“Kamu jangan hujan-hujanan, nanti sakit, biar aku saja!” Suara pria ini tak asing di pendengaran Via. Dalam hitungan ke tiga pun Via menoleh untuk melihat pria ini. Dengan perasaan sangat takut, Via pun memberanikan diri. Ternyata yang dia lihat adalah sosok pria tampan nan menawan, alih-alih pria gendut yang wajahnya menyeramkan. “Hemmpp …. Syukurlah!” Untungnya perkiraannya tak terbukti, Via bukan dikejar orang jahat. Tadi dia sangat ketakutan, sekarang pikirannya sudah agak tenang melihat wajah teduh pria ini. “Kenapa malah berlari saat aku menghampirimu?” tanyanya sambil mengusap puncak kepala Shavia. Rasa tenang kembali menjalar di hati Via, entah kenapa sikap dan segala tindakan Boy terasa menyejukkan hatinya kala gundah gulana. “Aku kira kau orang jahat.” Tiba-tiba ada air mata

