Episode 9

2007 Kata
     Waktu yang sudah di tentukanpun datang. Malam ini Percy dan Rasya mengadakan acara pertunangan mereka di salah satu hotel milik keluarga Mahya. Acaranya cukup meriah dan tidak banyak yang di undang, hanya beberapa kerabat saja. Di dalam sebuah ruangan, Rasya masih menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna peach rancangan Adjie Notonegoro yang merupakan desainer terkenal di Indonesia. Ini seakan penampilan baru untuk Rasya karena selama ini dia tidak pernah memakai makeup. Rasya masih termenung di tempatnya mengingat apa yang terjadi dua hari lalu pada Rindi dan Percy karena ulahnya. Iya merasa dirinya sangatlah jahat dan egois. Tetapi bukankah cinta memang perlu keegoisan. Tatapannya tertuju pada gambar yang ada di galeri handphonenya. Di sana foto Rasya dan Percy yang masih memakai seragam SMA. Keduanya terlihat bahagia sekali, sejujurnya Rasya merindukan masa itu, masa dimana dirinya dan Percy bersama walau sebagai sahabat. Masa dimana Percy selalu menjaganya. "Hey!" Hezky masuk ke dalam ruangan itu dengan balutan dress berwarna hijau mint seatas lutut. Dia tersenyum manis ke arah Rasya dan mencium pipi kiri dan kanan Rasya. "Loe cantik, Sya." "Makasih." "Ada apa, loe kelihatannya tidak senang?" Hezky mengambil duduk di samping Rasya dengan menatap wajah sahabatnya itu dengan intens. "Gue mendadak ragu, haruskah gue mundur. Gue semakin merasa bersalah mengingat kejadian kemarin Rindi dan Percy. Gue tidak bisa tenang," ucapnya. "Kenapa mendadak sekali, semua tamu sudah berkumpul bahkan Percy sudah datang," jelas Hezky. "Yakinkan diri loe, Sya." "Setelah ini, 10 hari ke depan gue akan menikah dengan Percy. Gue takut," gumam Rasya menyiratkan rasa ragu yang mendalam. "Apa yang loe takutkan?" "Gue gak mau munafik dan bersikap sok tegar. Gue takut semakin tersakiti dengan menerima pernikahan ini." "Bukankah berani mencintai seseorang berarti berani merasakan sakit?" ucap Hezky. "Loe tau kan kisah gue gimana, gue di tinggal merrid sama cowok gue dan sudah setahun lamanya gue masih belum bisa move on. Tetapi gue berusaha menjalaninya dengan tegar, karena memang inilah resiko dari mencintai," ucapnya membuat Rasya merenung.   Walau di genggam kuat, andai dia bukan milikmu. Maka dia akan terlepas juga. Walau di tolak ke tepi secara terus menerus, kalau dia memang untukmu. Maka dia akan datang kembali. Itulah namanya jodoh. "Ayo Sya, semuanya sudah siap," ucap Ratu baru saja datang. Rasya menganggukkan kepalanya dan beranjak bersama Hezky dan Ratu. Mereka bertiga berjalan menuruni tangga, tatapan Rasya langsung mengarah ke arah Percy yang terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Biasanya, tatapan calon pengantin pria akan terus tertuju kepada sang mempelai wanita tanpa bisa di alihkan karena terpesona. Tetapi ini, bahkan menengokpun tidak. Di sana Rasya merasa hatinya tercubit melihat Percy yang cuek saja dan sibuk dengan pikirannya sendiri. 'Apa yang kamu pikirkan, Rasya? Jangan berharap apapun pada Percy, ingat yang dia cintai hanya Rindi tidak ada yang lain. Kamu di sini hanya sebagai penggantinya.' Rasya sudah berdiri berdampingan dengan Percy di atas ballroom, Percy masih tidak melirik ke arahnya dan fokus dengan pikirannya sendiri meneliti semua tamu undangan yang datang. Rasya tau Percy mencari siapa. Banyak sekali tamu undangan yang datang, termasuk tamu kehormatan yang tak lain adalah anggota Brotherhood. Anak-anak merekapun tampak hadir di sana, kecuali Vino dan Rindi yang tidak datang. Para tetua Brotherhood sedang asyik berbincang. Tak lama Leonna dan Verrel datang, Leonna terlihat cantik dengan memakai dress seatas lutut berwarna gold dan kontras dengan kulit putihnya. Rambutnya di biarkan terurai tetapi sebagiannya di pakaikan jepitan membuatnya terlihat seperti ibu peri. Di sampingnya Verrel tak kalah gagah dan tampannya dengan memakai tuxedo berwarna krem hampir senada dengan pakaian yang di gunakan Leonna. Verrelpun terlihat sangat tampan dan dewasa, membuat mata wanita lapar melihat ke arahnya. Randa menghampiri mereka dan langsung memberi isyarat pada Verrel. Membuat Verrel berbisik pada Leonna untuk bergabung bersama keluarganya dan sahabatnya. Setelah Leonna menyetujuinya, Verrel beranjak mengikuti Randa menuju balkon hotel. Di balkon, Verrel masih berdiri menunggu Randa berbicara, Randa terlihat berkaca-kaca untuk mengatakannya. "Ada apa?" tanya Verrel akhirnya karena begitu penasaran. "Rindi," gumamnya. "Ada apa dengan Rindi?" tanya Verrel. "Dari tadi pagi, Rindi pergi dan tidak ada kabar. Mama dan Papa bahkan tidak tau, karena gue bilang kalau Rindi sedang menggantikan gue melakukan pemotretan. Tetapi sebenarnya Rindi pergi dan gue tidak tau dia dimana. Gue sudah berkali-kali menghubunginya, tetapi nomornya tidak aktif. Lakukan sesuatu Rel, gue sangat khawatir. Dia terlihat sangat hancur," ucap Randa tampak sangat khawatir. Ikatan batin saudara kembar begitu kuat, bahkan Randa bisa merasakan sakit hati yang tengah Rindi alami saat ini. "Apa Percy tau?" tanya Verrel. "Tidak Rel, gue gak mau menghancurkan pertunangan ini. Percy pasti akan langsung meninggalkan acara ini saat tau Rindi pergi. Gue kasian juga sama Rasya," ucap Randa yang juga merasa bingung. Di sisi lain ia kesal pada Percy dan Rasya karena melukai Rindi tetapi di sisi lainpun ia sadar perbedaan Rindi dan Percy yang tak mungkin bisa di satukan. Randa maupun Verrel di buat serba salah dengan hubungan cinta segitiga rumit ini. Karena ketiganya adalah sahabat Verrel dan Randa. "Loe tau, biasanya kemana Rindi pergi?" tanya Verrel. "Gue gak tau Rel, gimana dong. Rindi orangnya sangat tertutup, loe tau sendiri kan," ucap Randa semakin khawatir. Keduanya masih terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, hingga suara yang menginstruksikan bahwa calon mempelai akan melakukan pertukaran cincin. Dan itu mampu menyadarkan Randa dan Verrel. “Oke gini deh, setelah acara pertukaran cincin selesai. Kita pergi, kita cari keberadaan Rindi. Tapi jangan sampai para orangtua tau, terutama tante Irene. " ucap Verrel. "Tapi bagaimana dengan Leonna?" tanya Randa. "Leonna urusan gue, lebih baik kita ke dalam lagi. Dan jangan menunjukkan sikap kekhawatiran loe pada Rindi, bersikaplah setenang mungkin," ucap Verrel yang di angguki Randa. Verrel dan Randa kembali ke tempat mereka tadi, dimana para keluarga besar brotherhood berkumpul. Leonna yang sedang berbincang dengan Leon dan Adrian melirik ke arah Verrel yang datang bersama Randa. Ada perasaan tak suka melihat kedekatan Verrel dengan Randa, apalagi melihat Randa yang begitu cantik dan sempurna.  "Cemburu yah, Kak," bisik Adrian. "Apaan sih." Leonna mendengus sebal seraya memalingkan pandangannya ke arah lain. Saat ini semuanya tengah menatap ke arah Ballroom, dimana Percy dan Rasya yang tengah berdiri. Keduanya menampilkan senyuman seadanya walau hati keduanya terasa sangat tidak karuan, para tamu undangan bahkan berkomentar kalau mereka berdua terlihat sangat cocok.  Randa merasa hatinya begitu sakit, rasa sakit yang pastinya di rasakan oleh Rindi. 'Pasti Rindi lebih hancur dari ini.' batin Randa menatap Percy yang memasangkan cincin berlian di jari manis Rasya. Di sana juga terlihat Kakek Percy yang duduk di atas kursi roda tampak tersenyum bahagia melihat cucunya bertunangan.  Hikuk pikuk tepuk tangan menggema di sana saat keduanya sudah saling menyematkan cincin di jari manis. Dewi bahkan berpelukan dengan Ratu dan Angga begitupun juga dengan Edwin, akhirnya mereka bisa berbesanan. Percy kembali menyisir pandangannya ke seluruh tamu undangan mencari sosok Rindi tetapi tak di temukannya. Ada rasa khawatir dan terluka di hatinya. 'Aku berharap kamu baik-baik saja, Honey.' Verrel berjalan mendekati Leonna yang sedang berdiri tak jauh darinya, ia mengajak Leonna berbicara ke tempat yang sedikit tidak ramai. "De, kamu tidak apa-apakan pulang bersama Ayah dan Bunda? Kakak ada urusan sama Randa," ujar Verrel membuat Leonna menatapnya. 'Urusan apa malam-malam begini?' batin Leonna sedikit curiga. "De!" panggil Verrel menyentuh pundak Leonna. "Eh?" "Kamu tidak apa-apakan pulang bareng Ayah dan Bunda?" tanya Verrel sekali lagi. "Iya Kak." Leonna mengangguk kikuk. "Aku akan bilang nanti ke Ayah dan Bunda, aku mungkin akan pulang larut malam," tambahnya, ada perasaan curiga dan tak rela di hati Leonna. "Apa akan lewat dari tengah malam?" tanya Leonna seketika membuat Verrel tersenyum manis. Verrel merasa Leonna mulai mengkhawatirkan dan mencintainya. Dan Verrel berharap itu memang kenyataannya. "Akan aku usahakan tidak akan lewat tengah malam," ucap Verrel masih memasang senyumannya seraya membelai kepala Leonna membuatnya membalas senyuman Verrel. "Aku pergi yah, kamu hati-hati. Dan tidurlah, jangan menungguku." Leonna menganggukan kepalanya. Cup Verrel tiba-tiba saja mengecup kening Leonna membuat Leonna mematung di tempatnya. Leonna bahkan menyentuh keningnya sendiri dengan pandangan yang terus terarah ke arah Verrel yang beranjak pergi bersama Randa. Pemandangan itu tak luput dari Michella yang menatap kesal ke arah Leonna. ♣♣♣ Di sebuah club malam yang ada di Jakarta, terlihat Rindi tengah menikmati minumannya. Tanpa ada yang tau, Rindi menghabiskan malamnya di sini dengan meminum minuman beralkohol. Tadi dia mencoba menenangkan dirinya dengan berkeliling kota Jakarta seharian, saat sudah memantapkan hatinya. Rindi memaksakan dirinya untuk hadir di pesta pertunangan Percy dan Rasya. Tetapi hatinya hancur seketika saat sampai di sana, bertepatan dengan Percy dan Rasya yang tengah saling menyematkan cincin. Rindi langsung berlalu pergi dan berakhir di club malam ini. Seikhlas-ikhlasnya seorang wanita, tetap saja hatinya hancur saat harus berbagi lelaki yang di cintainya dengan wanita lain. Dan wanita itu adalah sahabatnya sendiri.   Sesakit apapun kau menyakitiku, aku masih tetap setia berdiri di sini menunggumu. Berharap kamu mau kembali memilihku walau rasanya sulit. Oho oho oho Ia terbatuk-batuk karena terlalu banyak meminum vodka. Wajahnya sudah sangat merah karena air mata dan mabuk. Tetapi rasa panas di tenggorokannya tak sebanding dengan hatinya yang terbakar. "Kamu jahat Percy, aku tidak bisa mengikhlaskannya seperti ini dalam kesakitan!" isaknya sambil terus meneguk minumannya dan berbicara ngawur tak jelas. "Masih frustasi ternyata, eh?" ucapan seseorang membuat Rindi menengadahkan kepalanya dan menatap lekat-lekat pria di depannya ini karena pandangannya sudah mulai kabur, apalagi pencahayaan di sini sangat minim. "Jangan menggangguku," ucap Rindi dengan sinis dan hendak meneguk minuman dalam gelasnya lagi. "Cukup!" seseorang itu merebut gelas dari tangan Rindi. "Hey Tuan sombong apa urusanmu melarangku, Hah?" ucap Rindi semakin melantur. Pria yang tak lain adalah Dafa hanya bisa tersenyum kecil melihat Rindi. "Kamu terlihat sangat lucu saat mabuk." Tetapi jauh di dalam hatinya, ada rasa sakit melihat Rindi yang hancur seperti ini. "Apa yang kau katakan? Jangan merayuku, aku wanita yang sedang bersedih," ucapnya kembali menangis. "Aku di khianati kekasih dan sahabatku, hikzz." Dafa meringis menatap Rindi yang menangis kencang, untungnya di sini sangat berisik hingga tidak ada orang yang mendengar tangisan Rindi. "Sssttt, anak manis jangan nangis lagi yah." Dafa mengusap kepala Rindi. "Dia jahat, dia menghancurkan harapan dan hatiku,, hikzz hikzz hikzz." Ini pertama kalinya Rindi bersikap manja dan konyol di depan seseorang yang baru dia kenal. Bahkan di depan Percy saja Rindi selalu menampilkan wajah ramah dan anggunnya. Rindi menjatuhkan kepalanya di tubuh Dafa dan mengusap ingusnya ke kaos yang Dafa gunakan membuat sang empu meringis melihat tingkahnya. "Dia jahat," ucap Rindi menjauhkan kepalanya dan kembali ingin meneguk minumannya tetapi di tahan Dafa. "Sudah cukup, kau terlalu banyak minum." "Apa perdulimu Tuan Arogant?" tanya Rindi dengan sinis. "Ayo pulang." Dafa menarik tangan Rindi membuatnya berdiri dari tempat duduknya. "Hey Tuan Arogant! Lepaskan tanganku," pekiknya mencoba menepis pegangan Dafa tetapi sangat sulit dan tubuhnya sudah melayang ke udara. Daffa memangku tubuh Rindi dan menyimpannya di pundaknya seperti karung beras. Rindi terus berteriak memaki Dafa dan memukuli punggungnya. Dafa tidak memperdulikan pukulan dari tangan mungil Rindi, ia terus berjalan membawa Rindi keluar dari club melewati beberapa orang. Kepala Rindi terasa sakit sekali saat posisi tubuhnya seperti ini, karena darah bertumpuk di kepalanya. Cekrek,, 'Oh s**t!' maki Dafa saat seorang paparazi berhasil mengambil gambarnya yang sedang memangku tubuh Rindi yang terus berontak memakinya. Dafa berjalan cepat menuju mobilnya dan meninggalkan tempat itu untuk menghindari paparazi itu. "Kenapa kau menculikku, Tuan Arogant! menjauh, turunkan aku!" teriaknya memukuli lengan Dafa. "Tenanglah Rindi, aku akan mengantarmu pulang," ucapnya hingga sebuah mobil menghalangi jalannya. Dari mobil itu keluar dua orang yang ia kenal salah satunya. "Hah, kembaranmu menjemput." Dafa menuruni mobilnya dengan senyuman khasnya. "Hallo Randa." "Berhenti bersikap manis, sekarang keluarkan Rindi!" ucapnya dengan tajam. "Jangan asal menuduh, gue berniat baik mau membawanya pulang," jawab Dafa dengan santai. "Gue nggak percaya sama loe, Dafa!" ucap Randa menatap Dafa dengan tajam. Verrel berjalan membuka pintu penumpang tanpa menghiraukan perdebatan Randa dan Dafa, ia melihat Rindi yang sudah sangat mabuk dan berbicara ngawur. Tanpa pikir panjang lagi, Verrel membopong tubuh Rindi. "Biar kita yang membawa Rindi pulang," ucap Verrel saat melewati mereka berdua dan membawa Rindi pergi menuju mobilnya. "Jangan mengganggunya, Dafa. Gue tau kebejatan loe!" ancam Randa menatap Dafa yang hanya memasang senyumannya. Randapun berlalu pergi meninggalkan Dafa. Dafa hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan senyuman kecil khasnya menatap kepergian mobil yang di tumpangi Randa dan juga Rindi. Setelah tak terlihat lagi, iapun memasuki mobilnya dengan menghubungi seseorang memberitahukan kalau barusan ada seorang wartawan yang akan menyebar berita tentangnya mungkin akan menganggap dia tengah bersama Randa. Ia meminta orang itu membereskannya. ♣♣♣
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN