23. Rencana Jalan-jalan

1615 Kata
Selepas ujian, Kristi, Rara, Dina dan Dea duduk-duduk di tribun penonton dalam gedung olahraga. Sedangkan Fakhri, Amal, Raka dan Martha sedang asik bermain basket dua lawan dua di lapangan basket. Martha ikut serta karna ia mau deketin Dea dan sekalian cari perhatian gadis itu. Di gedung olahraga ini hanya ada mereka berdelapan. Selagi cowok-cowok asing mengoper bola, para ciwi-ciwi sibuk gibah di tribun penonton. "Kenapa sih Ra lo gak cerita sama gue kalau lo masih sayang sama Fakhri." Kristi memulai obrolan ia tampak sedikit kesal karna Rara tak cerita padanya sejak awal. "Ini gue mau cerita Kris." "Ck. Ceritanya tuh harusnya pas lo lagi galauin Fakhri. Kalau sekarang mah gue udah tau lo sama Fakhri pacaran lagi." "Ya gitu deh... Jangan marah ya Kris. Lain kali gue bakal cerita." Rara nyengir sembari merangkul Kristi, ia jadi merasa sedikit bersalah pada gadis itu. Kristi hanya mendengus pelan. Ia lalu mengalihkan pandangan ke lapangan basket, melihat Amal dengan kaos hitam yang sedang mendrible bola. Seketika pikiran Kristi diam-diam bicara, "Amal ganteng juga ya, pas main basket gini." Saat tersadar Kristi memukul kepalanya pelan dan cepat-cepat mengalihkan pandangan dari Amal. "Liat deh Bang Martha caper banget," sahut Dina. Ia mencolek lengan Dea agar gadis itu juga melihat ke lapangan basket dimana Martha yang berlari-lari kecil seraya sesekali melirik ke arah tribun penonton. Dea pun menaruh atensi ke lapangan basket dan saat itu juga Martha sok mendrible bola dengan membelakangi ring basket. Bola oranye itu pun meluncur masuk ke dalam ring. Sontak saja cowok-cowok yang ada di lapangan serta ciwi-ciwi bersorak heboh. Terlebih lagi Martha yang masih tak percaya lemparannya yang begitu mulus masuk ke dalam ring. "Mantep bro! Tim basket masih nerima anggota baru kok Mar." Raka memberitahu setelahnya kedua cowok itu tos ala laki-laki. "Ck. Males gue kalau masih si Fikri ketuanya." "Belum damai juga?" Amal meningkahi. "Belum. Sampai kapanpun juga gue males damai sama tu orang." Bola oranye itu kembali memantul mantul di lapangan. Suara decit sepatu juga terdengar. Dan bisik-bisik ciwi-ciwi yang penasaran dengan obrolan cowok-cowok tadi. "Emang ada apa antara Kak Fikri sama Bang Martha?" tanya Kristi kepo. "Jadi gini Kris ceritanya, gue taunya dari Raka sih." Dina selaku pacar Raka yang memang tim basket memulai sesi gibah. "Dulu Bang Martha ini sohib sama si Fikri, terus pas kita masih murid baru mereka ternyata suka sama cewek yang sama. Namanya Nadin, dia sekelas sama gue pas kelas satu. Nadin ini polos banget, tipe-tipe cewek yang disuka cowok banget, kayak cowok-cowok pengeng ngelindungin dia gitu, sama kayak Dea. Makanya Bang Martha suka." "Kok gue?" Dea menunjuk dirinya bingung. "Adek diem dulu." Rara menyela cepat. "Terus, karena Bang Martha udah bucin parah sama Nadin, tiap hari ke kelas, beliin Nadin jajan, gitu-gitu udah totalitas banget tau gak. Sampai akhirnya Bang Martha tau kalau selama dia deketin Nadin si Fikri juga ngedeketin Nadin. Bang Martha deketin Nadin di sekolah kan ya, kalau si Fikri di luar sekolah. Karena rumah Nadin masih sekitaran sekolah kita dan rumah Fikri juga di belaakang sekolah kan? alhasil Fikri jadi gampang ngedektin. Setelah tau itu semua Bang Martha bener-bener marah, sampe tonjok-tonjokkan. Parah banget waktu itu, kata Raka ya Bang Martha sama Fikri kena skors tiga hari." Kristi berdecak pelan sembari geleng-geleng kepala. "Kenapa ya gue sempet suka sama dia. Nyesel gue." "Namanya juga raja buaya Kris, dan lo cewek jomblo yang lagi bingung sama perasaan sendiri, makanya jadi baper digombalin dia." Rara berujar begitu jujur. Di satu sisi Kristi setuju juga dengan ucapan Rara, namun di sisi lain ia ingin memukul Rara karna asal saja bicara. "Jadi, sekarang yang raja buaya si Fikri ya Ra bukan Fakhri," seloroh Dina seraya tertawa. "Syalan lo Din!" "Terus si Nadin itu kemana Din?" tanya Dea, agaknya Dea penasaran dengan cerita masa lalu calon gebetannya. "Sehari sebelum Bang Martha sama Fikri tonjok-tonjokkan, Nadin pindah sekolah." "Oh gitu." Dea pun mengangguk-angguk khidmat. "Udah sore nih, pulang gak Kris?" Amal menyahut dari lapangan. Fokus Kristi pada sesi cerita dari Dina pun buyar, ia lalu langsung melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah empat sore. "Udah sore girls." Kemudian ia beranjak dari duduknya. "Kalau gitu gue pulang dulu ya girls. Kalian hati-hati pulangnya. Dadah." Setelahnya Kristi menuruni anak tangga mengikuti langkah Amal yang sudah di luar gedung olahraga. "Amal tungguin." "Ck. Lo lelet banget." "Ih, Amal!" "Iya! Iya!" Amal pun berhenti melangkah. "Nah gitu, lo cepet banget jalannya. Buru-buru pulang emang mau ngapain?" Karena ini hari terakhir ujian dan besok libur, Kristi jadi santai saja dan malah ingin lebih berlama-lama di sekolah. "Gak ada sih, gue pengen bakso bakar, gue juga gerah pengen yang seger-seger.” Mendengar itu Kristi punya ide cemerlang, “Gimana kalau kita beli aja bakso bakarnya terus ke rumah gue, gue bakal bikinin lo es limun yang seger.” “Wah! Ide bagus tuh! Kuy cepetan.” Lumayan kan minum es limun di rumah Kristi, sudah gratis dan bikin segar pula. Amal mana bisa menolak. Dari gedung olahraga yang dekat dengan pagar samping sekolah, Amal yang menaruh sepedanya di belakang gedung itu dibuat menghentikan langkah saat ia melihat Fikri dan teman-temannya yang berada di sebrang jalan, tepatnya di kedai es buah Pak Ucup. Amal pun menoleh ke belakang, “Kris lo tunggu aja di depan.” “Depan mana?” “Gerbang depan.” “Yaelah, kalau gitu kenapa lo ajak gue ke sini.” Amal terkekeh. “Sorry cantik. Tunggu gue di gerbang depan aja ya.” “Ck, cepetan!!” Kristi menghentakkan kakinya kesal seraya melangkah cepat menuju gerbang depan. Amal kembali mengambil sepedanya, ia melirik sinis ke arah Fikri dan teman-temannya. Mau sampai kapan pun Amal tidak ingin Kristi jatuh ke pelukan Fikri. ** Bakso bakar yang waktu itu Amal dan Kristi temui berada di jalanan menuju rumah Rafdan, namun agaknya Amal melupakan sesuatu sebab dari sekolah menuju rumah Rafdan ternyata ada tanjakan. Posisi Kristi yang dibonceng Amal tentu saja membuat cowok itu kesusah menggoes sepedanya. "Lo masih kuat Mal? Gue turun aja ya." "Enggak. Gue kuat." Amal sok sekali mengayuh sepedanya menaiki tanjakan dengan Kristi di boncengan di siang hari terik begini. Sebenarnya ia sudah tidak kuat namun, ia tak tega jika harus menyuruh Kristi berjalan. Salahnya sendiri ia lupa belok di persimpangan tadi yang punya tanjakan tidak terlalu tinggi dari jalan ini. "Lo keringetan gini masih bilang kuat." Kristi diboncengan sudah khawatir. Ngeri loh ini mereka sudah hampir sampai di ujung tanjakan jika saja Amal pingsan karna kelelahan, mereka pasti akan beringsut mundur ke belakang dan berguling-guling di aspal. Kristi jadi ngeri membayangkannya. Akhirnya ia memilih diam dan berdoa agar cepat sampai di ujung tanjakan sembari memejamkan mata dan mencengkeram kuat kaos amal di bagian pinggang. "Akhirnya kita nyampe Kris!!" Begitu ujar Amal dengan semangat. Ternyata diujung tanjakan itu penjual bakso bakar sedang mangkal seraya mengipas-ngipasi tubuhnya. Agaknya Abang bakso bakar tersebut kegerahan. Amal dan Kristi pun beristirahat di bawah naungan payung besar penjual bakso bakar selagi menunggu bakso pesanan mereka matang di panggangan. "Gini banget ya demi bakso bakar." Amal tiba-tiba berceletuk, setelahnya ia tergelak. Kristi juga ikut tertawa. Ia malas berkomentar dan jujur saja Kristi kehausan. Sepuluh menit kemudian, bakso bakar pesanan mereka pun matang. Amal memesan sampai sepuluh tusuk sedangkan Kristi enam tusuk. Setelahnya Amal kembali menggoes sepedanya. Kali ini jalanan datar dan hanya ada penurunan sesekali. Kristi merasa sejuk mendapat angin sepoi-sepoi di boncengan. Rasa hausnya tadi langsung hilang karna angin menerpa wajahnya. Tiba-tiba ia ingat rencana jalan-jalan bersama Amal setelah ujian selesai. "Mal, hari ini kan hari terakhir ujian, lo juga udah janji kita bakal pergi kalau udah ujian kan?" "Iya." "Jadi, gue udah kepikiran mau pergi kemana." "Kemana?" "Tapi jauh Mal." "Di luar kota?" "Enggak sih, tapi di perbatasannya." "Oh, tempat wisata baru itu ya?" "Lo tau?" "Tau, temen gue ngajak ke sana juga. Anak-anak bola." "Oh gitu." "Jadi mau kesana?" "Boleh?" "Bolehlah." "Yeayyy, sayang Amall!" ** Di gedung olahraga indoor, Raka, Dina, Rara dan Fakhri masih duduk-duduk di lapangan. Mereka duduk bersila sembari makan cemilan yang tadi dibeli Fakhri. Sedangkan Dea dan Bang Martha sudah pulang duluan, Dea dijemput supirnya kali ini tidak dengan lamborghini tapi mobil sedan mengkilap, dan Bang Martha pulang sendiri dengan motor besarnya seraya tersenyum senang karna berhasil dapat nomor ponsel Dea. "Asli, baru kali ini gue liat Martha senyum begitu." Raka memulai obrolan. Rara tergelak lalu menimpali, "Si Abang Martha lebih gantengan senyum ya kan Din daripada diem, muka udah serem gitu ditambah diem jadi double serem." Dina ikut tergelak karna ocehan Rara. "Si Dea lucu ya jalan di samping Bang Martha tadi. Pendek banget dia sedadanya Bang Martha doang, jadi lucuu. Gemes deh liat mereka nanti kalau jadi couple beneran." "Wah iyaa, kayak yang di drama-drama itu kan Din." Rara menimpali. "Drama aja terus," sahut Fakhri. "Ih, kenapa sih?" "Telpon gue gak pernah diangkat tiap lo nonton drama tau, kesel gue." "Yakan bisa nelponnya nanti." "Yikin bisi nilpinnyi ninti." "Ih nyebelin lo!" seru Rara kesal. Fakhri berdecak pelan. Ia lalu bangkit dari duduknya. "Bang gue cabut dulu ya," ujar Fakhri pada Raka. Lalu mereka tos ala laki-laki dan Fakhri berjalan acuh keluar gedung olahraga. "Ih Fakhri terus gue gimana?" Rara jadi panik ditinggal begitu saja, gadis itu pun juga beranjak dari duduknya. Dan berlari mengejar Fakhri. "Yaudah yuk kita juga pulang." Raka menggandeng tangan Dina sembari bangkit dari duduknya sedangkan tangan satunya lagi memegang ponsel. "Oke," ucap Dina seraya berdiri dan mengambil sampaahh makanan mereka yang sudah dikumpulkan dalam satu plastik. "Aku buang ini dulu ya." Setelah berkata seperti itu, Dina pun berlari kecil ke sudut tribun dimana tempat sampaahh berada. Setelahnya ia berbalik dan melangkah menuju Raka lagi, di saat itulah ponsel Raka berbunyi dengan kontak Amelia tertera di layar, membuat Raka kelabakan sendiri. "Amelia itu siapa?" tanya Dina dengan tenang. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN