24. Es Limun Laris Manis

1616 Kata
Es limun buatan Kristi laris manis. Saat Amal membawa se mug besar es limun pulang untuk Mamanya di rumah, salah seorang pembeli di toko roti Olana's Bakery bertanya. Apa es limun itu dijual? Kristi yang mendengar pertanyaan itu langsung saja menjawab, kalau es limun itu dijual untuk hari ini saja. Alhasil, sekitar lima orang pembeli di dalam toko memesan masing-masing segelas es limun. Lalu ada juga dua orang pembeli yang datang dan memesan es limun saat melihat pembeli yang lain keluar toko. Setelahnya Abang-abang kurir yang datang membelikan pesanan pengguna aplikasi pesan antar juga memesan segelas es limun. Dalam hari ini Kristi bisa menjual delapan gelas es limun. Ia jadi kepikiran ingin menyulap Olana's Bakery jadi Olana's Kafe. "Kristi stok lemon kita abis ya?" "Iya Ma, kan udah aku bikinin ke es limun." Mama Kristi cemberut. "Yah, Mama sama Ayah belum nyoba es limun buatan kamu loh." "Eh, maaf Ma. Aduh aku lupa saking speechleesnya liat banyak yang suka es limun buatan aku." "Kata mereka es limun buatan kamu enak." "Mama kepengen banget ya?" Mama Kristi mengangguk. "Yaudah kalau gitu aku beli di minimarket ujung jalan deh. Sekalian mau beli cemilan." Mama Kristi tersenyum cerah, akhirnya setelah penantian ia akan mencicipi rasa es limun buatan anaknya, Mama Kristi lallu mengulurkan uang. "Ini uang es limun buatan kamu." "Wah lumayan ya Ma, apa kita buka kafe aja ya." "Duh Kristi, itu nanti aja ya dipikirin." Kristi tertawa. "Oke Ma. Kalau gitu aku pergi dulu." "Hati-hati ya nak." Karena Kristi sudah bisa bawa motor, gadis itu pergi ke minimarket ujung jalan dengan motornya. Lebih cepat sampai dan tidak banyak habis tenaga. Sesampainya di minimarket, Kristi langsung menuju ke mesin pendingin berisi buah-buahan. Ia lalu mengambil dua bungkusan lemon dan memasukkannya ke keranjang. Kristi kemudian pindah ke rak berisi cemilan, mengambil cemilan yang ia suka dan memasukkannya juga ke keranjang. Setelah dirasa belanjaannya cukup. Kristi lalu menuju meja kasir. Dan saat itulah Kristi mendengar percakapan dua orang gadis yang sibuk di depan rak kosmetik di dekat kasir. "Lo liat akunnya Kak Fikri, dia abis di tag cewek cantik sekolah sebelah." "Sekolah yang di belakang sekolah kita itu?" "Iya! Kayaknya mereka lagi deket gitu." Kristi yang penasaran dengan percakapan dua gadis tersebut menyelidiki lambang seragam sekolah yang keduanya pakai. Ternyata, ke dua gadis itu satu sekolah dengan Kristi dan merupakan adik kelas. Kristi ingin mendengar obrolan mereka lagi, namun kasir minimarket sudah selesai menghitung belanjaannya. Kristi pun membayar dan keluar minimarket menuju motornya. Dan bagaikan takdir, ia malah bertemu Fikri. "Eh Kristi." sapa Fikri sambil tersenyum, ia melirik belanjaan di tangan Kristi lalu bicara lagi, "Abis belanja ya?" "Iya Kak." "Oh gitu. Btw, udah lama ya kita gak ngobrol berdua. Tapi Kakak harus buru-buru, lain kali aja ya Kristi." Setelahnya Fikri masuk ke dalam minimarket meninggalkan Kristi yang bergumam pelan, "Siapa juga yang mau ngobrol berdua samo lo." Lalu berdecak kesal. Agaknya rasa suka Kristi pada Fakhri sudah lenyap. ** "Amelia itu siapa Raka, jawab pertanyaan aku!" "Eh, dia... Em itu... Dia... Amelia itu... " "Kenapa kok kamu jadi gagap gini? Aku gak boleh tau siapa Amelia?" "..." "Diemnya kamu berarti iya. Oke kalau gitu." Dina lalu melangkah keluar gedung olahraga. Raka yang masih panik lalu mengekori Dina. Ia diam saja berjalan di belakang Dina dengan ekspresi takut yang kentara sekali terlihat di wajahnya. "Dina, kamu pulang bareng aku kan?" tanya Raka pelan. "Iya." Gadis itu lalu masuk ke mobil Raka di parkiran sekolah dan duduk di sebelah kemudi. Raka pun ikut masuk. Setelahnya cowok itu mengemudikan mobil keluar dari sekolah. Selama di perjalanan, keduanya sama-sama diam. Dina yang raut wajahnya tenang-tenang saja hanya melihat keluar jendela mobil. Sedangkan Raka, sesekali melirik gadis itu. "Nyetir yang bener Raka. Nanti nabrak." "Iya Din." "..." "Dina kamu marah?" "Menurut kamu?" "Iya kamu marah." "..." "Maaf." "..." Dina hanya diam. Selain malas bicara, ia juga kesal karna Raka yang biasanya pendiam jadi banyak bicara seperti ini. Dan Dina rasa Amelia yang menelpon Raka tadilah penyebab cowok ini menjadi berbeda sesuai perkiraannya selama ini. Sore itu jingganya langit membuat Dina terpesona. Ia tersenyum kecil sembari membuka kaca mobil untuk dapat melihat langit jingga lebih jelas. Raka yang mendapati senyuman Dina merasa sedikit lebih lega. Dan ia sedikit menyesal karna membuat Dina marah sebab telpon masuk dari Amelia. Andai saja Raka tidak menyimpan nomor gadis itu lagi, mungkin sekarang ia tidak perlu pusing membujuk Dina yang marah. Dina masih saja menatap langit jingga. Sembari melihat hilir mudik kendaraan di sore hari ini. Ia tahu kalau Raka membelokkan setir ke jalanan lain bukan jalan rumahnya. Tapi, Dina tidak peduli, selagi ia senang melihat langit jingga terserah sih Raka mau nyetir kemanapun. Ternyata, Raka mengendarai mobil menuju taman kota. Yang merupakan tempat berkumpulnya anak muda, anak kecil, orang tua, kakek nenek dan remaja puber, taman kota tidak pernah sepi. Setelah berkeliling satu kali, Raka kemudian menuju parkiran mobil di area air mancur. Ia memarkirkan mobilnya. "Mau turun dulu gak?" tanya Raka lembut, ia mengusap puncak kepala Dina pelan. "Mau! air mancurnya udah nyala." Mereka berdua pun turun. Dina yang sudah tak sabar langsung melangkah menuju air mancur, ia mengambil ponselnya dan merecord air mancur dengan latar langit jingga. Setelahnya seperti anak milenial zaman now, ia memposting hasil recordnya di media sosial. Raka hanya diam saja dan berdiri di sebelah Dina. Ia tidak terlalu tertarik dengan air mancur, bahkan ia sebenarnya tidak peduli juga mau air mancur itu nyala atau tidak. Hanya saja saat berpacaran dengan Dina, Raka rasa air mancur, langit jingga dan Dina yang tersenyum adalah suatu bentuk kebahagiannya tersendiri untuknya. Selagi Dina masih dalam pengawasannya, Raka menoleh ke kanan dan kiri melihat keramain orang-orang di sekitar air mancur. Dan saat itulah ia mengkap sosok yang ingin ia hindari untuk hari ini. Amelia. Sayangnya, gadis itu mendapati kehadiran Raka lebih dulu dan tanpa malu berlari kecil ke arah Raka. "Raka!" Amelia berseru senang. Ia tersenyum lebar. "Apaan sih!" Balas Raka ketus. "Kok gitu, gue seneng banget liat lo di sini. Lo tau kan gue suka air mancur ditambah ada lo yang gue suka jadi senengnya double deh." Amelia lalu memeluk lengan Raka erat. "Amelia. Gue udah punya pacar. Jadi, stop deketin gue." Raka lalu menepis kasar tangan Amelia yang memeluk lengannya. "Raka?" Dina tiba-tiba sudah ada di depan Raka. Ia melihat bagaimana Amelia memeluk lengan Raka dengan mata kepalanya. "Dina? Sayang ini gak seperti yang kamu liat." Raka gelagapan. Ia berhasil melepas tangan Amelia yang memeluk lengannya dan mendekati Dina. "Gak seperti yang aku liat gimana?" Dina menoleh ke belakang Raka, karna cowok itu menutup pandangan Dina. "Jadi, itu Amelia?" "Hah?" "Aku mau kenalan." "HAH?!" "Ck. Raka kenapa sih? Biasa aja dong. Aku kan cuma mau kenalan sama dia." "Enggak. Enggak. Yaudah kita pulang." "Kok?" Raka pun menarik tangan Dina segera dan pergi dari sana. Dina sempat menoleh ke belakang dan melihat Amelia menatap tajam ke arahnya. Ditatap seperti itu Dina hanya tersenyum tenang.Sesampainya di mobil, Raka tidak langsung menyalakan mesin. Cowok itu lalu menyalakan mesin mobilnya dan mulai berkendara. "Dina?" "Iya." "Amelia itu..." "Mantan kamu kan?" "Kamu tau?" "Aku tau." "Maaf." "Gapapa. Toh dia cuma mantan kamu kan." "Kamu gak marah?" "Marah sih. Dikit." "Maaf Dina." "Iya, iya." "Mau bakso gak?" "Bakso? Mana?" "Itu." Raka menunjuk kedai bakso tak jauh dari taman kota di pinggir jalan. Tempat yang biasanya mereka datangi. "Mau." Raka terkekeh kecil. Lalu membelokkan setir ke kedai bakso itu. Omong-omong soal Amelia, Dina sebenarnya sudah tahu soal gadis itu sejak hubungan mereka baru berjalan dua bulan. Dina bukannya cemburu, hanya saja ia risih melihat Amelia selalu mengirim pesan pada Raka dan Dina juga tahu kalau Raka juga risih dengan itu. Selang waktu berlalu, Amelia sudah tidak menghubungi Raka lagi. Dina merasa tenang dan damai. Hingga hubungan mereka berjalan Lancar sampai sekarang ini, terhitung kira-kira sudah enam bulan lebih hubungan mereka berjalan. Kedai bakso yang mereka kunjungi tidak terlalu ramai sore ini. Raka yang memesan pesanan mereka sedang berbincang seru dengan bapak penjual bakso. Karena mereka sering datang, bapak penjual bakso kenal dengan Raka. Sedangkan Dina memilih tempat duduk di, ujung kedai dekat kipas angin. Sengaja sih, karena Raka kalau sehabis makan bakso pasti keringetan. Cowok itu masih saja asik berbincang dengan bapak penjual bakso. Akhirnya Dina kembali teringat soal Amelia. Meskipun Dina memasang wajah tenang, tapi hatinya tidak dan pikirannya berputar-putar tentang Amelia. Memangnya cewek mana yang bisa tenang saat kekasihnya kembali didekati mantan pacarnya. Dina juga sadar kalau akhir-akhir ini Raka kembali didekati Amelia. Sejak Raka ikut les, tiap malam sepulang les Raka susah sekali dihubungi. Maka dari itu, Dina melakukan penyelidikan seorang diri. Yaitu dengan mendatangi tempat les Raka dan melakukan pengamatan. Untungnya karena Dina pandai menyetir, ia bisa bersembunyi di dalam mobil Ibunya yang ia pinjam waktu itu. Selama sepuluh menit menunggu, Raka keluar seoarang diri diikuti Amelia yang langsung saja masuk ke dalam mobil Raka. Esoknya Dina mencoba bersikap tenang, dan merasa kalau Raka agak menghindarinya. Dina mencoba sabar dan beberapa kali melakukan pengintaian sendiri. Hingga ia merasa makin ke sini, Raka semakin berubah. Cowok itu yang biasanya tenang dan jarang bicara jadi heboh serta cerewet. Dina jadi tak nyaman, namun kesabarannya punya batasan. Hingga saat Dina mendapati Amelia menelpon, Dina pun berpura-pura tanya pada Raka siapa Amelia sebenarnya. Dan juga tadi, saat melihat Amelia memeluk lengan Raka ingin sekali Dina mendorong gadis itu menjauh. Tapi, dilihat secara langsung Amelia memang tampak cocok bersanding dengan Raka. Tapi, Raka kan pacaranya. Dan Amelia itu adalah mantan yang merupakan kisah masa lalu Raka. Lagipula, Raka juga sepertinya tidak lagi punya perasaan pada Amelia. Namun, Dina juga punya sedikit perasaan takut kalau nantinya Raka kembali berpaling pada Amelia. Sebab, akhir-akhi ini agaknya Amelia sudah keterlaluan dan melewati batas. Dina harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan hubungannya. Karena, Raka miliknya. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN