17

514 Words

Vanya berdecih. "Ya Tuhan, drama apa lagi ini." Tatapan tajam Alex mulai menyorot Vanya yang sedang berdecih tadi. Rahangnya mulai mengeras kembali, urat-urat nadi yang berada di leher Alex pun terlihat jelas kala dia menahan emosinya yang membuncah karena putri semata wayangnya ini. "Revanya!" sentak Alex seraya menatap tajam ke arah Vanya. Vanya memutar bola matanya malas. "Apa? Mau mencaci maki saya lagi? Sudahlah, saya lelah hari ini. Lanjutkan saja esok hari, toh juga setiap hari akan selalu berdebat kan?" Tangan Alex terkepal kuat di sisi kanan dan kiri badannya, rahangnya sudah menggelatuk keras. Wajah Alex pun sudah berubah menjadi merah padam karena emosi. Reva mengelus pelan bahu Alex dari samping. "Sudahlah sayang, biarkan Vanya beristirahat. Dia pasti lelah hari ini." Lag

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD