BAB 21

2082 Words
Sedangkan saat sambungan terputus, Rukmi memandang manager Ade dengan penuh tanya. “Apa dia Ansel yang dulu tembem dan suka nemenin anak kita, Mas?” Rukmi bertanya. Mengingat-ingat tentang sosok anak kecil cowok yang suka nemenin anaknya ketika dia datang bertamu ke rumah Bu Tika, sahabatnya sekaligus mama Ansel. “Iya. Sekarang dia sudah besar. Dan mungkin anak kita sekarang baru masuk SMA, ya?” Manager Ade menanggapinya diikuti dengan senyuman khasnya. Tak terasa sudah dua jam berlalu ketika mereka menghabiskan waktu mengobrol setelah gagal mencari anak perempuan mereka. Manager Ade mengantarkan Rukmi, mantan istrinya ke kediamannya. Bahkan dia tak sungkan sama sekali mengajak Rukmi untuk datang ke lokasi syuting dan bertemu ponakannya. Ya, manager Ade selalu anggap bahwa hubungannya dan Rukmi masih sama seperti dulu. Sebab memang tak ada kata pisah yang keluar dari mulutnya. Hanya saja sejak kejadian itu .... Ah, manager Ade terlalu sakit jika harus mengingat dan mengulang ingatannya. **** Sementara di lokasi syuting, Ansel dengan semangatnya yang sudah kembali kian bersemangat melakoni setiap adegan demi adegan. Bahkan satu scene yang biasa dilakukan sampai empat bahkan lima kali, kali ini dilakoni Ansel dengan satu kali saja. Sungguh perkembangan yang sangat bagus. Manager Ade pasti bangga begitu tau perkembangan Ansel di bidang akting. Saat break, dia sempatkan mengirim pesan pada kekasihnya, Naya. Tentu saja saat break adalah waktu bagi Lisa mendekati Ansel, dengan alasan melatih dirinya agar bisa cepat dapat feel ketika adegan yang sudah sampai di scene romantis. Ansel tidak terlalu peduli. Selama itu menyangkut film mereka, Ansel tidak masalah. Itulah profesionalitas kerjanya. “Ans ... Boleh ambilkan buah berry itu untukku?” pertanyaan yang tiba-tiba terucap dari bibir Lisa. Ansel sejenak mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya. Dia memandang Lisa karena ucapan perempuan itu yang terdengar manja. Dan ... Apa katanya? Buah berry? Ansel menoleh ke kiri kanan. Mencari-cari buah yang dimaksud Lisa. Melihat Ansel yang celingukan ke kiri dan ke kanan, Lisa tertawa. Jujur, Lisa memang cantik bahkan saat sedang tertawa seperti itu. Tapi perlu diketahui, Ansel lebih suka gadis berwajah manis dan tentunya juga cantik seperti kekasihnya saat ini. Hatinya sudah terkunci pada Naya sehingga tidak ada celah sedikitpun bagi Lisa untuk mendapat pujian atau bahkan tempat di hati Ansel. “Aku tuh latihan ini.” Lisa mengangkat tinggi lembaran skenario yang ada di tangannya. Ah, s**t! Ansel kira perempuan itu mau bermanja-manja sama dia. Dan latihan? Harusnya jika Lisa menganggap itu latihan, dia tidak memanggil Ansel dengan Ans .... Panggil saja Niko, sesuai nama tokoh yang Ansel perankan. “Ini buah berry yang kamu minta.” Ansel menyodorkan sebuah tisu bekas dia mengelap keringatnya. Lisa melotot tak percaya. “Cuma latihan, kan?” “Anggap aja ini buah berry.” Ansel meremas tisu itu menjadi bulatan kecil seperti buah berry. Haha ... Rasain, Lo! Ansel menertawai Lisa yang sekarang seperti sedang kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ya iyalah dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia terperangkap oleh kalimatnya sendiri. “Makanlah, biar kamu ada tenaga untuk kita keluar dari tempat ini.” Ansel yang sudah sedikit hafal dengan beberapa scene dalam skenario itu berkata lagi. “Ih ... Kamu kok gitu sih, Ans ....” Lisa merajuk tapi hanya ditanggapi Ansel dengan decihan yang samar terucap di bibirnya. “Ya, nggak usah dimakan beneran. Cuma latihan, kan?” Ansel benar-benar menjebak Lisa dalam permainannya sendiri. Tanpa menjawab Ansel, dia melangkahkan kakinya menjauhi Ansel. Sebelum itu dia menghentakkan kakinya kasat ke lantai. Pertanda bahwa dia benar-benar sedang kesal sekarang. Baiklah! Kita lihat, aku atau dia yang menang? Lisa menyeringai. Memandangi layar ponselnya yang terus menyala sejak tadi. Terlihat sesungging senyum di bibirnya begitu melihat kiriman yang masuk di ponselnya. Permainan akan segera dimulai! Sedangkan Ansel, lelaki itu juga terlihat senyum-senyum dengan benda pipih yang tengah menyala itu. Itulah bukti bahwa bahagia itu sederhana, terbukti Ansel sekarang terlihat bahagia hanya karena chatingan dengan Naya, kekasihnya yang dia sembunyikan dari publik. Dia tak peduli sekitar jika sudah berchating ria dengan Naya. Waktu break sudah usai, Ansel dengan sangat terpaksa menyudahi obrolannya via chatting wa dengan Naya. “Huft ....” Ansel meletakkan handphonenya ke dalam saku jaket miliknya. Jaket abu yang disampirkan pada sandaran kursi di tempat khusus untuk dirinya. Untuk Vera! Aku harus semangat biar bisa cepet kelar juga syutingnya. Ansel melangkah pasti menuju ke tempat scene berikutnya yang terletak di sudut taman di lokasi itu. ***** Sementara di sekolah SMA Negeri Harapan, semua siswa berhambur seperti biasanya. Tak ada yang berubah dari aktifitas anak-anak di sana. Termasuk untuk semua fans Ansel yang masih saja selalu berteriak histeris ketika ada adegan romantis antara Ansel dan Lisa. Lalu bagaimana dengan Naya? Tentu saja gadis itu asyik dengan perasaannya sendiri. Karena dia tahu, hati Ansel terpatri telah hanya untuknya. Naya seringkali tersenyum sendiri dengan handphonenya, terlebih ketika membaca pesan-pesan cinta dari Ansel untuknya. Berbeda dengan fansnya yang tersenyum dan bahkan kadang berteriak ketika melihat adegan romantis Ansel dengan Lisa, Naya justru tersenyum dengan dunia yang dia punya sekarang. Ya, dunianya sudah banyak berubah karena Mas pangeran. Jika dulu Naya hanya sibuk dengan buku ketika di sekolah, maka hari ini dia lebih sering berkutat dengan handphonenya. Jangan salah! Prestasi Naya tidak turun sama sekali, karena ketika Ansel akan mengakhiri chatingan mereka, dia berpesan agar Naya langsung belajar dan belajar. Ya, pesan Ansel adalah cambuk semangat untuknya. Belajarlah ketika kamu tidak sedang bersamaku dan tidak sedang membalas pesanku! Itu pesan Ansel setiap kali berpamitan untuk syuting. Dan Naya ... Seperti halnya pemudi yang sedang bucin, Naya menuruti setiap ucapan Ansel dan melakukannya dengan sepenuh hati. “Nay ... Ke kantin, yuk.” Intan berdiri di sampingnya mengagetkannya. “Huft ... Ngagetin tau nggak?” Naya berseru dengan menolehkan kepalanya ke samping, tepat ke arah Intan yang sedang berdiri memandangnya. “Ya lagian elo tuh tumben banget main hape mulu.” Intan mengambil tempat di meja depan kursi Naya. “Hehe ....” Naya tertawa kecil memperlihatkan barisan gigi putihnya, tak tahu harus menjawab apa? “Ya udah, yuk. Katanya mau ke kantin,” ajak Naya mencoba mengalihkan perhatian Intan yang seperti biasa dengan sifat keponya. Di kantin, sudah ada Bian yang sedang menunggu di bangku kantin dekat jendela. Tepat dari arah sana, mereka bisa melihat ke lapangan basket yang terdapat banyak cowok tampan tapi sama sekali tidak menarik bagi Naya. Ya iyalah mereka tidak menarik, Naya kan sudah punya yang jauh lebih tampan dan lebih menarik dari mereka. Siapa lagi kalau bukan artis fenomenal kita, Ansel Mahendra. Idola semua penghuni sekolah, baik cewek maupun cowok. Tak hanya siswa bahkan di kalangan guru juga mengidolakannya. Terbukti, kan? Bu Ondi sampai tak kuat menelan air liurnya saat kemaren Ansel ke sekolah ketika datang menemui Naya. “Hai, Bi.” Naya duduk di sebelah Bian, bersikap seperti biasa. Bian sendiri melakukan hal yang sama. Meski dalam hatinya dia kecewa, tapi apapun yang menjadi pilihan Naya, Bian akan selalu mendukungnya. Bian bahagia ketika melihat Naya bahagia. Tapi masih sama seperti sebelumnya, jika sampai Naya menangis dan terluka, Bian tak akan tinggal diam melihat itu. Bian adalah orang pertama yang akan menuntut balas atas air mata yang tumpah dalam diri Naya. Bian masih sama seperti dulu dan tak kan pernah berubah. Akan selalu ada di sisi Naya. Menjadi saksi atas kebahagiaan gadis itu dan juga menjadi pelindung ketika Naya terluka dan tersakiti. “Tumben inget sama gue,” kelakar Bian mencoba menggoda Naya yang belakangan Bian lihat selalu sibuk dengan gadgetnya. “Iya nih, mendadak gua kangen sama Lo,” sahut Naya dengan tertawa kecil. Deg ... Jantung Bian seperti terkena percikan kembang api yang membuat geli tapi juga sakit. Dua rasa yang tiba-tiba menelusup bersamaan dalam hatinya. Hanya karena kata kangen yang keluar dari mulut Naya untuknya. Bian bisa seketika merasa diaduk-aduk perasaannya. Geli karena Naya mengucapkan kata kangen padanya. Tapi juga sakit karena Bian sadar, Naya hanya bercanda. Ya ... Mana mungkin Naya kangen padanya, sedangkan setiap harinya saja, Naya lebih sering memikirkan Ansel. Bian tahu, hampir seluruh hidup Naya sekarang dipenuhi oleh sosok lelaki bernama Ansel itu. Ansel Mahendra, artis yang belakangan naik daun karena bakat aktingnya yang semakin membuat baper. Bian tak berhak cemburu, karena dia sadar antara dia dan Naya memang hanya sebatas sahabat, tak akan pernah lebih dari itu. Juga, dibandingkan dengan Ansel, Bian hanyalah serpihan yang tak kan terlihat di manapun. “Pesen apa, Nay?” Bian mencoba mengalihkan pembicaraan yang nyaris membuatnya baper. “Biasa ... Bakso nggak pakek kol.” Naya menjawab pesanan yang tak pernah berubah sejak mereka masuk ke SMA itu. Ya, menu favorit Naya ketika sudah mencicipi semua menu di kantin sekolah itu. Naya jatuh cinta pada rasa bakso yang tersaji gurih dengan kenyal yang menambah kenikmatan rasa yang sangat pas di lidah Naya. Itulah Naya, sekali jatuh cinta dia akan selalu memilih hanya pada satu yang menjadi pilihan hatinya. Tak terkecuali soal lelaki. Sekali hatinya memilih Ansel, maka akan sulit bagi Naya menggantinya dengan yang lain. Semoga Ansel tidak mengecewakannya ya, gaes .... “Kalo gue pesen Mie ayam aja, deh.” Intan nyerocos memberitahukan menu pesanannya meskipun diantara Naya dan Bian tak ada yang bertanya. “Siapa yang nanya?” canda Naya dengan terkekeh menggoda Intan. “Ya udah biar gua yang pesen.” Bian bangkit dan menuju ke tempat pemesanan. Di sana, sudah berdiri ibu kantin dengan buku catatan menunya. Bian hanya tinggal menunggu pesanannya datang dan membawanya ke kursi sahabatnya, Naya dan Intan. Tentu saja dia membawa serta pesanan untuk dirinya juga. Sepeninggal Bian, Intan menyenggol lengan Naya dengan memberi kode kepada sahabatnya lewat mata. Naya tak mengerti maksud kode Intan, hingga gadis itu tampak jengah karena Naya tak juga paham meski Intan berkali-kali memberi kode ke arah Bian. “Duh ... Punya sahabat gini banget deh,” gerutu Intan akhirnya. “Apaan sih?” Naya turut membuka suara setelah tadi menjawab kode Intan dengan pelototan mata tak mengerti. “Itu lho si Bian. Gue kasihan sama dia.” Akhirnya Intan mulai mengartikan kode matanya dengan ucapan. “Kasihan? Karena?” Naya masih tak mengerti. “Duh, Naaay ... Masa kayak gini doang mesti gue jelasin.” Intan mulai gemas melihat kepolosan sahabatnya yang seribu persen tidak punya kepekaan sosial itu. “Ya nggak, aku kan nggak ngerti arah kamu bicara ini kemana? Bian kenapa? Ada masalah atau apa?” Naya semakin terlihat bodoh. Duh ... Padahal Naya selalu juara satu dalam semua bidang yang dia tekuni. Eh tunggu! Urusan Bian kan bukan hal yang ditekuni olehnya, jadi wajarlah ... Dia jadi bodoh, kecuali untuk urusan Ansel, mungkin sedikit banyak dia sudah bisa paham mengenai laki-laki itu. “Soal hati.” Intan mengedipkan matanya dengan tersenyum genit. Aish ... Apa-apaan sih intan ini? Sudah tahu Naya jadian sama Ansel, masih aja bahas soal hati sama Bian. Jelaslah mereka hanya sahabat dan mungkin bisa aja sih mereka mejadi lebih dari sekedar sahabat, yaitu ... hubungan kakak dan adik yang tentunya akan jauh lebih dekat hubungannya. Begitu Naya berbicara dalam hatinya. Batinnya seolah tak terima Intan menjadi plin plan seperti itu. Kemaren, saat Intan mengetahui hubungan Naya dan Ansel, dia sangat mendukung hubungan mereka. Tapi sekarang, justru dia seperti sengaja membawa Bian untuk masuk dalam hubungan antara Naya dan Ansel. Apa maksudnya coba? Jangan salahkan Intan! Dia juga sama seperti Bian, hanya ingin yang terbaik untuk sahabatnya, Naya. Melihat Naya yang frustasi seperti beberapa waktu lalu, Intan merasa turut sakit. Dia marah dan juga tak terima Naya diperlakukan buruk oleh Ansel. Ya, memang Intan tidak tahu masalah diantara mereka apa? Tapi tetap saja, Naya menangis dan sampai bolos sekolah gara-gara Ansel. Itu sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Asumsi Intan tentang Ansel sudah pasti benar. Laki-laki itu hanya ingin mempermainkan Naya, sahabatnya yang super lugu untuk urusan cinta dan prihal pacaran. Intan harus lebih serius menjaga Naya mulai sekarang, dan satu-satunya cara untuk itu, maka Naya harus bisa dibuat sadar pada ketulusan cinta Bian, itulah pemikiran Intan sekarang. Sekali lagi dia hanya ingin yang terbaik untuk sahabatnya, Naya. Asumsi sepihak itu membuahkan banyak tindakan konyol yang dilakukan Intan untuk sahabatnya. Mulai dari rencananya yang akan mengajak Naya jalan ke mall saat pulang sekolah nanti. Ah, rasanya Intan tak sabar untuk segera mendengar bel pulang sekolah berbunyi. Dia sudah tak sabar menjalankan rencana yang telah dia siapkan sejak semalam. Semoga rencananya kali ini berhasil! “Soal hati ...?” Naya mengulang ucapan intan dengan memberikan sebuah tanda tanya dalam cara bicaranya. Itu artinya, Naya belum mengerti maksud ucapan Intan dan juga kode Intan. Huft ... Sepertinya predikat siswi dengan peringkat teratas mesti dipertimbangkan lagi! Intan menarik nafas dengan menatap gemas pada sahabatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD