22.Imam dan Makmum

966 Words

Tia di bawa Juna ke kafenya. Gila si Juna kafe sama kampusnya itu deketan. Ngapain pake narik narik kayak mau nyulik segala sih?. Kan jalan kaki juga bisa. Paling lama juga mungkin 5 menit. Itu pun kalo jalannya kayak siput. Juna menarik Tia duduk di dalam ruangan pribadinya. "Saya mau ngomong dan saya gak mau ada yang ganggu. Makanya kamu saya bawa ke sini." ujarnya. "Tapi pak? Di kampus juga bisa sih kalo cuma mau ngomong gak ada yang ganggu." jawab Tia. "Saya mau ngomong serius. Dan saya lebih nyaman kalo ngobrolnya berdua aja sama kamu." "Saya takut hilap pak" ucap Tia pelan. Takut kedengaran Juna. Tapi masih kedengaran. "Ngapain juga harus pake takut hilap?" Juna menyeringai. Biasanya Tia yang ganguin dia, sekarang gantian. Mampus! "..." Juna mendekatkan wajahnya ke wajah Tia "

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD