Episode 10

971 Kata
Di dalam mobil Verrel, Rindi terus saja berceloteh dalam pelukan Randa. "Percy kamu jahat, aku tidak mau kamu duain. Kenapa kamu tega mengkhianatiku. Kenapa harus Rasya? Kenapa, hikzzz...." isaknya membuat Randa menangis memeluk kembarannya itu. Verrel sesekali melirik ke belakang melalui kaca spion. Rindi semakin meracau tak jelas, kadang memaki kadang menangis. "Sebaiknya Rindi jangan di bawa pulang ke rumah," ucap Verrel membuat Randa menengok ke arahnya. "Lalu dia akan tidur dimana?" tanya Randa. "Mama nyuruh gue buat tidur di rumah." "Sebentar." Verrel menghubungi seseorang. "Assalamu'alaikum De, kamu sudah tidur?” "....." "Apa kamu mau ikut Kakak menginap di hotel?" "......." "Kakak tidak bisa pulang, karena harus menemani Rindi. Kamu bisa membantu Kakak menemaninya? Karena Randa tidak bisa menemani." ",,,,," "Baiklah, bersiaplah dan pakai mantel. Kakak jemput kamu setengah jam lagi, bilang ke Bunda dan Ayah kalau kamu akan menginap di luar denganku." ",,,,," "Baiklah," setelah mengucapkan salam, Verrel mematikan telponnya. "Bagaimana? Apa Leonna mau membantu?" tanya Randa. "Iya, dia mau membantu. Gue akan antar loe pulang sekarang, biar Rindi bersama gue dan Leonna." ucap Verrel yang di angguki Randa. ♣♣♣ Rindi terbangun dari tidurnya dan menatap sekeliling karena ini bukanlah kamarnya. "ini dimana?" gumam Rindi berangsur bangun sambil memegang kepalanya yang terasa pening. "Kakak sudah bangun?" ucap seseorang membuat Rindi menengok. "Leonna? kenapa kamu ada di sini?" tanya Rindi mulai bingung. "Jangan dulu tanyakan itu, minumlah teh hangat ini. Ini bisa menghilangkan rasa pusing di kepala Kakak." Leonna menyodorkan segelas teh hangat itu. Membuat Rindi menerimanya dan langsung menyeduhnya. "Aromanya enak kan?" tanya Leonna membuat Rindi mengangguk tersenyum manis. "Terima kasih. Sekarang jawab pertanyaanku, kenapa aku ada di sini. Seingatku semalam aku-" "Gue yang bawa loe ke sini," ucap Verrel memotong ucapan Rindi. Rindi menengadahkan kepalanya dan baru sadar kalau Verrel juga ada di sini, Verrel tampak tengah mengusap rambutnya yang basah sehabis mandi. "Gue gak bisa bawa loe pulang ke rumah, loe tau kan gimana reaksi nyokap loe kalau tau loe mabuk," tambah Verrel membuat Rindi terdiam. "Sorry,, gue ngerepotin loe. Leonna, terima kasih yah dan maaf karena aku mengganggu kalian berdua," ucap Rindi merasa tidak enak. "Tidak apa-apa Kak, santai saja," ucap Leonna dengan senyumannya. "aku akan pesankan sarapan," tambah Leonna beranjak menuju telpon yang ada di kamar hotel. Verrel melempar handuknya asal, ia sudah memakai celana dan kaos polos berwarna putihnya. Iapun memilih duduk di sisi ranjang tepat di hadapan Rindi yang masih merenung. "Kalau tidak sanggup, lepaskan saja." ucapan Verrel menyadarkan Rindi dari lamunannya. "Verrel, gue-" gumam Rindi sudah menangis terisak. Sampai kapan Rindi akan menyembunyikan kesakitan ini dari yang lain. Verrel tau karakter Rindi begitu berbeda dengan kembarannya Randa. Rindi sangatlah tertutup pada semua orang, bahkan ke orangtuanya sendiri. "hikz....hikz...hikz... gue terlalu mencintainya, Rel." Verrel langsung menarik Rindi ke dalam pelukannya tanpa menyadari kalau Leonna tengah memperhatikan mereka berdua. Verrel sudah menganggap Rindi sebagai saudaranya sendiri, bagaimanapun Verrel harus menjaganya, karena selain Percy, Verrellah sahabat lelaki Rindi. "Menangislah, keluarkan segala kegundahan loe." Verrel membelai kepala Rindi dengan lembut, Rindi menangis sejadi-jadinya di d**a bidang milik Verrel. "Terkadang yang di ingankan sebenarnya tidak di butuhkan, sedangkan yang di butuhkan tidak bisa di miliki. Tapi Tuhan tau apa yang terbaik untuk kita," ucap Verrel. "Apa maksudmu?" "Kamu akan memahaminya nanti," ucap Verrel penuh misterius. "Rasa sakit adalah guru terbaik untuk belajar. Melangkahlah dan tetap menatap ke depan, hidup loe gak berhenti di sini. Bersiaplah untuk melangkah ke masa depan yang jauh lebih baik." Rindi melepas pelukannya dan menatap Verrel dengan sendu. "Tanpa Percy?" "Maybe, tetapi belajarlah kuat untuk kenyataan terburuk." Rindi terdiam mencermati ucapan Verrel. "Gue tau menjalankan tak semudah berbicara. Tapi gue berharap loe bisa kuat menerimanya." Verrel mengusap air mata Rindi, dan membelai pipinya dengan lembut. Leonna berdiri mematung di tempatnya mendengarkan dan memperhatikan suaminya dengan Rindi. Hatinya terasa tercubit melihat itu dan sedikit cemburu melihat perhatian Verrel pada Rindi. Ia memalingkan wajahnya memunggungi mereka saat matanya terasa memanas dan berkabut. Bel kamar terdengar, dan mampu menyadarkan Leonna dan yang lainnya. "A-aku yang akan membukanya," ucap Leonna tanpa berbalik ke arah mereka, seraya mengusap air matanya yang tanpa terasa luruh membasahi pipinya. "Gue gak yakin mampu, hikzz." Rindi menundukkan kepalanya membuat Verrel kembali menariknya ke dalam pelukannya. Leonna bahkan sudah menata sarapan di meja bar, tetapi Verrel dan Rindi masih bertahan pada posisi berpelukan dengan tangisan Rindi.  Setelah melihat Rindi sudah berhenti menangis, Leonna memantapkan hatinya untuk mendekati mereka berdua. "Maaf Kak, sarapannya sudah siap." ucapan Leonna menyadarkan mereka berdua. Seketika Rindi melepas pelukannya karena tidak enak dengan Leonna. "Maaf Leonna." cicit Rindi seraya menghapus air matanya. "Tidak apa-apa, Kak." jawab Leonna tersenyum manis. "Sudah jangan menangis lagi." Verrel menghapus air mata Rindi di depan Leonna. "loe wanita yang tangguh," tambahnya dan itu membuat Rindi tak nyaman karena Leonna melihat ke arah mereka dengan tatapan cemburunya. "Gue lapar." Rindi beranjak terlebih dulu meninggalkan Verrel dan Leonna, karena tidak ingin membuat Leonna semakin cemburu padanya. Verrel berdiri dan mengelus kepala Leonna dengan senyuman khasnya. "Kenapa melamun?" tanya Verrel dan Leonna hanya menjawab dengan gelengan kepalanya di iringi senyuman kecilnya. "Ayo sarapan." Verrel menarik tangan Leonna menuju meja bar dimana Rindi berada. ♣♣♣ Percy berdiri di dalam ruangannya dengan tatapan kosong menatap keluar jendela yang memperlihatkan jalanan ibu kota. Bayangan dirinya bersama Rindi berputar di kepalanya seperti film yang tengah di putar. Hatinya sakit, rindu dan hancur menjadi satu. Setelah kejadian saat mereka bertengkar, Percy tidak bisa menghubungi Rindi. Ia menghilang tanpa ada kabarnya. Di tempat lain, Rasya tengah duduk di balkon kamarnya tampak melamun. Hatinya berkecambuk tak karuan, ia berusaha bersikap biasa saja tetapi itu sulit untuknya. Ia terlihat begitu jahat sekali, Tatapannya mengarah ke arah cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Ia memainkannya dengan beribut pernyataan di benaknya. Tak berbeda jauh dengan Rindi yang duduk di sebuah taman, ia menatap kursi taman yang tengah di tempati sepasang kekasih. Ia mengingat dulu dia dan Percy sering menghabiskan waktu di sini, berbincang dan bercanda di kursi taman itu. Tak terasa air matanya kembali mengalir membasahi pipinya, puing kenangan itu memutar di kepalanya seperti sebuah film yang sedang di putar.   Complicated.... ♣♣♣  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN