Hana melompat dari angkot yang sedang berjalan, tubuhnya terguling di aspal. Jalanan yang penuh air serta hujan yang turun ke bumi membuat tubuhnya basah dan kotor. Hana merasa seluruh tubuhnya sakit.
Angkot itu mundur lalu berhenti. Lelaki yang ia gigit tadi keluar dan menghampiri Hana dengan pisau di tangannya. Hana kesulitan untuk berdiri ia beringsut mundur.
"Sialan lo berani gigit gue!" lelaki itu menarik Hana dengan tangan kirinya sampai Hana berdiri.
"Piso ini bakal ngerobek muka cantik lo!" Lelaki itu berkata dingin. Hana gemetar.
"Agh!" Seseorang menarik tangan lelaki itu sampai pisaunya terjatuh. Dan ia berbalik.
"Kak Revan." cicit Hana. Ada rasa lega luar biasa di hati Hana.
"Pengecut lo anj*ng, beraninya sama cewek!"
Bugh! Bugh! Bugh!
Revan memukuli lelaki itu tanpa ampun.
"Kamu ndak pa-pa nak?" Seorang wanita di awal usia 40an memakai jas hujan bertanya pada Hana. Hana pun menangis dan ia memeluknya.
"Sssh, tenang nak. Dia ndak akan nyakitin kamu lagi. Ada kami di sini." punggung Hana diusap-usap dan membuat Hana menjadi tenang.
"Hana, lo nggak pa-pa?" Revan bertanya pada Hana setelah lelaki itu jatuh akibat pukulannya.
"Gue... gue takut Kak. Gue mau pulang." kata Hana sambil mengusap air matanya.
Lelaki yang baru saja dipukuli Revan mengambil kesempatan untuk berlari menuju angkot. Dan angkot itu pun pergi.
"Baju kamu basah semua, kotor lagi. Ikut sama Ian aja ke rumah bunda. Mandi baru pulang!" saran wanita itu pada Hana.
"Ian, bawa temanmu ke rumah. Kasih minuman hangat, terus mandi. Pinjamkan baju bunda untuknya."
"Iya bun"
"Bunda lanjut ke rumah bu Karto naik ojek, jangan lupa kamu juga mandi. Basah kuyup kamu." bunda menunjuk Revan yang benar benar basah karena tidak menggunakan jas hujan.
Hujan sudah berhenti saat Hana menaiki motor Revan. Hana berpegangan pada bagian belakang motor. Revan melajukan motornya dengan cepat. Sepanjang perjalanan Hana menyesali kebohongannya pada ibu dan daddy nya. Ia merasa inilah hukumannya karena telah berbohong dan tidak menuruti kata orang tua.
Motor memasuki kawasan perkampungan, tidak berapa lama motor berhenti didepan sebuah rumah sederhana berlantai 2. Revan turun dari motor dan mengajak Hana turun. Lalu Revan membuka pintu.
"Masuk! lo langsung aja ke lantai 2. Mandi di kamar gue. Gue mau siapin teh anget sekalian ambil baju bunda buat lo pake. Gue juga mau mandi di bawah"
Hana langsung naik ke lantai 2 langsung menuju kamar Revan lalu masuk ke kamar mandi.
Hana menatap dirinya di depan cermin, tampilannya benar-benar buruk. Jilbab yang berantakan, baju basah dan kotor.
Tok! Tok!
"Hana, gue bawa handuk nih buat lo!" Hana membuka pintu kamar mandi dan menerima handuk yang disodorkan Revan.
Hana membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Ia melakukan ritual mandinya cukup lama karena merasa tubuhnya sangat kotor.
Revan memasuki kamarnya hanya memakai handuk yang menutupi area pinggang ke bawah, di tangannya ada baju milik bundanya yang akan dipinjamkan pada Hana.
Revan mengambil baju miliknya dari dalam lemari saat terdengar suara ribut-ribut di bawah. Belum sempat ia memakai bajunya, pintu kamarnya sudah terbuka.
Brak!
Pintu kamarnya terbuka lebar. 4 orang laki-laki masuk.
"Ini ni pelaku maksiat yang ngotorin kampung kita!" Seorang lelaki muda yang bernama Beno teriak emosi.
"Apa-apaan ini Ben? Apa maksud kalian?" Tanya Revan bingung.
"Mana cewek lo?" Tanya Beno
"Cewek? Cewek yang mana?"
"Belaga bego lo. Cewek yang berbuat m***m sama lo! Mana! Tadi dia masuk rumah ini" kata pemuda lain.
Mereka mendengar suara gemericik air di kamar mandi berhenti. Lalu satu pria menggedor pintu kamar mandi.
Dor! Dor! Dor!
"Woi keluar lo!" Teriak pria yang menggedor pintu.
