanda panggilan masuk muncul di layar ponselnya. Langsung saja Dea menggeser tombol hijau ke samping dan memilih loud speaker, karna ia rasa panggilan telepon ini akan berlangsung lama dan juga suara Rara yang nantinya akan menggelegar dan membuat sakit telinga.
(Dina) "Halo, kalian denger suara gue."
(Kristi) "Denger!!"
(Dina) "Oke, dengerin dulu ya jangan dipotong. Jadi, gue kan tadi abis telponan sama Raka. Abis itu gue gabung chat lagi sama kalian. Terus gue liat notif masuk dari second akun gue, ternyata si Amelia mantannya Raka masukin foto bareng Raka. Meskipun itu ngeblur tapi gue tau dia ke rumah Raka buat nemuin Raka."
(Rara) "Jadi, Dina. Lo tau Amelia ya?"
(Dina) "Tau."
(Rara) "ASLI KRIS! KITA b**o BANGET SOK DIEM-DIEM NYELIDIKIN SOAL AMELIA BUAT BANTUIN DINA, EH YANG MAU DIBANTUIN TERNYATA UDAH TAU!"
(Kristi) "Ra sumpah suara lo kenceng banget!!! Ya kalau udah kayak gini kita gak perlu sembunyi-sembunyi lagi kan dari Dina."
(Dina) "Jadi, kalian tau Amelia dari mana?'
(Kristi) "Gue yang tau duluan Din, gue waktu itu pergi bareng Amal ke toko buku, terus di sana gue liat cowok lo sama Amelia. Makanya gue bilang ke Rara kalau cowok lo selingkuh. Tapi, kata Rara baiknya kita selidikin dulu aja dan kalau udah ada buktinya baru kita bilang ke lo. Tapi, kalau lo udah tau yaa gimanaaaa ekwkwk aduh gue ngakak dulu wkwkwk"
(Rara) "ASLI KRIS KITA b**o BANGET!"
Dea jadi pusing sendiri. Ia menutup telinganya karna suara Rara yang kelewat keras. Selain itu ia juga pusing sebab Amelia yang ternyata mantan Raka pacar Dina adalah orang yang ia kenal. Kalau memang iya gadis itu ke rumah Raka sekarang. Agaknya Dea perlu mengecek keberadaan gadis itu di rumah. Jadi sebenarnya, Amelia itu adalah sepupu Dea. Mereka tinggal satu rumah karna orang tua Amelia yang bekerja di luar negri dan menitipkan Amelia untuk tinggal bersama Dea yang juga tinggal seorang diri di rumah.Setelah memastikan kalau Amelia memang tidak di rumah, Dea kembali ke kamarnya dan mulai bicara,
(Dea) "Jadi, Amelia mantannya Raka ya Din?'
(Dina) "Iya Dea. Lo tadi di grup chat bilang Amelia kan? Lo kenal Amelia?
(Dea) "Dia sepupu gue Dina."
(Rara) "OH MY GOD!!! DEMIIII!! KRISTI LO HARUS TAHU KEBENARAN INI."
(Kristi) "Din please, matiin aja ya telponnya gue capek denger suara Rara. Telinga gue pengang."
Group Calls Ended
**
Dina tidak langsung kembali masuk ke grup chat lagi. Meskipun grup itu kembali ramai dengan chat dari Kristi, Dea dan Rara. Ia diam menunggu chat dari Raka. Katanya, cowok itu akan mengirim chat. Tapi, ditunggu sampai sekarang chat dari Raka tidak ada. Dina jadi gelisah. Ia kemudian memilih keluar menuju balkon mencari udara segar. Kepalanya penuh oleh overthinking yang bikin migrain. Tiba-tiba, dari luar pagar rumah Dina, ia melihat lampu mobil yang menyala pertanda kalau ada sebuah mobil yang menepi di depan pagar rumah Dina. Seketika firasatnya menyuruh Dina untuk keluar rumah.
Sesampainya di luar, ternyata firasat Dina benar, kalau Raka yang datang. Gadis itu segera mendekati Raka yang baru keluar dari mobil dan terkejut akan kehadirannya. Dina langsung memeluk cowok itu.
"Hey, sayang. Kenapa? Kok kamu udah di luar aja? Padahal aku baru mau ngechat."
"..."
"Sayang?"
"Kangen."
Raka tergelak. Ia lalu mengusap-usap rambut Dina di dalam pelukannya.
"Aku bawain kamu cemilan nih." Raka mengulurkan sekantung belanjaan berisi makanan ringan pada Dina.
Dina meregangkan pelukannya. Ia memajukan bibir dan bicara, "Raka, Amelia ke rumah kamu ya tadi?"
"HAH?"
"Bener ternyata."
"Maaf yang. Aku juga gak tau kalau dia dateng."
"Dia ngapain?"
"Gak ada kok. Gak ngapa-ngapain."
Dina menghela napas pelan. Ia lalu menerima bungkusan cemilan dari Raka.
"Yaudah deh kalau gak ngapa-ngapain. Makasih ya makanannya."
Raka tersenyum lega. Ia mengusak rambut Dina. Setelahnya cowok itu pun pamit pulang, meninggalkan Dina yang merasa dadanya sesak.
Satu jam sebelum Raka pergi ke rumah Dina.
Bel berbunyi pertanda ada tamu yang datang, Raka yang juga ingin pergi keluar sekalian saja membuka pintu pagar. Namun, ia malah menemukan Amelia yang tersenyum lebar padanya.
"Malam Raka, gue bawain martabak manis kesukaan lo nih." Gadis itu mengangkat bungkusan plastik berisi martabak manis di tangannya.
"Ck. Mau apa lagi sih lo Mel? Kita udah putus, udah lama banget. Lo mau apa lagi dari gue."
"Gue mau kita balikan." Amelia berujar tegas dengan tidak tahu malunya.
"Gue udah punya pacar."
"Putusin dia."
"Lo gila?"
"Iya! Gue gila karna lo Raka. Maaf, gue udah salah dan lebih milih dia daripada elo. Tapi, sekarang gue nyesel. Gue pengen kita balik kayak dulu lagi. Pleasd, kasih gue kesempatan kedua."
"Enak banget ya lo ngomong. Setelah lo main hati sama sohib gue sendiri dan lo minta kesempatan kedua sama gue. Gak habis pikir gue sama lo Amel."
Amelia menangis. Gadis itu terisak. Namun, sama sekali tidak Raka pedulikan. Cowok itu pun berjalan melewati Amelia dan masuk ke mobilnya yang masih berada di luar pagar. Lantas ia pergi begitu saja.
Selama perjalanan menuju rumah Dina, Raka jadi merasa bersalah karna harus membohongi Dina. Lagian, gadis itu juga sudah tahu kalau Amelia adalah mantannya dan masih mendekatinya. Meskipun Dina terlihat tenang, Raka tahu betul kalau gadisnya itu pasti sedang gelisah.
Jadi, Raka ingin sekali Dina mengerti kalau ia tak akan pernah meninggalkannya. Maka dari itu, Raka perlahan-lahan sedikit berubah. Mulai lebih banyak bicara dan selalu ingin bertemu dengan Dina. Seperti sekarang, ia akan menemui Dina sebentar padahal tadi setelah senja ia baru saja mengantar Dina pulang.
Kata orang-orang sih, ia sudah jadi b***k cinta. Tapi, Raka tidak peduli. Yang penting ia bertemu Dina dan memeluk gadis itu sebelum hari ini berakhir.
**
Grup Ciwi-ciwi
Dea :Temen-temen gue tidur dulu ya, kalau masih ada yang butuh penjelasan gue janji bakal kasih tau besok. Okey? Night girls.
Dea enggan berlama-lama di grup chat tersebut. Sebab kalau sudah ada Rara dan Kristi, grup chat akan selalu heboh. Entah kenapa dua orang itu rasanya suka sekali kehebohan. Setelah cemilannya habis, Dea beringsut ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi. Persiapan sebelum tidur. Dan tentunya tak lupa pakai skincare.
Saat menepuk-nepuk dengan lembut pipinya agar toner meresap dengan baik, ponselnya yang ia taruh di dekat nakas berdering. Ada satu panggilan masuk dari Bang Martha. Tanpa pikir panjang, Dea pun menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.
"Halo Dea."
"Halo Bang Martha, ada apa?"
"Gak ada sih. Lo lagi sibuk?"
"Gak juga. Lagi skincarean aja."
"Oh. Emh.... Besok ada acara gak?"
"Enggak Bang. Kenapa ya?"
"Gue mau minta temenin ke tanding basket di gor taman kota, boleh?"
"Jam berapa ya Bang?"
"Jam sepuluhan deh kayaknya."
"Boleh."
"Beneran?"
"Iya. Gue juga pengen ngerasain gimana euforia pas nonton basket."
Terdengar suara gelak tawa di sebrang telepon yang membuat Dea refleks terkekeh kecil.
"Okey, besok gue jemput ya."
"Emang tau rumah gue?"
"Eh, enggak sih. Cuma kalau lo send location gue bisa jemput."
Dea tertawa kecil. "Okey deh Bang."
"Oke. Good night Dea."
"You too."
Panggilan pun terputus. Dea jadi senyum-senyum sendiri. Kalau memang benar kata Rara tadi siang di kantin, bahwa Martha memang suka padanya dan menyukai tipe cewek sepertinya, Dea rasa sebentar lagi ia juga akan suka pada Martha. Karna untuk kali ini Dea ingin percaya dengan yang diucapkan oleh sahabatnya.
**