Di tempat yang sudah dijanjikan Ansel, Naya berdiri dengan tas kecil di punggungnya. Dia sudah telat lima menit dari waktu yang dijanjikan Ansel. Tapi rupanya lelaki itu belum datang, membuat Naya sedikit gelisah, dia takut dipermainkan lagi oleh aktor tampan itu. Sesekali dia duduk tapi kemudian bangkit lagi lalu duduk lagi. Hingga kemudian sebuah tangan menyentuh pundaknya.
“Maaf lama, ya.” Suara yang sudah sangat Naya kenali.
Sosok Ansel berdiri dengan topi distro hitam menutupi rambut pirangnya. Kacamata yang tak pernah lelaki itu lupakan setiap kali hendak keluar. Pun yang paling utama adalah masker untuk menutupi wajahnya agar tak dikenali orang orang yang berpapasan dengannya.
“Nggak papa kok,” sahut Naya dengan memberikan senyum terbaiknya. Ya, selama ini dia tak pernah merasa bahwa dirinya benar benar tersenyum. Tapi pada lelaki yang dia anggap Mas pangeran itu, dia dengan tulus memberikannya.
“Ayo langsung jalan sekarang, Vera” ajak Ansel meraih tangan Naya.
“V_vera?” Naya tergagap. Terlebih tubuhnya serasa beku mendadak saat tangannya digenggam Ansel.
“Vera, nama belakangku,” ucapnya lagi dengan mata menatap entah kemana.
“Ya, let’s go,” ucap Ansel memakaikan topi miliknya ke atas kepala Naya yang masih mematung. Entah apa yang membuat dia menjadi seperti itu.
“Mas Ansel ingat nama panjang ku.” Hatinya bersorak kegirangan.
“Ayo,” ajak Ansel lagi kali ini memangku pundak Naya untuk segera melangkah dan berjalan bersamanya.
Bahkan setibanya di mobil yang kemaren pernah Naya lihat, Ansel membukakan pintunya untuknya.
“Ee, tunggu!” dia menghentikan tangan Ansel yang hendak menutup kembali pintu mobilnya.
“Ya?”
“Kita mau kemana?” tanya Naya menatap pada Ansel yang juga tengah menatapnya dalam dibalik kacamata hitam yang dikenakannya.
Oh, God. Dia cute banget pakek topi.
“Ke ruangan rehatku,” jawab Ansel singkat.
Rupanya ruangan rehat yang dimaksud Ansel adalah sebuah apartemen megah yang di dalamnya tak hanya menjadi tempatnya istirahat. Melainkan, juga tempat dia menyalurkan semua hobby-nya. Mulai dari alat fitness, piano dan sebuah papan tulis besar yang tertata rapi di dalam ruangan itu.
Naya menganga begitu dia sampai di depan pintu apartemen Ansel. Semua perabotan di dalamnya tampak berkilauan seperti tak pernah dipakai. Padahal sebenarnya tidak begitu, benda benda itu selalu Ansel pakai, hanya saja barang yang sudah dipakai dan yang tidak dipakai sekalipun, selalu mendapat perawatan dari ahlinya setiap seminggu sekali. Sebab itulah, barang barang di apartemen Ansel tampak baru semua.
“Kayak gak ada satu serangga-pun di sini.”
Jangankan serangga, Nay. Serpihan debu juga minder masuk ke sini (jiwa missqueen author meronta ronta).
“Ayo masuk,” ajak Ansel menarik tangan Naya lagi karena gadis itu terlihat tak berniat masuk dan hanya menganga karena kelewat takjub melihat interior apartemen Ansel yang sungguh sangat memanjakan matanya.
Dia melangkah perlahan dengan netranya tak henti memandangi setiap sudut ruangan.
“Gede.” Naya terkagum-kagum pada ruangan rehatnya Mas pangeran.
“Gede banget,” ucapnya lagi.
“Aku buat minuman dulu, kamu duduklah di mana pun sesukamu.” Ansel bersuara tak jauh dari tempat Naya berdiri.
Naya melangkah perlahan. Dilepaskannya tas kecil yang sejak tadi digendongnya.
“Tenyata dia juga suka membaca,” ucap Naya saat melihat deretan buku berjejer di rak dekat jendela.
Naya membaca satu persatu judul buku yang berjejer di sana, tapi kemudian Ansel mengagetkannya dengan menyandarkan kepalanya di bahunya.
“Ee ....” Naya berpindah tempat menghindari Ansel.
“Di sini kita nggak perlu khawatir diliat orang, bisa bebas ngelakuin apa aja,” ucap Ansel saat Naya menghindar darinya.
“A_apa aja?” Naya mengulangi kalimat Ansel dengan terbata.
“Hayo .... Pasti barusan kamu mikir hal m***m, ya?” seru Ansel menggoda Naya.
“K_kamu ngomong apa, sih?” Naya merasa malu karena pikirannya ditebak Ansel dengan sangat tepat.
Ansel tertawa melihat wajah Naya yang bersemu merah.
Demi menyembunyikan k*********a, eh rasa malunya, Naya melangkah kembali. Sesuatu yang menarik membuatnya harus melangkah sedikit lagi untuk bisa melihat lebih dekat. Sebuah foto Ansel dengan keempat temannya yang tampak tertawa bahagia. Ia mengambilnya. Foto Ansel saat masih bersama teman-temannya di The king.
“Foto yang bagus,” ujar Naya memandangi foto tersebut dengan tersenyum.
Sedang Ansel masih berdiri di tempatnya, memandangi Naya.
“Senyumnya ... Selalu membuat aku ketagihan.”
“Sangat bagus. Kamu keliatan bahagia banget,” ucap Naya membalikkan badannya menghadap Ansel.
“Oh, ya?” Ansel menanggapi dengan tersenyum. Senyum khas yang juga mulai menjadi candu bagi Naya.
Kenapa senyum mulu, sih? Bikin aku ga bisa napas.
*****
Ansel telah selesai menyiapkan makanan, lengkap dengan minuman yang sengaja dia siapkan sejak tadi sebelum menjemput Naya. Dan keduanya telah selesai makan siang berdua di apartemen Ansel.
“Kalo di rumah, kamu biasanya ngapain?” tanya Ansel saat baru selesai dengan makannya.
“Belajar,” jawab Naya singkat.
“Kalo hobby?” tanya Ansel lagi.
“Belajar,” sahut Naya. Tapi kemudian dia tersadar bahwa hidupnya memang tak pernah jauh dari yang namanya belajar. Terlebih, dia melihat raut Ansel yang seperti terheran heran dengan jawaban singkatnya.
“Maaf maaf, aku nggak punya ketertarikan khusus pada yang lain,” jelas Naya kemudian.
Ansel tersenyum, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
“Makasih hidangannya, ya. Ternyata kamu jago masak,” ucap Naya lagi.
“Ahahah .... Jago masak? Aku tadi order sebelum jemput kamu,” ujar Ansel terus terang.
Naya turut tertawa. Memang hanya di depan Ansel, dia menjadi orang bodoh.
“Oia, Kita nonton, yuk,” ajak Ansel kemudian.
“Keluar?” tanya Naya karena sepertinya waktunya tak akan cukup untuk dia pergi hari ini.
“Di sinilah. Kamu boleh nonton apapun yang kamu mau,” ujar Ansel lagi.
“Serius?” Naya berbinar. Wajahnya berubah cerah setelah tadi sempat kecewa karena berpikir, dia akan melewatkan nonton bareng dengan Mas pangerannya.
Seperti biasa, Naya memilih menonton film romansa. Tapi untuk pertama kalinya, dia memilih film berbeda dari film yang biasa dia pilih.
Bukan film romansa namanya, jika tak ada adegan berciuman di dalamnya. Dan adegan itu sedang berlangsung sekarang. Naya menutup matanya dengan jemarinya yang dibuat renggang.
“Masa iya aku nonton beginian di depan Mas Ansel? Speechless akutuh,” hatinya berceloteh sembari jemarinya dibuat bergeser ke kiri ke kanan di wajahnya.
Tapi tiba-tiba, Ansel bersandar di bahunya.
“Mas Ansel, hatiku ....” Dadanya bergemuruh saat di bahunya terdapat sosok yang belakangan membuatnya merasa menemukan dunia yang baru.
“Hatiku belum siap,” ucapnya menyelesaikan kalimatnya.
Tapi tak ada jawaban dari orang di sampingnya. Lebih tepatnya dari orang yang tengah bersandar di bahunya. Dan saat Naya menoleh, ternyata Ansel tertidur dan tak sengaja kepalanya jatuh di bahu Naya.
“Oalah ....” Naya bernapas lega.
Dia memandangi wajah lelah Ansel.
“Kenapa kamu mengajakku ke tempat kamu?” Naya menggerakkan sedikit demi sedikit tangannya mendekatkannya ke kepala Ansel.
Melihat Ansel yang tampak pulas di bahunya, Naya membelai rambut pirang milik Mas pangerannya.
Tapi siapa sangka, ternyata Ansel hanya pura pura tidur, dia menangkap cepat lengan Naya saat tangan gadis itu membelai rambutnya dengan lembut lalu kemudian dia mendorong tubuh Naya hingga jatuh terlentang di sofa.
“Kamu ketipu,” ucap Ansel tertawa saat tubuhnya menindih tubuh kecil Naya.
Dia memandangi wajah cantik Naya di bawahnya, lalu mendekatkan wajahnya saat dilihatnya Naya memejamkan mata seolah pasrah pada apa yang hendak Ansel lakukan.
“Ada bulu mata mau masuk ke matamu,” ucap Ansel kemudian.
Sedang Naya merasakan ada tangan dingin menyentuh area bawah matanya.
Hatinya nyaris akan lompat dari tempatnya. Jika saja dia tidak mendengar suara Ansel, maka degup jantungnya akan terus membuat gelombang aneh yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
“Apa yang kalian lakukan?” tiba tiba sebuah suara mengagetkan keduanya.
Seorang lelaki yang terlihat sudah berkepala tiga berdiri tak jauh dari tempat mereka saling menatap dengan posisi yang pasti menimbulkan kesalah pahaman di atas sofa.
Naya yang melihat itu sangat terkejut dengan kedatangan lelaki itu, tapi tidak dengan Ansel. Dia justru terlihat sangat santai.
“Cepet banget datengnya kamu, Paman.” Ansel berpindah ke tempatnya semula ia duduk.
“Paman?” Naya mengulang panggilan Ansel pada lelaki itu.
“Iya, Paman Ade, manajerku,” tanggap Ansel.
Dia bangkit menatap pada manajernya yang tak lain adalah pamannya sendiri.
“Katanya, menjadi bujangan membuatnya sangat kesepian, jadi kadang dia datang ke sini dan menginap,” cerita Ansel dibuat buat untuk meledek pamannya yang sudah lama menjomblo.
Tapi memang dasar manager Ade, dia justru membahas hal lain dengan sangat serius. Siapa lagi kalau bukan Naya. Rupanya keberadaan gadis itu membuat getir tersendiri di hati manager yang memilih menyendiri itu.
“Siapa kamu? Cepat bangun dari sofa dan jangan dekat-dekat dengan Ansel,” ucapnya dengan menunjuk wajah Naya.
“Tenang, Paman. Dia pacarku,” sahut Ansel menghalangi tubuh Naya agar tak lagi dilihat oleh pamannya yang tak lain adalah manager keartisannya.
“Ha? Pacar?!” Naya dan manager Ade berucap bersamaan.
“Kenapa? Nggak boleh?” tanya Ansel, menggeser sedikit tubuhnya sembari melohat pada Naya.
Naya menggeleng beberapa kali.
“Kalo gitu, fiks ... Kita pacaran,” putusnya dengan tertawa renyah, kripik kali ah.
“Berapa umurmu?” tanya Manager Ade lagi memandang Naya dengan pandangan menusuk.
“Enam belas tahun,” jawab Naya berterus terang.
Manager Ade yang mendengar itu mendadak lemas. Kantong plastik yang dibawanya sejak tadi terlepas dari tangannya.