25. Tentang Dina dan Raka

1441 Kata
Selesai makan bakso, Raka berhenti sebentar di minimarket katanya sih ingin beli kopi kaleng yang ia suka. Tapi, saat kembali ke mobil cowok itu juga membelikan Dina es krim. "Aku gak minta loh. Tapi makasih Raka." Dina nyengir dan ia pun melahap es krimnya. Raka kembali menyetir menuju rumah Dina. Dari minimarket tadi ke rumah Dina tidak terlalu jauh, kira-kira sepuluh menit kemudian mereka sampai di depan rumah Dina. Raka mematikan mesinnya di depan pagar rumah Dina, lalu ia melihat Dina yang asik memakan es krim, sampai ada bekas es krim di sudut bibirnya dan tidak disadari gadis itu. Raka tersenyum, ia mengulurkan tangannya hendak menghapus bekas es krim, tapi urung. Ia malah memajukan tubuhnya dan merunduk hingga wajahnya sejajar dengan wajah Dina. "Kenapa makan es krimnya sampai belepotan sih sayang?" Raka berbicara dengan nada rendah. Seketika membuat Dina merinding. Refleks ia mundur hingga mentok dengan badan mobil. "Raka." "Iya." "Kenapa deket banget." "Kenapa emangnya?" "Uhh, ituu... Aku..." Raka terkekeh. Ia semakin dekat dan mengecup bekas es krim di sudut bibir Dina. Ia menjauh sebentar dan malah mendapati pipi Dina memerah. Ia lalu tergelak. "Lucu banget sih," ujarnya disela-sela tawa seraya membawa Dina kedalam dekapannya. "Raka." "Iya sayang." "Aku gak suka Amelia deketin kamu lagi." "Maaf." "Bukan kamu yang harusnya minta maaf." Dina mendorong Raka menjauh. Gadis itu lalu mengambil ponsel Raka dari dashboard mobil cowok itu. "Aku bakal blok nomor dia, biar dia gak bisa hubungin kamu lagi." Raka diam saja membiarkan Dina mengotak-atik ponselnya. "Dina, kamu tau gak alasan sebenarnya aku putus dari Amelia?" ** Awalnya Dina bertemu Raka secara tak sengaja di tempat parkir sekolah. Karena Dina bisa menyetir, ia bawa mobil sendiri. Dan Raka yang juga saat itu parkir di sebelah mobil Dina. Dina sebenarnya tidak terlalu peduli dengan orang sekitar. Ia terlalu cuek bagi orang-orang yang tidak dekat dengannya, namun sebenarnya ia hanya malu untuk menyapa dan mengajak berteman. Makanya saat kelas satu, Dina tidak punya teman dekat sama sekali. Tiap istirahat ia selalu sendiri. Dengan bekal yang ia bawa dari rumah, Dina memakannya sendirian di taman dekat tempat parkir. Karena saat jam istirahat tempat itu selalu sepi. Jadi, Dina merasa nyaman sendirian di sana. Saat itu, Raka yang kebetulan ada perlu mengambil barang di mobilnya tak sengaja melihat Dina makan sendirian di taman. Awalnya sih, Raka biasa saja. Namun, karena sering kali ia melihat Dina sendirian makan di taman, Raka jadi kasihan. Maka dimulailah cerita mereka dari sini. Saat istirahat, Raka akan membeli makanan dan minta dibungkus pada ibu kantin, biasanya nasi goreng, batagor, siomay dan makanan lain yang tidak berkuah. Lalu, Raka akan membawanya ke taman tempat Dina biasanya makan. Mereka duduk berjauhan. Namanya juga tidak kenal kan? Selang dua hari, Raka yang waktu itu juga sedang punya masalah dengan Amelia yang masih berstatus sebagai pacarnya, merasa kalau makan sendirian di taman yang sepi bisa membuatnya sedikit lebih baik. Alhasil, hal tersebut menjadi kebiasaan Raka. Setelah kira-kira lima kali Raka makan di bangku semen taman sebelah Dina, kali keenamnya Raka baru berani menyapa Dina Basa basi biasa seperti menanyakan nama, kelas, dan membahas kenapa lebih suka makan sendirian di taman. Raka pun mulai paham akan alasan Dina yang lebih memilih makan sendirian di taman dan mulai saat itu mereka pun berteman. Semakin lama kenal ternyata mereka punya beberapa kesamaan. Seperti, mereka berdua jarang bicara dan lebih memilih diam. Terkadang, mereka berdua asik dengan urusan sendiri-sendiri meskipun sedang duduk berhadapan di kafe, Dina yang asik membaca novelnya dan Raka yang asik dengan game di laptopnya. Lalu kesamaan lain adalah mereka sama-sama suka makan makanan pedas, meskipun akhir-akhir ini Dina diwanti-wanti untuk mengurangi makanan pedas. Dari kesamaan itulah mereka berdua semakin dekat. Namun, karena Dina memang tidak banyak bicara dan tidak terlalu peduli, gadis itu tidak Tahu kalau Raka punya pacar. Lagi pula saat bersama Dina, Raka sama sekali tidak menceritakan kalau ia punya pacar. Kenapa? Karena Dina tidak bertanya dan juga itu bukanlah hal penting. Lagipula saat itu Raka dan Amelia sudah putus. Kedekatan mereka pun berlanjut sampai ditahap mereka menjalin hubungan pacaran. Waktu itu sehabis ujian tengah semester genap kelas satu, Raka menyatakan rasa sukanya pada Dina. Dan mulai saat itulah Dina mencari tahu sendiri tentang Amelia. Ditambah lagi dengan rumor yang ia dengar, bahwa mantan Raka adalah cewek populer yang merupakan primadona sekolah. Dina baru mendengar rumor itu setelah mereka resmi berpacaran. Orang-orang bilang mereka tidak percaya kalau Raka memilih Dina sebagai pacarnya karena Raka punya mantan yang lebih cantik daripada Dina, dan katanya sih seharusnya mencari pacar yang lebih cantik dari mantannya namun yang dipacari adalah gadis biasa saja. Ditambah Raka adalah anggota tim basket yang mempunyai fans club ciwi-ciwi tukang gosip yang membuat rumor itu semakin merebak. Untungnya, Dina yang notabene gadis cuek dan bodo amat, ia tidak terpengaruh sama sekali dengan rumor tersebut toh sampai sekarang ia masih berpacaran dengan Raka. Malam ini, Dina duduk-duduk di balkon kamarnya menikmati semilir angin. Tiba-tiba saja ia menyentuh bibirnya dan teringat Raka yang menciumnya di dalam mobil tadi. Ya, yang awalnya hanya mengecup bekas es krim di sudut bibir Dina, Raka malah menggeser bibirnya untuk bertemu dengan bibir Dina sepenuhnya. Maka, yang terjadi terjadilahhh. Memang sih ciuman kali ini bukan yang pertama bagi Dina. Meskipun Raka lah first kissnya tapi entah kenapa ciuman kali ini agak berbeda dan mau sekerasa apapun Dina mencari tahu jawabannya, gadis itu tetap tidak mengerti. Hanya saja ia merasa kalau Raka tidak akan pergi darinya. Ponsel Dina bergetar ada notifikasi masuk dari sosial medianya. Ternyata Raka baru saja memposting fotonya dari belakang dengan latar keramaian orang-orang di air mancur dan langit jingga. Foto itu estetik sekali, Dina jadi senang melihatnya. Ia lalu mengetikkan komentar dengan emotikon love dan keluar dari akun sosial medianya. Ia ingin menelpon Raka, apakah cowok itu sudah sampai rumah atau belum. Karna kata Raka sebelum pergi dari rumah Dina tadi, cowok itu hendak singgah membeli makanan karna kedua orang tuanya pulang lebih malam dan tidak ada makanan di rumah. Namun, notifikasi grup baru di aplikasi chatnya membuat fokus Dina teralihkan. Kristi baru saja menambahkan ia kedalam grup chat yang terdiri dari Kristi, Rara dan Dea. Kristi : Hello guys Rara : Whats up Dea : Kenapa kalian jadi sok asik gini sih? Dina : Kenapa bikin grup? Rara : Haduhhh, Dina cantikku grup ini dibuat untuk... buat apa ya Kris? Kristi : Kamprett, buat gibah lah awokwowkkkkwkwkok Rara : Syalannnn Dea : -_- Dina tertawa dan mengalihkan fokusnya pada panggilan masuk dari Raka. Ia pun menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel di telinganya. "Halo Dina." "Iya, Halo. Udah nyampe rumah?" "Udah nih lagi rebahan di kamar. Kalau kamu lagi apa?" "Lagi di balkon, duduk duduk aja." "Sayang, ini udah malem loh, gak dingin." "Iya dikit." "Masuk ya. Jangan duduk duduk di sana, duduknya di kamar aja." "Iya Raka." Dina menurut, ia lalu masuk kembali ke kamarnya. "Udah di kamar?" "Udah." "Bagus. Oh iya besok mau pergi sama aku gak?" "Kemana?" "Liat pertandingan basket di gor alun-alun." "Mauu." Terdengar gelak tawa Raka di sebrang telepon. "Besok aku jemput jam sepuluh ya." "Okey Raka." "Okee. Udah dulu ya sayang, nanti aku chat kamu lagi." "Sip. Dah Raka." "Bye, love." Sambungan pun terputus. Dina kembali masuk ke ruang grup chat yang ternyata sudah ramai dengan chat tidak penting dari Rara, Kristi dan Dea. Ketiganya sedang perang stiker. Kristi : Udah ah, stiker gue abis. Rara : Gue baru sadar cuma kita bertiga yang perang stiker, si Dina kemane? Dina : Sorry, Raka tadi nelpon jadi gue gak liat grup Dea : Bebebnya nelpon guys Rara : Duh bebeb awokwokwowk Dina : -_- "Dasar mereka," guman Dina pelan dan keluar dari grup chat sebab Ia mendapat notifikasi baru dari akun sosial medianya. Bukan dari akun officialnya tetapi dari second akunnya. Sama seperti gadis milenial lain yang suka stalking, Dina juga punya second akun untuk itu. Awalnya Dina buat akun tersebut untuk memantau pergerakan Amelia. Dan setelah sekian lama, Amelia ternyata memposting sesuatu di akun media sosialnya. Gadis itu ternyata memposting siluet seorang cowok di instastorynya. Dari sikuet itu saja Dina sudah tahu kalau di foto itu adalah Raka, ditambah background foto tersebut adalah pagar rumah Raka. "Sialan nih cewek, ngapain dia di rumah cowok gue." Biasanya, Dina mendapati postingan instastory Amelia yang berhubungan dengan Raka akan hilang setelah beberapa detik. Namun, sudah lima menit Dina menunggu postingan itu masih ada dan malah bertambah satu lagi. Foto tangan Raka yang blur dan agaknya gadis itu memotret terburu-buru dengan caption, mine. Dina jadi geram sendiri. Ia melakukan tangkapan layar dan mengirim foto tersebut ke grup chatnya bersama Kristi, Rara dan Dea. Kalau sudah sampai seperti ini, Dina tidak bisa sendirian untuk mengatasinya. Dina : /send image/ Guys, help **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN