2

1001 Words
Evan melangkah cepat menuju kamar tamu lalu membanting gadis dalam gendongannya yang terus pura-pura pingsan ke ranjang. Ivy ingin membuka mata, tapi begitu takut. Memang sebaiknya Ivy terus memejamkan mata. Karena dengan begitu, ia tak harus menyaksikan Evan yang terus menatapnya bak harimau mengintai mangsa. Senyum sinis terus terukir di bibir lelaki itu. Evan menyentak napas. Menikah dengan perempuan asing? Ia menatap gadis yang tampak terlelap itu dengan pandangan merendahkan lalu menghantamkan tangannya yang terkepal ke dinding. Tangannya berdenyar sakit, namun tak ia pedulikan. Napasnya naik turun menahan letupan amarah. Jantung mengentak kuat seolah hendak meledak. Siapa sebenarnya gadis itu? Apa suruhan seseorang? Ia memerhatikan Ivy cukup lama. Sepintas, terlihat seperti gadis berkelas. Tetapi tak mungkin. Mana mungkin gadis berkelas dengan tak tahu malu mengacau? Pasti gadis ini suruhan seseorang. Pasti. Pikir Evan sambil terus memerhatikan tubuh Ivy. Cantik dan lansing, tapi berhati busuk, sayang sekali. Menikah. Menikahinya. Teringat ucapannya tadi, Evan menyentak napas, berharap rasa panas yang mendekam di d**a segera sirna. Menikah dengan gadis asing, jelas itu ide tergila yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Namun, ia tak punya solusi lain selain melakukannya. Apa kata kolega ayah juga teman-teman kantor jika ia membisu saja? Pasti, ia akan dicap sebagai lelaki pengecut. Soal Tari, ia akan memikirkannya nanti. "Lihat saja, apa yang akan kulakukan padamu setelah para tamu pergi. Dasar Jalang!" umpatnya dengan pandangan berapi-api, lalu keluar sambil menyentak pintu. Dengan langkah panjang, Evan menuju ruang tamu yang dihias bunga warna-warni di mana para undangan langsung menoleh menatapnya, sebagian berbisik-bisik. "Van, gak sangka kebiasaan jelekmu belum hilang, masih suka jajan di luar." Evan menggeretakkan gigi. Ia tak suka tuduhan semacam itu, namun tak mencoba untuk meralat. Toh mencoba membela diri pun percuma, orang pasti tak akan percaya padanya. "Aku waktu itu melakukannya dalam keadaan mabuk, jadi aku tak sadar. Jangan pulang dulu, saksikan aku menikahinya." Teman-temanya langsung menganggukkan kepala. Ada pula yang tersenyum mencibir. Sungguh, ia tak suka pandangan merendahkan yang kini dihujamkan sebagian orang padanya. Biasanya, orang selalu menatap penuh rasa simpati. Muda, kaya, berbakat. Tapi, gara-gara gadis terkutuk itu .... Evan mengepalkan tangan, menahan semburan rasa kesal yang menerjang dadanya. Dalam hati, ia berjanji akan membuat gadis itu menyesali tindakannya. *** "Lihat saja, apa yang akan kulakukan padamu setelah para tamu pergi. Dasar jalang!" Ivy merasakan keringat bergulir dari dahi saat mendengar u*****n itu dan tersentak saat mendengar bunyi pintu dibanting. Tubuhnya sedikit bergetar. d**a bergemuruh hebat. Keringat dingin semakin membasahi wajah. Ivy perlahan bangkit dari ranjang kemudian mengendap-endap menuju pintu, menguaknya sedikit. Aman. Namun, baru saja ia menghela napas lega dan siap melangkah pergi, seseorang tiba-tiba menyentuh tangannya. Jantung Ivy mengentak cepat. Ia menahan napas lalu perlahan, membalikkan badan. Seorang wanita paruh baya berwajah ramah tersenyum padanya. "Mari ikut saya, anda harus segera dirias." Dirias? Ya Tuhan ... apa ia benar-benar harus menikah dengan lelaki asing? Ivy memandang wanita di hadapannya yang menatapnya memohon, dan karena tak tega, akhirnya Ivy menurut. *** "Lebih baik segera pergi," gumam Ivy setelah wanita yang tadi meriasnya pamit sebentar untuk menerima panggilan telepon. Dengan ekspresi cuek yang dibuat-buat, Ivy melenggang santai keluar dari pintu kamar. Dadanya berdebar hebat dan tubuh terasa panas dingin. Ivy terus melangkah melewati ruangan di mana meja panjang bertaplak putih dengan piring-piring besar berisi makanan enak di atasnya ditata sedemikian rupa. Ia melewati ruang tamu di mana beberapa orang yang tengah berbincang langsung terdiam memandangnya, dan akhirnya tiba di depan pintu keluar. "Akhirnya ...." Ivy menggumam senang setibanya di teras. Tak ingin menyia-nyiakan waktu lagi, segera ia melangkah cepat menuju halaman di mana mobilnya di parkir. Tangan Ivy bergerak ke bawah. Mata sipitnya langsung membelalak menyadari tak lagi mengenakan kaus serta celana panjang, melainkan gaun pengantin panjang menyapu lantai. Kunci mobilnya, pasti ada di dalam kamar. Ia semakin was-was saat beberapa wanita yang sedang bergosip di halaman tiba-tiba menatapnya. Salah satunya kemudian mendekat ke arahnya dengan langkah anggun. "Kamu hamil dengannya, Mbak? Kukira, kakakku lelaki baik-baik." "Aku ...." Ivy menyahut gugup. Tak guna meladeni wanita tak dikenal ini. Ia memandang ke sana kemari dengan gelisah, takut lelaki itu tiba-tiba muncul. Ah, persetan dengan mobilnya. Lebih baik, segera pergi. Urusan mobil nanti tinggal telepon bengkel langganan atau tinggal beli yang baru. Tanpa menjawab pertanyaan gadis berwajah kekanakan z yang terus menatapnya dengan pandangan menyelidik, Ivy segera membalikkan badan, berlari cepat ke tepi jalan. Tangannya langsung melambai pada angkot yang mendekat. Namun, sebelum angkot itu berhenti, lelaki yang begitu menakutkan baginya bergegas menghampiri. Di telapak tangan lelaki itu yang telurur, ada benda hitam yang amat Ivy butuhkan. "Terus saja, Paak!" Evan setengah berteriak saat angkot perlahan berhenti. Sang supir mengumpat lalu melajukan angkotnya. "Kamu akan mendapatkan ini setelah kita menikah," ucap Evan sambil membidikkan tatapan sinis pada Ivy yang langsung menunduk ketakutan. Sayang sekali, cantik tapi hatinya busuk. Kata Evan dalam hati. Duuh, bagaimana inii, gumam Ivy. Tubuhnya kembali panas dingin. Mana mungkin ia harus menikah dengan lelaki asing? Kalaupun harus menikah, seharusnya dengan Reyhan, lelaki yang 6 tahun ini menjadi pacarnya. Bukan lelaki mengerikan ini. "Berapa nomer orang tuamu?" Ivy memandang Evan. "Buat apa?" tanyanya dengan wajah ketakutan. Evan tersenyum sinis. "Tentu saja untuk menyaksikan pernikahan kita!" Oooh, Tuhan ... tolong bangunkan aku dari mimpi. Doa Ivy dalam hati. Gadis malang itu hanya bisa pasrah saat lelaki yang tak dikenalnya menariknya ke dalam rumah untuk melaksanakan ijab kabul. "Siapa namamu?" Evan menatap Ivy tajam. Tatapan tak suka kentara sekali di wajahnya. "Aku ...." "Siapa namamu?!" Evan setengah membentak. "Ivy Swastika Maharani." Tak punya pilihan, akhirnya ia menyebutkan nama. Ia menoleh terkejut saat terdengar seruan di ambang pintu. Orang-orang langsung menoleh ke sumber suara dengan wajah ingin tahu. "Dasar anak tak tahu diuntung!" Plak! Ivy memegangi pipinya. Ia menunduk, sama sekali tak berani menatap sang ayah. Sementara di samping ayahnya, ibu tirinya hanya terdiam. Tetapi, sekilas Ivy melihat tatapan mengejek perempuan yang sangat dibencinya itu. "Yaah, aku bisa jelaskan. Sebenarnya ... sebenarnya ...." "Langsung dimulai saja ijab kabulnya," ucap ayah Ivy sambil duduk. Ivy terisak. Yaa Tuhaan ... mimpi apa aku semalam?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD