"Honey,"
Percy tersenyum saat Rindi memeluknya dengan bahagia. Saat ini Percy berada di parkiran bandara Soekarno – Hatta. Ia memang menjemput Rindi yang baru kembali dari Bali. Rindi tersenyum bahagia di pelukan Percy, ia benar-benar merindukan kekasihnya ini. Daffa memperhatikannya dari kejauhan dengan senyuman kecil. Setelahnya ia kembali memakai kacamata hitamnya dan beranjak pergi bersama pengawal dan asistennya.
"Aku merindukanmu, Honey."
"Iya," jawab Percy mengusap kepala Rindi dan melepaskan pelukannya. "Ayo masuk."
Percy tersenyum kecil kepada Rindi seraya membuka pintu penumpang untuk Rindi. Tanpa menunggu lama, Rindi pun langsung menaiki mobil di ikuti Percy setelah memasukan barang Rindi ke dalam bagasi mobil. Ia mulai menjalankan mobilnya setelah duduk di kursi pengemudi. "Kamu kemana saja, Honey? Kenapa kamu tidak mengabariku dan tidak mengangkat telpon dariku?"
Mendengar rentetan pertanyaan dari Rindi, Percy hanya tersenyum kecil kepada Rindi dan mengambil sebelah tangan Rindi. Ia menggenggamnya dengan kuat membuat Rindi mengernyitkan dahinya bingung. "Aku sedikit sibuk, maafkan aku."
"Apa kamu merindukanku?" tanya Rindi tersenyum melihat Percy mengecup tangannya yang berada dalam genggamannya.
"Sangat," ucap Percy kembali tersenyum walau matanya memerah menahan air matanya. Ia tidak sanggup mengatakan semuanya ke Rindi kalau dia dan Rasya akan segera menikah.
"Kamu baik-baik saja kan, Honey? Apa ada masalah?" Rindi terus menatap wajah Percy yang kembali menatap lurus ke depan dengan menyetir mobilnya.
"Iya, aku baik-baik saja."
Jawaban Percy sebenarnya tidak membuat Rindi puas, tetapi mungkin memang Percy sedang memikirkan Pretty. Rindi hanya bisa berasumsi. "Eh, ini kan bukan arah ke rumahku?" ucap Rindi saat melihat sekeliling.
"Aku ingin membawamu ke puncak, kamu mau kan?" tanya Percy yang langsung di angguki Rindi.
Di dalam mobil tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya deru nafas mereka, dan tangan Rindi yang masih berada di dalam genggaman tangan besar milik Percy. Hingga mereka sampai di perkebunan teh yang ada di puncak. Percy membukakan pintu penumpang untuk Rindi, setelah Rindi keluar dari mobil, Percy dengan possesive menggenggam tangan Rindi dan membawanya ke bagian tertinggi perkebunan teh. Mereka berhenti di dekat pohon besar. Udara sejuk menerpa wajah mereka berdua, senyuman tak luput dari wajah keduanya. Hembusan angin menerpa wajah mereka dan membuat rambut Rindi yang tergerai indah melambai-lambai bahkan sebagian menerpa wajahnya, membuatnya sesekali merapikannya. Hingga tangan besar milik Percy merapihkan rambut Rindi dan menyelipkan di balik telinganya.
"Kenapa kamu membawaku kesini, Honey? Rasanya sudah lama sekali aku tidak ke puncak," ucap Rindi menatap sekeliling.
Rindi berjalan ke sudut lain dan merentangkan kedua tangannya, ia memejamkan matanya seraya menghirup udara segar itu sebanyak-banyaknya. Percy masih berdiri di tempatnya memperhatikan Rindi dengan senyuman kecilnya. Air matanya sudah menggantung di pelupuk matanya siap meluncur membasahi pipi. Hatinya terluka dan sakit akan melepaskan Rindi, ia merasa tak mampu melakukannya. Rindi membuka matanya dan tersenyum manis ke arah Percy. Percy berjalan mendekati Rindi dan menyodorkan sesuatu kepadanya. "Ini apa Honey?" Rindi berbinar melihat Percy menyerahkan kotak berukuran kecil berwarna coklat yang di beri pita pink.
"Buka saja."
Rindi segera membukanya dengan tak sabar dan semakin tersenyum berbinar melihat isinya. Di dalamnya adalah sebuah kalung cantik dengan gantungan berbentuk angel yang memiliki sayap indah. "Cantik."
"Ini adalah kamu, kamu adalah angel yang selalu melindungiku," ucap Percy memakaikan kalung itu di leher jenjang Rindi. "Kamu menyukainya?"
Rindi mengangguk antusias seraya memegang kalungnya itu. "Ini sangat cantik, Honey."
"Dia akan menjagamu mulai sekarang," ucap Percy membuat Rindi menatap ke arahnya. "Kamu semakin cantik menggunakan kalung itu." Rindi tersipu mendengar pujian Percy.
"Terima kasih, Honey. Aku sangat mencintaimu." Rindi langsung mengecup bibir Percy singkat.
Percy mengusap kedua pipi Rindi dengan senyuman yang mengisyaratkan kesedihan. 'Haruskah aku melepaskannya?Kenapa harus seperti ini?'
"Jangan pernah meninggalkanku, aku yakin akan ada jalan untuk hubungan kita." Ucapan Rindi membuat Percy menatapnya dengan sendu.
"Aku tidak tau."
"Jangan mengatakan itu, aku yakin kita akan bisa bersama," ucapnya.
"Dinding di depan kita sangat tinggi dan kuat, aku tidak yakin mampu merobohkannya." Percy berbicara dengan masih mengusap pipi Rindi dengan jempolnya.
Cup
"Lihat, tidak ada penghalang apapun di antara kita," ucap Rindi kembali mengecup bibir Percy.
Percy menarik Rindi ke dalam pelukannya, "Aku mencintaimu." Hatinya terasa begitu sesak.
"Aku tau Honey, aku tau kita saling mencintai. Jadi tetaplah bersamaku," ucap Rindi dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tau kalau Percy tidak baik-baik saja, ia bisa melihat ketakutan di mata Percy. "Aku sangat mencintaimu, sangat."
Rindi berpikir mungkinkah ini ada hubungannya dengan perjodohan itu? Benarkah Percy di jodohkan dengan Rasya seperti yang Papa nya katakan? Kalau itu benar, lalu bagaimana dengan Rindi. Rindi bahkan tidak bisa membayangkan akan bagaimana hidupnya tanpa ada Percy di sisinya. Percy semakin memeluk Rindi dengan sangat erat, ia seakan tak ingin lepas dari Rindi. Ia begitu mencintai Rindi. Setelah cukup lama berpelukan, Rindi melepas pelukannya dan Percy tersenyum padanya. Ia menangkup wajah cantik Rindi dan mencium bibirnya dengan lembut. Rindi membalas ciuman lembut Percy dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Percy.
♣♣♣
Rasya berjalan menuju sebuah cafe, ia bekerja di sana sebagai penyanyi cafe. Sesampainya di sana, ia berjalan menuju ruang istirahat untuk menyimpan barangnya di dalam kabinet.
"Hy Sya." mendengar sapaan itu Rasyapun berbalik dan tersenyum kepada perempuan yang berdiri di belakangnya.
"Hai Hezky."
"Tumben sekali loe kemari lebih awal dari biasanya," ucap Hezky duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Entahlah, gue sedang boring dan sepertinya menghabiskan waktu di sini tak masalah," ucapnya.
"Ada apa?"
Rasya mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari Hezky yang merupakan sahabatnya. "Oh ayolah Acha sayang, kita udah kenal dari sejak SMP. Gue tau loe!"
Rasya tersenyum kecil karena dia memang tak pandai menyembunyikan masalah dari seorang Hezky. "Gue akan menikah akhir bulan ini."
"What? Dengan siapa?" tanyanya sangat penasaran bercampur kaget. Selama ini yang dia tau, Rasya adalah wanita single yang tidak begitu tertarik menjalin sebuah hubungan. Bisa di bilang dia memiliki trauma dalam berpacaran, hingga dia memilih untuk sendiri dan fokus pada bakat menyanyinya. "Apa loe mabuk? Atau gue yang salah dengar?"
"Gue serius, Ky. Gue akan menikah dengan Percy."
"What? Percy? Percy Jonshon maksud loe?"
"Iya, siapa lagi. Hanya ada satu Percy Jonshon dalam kehidupan gue."
"Tapi kenapa mendadak? Apa loe hamil anaknya?"
Duk
"Aduhh!" Rasya menendang tulang kering Hezky, membuatnya meringis dan menunduk memegang kakinya.
"Kalau ngomong tuh di jaga, gue gak hamil!" ucap Rasya dengan kesal.
"Lalu kenapa mendadak sekali? Waktunya juga tak lama lagi."
"Pekan ini kami bertunangan tetapi tidak mewah."
"Loe yakin?"
"Gue gak pernah ngomong seserius ini sama loe." Hezky menghela nafasnya. Ia memang mengetahui seluk beluk kisah Rasya, Percy dan Rindi.
"Lalu Rindi?"
"Gue gak tau, gue belum bertemu dengannya beberapa minggu ini. Percy bilang dia yang akan menjelaskan segalanya pada Rindi."
"Kenapa mendadak sekali."
"Entahlah,"
"Loe yakin menerimanya? Sya, Percy mencintai Rindi."
"Hmm," Rasya memalingkan wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia benci mengakui kenyataan itu, kenyataan bahwa Percy mencintai Rindi dan bukan dirinya. "Gue gak tau harus senang ataupun sedih, yang jelas saat ini hati gue berkecamuk. Di sisi lain gue senang, akhirnya gue bisa memiliki Percy. Tetapi di sisi lainpun gue merasa sangat jahat pada Rindi sahabat gue sendiri. Gue mencuri pria yang dia cintai," keluh Rasya. Hezky hanya diam melihat iba kepada Rasya, iapun bingung dan tak tau harus bagaimana.
‘Kalau saja aku bisa melihat masadepan, mungkin aku tidak akan sebimbang ini. Mungkin aku akan menghindari sesuatu yang bisa membuatku menyesal..’
‘Tetapi mencintainya bukanlah sebuah penyesalan, walaupun cintaku hanya bisa aku simpan di dalam hati yang paling dalam.’
♣♣♣
Siang itu Rasya sampai di perusahaan milik Percy, tadi Dewi memintanya untuk mengantarkan makan siang kepada Percy sebagai awal pendekatan. Rasya menarik nafas panjang dan menghembuskannya, setelahnya ia melangkahkan kakinya memasuki perusahaan Proferti itu. Setelah bertanya ke seorang resepcionist, iapun berjalan menuju lift dan menekan tombol 25 untuk sampai di ruangan Percy. Di dalam lift, ia menghentakkan ujung kakinya perlahan karena gugup. Ini pertama kalinya dia datang dan mengantarkan makan siang untuk Percy. Entah kenapa jantungnya terasa berdegup kencang. Ia melirik dinding silver yang memantulkan sosok dirinya, melihat dirinya di depan sana, Rasya sedikit merapihkan rambut panjang bergelombangnya dan sedikit merapihkan pakaiannya.
Ting
Pintu lift terbuka lebar tepat di lantai yang di tuju, red carpet menyambutnya saat ia melangkah keluar dari lift. Ia berjalan menuju meja sekretaris. Setelah mengatakan siapa dirinya dan ada urusan apa. Sekretarispun mempersilahkannya masuk. Rasya memegang knop pintu coklat yang menjulang tinggi di depannya. Ia kembali menghembuskan nafasnya perlahan dan mulai mendorong knop pintu itu hingga terbuka. Aroma maskulin langsung menyambut penciumannya. Tak jauh darinya berdiri, Percy tampak tengah mengetik sesuatu di depan laptopnya. Iapun melangkah masuk dan menutup pintunya pelan. Setelahnya ia melangkahkan kakinya mendekati Percy yang masih fokus dengan pekerjaannya.
"Selamat siang pak Ceo," sapa Rasya dengan menyimpan bekal makanan di atas mejanya membuat Percy menengok dan tersenyum kecil padanya. "Mamamu meminta gue mengantarkannya, walau sebenarnya gue sangat malas." Percy terkekeh kecil mendengar penuturan Rasya.
"Terima kasih, loe sangat membantu." Percy beranjak dan mencondongkan badannya untuk mengecup pipi Rasya seperti kebiasaan mereka.
"Loe sibuk?"
"Tidak terlalu, hanya sedikit pekerjaan yang harus di selesaikan," ucap Percy kembali fokus pada laptopnya. Rasya berjalan menuju ke jendela besar yang ada di ruangan itu, menatap ke depan dimana banyak sekali bangunan pencakar langit.
"Sudah bertemu Rindi?" ucapan Rasya menghentikan aktivitas Percy.
"Iya, dua hari yang lalu dan kami menghabiskan waktu bersama."
"Lalu bagaimana reaksinya?" Rasya berbalik ke arah Percy.
"Sya, gue belum mengatakannya," desah Percy membuat Rasya menghela nafasnya.
"Kapan loe akan mengatakannya?"
Percy beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Rasya. "Entahlah, gue merasa belum siap."
"Percy, pernikahan kita sudah di depan mata. Bahkan lusa kita akan bertunangan."
"Gue tau." Percy mendesah lelah dengan berkacak pinggang. "Gue gak sanggup melihatnya menangis."
Rasya menatap Percy yang terlihat hancur, bahkan jelas tersirat dari wajahnya kalau dia sangat hancur. "Kalau memang loe masih mau memperjuangkannya, biar gue yang mundur."
Percy mengernyitkan dahinya menatap Rasya. "Itu tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena gue sudah berjanji pada nyokap gue. Gue tidak bisa mengingkarinya."
"Kalau begitu katakan semuanya pada Rindi, buat dia mengerti. Gue gak mau di sebut wanita penghancur hubungan orang lain. Gue gak mau di sebut menusuk sahabatnya sendiri."
"Itu tidak akan terjadi, Sya."
"Belum terjadi, Per. Bagaimana kalau Rindi mengetahuinya dari yang lain dan salah paham akhirnya?"
"Sya, gue sungguh bingung," ucapnya menjambak rambutnya ke belakang.
"Gue butuh kepastian loe, Percy."
Percy menengok ke arah Rasya yang menatapnya dengan nanar. "Sya, gue udah pernah katakan jangan berharap apapun dari gue."
"Gue gak berharap apapun, tetapi gue ini seorang wanita yang punya hati. Setidaknya jangan hancurkan pernikahan impian gue!" Percy mengernyitkan dahinya menatap Rasya yang membentaknya dengan tatapan terluka.
"Sya!"
"Ini terdengar bodoh, tetapi gue mengharapkan pernikahan yang bahagia. Apa gue salah? Walau loe gak mencintai gue, setidaknya perlakukan gue layaknya pengantin loe bukan pelampiasan loe. Atau sesuatu untuk loe jadikan sebagai pelarian."
"Sya, gue gak pernah berpikir seperti itu."
"Kalau begitu katakan semuanya pada Rindi, jangan membuat kesalahpahaman di antara kita. Kalau loe memilihnya, maka gue akan mundur dan membatalkan pernikahan kita sekarang juga."
"Kenapa loe menuntut keinginan loe sama gue?"
"Apa gue salah? Katakan Percy? Bukankah wajar kalau seorang wanita meminta kepastian pada calon suaminya. Gue bukan pakaian yang bisa kapan saja loe gantung!"
Percy mengernyit tak percaya menatap ke arah Rasya. Kenapa sekarang Rasya malah menuntut lebih pada dirinya. Rasya terlihat berkaca-kaca dan hampir menangis menatap Percy. "Setidaknya perlakukan gue layaknya calon pengantin loe," ucapnya terdengar parau. Tak ada respon apapun dari Percy, Rasya pun melanjutkan ucapannya. "Selama ini hanya gue yang sibuk mengurusi acara pernikahan dari mulai a sampai z, dan loe begitu tidak perduli. Bukankah dalam hal ini gue juga korban? Gue mengorbankan perasaan dan hidup gue buat loe, Percy."
"Pernikahan kita-," ucapan Rasya terhenti saat memikirkan Percy akan menceraikannya. Air matanya luruh membasahi pipi. "Gue hanya tidak mau di perlakukan seperti ini," cicitnya menundukkan kepalanya.
"Maafkan gue."
Percy berjalan mendekati Rasya dan menariknya ke dalam pelukannya. "Gue akan menyelesaikan semuanya dengan Rindi. Bersabarlah, gue butuh waktu."
"Maaf kalau gue sudah menyakiti loe." ucap Percy melepas pelukannya dan menangkup wajah Rasya. "Gue sayang sama loe, Sya. Gue gak mau loe hancur dan terluka dalam hubungan ini," ucap Percy menatap mata bulat Rasya. 'Terima kasih sudah menyayangiku, walau sebagai sahabat.' Batin Rasya.
"Terima kasih, Percy." ucap Rasya dengan senyumannya, dan Percy membalas senyuman manis Rasya.
Entah keberanian darimana, Rasya menjinjit dan mencium bibir Percy membuatnya terpekik kaget. Rasya hanya menempelkan bibirnya pada permukaan bibir Percy dengan menutup matanya. Tubuh Percy mendadak kaku dan tak mampu bergerak, ia menatap wajah Rasya yang sangat dekat dengannya. Ada perasaan hangat di dalam hatinya yang entah apa itu.
Brug
Percy maupun Rasya terlonjak kaget hingga melepaskan ciuman mereka. Keduanya berbalik ke arah pintu dimana Rindi berdiri dan kotak bekal makan siang yang dia bawa berserakan di lantai. Ia menatap Rasya dan Percy bergantian dengan tatapan sangat terluka.
"Rindi!" ucap Rasya dan Percy.