Seketika itu juga Hana gemetar mendengar keributan dan gedoran pintu di kamar mandi. Dia tidak mungkin keluar hanya menggunakan handuk.
"Kalian mau apa?" Teriak Revan mendorong pria yang menggedor pintu.
"Masih nanya lo! Udah ngotorin kampung pura-pura bego" ujar Beno
"Ngotorin kampung?" Revan bingung
"Lo sama cewek lo abis berzina kan?" Tuduh Beno
"Nggak, sumpah kita nggak ngelakuin itu!" Revan mengacungkan 2 jarinya.
"Pencuri mana ada yang ngaku!" Pemuda di samping Beno protes
"Terus lo ngapain cuma pake anduk doang di kamar lo? Cewek lo lagi di kamar mandi juga, hah?" Beno menekan Revan.
"Gue abis mandi di bawah terus mau ngambil baju ke sini, temen gue numpang mandi di sini" terang Revan.
"Banyak bacot lo! Udah deh dobrak aja pintu kamar mandinya biar dua-duanya cepet dihukum" pria yang berdiri di depan pintu kamar mandi memberi usul.
"Jangan, jangan didobrak!" Revan menghalangi laki-laki yang siap mendobrak, ia ingin melindungi aurat Hana.
Revan mengambil baju dan jilbab milik bunda. "Han, ini baju sama jilbabnya bunda. Cepetan pake ya" Revan berkata lembut tidak ingin membuat Hana semakin panik.
Hana berdiri di belakang pintu, membuka sedikit pintu kamar mandi lalu mengambil baju dan jilbab milik bunda. Air mata Hana menetes, ia takut sangat takut. Orang-orang di kamar Revan terdengar sangat emosi.
Hana keluar dari kamar mandi setelah memakai gamis dan jilbab milik bunda. Revan juga sudah berpakaian, dengan celana selutut dan kaos oblongnya.
"Nah tu pelakunya udah keluar" ujar Beno
"Saya nggak ngapa-ngapain, demi Allah saya... saya cuma numpang mandi" jelas Hana.
"Nggak usah banyak bacot lo berdua, ke bawah aja sekarang. Udah ada pak RT nunggu."
"Ayo!" Beno menarik tangan Hana dengan kasar sampai Hana hampir terjatuh. Revan berdiri di depan Beno.
Bugh!
Revan melayangkan tinjunya pada Beno
"Lepas! Lo nggak berhak ngasarin dia, sekali lagi lo kasar sama dia gue abisin lo!" Ancam Revan. Dua orang pemuda lain memegangi tangan Revan yang sudah terkepal.
Di ruang tamu sudah ada ketua RT, tokoh masyarakat dan beberapa orang warga.
"Coba jelaskan situasinya!" Pinta pak RT
"Saya lihat Revan sama ceweknya ini berdua masuk rumah pak sementara bu Novi nggak ada di rumah. Saya sama temen saya diem-diem ngintip. Mereka mesra banget pak, pas masih di motor aja si cewek meluk-meluk Revan di dalem rumah lebih mesra lagi." Cerita Beno.
"Fitnah lo anj*ng! Gue sama Hana nggak pernah pernah pelukan!"
"Saya sama teman-teman nunggu sebentar terus dari pada kegiatan maksiat mereka keterusan ya kita masuk. Eh bener si Revan udah telanjang make anduk doang di kamarnya, ceweknya lagi di kamar mandi kamarnya Revan." Lanjut teman Beno.
"Saya cuma numpang mandi pak" ucap Hana.
"Numpang mandi terus mau ena-ena kan atau abis ena-ena terus mandi atau abis mandi bareng sambil ena-ena?!" Tuduh Beno
"Itu fitnah pak, fitnah! Saya cuma numpang mandi di sini" kata Hana dengan nada tinggi.
"Cewek jalang kayak lo emang pinter boong!" Beno berkata
"Huuuu....." sorak orang-orang.
"Kerdus tuh kerdus, kerudung dusta!" Teriak seorang ibu yang berdiri di depan pintu.
"Jilbab palsu!" Sambut seorang bapak.
"Kepala doang ditutup kelakuannya kayak p***k!" Ucap orang lainnya.
Ruangan itu menjadi ramai dengan kalimat-kalimat tuduhan untuk Hana. Hana menangis mendengar tuduhan orang-orang sementara wajah Revan memerah tangannya mengepal amarahnya memuncak.
"Diem lo semua! Sekali lagi ada yang ngatain Hana gue robek-robek mulut lo semua!" Revan berkata dengan berapi-api.
"Tenang-tenang semua!" Kata pak RT. "Revan kamu juga tenang, ada saatnya nanti kamu bicara"
Tbc
》》》¤¤¤《《《