04 | Langit Malam

1682 Words
Sepertinya pengusirannya semalam pada bintang kecil tidaklah berpengaruh pada Bintang yang satu ini! Bintang—yang tanpa merasa bersalah karena telah menghalangi jalan Langit—menyengir lebar, menampilkan deretan giginya. Sebelah alis Langit kontan terangkat mendapati sisa cabai di sela gigi-gigi mungil Bintang. “Kak Langit?” Suara Bintang mengenyahkan lamunan absurd pemuda itu. “Ada apa?” Langit merendahkan suaranya. Bintang berdeham kecil dan tersenyum. “Bintang mau ngembaliin ini.” Bintang menyerahkan topi Langit yang kemarin dipinjamnya. “Makasih ya,” ucap Bintang tulus. “Ambil aja. Lo nggak punya, kan?” Pertanyaan itu membuat Bintang cemberut. “Bintang punya kok, cuma ketinggalan di rumah kemarin.” “Mana?” “Apanya?” “Topi.” “Kan, nggak upacara Kak, buat apa Bintang bawa?” Bintang mengerjap-ngerjap bingung. “Berarti nggak punya, kan?” Bintang langsung mendesis jengkel, “Ish! Bintang punya kok!” Sebenarnya, bisa saja saat ini ia berlalu dan tidak mengindahkan kehadiran Bintang. Tubuhnya lebih besar dari Bintang. Langit bisa dengan mudah menyingkirkan sosok itu dari jalannya. Tapi tidak ia lakukan. Mengapa? Langit tidak tahu. Saat ini Langit seolah lupa akan dirinya sendiri yang “hemat berbicara” bahkan bisa dikatakan “bisu” bagi sebagian orang. Bintang tidak menyadari, Langit hanya berbicara sepanjang itu dengannya. Ando selaku teman Langit saja pasti takjub bila menyaksikan percakapan dua insan itu. Dengan Ando, Langit tidak jauh berbeda ketika berbicara dengan orang lain yang seperlunya—bila itu memang dikatakan penting. Bedanya, Langit agak lebih “mau” berbicara dengan Ando. Dering bel sekolah yang nyaring menginterupsi keduanya. Meskipun tidak mengenal Bintang, tapi Langit menebak bahwa gadis itu bukanlah murid yang suka membolos, bahkan tidak mau mencari masalah sedikit pun di sekolah. Tapi hingga koridor sepi, Bintang tidak kunjung pergi dari hadapannya. “Kenapa nggak masuk?” Bintang menggeleng. “Kata ketua kelas Bintang, ibunya berhalangan hadir. Kak Langit sendiri kenapa nggak masuk?” “Karena lo masih di sini.” Bintang mengerjap-ngerjap sebelum menyadari bahwa Langit tengah menyindirnya karena menghalangi jalan laki-laki itu. Sebelum Bintang sempat berkilah, Langit terlebih dulu mengulurkan tangannya. “Ikut gue.” Bintang tidak tahu harus merespons apa selain menyambut jemari Langit dan mengekori laki-laki itu ke tempat bersemayamnya. “Sini, duduk.” Meskipun ragu, Bintang tetap menuruti Langit dengan duduk di sampingnya. “Kenapa Kak Langit ngajak Bintang ke sini?” Langit tidak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu dan menyandarkan punggungnya pada batang pohon raksasa di belakangnya dengan mata terpejam. Laki-laki itu sengaja menghindari pertanyaan yang ia sendiri pun tidak tahu jawabannya. Kenapa? Langit bahkan menyesali perbuatan absurdnya barusan. Seenaknya membawa Bintang dan membiarkan gadis itu bertanya-tanya. Langit benar-benar tidak mengerti. Ia hanya… Merindukan Pelangi. *** Ando bersiul-siul, melirik Langit yang berjalan di sampingnya dengan ekspresi datar. “Jadi, siapa Bintang?” Langkah Langit melambat, tapi tidak sampai berhenti. Ando yang menyadari hal itu pun semakin mengerling curiga. “Siapa emang?” Langit kembali menormalkan langkahnya. Ia menghindari tatapan menggoda Ando yang teramat menyebalkan. Ando berdecak. “Semua juga tahu insiden “Bintang Jatuh” waktu itu. Dan nggak mungkin kalau lo nggak tau si Bintang.” “Kalau udah tahu kenapa nanya?” Ando menepuk keningnya. “Bukan nanya Bintangnya, tapi nanya elo. Ada hubungan apa lo sama Bintang? Kayaknya tuh cewek spesial, ya?” Kalimat Ando kali ini berhasil menghentikan langkah Langit. Laki-laki itu mengerling. “Sok tahu.” “Lah?” Ando mengangkat sebelah alisnya. “Siapa pun tahu elo, Lang. Ngobrol sama orang lain aja lo nggak mau. Ngomong sama gue aja lo masih pelit, tapi sama si Bintang-Bintang ini lo kelihatan care gitu.” “Berlebihan.” Ando berdecak. “Gue nggak lebay, Bro!” “Gue nggak bilang lo begitu.” “Tadi lo bilang—” “Gue nggak peduli sama Bintang atau siapa pun itu. Ngerti?” tukas Langit berhasil membungkam Ando. Ando mendengus. Sekali Langit, tetap Langit. Tidak akan pernah mau mengalah sekali pun itu dengan matahari, apalagi untuk bumi dan seisinya?  “Suka-suka lo deh.” Pada akhirnya Ando menyerah. Langit hanya dapat mengamati punggung Ando yang mendahuluinya dalam diam. Tidak, bukan langkah Ando yang dipercepat, melainkan langkah Langit sendirilah yang melambat. Bagaimana ia bisa mengatakan hal yang membingungkan seperti ini kalau dirinya saja tidak tahu apa arti dari semua yang terjadi? Bintang. Sikapnya pada Bintang. Dirinya sendiri. Selama ini ia sudah berhasil membangun dinding tak kasat mata yang membuat semua orang tidak mampu menggapai dirinya. Selama ini ia merasa telah berhasil membekukan langitnya menjadi gulita. Langit benar-benar tidak menyangka jika cahaya paling kecil di angkasa mampu menyelundup masuk dengan mudah dan menjadi bagian dalam malamnya. Langit rasa sudah cukup. Ia tidak akan memberikan peluang bagi siapa pun untuk bergabung dengan langitnya. Ia tidak akan membuat Bintang masuk dalam hidupnya lebih jauh. Ia tidak akan membiarkan seorang pun hinggap di angkasanya. Bila Bintang tidak ingin menjauhi Langit, Langit sendiri yang akan membuat Bintang pergi darinya. *** “Ayolah Biiii,” rayu Nari seraya menjawil dagu Bintang. “Film di bioskop lagi bagus-bagus lho.” “Iiih, Nari. Bintang bukan nggak mau ikut, tapi Bunda lagi sendirian di rumah. Bulan lagi nginap di kostan temannya tahu! Bintang nggak mau ninggalin Bunda sendirian,” tutur Bintang, panjang lebar. Nari mencebik dan memukul pelan bahu Bintang. “Yah, nggak seru nih. Padahal nggak sampai malam banget kok pulangnya.” Bintang meringis. “Maaf deh. Kapan-kapan aja ya, Nari?” Nari terkekeh. “Gue bercanda, Bi. Gue juga nggak enak kali sama Bunda lo nanti.” Yah, mau bagaimana lagi? Inilah risiko bersahabat dengan si Bintang kecil. Bahkan untuk pulang terlambat pun Bintang tidak mau. Nari hanya bisa pasrah, ia tidak bisa memaksa Bintang dan membuat sahabatnya itu jadi merasa tidak nyaman berteman dengannya. Tiba-tiba senyum Nari menguap. Ia tercengang melihat kedatangan seseorang yang paling tidak terduga. Langit melewati koridor kelasnya! Bukan apa-apa, tapi, untuk apa laki-laki itu melewati koridor kelas 10 yang jelas-jelas bukan menjadi jalan alternatif untuk menuju ke mana pun? Paling-paling hanya toilet khusus kelas 10, itu juga tidak sebagus toilet senior. Lantas, apa yang membuat Langit melewati koridor ini? Tepat. Kini semua pandangan mengarah pada Bintang. Gadis itu masih tidak menyadari kedatangan Langit karena posisinya yang membelakangi tangga koridor wilayah junior. Nari menyikut lengan Bintang lantas mengedikkan dagu ke arah Langit dan temannya yang berjalan bersisian. Bintang menoleh dan mendapati Langit yang tidak berniat melakukan hal sama padanya. Tapi saat kedua mata Langit tidak sengaja menangkap sosok Bintang, pemuda itu langsung membuang pandangan dan mengabaikan senyum manis Bintang untuknya. Ada sedikit rasa aneh yang tidak Bintang sukai dalam dadanya. Tatapan Langit saat tak sengaja menatapnya begitu dingin dan nyaris membuat ujung jemari Bintang turut membeku. Langit melewatinya begitu saja. Bintang menatap punggung tegap itu dengan perasaan aneh yang Bintang sendiri bahkan tidak mengerti. Rasanya, sama seperti saat ayah atau bunda maupun Bulan, meninggalkannya sendirian di rumah. Bedanya, bersama Bintang bisa merengek meminta mereka menetap di rumah. Tapi dengan Langit, Bintang tidak bisa merengek bahkan menawarkan laki-laki itu untuk berada di sisinya. Ugh! Bintang tidak suka terpikirkan hal yang tidak-tidak! Di lain tempat. Ando tersenyum-senyum seraya menuruni tangga, mengekori Langit mendahuluinya. “Oooh, jadi itu yang namanya Bintang.” Ando memanggut-manggut. Benar, Ando-lah yang memaksa Langit melewati koridor kelas 10. Alasannya, karena Ando belum pernah melihat Bintang secara jelas. Selama ini ia hanya mengetahui Bintang dari gosip-gosip hangat di sekolahnya dan hanya melihat Bintang sesekali dari kejauhan. Bahkan sebelum melewati koridor junior tersebut, Ando sudah lupa bagaimana rupa Bintang. Padahal sih, itu bisa-bisanya Ando saja! “Manis ya dia,” puji Ando. Ando belum tahu, hubungan tertinggi yang pernah Bintang lakukan hanya sampai sahabat. Bukan teman-tapi-mesra. Bukan pula gebetan. Apalagi pacar! Langit hanya mengangkat bahu dan memberi penukasan, “Itu pertama dan terakhir kalinya.” Ando mengangguk menyetujui. Memang, Ando telah berjanji bila Langit mau mengajak Ando melihat Bintang dari dekat, sekali saja, Ando tidak diizinkan untuk membicarakan gadis itu lagi ke depannya. Tidak ada lagi Bintang dalam topik mereka. Ya, apa pun yang berbau Bintang! “Dari mana?” Langit menghentikan langkahnya. Ia bisa saja mengabaikan pertanyaan itu dan segera mengunci diri dalam kamar, tapi Langit justru menanggapi. “Ada urusan?” balas Langit lirih. Hening yang menguasai atmosfer di antara mereka membuat bisikan sekecil apa pun itu dapat terdengar. “Kamu masih menjadi tanggung jawab saya dan kamu masih tinggal dengan saya. Tentu saja semua yang kamu lakukan menjadi urusan saya,” tegas Surya dengan tatapan tidak lepas dari punggung tegap anaknya. Langit berdecak, meremehkan. “Masih peduli rupanya.” Surya memejamkan kedua matanya sejenak. Lidah dan sorot tajam Langitnya sanggup membekukan hangatnya. “Sekarang sudah nyaris tengah malam, saya tidak mau kamu—” “Kenapa, hm?” Langit mengangkat dagunya. “Udah terlambat buat peduli. Ke mana aja selama ini?” Kemudian ia mendengus sebelum akhirnya benar-benar berlalu dan mengurung diri dalam sangkar pribadinya. Surya terduduk lemas saat Langit dengan kerasnya membanting pintu kamar. Tidak ada lagi biru cerah sang Langit dalam hidupnya. Kini tinggallah gelap gulita sang langit malam yang dapat membutakan bumi. Surya, bahkan telah gagal melelehkan dinding Langit dengan cahaya besarnya. Langit yang kini selalu menjadi malam. Ia tidak akan lagi bisa melihat paginya sang Langit. Apa yang harus ia lakukan agar semua kembali seperti dulu? Tidak. Tidak benar-benar seperti dulu. Setidaknya, untuk orang yang masih ada dan begitu ia sayangi. Untuk Langit Angkasa, miliknya satu-satunya. Di lain tempat. Bintang menatap langit malam seraya menerawang kejadian di sekolah akhir-akhir ini. Bukan hanya ketika Langit melewati koridor kelas 10, tapi ketika mereka tidak sengaja bertemu di kantin. Bahkan ketika tubuh Bintang tidak sengaja limbung saat bergurau dengan Nari yang menyebabkan ia menyenggol lengan Langit, laki-laki itu tampak begitu kesal. Meskipun tidak mengatakan apa pun, sikapnya sudah membuat d**a Bintang nyeri. Tatapan itu, begitu dingin dan sanggup membekukan hati Bintang. Anehnya, mengapa Bintang merasa sedih dan perlu memikirkannya seperti ini? Bukankah itu adalah hal yang wajar bagi mereka? Justru, dengan Langit berbaik hati padanyalah yang perlu dipertanyakan. “Kak Langit? Kenapa Bintang selalu kepikiran Kak Langit?” lirih Bintang memandangi langit di atasnya. Dalam hati Bintang berbisik pada ratusan bintang di langit. Semoga mereka bisa terus bersinar dan menghangatkan dinginnya langit malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD