"Adekk!!" Panggil Rara pada Dea, gadis itu berlari kecil mendekat menuju meja kantin yang sudah terisi Kristi dan juga Dina.
"Dari mana aja lo Ra?" tanya Dea sedikit merengut.
"Ada urusan," jawab Rara sembari terkekeh.
Panggilan Adek dari Rara pada Dea disematkan oleh Rara sendiri, sebab Dea yang mungil dan baby face serta manja, membuat Rara yang dari dulu kepingin punya adik tapi tidak kesampean, menjadikan Dea sebagai adik angkatnya.
"Urusan apa?" tanya Dea lagi.
"Adalah penting. Anak kecil gak boleh tau," sahut Rara asal dan membuat Dea semakin merengut.
Kristi dari tadi hanya diam, tidak selera melihat Rara sama sekali dan lebih asik memakan mie rebusnya dengan kuah merah penuh sambal.
"Astaga Kristi! Kalau Amal liat lo pasti kena marah!" seru Rara heboh.
"Kan sekarang gak ada Amal." Kristi menjawab datar tanpa melihat ke arah Rara.
"Iya sih, gue liat-liat anak IPS belum pada keluar soalnya yang ngawas guru BK sih." Rara tertawa kecil, "btw, mie lo menggiurkan banget, gue jadi pengen mie."
"Pesen aja kalau gitu Ra." Dea menyahut.
"Oke. Kalau gitu tungguin gue makan ya entar," balas Rara dan berlalu pergi ke kedai mie rebus.
Kristi lalu mendongak dan segera menenggak segelas air sampai tandas. Dengan peluh bercucuran Kristi merasa puas telah menghabiskn semangkuk mie rebusnya.
"Wah kepala gue rasanya plong deh." Kristi berujar sembari tersenyum, agaknya stres yang ia alami sudah hilang karna mie rebus pedas yang ia makan.
"Lo yakin gak sakit perut Kris?" tanya Dina khawatir.
"Enggak, selagi ada penangkalnya gue aman." Kristi lalu beranjak ke kedai yang menjual minuman kaleng dingin. Ia mengambil sekaleng s**u murni dan membayarnya di kasir. Setelahnya ia berjalan kembali ke meja kantin namun ia tiba-tiba dihadang seseorang. Kristi mendongak, mendapat cowok tinggi dengan wajah datar dan sorot tajam sedang menatapnya. Kristi jadi takut, ia refleks menelan saliva sendiri. "Ada apa ya Kak?" tanya Kristi pelan. Karena melihat lambang di bahu kanan seragam cowok itu yang merupakan lambang Kakak kelas, jadi Kristi menyematkan sebutan 'Kak' diakhir kalimat tanyanya.
"Santai aja. Gue gak mau makan lo dan gue juga gak suka daging manusia. Btw, temen lo yang pendek itu siapa? Anak baru ya?"
"Eh?" Kristi celingak celinguk. Ia jadi blank setelah mendengar ucapan cowok itu, ternyata suaranya tidak seseram wajahnya. Malah tipe suara yang enak didengar.
"..." Karena Kristi hanya diam dan tak membalas, cowok itu kembali menatapnya lurus-lurus.
"Oh, eh. Temen gue ya Kak. Yang pendek? Oh, Dea. Namanya Dea Kak." jawab Kristi kikuk.
"Dea. Namanya bagus. Sampein salam gue ya." Setelah bicara seperti itu, cowok tersebut lalu pergi begitu saja meninggalkan Kristi yang merasa sangat lega lepas dari situasi menegangkan. Kristi pun melangkah kembali ke meja kantin yang sudah ada Rara ada di sana.
"Gillaa Kris, lo abis dicegat Bang Martha, dia ngapain? Minta nomor hp ya?" tanya Rara begitu Kristi datang. Gadis itu sudah duduk di sebelah Dea dengan semangkuk mie rebus setengah matang, makanya pesanan Rara cepat selesai. Sebab gadis itu lebih suka teksture mie yang masih keras.
"Oh jadi namanya Martha. Gue sering liat dia di perpus sih, tapi gak tau namanya. Bukan, dia bukan minta nomer gue, tapi dia nanyain Dea." jawab Kristi, lalu ia beralih pada Dea. "Bang Martha minta sampein salam ke lo De."
"Wahh!!! Bang Martha kayaknya suka Dea deh." Dina berseloroh. Setelah menelan nasi goreng dimulutnya, Dina berujar lagi. "Soalnya ya Raka pernah cerita kalau Bang Martha itu suka tipe cewek kayak Dea banget yang bisa dimanjain."
"Tampang serem gitu gimana bisa manjain Dea?" tanya Kristi heran.
"Jangan salah loh Kris, tampang serem gitu tapi hatinya hello kitty." Rara pun menyahut. "Kalau bener Bang Martha suka sama lo, gue jadi seneng lo ada yang jagain Dek." lalu ia menepuk bahu Dea, merasa bangga dan terharu.
"Tapi, omong-omong lo udah ketemu sama Bang Martha di perpus ya De? Soalnya selain perpus gue gak pernah liat Bang Martha di manapun." Kristi bertanya lagi.
"Iya. Pas gue ke perpus terus cari buku yang asik dibaca, gue ketemu dia. Awalnya sih kita sama-sama pengen ambil novel di atas rak, terus karna mukanya serem gue pergi gitu aja dan milih buku lain. Abis itu gue gak perhatiin lagi sih, soalnya udah nemu buku bagus."
"Pertemuan yang klise sih," ucap Rara sembari mengangguk-angguk. "Tapi meskipun klise begitu kalau akhirnya jadian dan menjadi kisah romansa yang abadi, itu baru namanya luar biasa."
"Ra kayaknya lo kebanyakan nonton drama romantis deh," sela Dina sembari tertawa.
"Iya bener!" sahut Kristi juga tak mau kalah. Lalu ke empatnya sama-sama tertawa, Rara yang sebenarnya jadi bahan tertawaan malah ikutan tertawa juga.
"Duh, cewek-cewek cantik seneng banget ya abis ujian." Suara Fakhri yang datang mendekat disusul Amal. "Boleh kan kita gabung?" tanya cowok itu.
"Kalau Amal boleh, kalau lo enggak!" seru Rara cepat. Dan ditingkahi langsung oleh Kristi "Boleh boleh aja."
"Kris!" Rara pun protes.
Kristi hanya diam dan malah bicara pada Amal. "Gimana ujian lo Mal?"
"Lancar. Lo gimana?" tanya Amal balik, namun cowok itu langsung berseru panik saat mendapati mangkuk mie rebus Kristi tadi yang menyisakan kuah merah merona. Cowok itu lalu mengomel. "Kristi kan udah dibilangin jangan makan pedes-pedes, nanti lambung lo sakit, terus lo...."
Omelan Amal yang sepertinya akan panjang dan lamaaaaa, kita skip dulu saja. Sebab ada pasangan canggung yang saling duduk bersebelahan di meja yang sama. Siapa lagi kalau bukan, Fakhri dan Rara.
"Ra, mie lo keliatannya enak. Boleh nyicip?"
"Enggak! Makan aja sendiri punya lo!" ketus Rara.
Fakhri cemberut. Ia kembali berujar. "Ra kok lo gitu sih, gak suka ya kalau gue duduk di sini?"
"Enggak!" Rara menjawab ketus lagi.
Fakhri jadi semakin cemberut. "Ra, gue salah apa sih kok lo marah-marah gitu sama gue, padahal tadi kita kan... Eempp" Fakhri tidak bisa melanjutkan omongannya sebab Rara membekap mulutnya.
"Hayoloh tadi kalian ngapain?" Dina yang tadinya sibuk makan nasi goreng malah memanas-manasi. Membuat Amal yang masih mengomel berhenti bicara, serta Kristi dan juga Dea yang mengalihkan atensi pada keduanya. Rara jadi kikuk ditatap oleh semua orang. Alhasil dengan muka memerah, ia menarik Fakhri dan membawa cowok itu pergi.
"Lo kenapa sih gak bisa liat gue tenang dikit." sahut Rara gemas saat ia dan Fakhri sudah jauh dari kantin.
"Kenapa sih? Lo malu pacaran sama gue."
Mendengar itu, Rara jadi merasa bersalah. Namun, ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya.
"Bukan gitu."
"Terus gimana? Lo mau kita backstreet lagi?"
Rara mengangguk.
"Sampai kapan Ra?"
"..."
"Duh, biasanya nih ya cewek yang ngerengek minta kepastian. Sekarang malah cowok!" Fakhri meremas rambutnya sendiri dengan gemas. "Kurang apa lagi sih gue Ra? Gue gak pantes ya jadi cowok lo."
"Bukan gitu, Fakhri." Rara mencicit pelan.
"Terus kenapa hm?" Fakhri menghela napas pelan, ia menunduk untuk melihat wajah Rara yang lebih pendek darinya. Dengan sorot mata yang tak mengerti isi kepala Rara, Fakhri menatap lurus-lurus manik mata Rara. Dan tanpa sadar jarak mereka semakin dekat. Hingga Rara bersandar pada dinding, lalu ke dua tangan Fakhri yang berada di kedua sisi tubuhnya. Memang ya, kalau sedang berduaan apalagi di taman belakang sekolah yang sepi, pasti ada orang ketiga yang tak lain adalah setan.
"Stop Fakhri, ini di sekolah."
Fakhri berhenti, padahal ia sudah menutup matanya. Namun, cowok itu hanya diam tidak bergerak untuk menjauh sama sekali.
"Jadi, kalau bukan di sekolah boleh ya?" Fakhri tersenyum miring, lalu membuka matanya yang langsung bertemu dengan kedua mata Rara. Wajah Rara bersemu merah, kemudian ia mendorong Fakhri menjauh seraya menutupi wajahnya.
"Sialan lo Fakhri!"
Fakhri tergelak puas.
**
Sebenarnya, saat pulang dari Lesehan Pak Dudun hari minggu saat paginya dari waterboom. Fakhri mengantar Rara pulang, namun saat di dekat belokan menuju rumah Rara. Tiba-tiba Rara minta berhenti.
"Stop Fakhri."
"Kenapa? Rumah lo gak di sini, Ra."
"Iya, gue juga tau."
"Terus?"
Rara malah diam saja. Ia menunduk dan tampak gelisah sembari memainkan jemarinya.
"Ra? Ada apa?" Fakhri jadi khawatir.
"Gue inget, biasanya abis dari Lesehan Pak Dudun kita makan es krim dulu."
"Oh, lo mau es krim? Yaudah kalau gitu kita beli dulu." Fakhri lalu membelokkan setirnya, tapi Rara segera menahan cowok itu dengan memegang lengannya. "Bukan."
"Lah terus?"
"..."
"Udahlah, kita pulang aja."
Fakhri dibuat semakin tidak mengerti. Ia memiringkan kepalanya dan menatap Rara lama.
"Pulang Fakhri!"
"Ck." Cowok itu berdecak pelan dan mematikan mesin mobilnya. "lo mau pulang? Bilang dulu kenapa tingkah lo kayak gini."
"Enggak. Gue gak kenapa-napa."
"Bohong. Cepet ngomong, kalau gak kita di sini aja semaleman."
"Lo gila!"
"Iya gue gila!"
"Sinting!" Rara berseru ketus dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran jok.
"Ck. Mau lo apa sih Ra? Sumpah gue bingung sama lo. Coba lo bilang apa yang ada dipikiran lo sama gue, biar gue ngerti. Kalau lo diem aja, gue mana ngerti? Gue bukan cenayang yang bisa baca isi kepala lo Ra."
"Gue kesel sama lo Fakhri. Gue kesel!" Rara menoleh, matanya memerah. Meskipun di dalam mobil Fakhri gelap, Fakhri masih bisa melihat sorot mata Rara yang memerah dan berair. "Gue benci liat lo dengan gampangnya gonta ganti cewek setelah kita putus. Gue benci liat lo ketawa-tawa seolah putus dari gue bukan apa-apa, seakan kita putus itu emang keinginan lo dan bikin lo seneng. Gue benci tiap liat lo dengan entengnya nyapa gue seolah gak ada apa-apa di antara kita. Gue benci lo Fakhri." Setelahnya Rara terisak. Ia sesegukan hebat.
Fakhri jadi sedih dan ingin merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Namun, setelah mendengar Rara meluapkan emosinya, Fakhri rasa ia juga perlu memberitahu Rara akan perasaannya yang sebenarnya. "Terus kalau lo benci kenapa lo minta putus? Lo kira gue ketawa-tawa itu karna gue seneng udah putus dari lo? Lo kira gue gonta ganti cewek karna gue suka sama mereka? Engga Ra. Gue lakuin itu semua buat narik perhatian lo. Biar lo liat sehancur apa gue putus dari lo sampai jadi playboy kata orang-orang. Lo kira gue seneng-seneng sama cewek-cewek itu?"
Rara masih terisak. Agaknya karna setelah mendengar Fakhri yang baru saja meluapkan rasa yang cowok itu pendam, Rara jadi semakin sedih. Ia kira ia sendiri saja yang tersiksa dengan perasaannya sendiri. Ternyata Fakhri juga.
"Maaf. Maaf buat semuanya. Gue terlalu egois."
Fakhri menoleh, ia melihat Rara yang mengusap kasar air matanya. Dengan segera, cowok itu menahan tangan Rara kemudian berujar, "Jangan digituin, pipi lo ntar perih."
"Terus gimana? Air matanya gak mau berenti, huaaa."
"Ssstt, udah ya. Udah nangisnya Ra." Fakhri menarik Rara ke dalam pelukannya seraya mengusap-usap punggung gadis itu.
"Udah ya..."
"Maaf Fakhri."
"Iyaaa, gue juga minta maaf udah bikin lo benci sama gue karna tingkah gue."
"Oh iya, gue juga benci liat lo gendong Clara waktu itu."
"Gua kan nolongin dia. Gak niat apa-apa."
"Beneran?"
"Beneran."
"Gue kira, lo balikan sama dia."
"Ya enggak lah. Kan udah gue bilang, gue cuma main-main aja Ra."
"Rasanya denger omongan lo kayak gitu, gue pengen banget lelepin ke laut."
"Yah, galaknya mulai lagi."
Rara beringsut menjauh dari Fakhri, namun cowok itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan di lepas, gue masih kangen."
"Fakhri kalau lo kayak gini, gue bener-bener jadi benci sama lo." Rara memberontak hendak lepas dari pelukan Fakhri.
"Gue harus apa supaya lo gak benci gue lagi."
"Ck. Lo masih gak ngerti juga?"
"Astaga Ra, gue bilang gue bukan cenayang yang ngerti apa mau lo tanpa lo harus bilang."
"Lepas dulu!"
"Engga!"
"Lo gak punya hak peluk gue, karna lo bukan pacar gue."
"Oh jadi, lo mau kita pacaran lagi? Kenapa ribet banget sih Ra tinggal bilang doang padahal." Fakhri terkekeh, ia meregangkan pelukannya hendak melihat wajah Rara sekalian memastikan apakah opininya benar kalau Rara ingin balikan lagi dengannya, padahal opini itu keluar asal saja dari mulut Fakhri. Namun, melihat Rara meremas sisi bajunya dan tampak enggan melepas pelukan, Fakhri dibuat senang bukan main.
Ia kembali memeluk erat Rara. Saking senangnya sampai menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan. Otomatis Rara juga goyang ke kiri dan kanan.
"Yes! Akhirnya kita pacaran lagi!!" Fakhri tertawa lepas. "Susah banget sumpah ngertiin lo Ra, untungnya gue sayang."
Rara mendongak ke atas, melihat wajah Fakhri. Ia masih berada dalam pelukan Fakhri. "Awas aja lo kalau besok gue liat caper ke cewek-cewek."
Fakhri tergelak. "Siap tuan putri!"
**
"Astaga! Kenapa kalian berbuat maksiat di siang bolong begini?" sahut suara yang tiba-tiba datang dari arah kanan mereka. Sontak membuat Fakhri dan Rara yang masih dalam posisi yang sama langsung menjauh dan gelagapan sendiri.
"Di taman belakang lagi, kayak gak ada tempat lain. Gak punya duit lo ya nyewa motel kek."
"Sialan lo Mal!" geram Fakhri.
Sedang Amal sudah tergelak, diikuti Kristi yang tertawa puas setelah mengerjai ke duanya.
"Lucu banget kan Mal? Gimana tuh tadi, lo malu pacaran sama gue?" Kristi menirukan omongan Fakhri dan dengan nada yang dibuat-buat.
"Bukan gitu," sahut Amal yang juga menirukan omongan Rara.
Setelahnya, Amal dan Kristi kembali tergelak begitu puas.
"Sialan! Dasar temen laknaatt kalian!!" Dan Rara pun murka.
**