7.Eh, Calon Imam

811 Words
Tia, Tika, sama Lola lagi belajar di kelas pak Juna. Kebayang dong bahagianya Tia kayak gimana? Selama dua jam dia bisa nikmatin karya terindah Tuhan, yang bakal jadi mantu ayah bundanya. Namun bukannya mendengar apa yang dikatakan sang dosen, Tia malah memainkan ponselnya, mengambil foto Juna sebanyak-banyaknya. Katanya untuk dijadikan harta karun. Dia akan kasih tau anak-anaknya nanti bahwa sang ayah adalah dosen yabg hebat. Dan ibunya adalah mahasiswi yang pintar. Juna yang sudah sedari tadi melihat gerak-gerik Tia menatapnya lama. Dia dari tadi ngomong di depan kelas, tapi Tia malah cengengesan megangin ponsel. Juna rasa bukan cuma dia, bahkan semua dosen diseluruh Indonesia juga akan marah. Dia merasa tidak dihargai. Juna berjalan ke arah Tia, Tia masih tidak sadar. Dia masih fokus dengan ponsel dan foto dosennya. Menggeser satu demi satu sambil tersenyum. Ahh ... dosennya ini memang memiliki wajah yang tampan menawan. "Ekhem" deheman Juna membuat Tia mendongak, lalu melongo. Tia kaget, dia bingung ini yang di depannya beneran Juna atau cuma imajinasinya. "Kamu tidak biaa menghormati saya sebagai dosen?" Juna berkata dengan nada ketus dan dingin, membuat seisi kelas terkejut, Juna memang memiliki perawakan dingin. Namun di dalam kelas dia selalu mencoba bersikap hangat. Tapi tidak dengan Tia. "Eh, beneran calon imam ternyata, ehehe, pak Junjun mah bakal saya hormati, bukan hanya sebagai dosen, tapi juga anak dari ibu mertua saya, dan menantu dari ibu saya, juga ayah dari anak-anak saya" Juna menghela nafas lelah. "Kamu sepertinya memang tidak punya malu ya?" Tia diam, dia mengarahkan lensa kamera ponselnya ke arah wajah Juna. Juna yang mengetahui itu segera mengambil ponsel Tia, dilihatnya apa yang gadis itu lakukan dengan ponselnya sedari tadi. Betapa terkejutnya Juna, saat dia mrlihat fotonya memenuhi galery ponsel gadis di depannya, dengan nama album 'pak Junjun calon imam'. Foto Juna di ponsel Tia adalah fersi lengkap. Karena Tia memiliki koleksi foto juna dari mulai ruangannya, perpustakaan, kelas, bahkan saat dia masuk ke dalam toilet. Untung bukan saat dia berada dalam toilet. "Kamu stalker?" "Ngestalk calon suami dihalalkan kok pak, biar gak kaget sama kebiasaan suaminya besok kalo udah nikah" Juna melotot mendengar jawaban Tia. Lagian siapa juga yang mau jadi suaminya Tia, gadis setengah waras, yang selalu mengganggu hidupnya!. Mana ngomongnya sambil cengar-cengir lagi. Kan Juna jadi tambah kesel sama Tia! "Kamu sadar nggak sih, kamu itu bikin saya gak nyaman?" Juna berbicara lebih ketus dan dingin. Dia benar-benar marah. "Masa sih pak? Tapi saya nyaman banget lo sama bapak" Tia bingung, dari sikapnya yang mana yang bikin juna gak nyaman?  "Bahkan tiap malem Tia suka liatin foto pak Junjun dulu, biar Tia tidurnya nyenyak sampai pagi. Maknya pak, Tia nya cepet di halalin biar kalo mau tidur, yang Tia liat mukanya pak Junjun langsung, bukan cuma fotonya." Sekarang yang kaget bukan cuma Juna, tapi juga temen sekelasnya, bahkan dua sahabat deketnya juga sampe kaget. Mereka semua tau kalo Tia emang otaknya kurang setengah kilo, agak kurang warah lah. Tapi Tia kan cantik, jadi dimaklumi aja gitu, cantik mah kan bebas. Tapi kalo sampe ke tahap udah ambil foto diem-diem terus fotonya diliatin waktu mau tidur, obsesi Tia sama Juna udah terlalu jauh. Jangan-jangan kalo Juna masih gak mau sama Tia, Tia nekat lagi mintak semar mesem sama mbah dukun lagi. Kan serem "Kamu jadiin saya objek fantasi?!" Semua orang dikelas tau, suara juna makin meninggi sekarang. Tapi yang diajak ngomong, dari tadi cuma cengar-cengir gak jelas. Gak nyadar banget kalo Juna lagi marah. "Enggak pak! Saya gak pernah jadiin pak Junjun objek fantasi, saya masih takut dosa, saya mau menjaga kesucian otak saya. Saya cuma jadiin pak Junjun objek halu aja, ehehe" Juna mengusap wajahnya kasar. Gak tau lagi, dia bingung mau digimanain si Tia ini. Pengen rasanya dia buang aja si Tia ke rawa-rawa!. "Saya gak mau tau! Hapus foto-foto saya, kalo sampe besok saya liat kamu masih nyimpen foto saya, saya akan berhenti ngajar aja dari kampus kalian!" Juna sadar, Tia itu gak bisa diajak ngomong pake bahasa halus, tapi di kasarin juga dia gak bakalan faham. Mungkin sedikit ancaman bisa membantu. "Yah, jangan dong pak, aku tampamu itu, butiran debu. Iya deh, Tia bakal ngehapus foto-fotonya pak Junjun. Tapi Tia gak bakal bisa ngehapus nama pak Junjun dihati dan fikiran Tia!" Tu kan, mempan, kalo gitu, Juna bakal lebis sering gunain ancaman kalo ngomong sama Tia. Eh, kok sering-sering? Juna ralat, kalo Tia lagi ganguin dia. Juna berbalik mau menuju depan kelas lagi. Tapi suara ai Tia bikin dia jadi diem di tempat. "Pak Junjun, saya nyimpen foto bapak sebenarnya mau buat harta karun" Juna menoleh ke arah Tia lagi "biar anak-anak kita nanti tau, kok bisa mereka jadi anak yang cantik dan ganteng, ya karena bibitnya, bibit unggul" Juna menghela nafas kasar, gak nyangka di dunia ini ada makhluk semenyebalkan dan se-gak tau malu Athia Putri. Lagian siapa juga yang bakal mau punya istri macam Tia. Jadi apa anak-anaknya jika ibunya modelan Tia "Hapus foto-foto saya! Atau saya akan mengirimkan surat pengunduran diri sekarang juga!" Dan Tia langsung memformat ponselnya 5 detik kemudian
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD