"Kau ini tidak tahukah bagaimana perasaanku? Aku ini istri dari pria yang bersimbah darah di hadapan kita ini. Bagaimana bisa kau melarang aku memastikan bahwa tubuh di hadapan kita ini benar suamiku?" bentak Alana penuh kemarahan.
Wanita itu segera maju untuk bergerak mengangkat bantal. Ia ingin melihat benar sosok yang terbujur kaku di hadapan mereka itu adalah Ronald.
Namun rupanya Rahman lebih cekatan. Pria itu segera maju mendahului Alana dan mengangkat bantal tersebut. Pemandangan yang selanjutnya mereka lihat sungguh membuat Alana shock hingga jatuh terduduk dan menangis meraung-raung.
"Ro-ro ... Ronald! Itu suamiku, Man!" seru Alana terkejut. "Ronald, ka-kau! Apa yang kau lakukan di tempat ini? Mengapa sampai harus bersimbah darah hingga meregang nyawa seperti ini?" jerit Alana di sela isak tangisnya.
Rahman mendekap tubuh sang Nyonya agar tidak bergerak menyentuh jasad sang suami yang sudah kaku dan membiru tersebut. Petugas hotel itu benar mereka tidak boleh menyentuh apapun hingga polisi tiba.
"Sabar, Nyonya. Anda harus kuat, mungkin ini cobaan untuk Anda dan Tuan Roanld," ujar Rahman sembari mengelus punggung ramping Alana.
Alana masih menangis histeris dan tergugur sambil menepuk-nepuk jantungnya. Bagi perempuan cantik berusia tiga puluh lima tahun itu Ini adalah sebuah pukulan berat dalam kehidupan rumah tangganya. Suami yang selama ini begitu terlihat mencintainya rupanya ketahuan bermain api dan ditemukan tak bernyawa dalam sebuah kamar hotel dengan kondisi yang begitu tragis.
Wanita mana yang tidak hancur hati dan mentalnya? Alena tidak langsung pingsan hingga jadi gila saja sudah luar biasa. Alena terus saja menangis dalam dekapan Rahman.
Sementara sang petugas hotel melirik Alena dengan tatapan yang aneh. Tidak ada rasa iba sedikitpun pada wanita yang baru saja kehilangan suami tersebut. Apa mungkin pria itu sudah sering mendapati berbagai macam kasus pengunjung hotel mewah tersebut?
Setelah berhasil membawa Alena keluar dari kamar hotel yang sekarang merupakan tempat kejadian perkara pembunuhan tersebut, Rahman lalu menghubungi Om Prasodjo. Pria itu adalah paman bungsu sang tuan yang paling dekat dan akrab dengan majikan Rahman itu.
Sama seperti Alena, Om Prasodjo pun terkejut mendengar kabar itu dari Rahman. Pria paruh baya itu berkata pada Rahman akan segera tiba di lokasi. Rahman pun segera mengakhiri panggilan dan meminta petugas hotel memberikan air mineral pada Alana.
Situasinya sudah sangat kacau di lorong lantai delapan hotel mewah tersebut. Teriakan histeris Alana telah membuat semua tamu yang menginap keluar dari kamarnya dan mencari tahu apa yang terjadi. Mereka jadi ketakutan saat tahu ada pembunuhan di lantai delapan.
Beberapa dari mereka langsung meminta pindah lantai saat tahu kejadian itu. Membuat kekacauan langsung menjadi heboh. Kamar-kamar hotel di lantai delapan jadi tak berpenghuni. Alana diamankan pada salah satu kamar yang ditinggalkan penghuninya tersebut. Ia diminta menanti di sana sampai polisi tiba.
Petugas kepolisian tiba bersamaan dengan Om Prasodjo. Mereka sempat melihat ke dalam kamar 810 sebelum akhirnya polisi menjalankan tugasnya, sementara Om Prasodjo menuju tempat Alena ditenangkan.
"Lana, yang sabar. Ini mungkin cobaan besar untuk--"
"Om, semua ini seperti mimpi. Baru beberapa saat yang lalu saya mendapat pesan bahwa Ronald berselingkuh. Kemudian saya mendapati suami saya meninggal dengan cara sangat tragis di sebuah kamar hotel," isak Alana kembali meraung-raung dengan kondisi jiwa yang sangat terguncang.
"Sabar, Lana. Sabarlah dan jangan emosi. Kau harus berusaha tegar. Jangan lupa bahwa Ronald adalah seorang manajer keuangan di perusahaan. Bisa saja ini semua jebakan atas sebuah kasus besar," bisik Om Prasodjo seperti menyimpan sesuatu.
Alana tak peduli dengan kecurigaan Om Prasodjo dan terus saja menangis terisak-isak. Baginya pengkhianatan Ronald sudah terlihat jelas di depan mata.
"Boleh om lihat nomor yang mengirimimu pesan tadi?" tanya Om Prasodjo seperti detektif.
Alana menyerahkan handphonenya setelah membuka aplikasi hijau tempat ia mendapat pesan bahwa suamonya berselingkuh tersebut.
Sigap Om Prasodjo menerima handphone dan mulai membaca. Ia memeriksa nomor tersebut dengan teliti. Dicobanya menghubungi nomor tersebut lewat handphone Alana. Namun rupanya dang pengirim pesan sudah memblokir nomor Alana.
"Nomormu langsung di blokir, Lana. Ada yang tidak beres dengan orang yang memberimu informasi ini," jelas Om Prasodjo setengah berbisik. Pria itu lalu mencatat nomor telepon asing tersebut dalam handphone pribadi miliknya.
Seiring dengan datangnya salah satu petugas polisi untuk meminta keterangan pada Alana, Om Prasodjo mundur. Pria itu lalu membiarkan petugas kepolisian menjalankan tugasnya. Mereka mulai mengumpulkan keterangan dari Alana.
Ada tiga orang perugas yang datang awalnya. Mereka memeriksa tempat kejadian perkara, kemudian meminta keterangan dari saksi-saksi, Rahman, Alana dan pegawai hotel. Namun tak berapa lama setelahnya, datang beberapa petugas lain termasuk seorang detektif dan intel. Semuanya bekerja mengumpulkan bukti-bukti dan memoteret tempat kejadian perkara.
"Kapan saya bisa membawa pulang jenazah suami saya, Pak?" tanya Alana di sela isak tangisnya setelah memberikan keterangan.
"Tunggu, Bu. Akan kami adakan proses visum dahulu karena ini kasus pembunuhan. Ibu silahkan pulang dulu untuk beristirahat karena kami akan membawa jenazah Pak Ronald. Kamiperlu seorang dokter ahli forensik untuk memeriksa dan menentukan kematiannya," jelas petugas kepolisian tersebut.
"Lana, ayo pulang dulu. Om antarkan kau pulang dengan mobil om ya. Biar Rahman tetap di sini mengurus semuanya," ujar Om Prasodjo sembari memapah Alana menuju lift dan meninggalkan lorong di lantai delapan tersebut.
Saat itu pukul 04.00 dini hari dan tumbuh Alana sudah sangat lelah karena tidak tidur semalaman. Wanita itu berjalan terwujud dalam dekapan Om Prasodjo. Namun Alana sempat berhenti beberapa saat ketika berada tepat di depan kamar 810. Wanita itu menatap pintu kamar yang masih terbuka lebar dengan ceceran darah di mana-mana tersebut.
Air mata Alana kembali menetes dan alamat terisak untuk kesekian kalinya. Wanita itu lalu memalingkan wajahnya ke pundak Om Prasodjo. Membuat pria paruh baya itu gegas memapah Alana menuju lift agar bisa segera diantar pulang.
"Sabar, Lana. Kau harus tabah, ini ujian berat untukmu," bisik Om Prasodjo di telinga Alana.
"Ba-bagaimana aku bisa sabar, Om. Su-suamiku meninggal dengan cara tak wajar setelah aku menerima kabar perselingkuhannya. Padahal selama ini rumah tangga kami baik-baik saja," isak Alana di dalam lift.
"Ronald bukan orang seperti itu, Lana. Om paham betul bagaimana keponakanku itu. Bisa saja ini sebuah konspirasi jahat yang sengaja dibuat untuk membunuh Ronald," bisik Om Prasodjo lirih.
Paman bungsu sang suami itu, seperti menyembunyikan sesuatu. Sejak awal pria itu terlihat sangat berhati-hati dengan tindakannya. Alana sedikit merasa aneh dengan sikap paman bungsu suaminya tersebut. Apakah ada hubungannya Om Prasodjo dengan kematian Ronald?