Anka memandangi wajahnya dalam cermin, mengembuskan napas berkali-kali. Ponselnya berdering, tertera nama Safira memanggil. Gadis itu dari semalam bolak-balik bertanya tentang kunjungan Anka hari ini. Menggeser layar ponsel ke kanan, Anka menjawab panggilan Safira. "Assalamualaikum." Anka mulai mengubah kebiasaannya pelan-pelan, dimulai dari lebih sering mengucapkan salam yang lama diabaikannya. "Waalaikumsalam. Mas sudah di mana sekarang?" Anka mendesah pelan. "Masih di apartemen, ini siap pergi." "Hmm. Yaudah hati-hati ya, Mas. Fira tunggu." Anka menjawab singkat sebelum memutus sambungan. Dia memandangi ponsel lama. Keputusannya bulat, sudah seminggu ayah Safira menunggu kedatangannya. Untuk menanyakan keseriusan Anka tentu saja. Dia benci harus bersaing dengan rekannya, Fathan, de

