"Rindi!" ucap Rasya dan Percy.
“Jadi benar berita itu,” gumamnya dengan mata yang masih melebar. Ia masih menatap Percy dan Rasya bergantian dengan perasaan yang hancur. “Jadi benar,” gumamnya hingga air matanya luruh membasahi pipi. Rindi berjalan mundur dengan tatapan terluka, tatapan Rindi tertuju kepada Rasya dan Percy secara bergantian dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya. Rindi pun beranjak pergi meninggalkan ruangan Percy.
"Rindi tunggu!" Percy berlari mengejar Rindi, sedangkan Rasya masih berdiri di tempatnya dengan perasaan yang tak karuan. 'Kenapa gue bisa-bisanya mencium Percy?' Rasya mengusap wajahnya gusar.
Rindi segera menekan tombol lift saat melihat Percy berlari ke arahnya hingga pintu liftpun tertutup dengan pandangan mereka yang saling bertautan. Rindi terlihat linglung, pikirannya berkecamuk. Rasanya ia tak mampu lagi menompang beban tubuhnya, perlahan tubuhnya merosot ke lantai. Ia lalu menangis sejadi-jadinya di sana. "hikz...hikz...hikzz...." isaknya. Hatinya hancur dan terluka. Apa yang mereka berdua lakukan, kenapa mereka melakukan ini padanya.
Ting
Pintu lift terbuka, dan Rindi segera beranjak dengan sedikit berlari menuju keluar kantor. Saat hendak memasuki mobilnya, pintu mobil di tutup kembali oleh seseorang membuat Rindi menengok. Di sampingnya Percy berdiri dengan masih mengontrol nafasnya yang terputus-putus sehabis berlari. Rindi menatapnya dengan tatapan sangat terluka.
"Dengarkan aku dulu, aku bisa jelaskan semuanya," ucap Percy menyentuh lengan Rindi tetapi dengan cepat Rindi tepis.
"Jelasin apalagi, Percy? Jelasin apa lagi? Aku sudah melihat semuanya! Kamu jahat Percy,hikzz..hikzz..." isak Rindi yang tak mampu lagi membendung kehancuran hatinya.
"Aku dan Rasya tidak ada apa-apa, tadi kami hanya-," ucap Percy menghentikan ucapannya, bahkan iapun tidak tau apa yang terjadi tadi. Rasya tiba-tiba saja menciumnya, bahkan itu hanya seperdetik saja, sebelum Percy menguasai kesadarannya kembali.
"Tidak ada apa-apa? Benarkah?" Rindi menipiskan bibirnya mengejek jawaban Percy. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan melemparkannya ke wajah Percy. "Itu apa, Hah?"
Percy mematung saat melihat undangan pertunangannya dengan Rasya tergeletak di tanah. "Kalian menipuku, kalian membohongiku selama ini! hikzzz...." isaknya menjambak rambutnya sendiri. "Selama ini aku begitu khawatir memikirkanmu yang tidak ada kabar, kamu terlihat menghindariku. Dan ternyata ini alasannya, kalian akan menikah! Hikzzz...."
"Ya Tuhan! Betapa bodohnya aku," gumamnya menangis sejadi-jadinya membuat Percy tak kuasa melihatnya. "Kamu tega Percy, kamu jahat sama aku. Hikz...hikz...hikzzz..."
"Bukan seperti itu, Honey. Sungguh, aku bisa jelaskan semuanya. Ini hanya kesalahpahaman saja," ucap Percy, Rasya berdiri tak jauh dari mereka dengan tatapan terluka.
"Kesalahpahaman? Kenyataanya kamu memilih mengorbankan hubungan kita," isaknya terdengar menyakitkan, Rindi bahkan sudah tak mampu lagi mengeluarkan suaranya karena begitu sakit dan perih seperti ada duri yang menyangkut di dalam tenggorokannya. "Pantas saja kemarin-kemarin kamu mengajakku berkencan, padahal aku tau kamu tidak terlihat bahagia dan terlihat penuh beban. Pantas saja kamu mengatakan kalau kalung ini yang sekarang akan menjadi pelindungku. Ternyata ini jawabannya, hikzzz...." isanya berpegangan pada sisi mobilnya karena merasa tak mampu lagi menompang tubuhnya. “Kamu memilihnya.”
"Kamu mengorbankan hubungan kita, hubungan yang sudah kita perjuangkan sama-sama selama 5 tahun. Kenapa Percy, kenapa kamu melakukan ini?" Rindi memukuli d**a Percy. "Kenapa?"
"Maafkan aku, sungguh." Percy berusaha untuk memeluk tubuh Rindi tetapi Rindi terus memukulnya dan menghindarinya.
Hingga cukup lama, keduanya terdiam karena merasa lelah. Rindi menundukkan kepalanya dengan menurunkan kedua tangannya yang sejak awal memukuli Percy. Pandangannya tertuju pada undangan yang tergeletak di bawah kakinya. "Undangan ini menyadarkanku, kalau mulai sekarang kamu bukan lagi milikku." gumam Rindi terdengar sangat parau. Percy hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, tatapannya masih terfokus pada gadis yang terlihat rapuh di depannya.
"Selama 5 tahun aku menuruti keinginanmu, kamu menyuruhku seperti ini, aku turuti. Kamu menyuruhku seperti itu aku ikuti, tetapi apa kamu pernah sedikit saja melihat aku? Apa pernah kamu sedikit saja memahami perasaanku, PERCY!" isak Rindi sudah sangat terluka. "Pernahkah kamu mengetahui apa yang aku inginkan?"
"Aku bersabar menunggu kamu, menunggu kamu yang katanya ingin memperjuangkan cinta kita. Tapi mana? Kamu tidak pernah melakukan apapun untukku, kamu bahkan tak pernah ingin menyentuhku dengan alasan kita belum bisa melakukannya. Aku bahkan menjadi sangat rendah di matamu. Tetapi apa yang kamu lakukan? Kamu hanya bicara dan terus berbicara. Tunggulah, bersabarlah, bertahanlah, aku akan memperjuangkan cinta kita. Apa hanya itu yang bisa kamu lakukan, hah? Apa ini yang kamu bilang sebagai memperjuangkan, hah? Katakan Percy!!!" Rindi mengangkat wajahnya yang sembab menatap Percy yang mematung di tempatnya. Tatapan dan isakan dari Rindi sungguh menyayat hati Percy.
"Katakan padaku, apa mengorbankanku dan hubungan kita adalah bentuk dari perjuanganmu?" air mata Rindi terus luruh membasahi pipinya tanpa bisa di cegah. Percy hanya diam membisu tak mampu berkata apapun. Perasaannya berkecamuk, batinnya berperang. "Kenapa harus Rasya? Dia sahabat kita."
Percy seakan ingin mengatakan sesuatu tetapi sangat sulit ia keluarkan. "Lalu setelah ini aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan kalau kamu bersama Rasya?"
"Katakan sesuatu, b******k! hikzz..." isaknya semakin menjadi. "Kenapa?" isaknya tak kuasa menahan kesakitannya. "Tidak ada yang bisa kamu katakan, eh?" ucapnya seraya menghapus air matanya dengan kasar. Tatapan terlukanya masih menusuk ke relung hati Percy. Tanpa menunggu lama lagi, Rindi pun memilih beranjak memasuki mobilnya sendiri dan berlalu meninggalkan Percy yang masih mematung di tempatnya.
Rindi menangis sejadi-jadinya di dalam mobil dan membawa mobilnya tak tentu arah. Kenapa Percy begitu tega padanya? Apa salahnya sampai Percy mengkhianatinya. Awalnya ia tidak mempercayai apa yang di ucapkan oleh Seno, sampai tadi Randa menunjukkan undangan itu, Rindi masih menyangkalnya dan berusaha mempercayai Percy. Tetapi apa yang baru saja ia lihat sudah menjawab segalanya, apalagi dengan kebisuan Percy yang sudah meyakinkan segalanya. Isakan demi isakan masih keluar dari bibirnya yang merah dan wajahnya yang pucat. Ia tidak memperdulikan betapa sembab wajahnya saat ini. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi, ia keluar dari dalam mobil dan bersandar ke mobilnya sendiri dengan menatap hamparan taman kosong yang sangat sepi. Ia membutuhkan sesuatu yang mampu menyejukkan hati dan pikirannya. Walau rasanya masih sangat sesak dan sakit.
"hikzz...hikzz...hikz..."
Rindi menangis sejadi-jadinya dengan memeluk tubuhnya sendiri dan menundukkan kepalanya. Sakit hatinya tak mampu dia bendung lagi. "hikz...hikz...hikz...."
"KENAPAAAAAA? KENAPAAA KAMU LAKUKAN INI, PERCYYYYY?" teriaknya meluapkan kesakitannya. "KAMU JAHAT SAMA AKU, KAMU TEGA! AKU TAK AKAN PERNAH MELUPAKAN SEMUA INI, Hikzz...hikz...hikz...." "KENAPA? KENAPA KAMU LAKUKAN INI,, hikz...hikzz...hikz...." Isak Rindi sejadi-jadinya. "APA SALAHKU? Kenapa?"
Tubuh Rindi luruh ke tanah dengan masih bersandar ke mobil di belakangnya. Ia begitu hancur, hatinya seperti di sayat hingga tak tersisa lagi. Perih dan nyeri dapat ia rasakan. Bahkan suaranya seakan sudah tak mampu lagi keluar. Hanya isakan demi isakan yang keluar dari mulutnya. Hanya pertanyaan ‘Kenapa?’ yang terus berkecamuk di kepalanya. Ia hanya mampu menangis sejadi-jadinya dengan memeluk kedua lututnya sendiri, tubuhnya sudah bergetar hebat karena isakannya itu.
"Acting yang sangat bagus." Ucapan seseorang membuat Rindi menengok. Rindi segera menghapus airmatanya dan beranjak dari duduknya.
"Sedang apa kau di sini?" tanyanya dengan tatapan sinis, walau yang pria itu lihat hanya wajah sembab dan pucat.
"Hay nona Rindi, aku baru saja melewat dan sempat kaget mendengar orang berteriak. Aku pikir ada yang sedang gangguan!" Dia memutar telunjuknya di samping kepalanya dengan berdecak kecil membuat Rindi semakin emosi. Tanpa mengatakan apapun ia beranjak menuju pintu pengemudi mobilnya tetapi langkahnya terhenti saat orang yang tak lain adalah Daffa menarik pergelangan tangannya hingga tubuh Rindi tertarik dan menabrak d**a bidang Dafa. Dafa memeluk tubuh Rindi dengan erat dan mengusap punggungnya perlahan. "Menangislah, keluarkan semuanya. Gunakan dadaku untuk jadi sandaranmu," ucap Dafa kini terdengar begitu lembut membuat hati Rindi merasa hangat.
Memang benar saat ini yang dia butuhkan adalah sebuah sandaran yang mampu menompang tubuhnya yang sudah tak mampu lagi untuk berdiri tegak di atas tanah. Perlahan kedua tangan Rindi terangkat untuk memeluk tubuh kekar Dafa. Isakannya mulai terdengar, ia kembali menangis di pelukan Dafa dan membasahi jaket hitam yang tengah Dafa gunakan "hikz...hikzz....dia jahat!" isak Rindi sejadi-jadinya. Dafa tak berkomentar, ia hanya mengusap punggung Rindi dengan lembut dan mengusap kepalanya. "Dia sangat jahat tuan Dafa, dia berbohong dan mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri. Apa salahku,,,hikzz...hikzz..." isaknya tanpa sadar mengungkapkan segala isi hatinya. Dafa hanya bisa mengelus punggung Rindi dan membiarkannya menangis dalam pelukannya.