Part 10

509 Words
Author Pov Selama diperjalanan, mereka berdua hanya diam dan hanya terdengar suara radio yang menyala dengan volume sedang. Sesampai didepan rumah, Jasmine langsung membuka seatbeltnya dan membuka pintu. Tapi Zelvin menahannya, Jasmine berbalik menatap Zelvin yang memegang tangannya. "Apa kau bisa memberiku kesempatan kedua?" Zelvin melihat Jasmine dengan tatapan berharap. Jasmine diam beberapa saat lalu berbicara, "A-aku takut," "Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyakitimu, tapi aku mohon. Kita bisa mengulangnya dari awal hanya kita bertiga. Apa kau ingin Javin bahagia?" Jasmine berpikir, Javin memang belum pernah menanyakan tentang ayahnya. Dia sering melihat anak-anak yang bermain dengan ayahnya walaupun dia tidak pernah menanyakan dimana ayahnya tetapi terlihat dimatanya bahwa dia menginginkan sosok ayahnya juga. "Aku akan memikirkannya lagi," Jasmine tersenyum kearah Zelvin. "Apa besok aku bisa membawa Javin bermain ? Aku sudah berjanji kepadanya," "Kau bisa membawanya, kau tahukan dia pulang sekolah jam berapa?" "Ya, aku tahu. Aku ingin kau ikut juga bersamaku," "Tapi pekerj-" "Aku mohon, hanya kita bertiga. Kita tidak pernah melakukan ini. Aku ingin menebus kesalahanku," Jasmine Pov Akhir-akhir ini Zelvin sering kali memohon, dia tidak pernah seperti itu dulu. Aku juga tidak mungkin tidak mengizinkannya, dia ayahnya dan dia berhak bertemu dengan Javin. Dan kami memang belum bercerai, apa aku memberinya kesempatan kedua sekarang ? "Baiklah, aku akan datang nanti," "Aku yang akan menjemputmu dan mengantarmu juga tentunya," Aku tersenyum dan mengangguk, tapi Zelvin tidak melepaskan pegangannya ditanganku. "Zel, bisakah kau lep-". Tiba-tiba Zelvin menarikku dan dia menciumku. Aku masih kaget dan hanya membelalakkan mataku, ciumannya begitu intens. Aku hanyut dalam ciumannya, dia menarik tengkukku dan memperdalam ciumannya. Setelah beberapa menit, dia melepaskan ciumannya. Kening kami masih menempel dengan jarak bibir yang masih bisa dibilang sangat dekat, kami mengatur nafas. Dia mengusap bibirku yang aku yakini sekarang sudah sangat bengkak. "Manis," Dia tersenyum dan pipiku merona dibuatnya. "Aku mencintaimu Jasmine. Sangat," Zelvin Pov Dia tidak memberontak ketika aku menciumnya, aku menarik tengkuknya dan memperdalam ciumanku. Setelah beberapa menit, aku melepaskan bibirnya walaupun tidak rela. Nafas kami terengah-engah, aku menempelkan keningku kepadanya dan mengusap bibirnya yang bengkak karna ulahku. "Manis," Bibirnya memang sangat manis, membuatku menginginkannya lagi seperti candu, pipinya merah merona. "Aku mencintaimu Jasmine. Sangat.," Dia terdiam, lalu dia mengejutkanku dengan mengalungkan tangannya dileherku lalu menariknya dan menempelkan bibirnya lagi kepadaku. Aku tersenyum dan membalas ciumannya, lama kelamaan ciumannya menjadi semakin panas. Aku menurunkan ciumanku kelehernya dan dia mendesah menarik rambutku membuatku semakin gila. Aku berhenti menciumnya walaupun badanku sudah panas, dia terlihat kecewa. Aku tersenyum lalu mencium bibirnya sekilas. "Kita bisa melanjutkannya nanti, Javin sudah menunggumu. Aku harus kembali," Lalu aku membisikkan sesuatu ditelinganya dan membuat dia terkejut, "Kita bisa memberi Javin adik kalau dilanjutkan sekarang," Bisikku dan dia menjauhkan dirinya, aku hanya tertawa melihatnya. "Terima kasih untuk hari ini Zel," Aku berhenti tertawa dan melihat kearahnya, dia tersenyum padaku dan aku membalasnya. "Aku yang seharusnya berterima kasih, kau sudah memberiku kesempatan sayang. I Love You So Much Baby," Dia tersenyum lalu mencium pipiku dan membisikan sesuatu membuatku kaget, Jasmine langsung keluar dari mobil tanpa melihatku kembali. Aku tersenyum senang. 'Kita akan kembali bersama'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD