Anka terkejut dengan kemunculan David di kantornya siang ini. Anka pun mengajaknya bicara di sebuah kafe yang terletak di lantai satu gedung kantornya. "Tante Wirda nelpon lo, enggak dijawab katanya." Tanpa basa - basi, David bersuara. "Apalagi memang yang ingin dibicarakan? Keputusan Ariana final, dia tidak mau menikah dengan saya. Malah memilih kamu, untuk mendapatkan akta." "Menurut lo, gue mau?" "Saya tidak peduli lagi." Jawab Anka acuh tak acuh. "Kemarin Ariana pendarahan hebat." Anka diam, namun David melihat genggaman tangan Anka pada kaleng sodanya menguat. "Bayinya selamat," bahu Anka jatuh, lega. "Apa yang mau kamu sampaikan?" "Gue temennya Ariana, sebisa mungkin gue akan selalu ada. Tapi, gue enggak bisa selalu ada. Gue harap lo ngerti, sebagai ayah bayinya." "Saya sud

