Sepertinya waktu makan siang bersama Rorra terhitung sebentar sekali bagi Inggit. Terlebih dirinya belum sempat bercerita banyak dan menghabiskan makanannya. Tapi wanita itu terpaksa harus sudah pulang ke apartement miliknya untuk bersiap bekerja.
Semenjak Inggit kembali melanjutkan kuliahnya dan keuangannya mulai stabil, Inggit memutuskan untuk keluar dari kost miliknya setelah habis masa tinggalnya disana. Inggit mengambil sebuah unit apartement yang ia bayar setiap bulan yang terletak di antara kampus dan juga Angelwings Bar.
Inggit melangkahkan kakinya mendekati sebuah pintu lalu menekan kode angka pada pintu itu dan terdengar suara dentingan yang menandakan kunci pintu telah terbuka.
Matanya langsung melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Sudah jam 6 lagi astaga. Apa seharusnya aku harus membeli mobil?" gumamnya sembari melangkahkan kaki memasuki apartementnya.
Dirinya langsung berjalan menuju lemari dan mengambil beberapa pakaian yang akan ia gunakan. Lalu mulai melepas perhiasan yang ia pakai sebelum membersihkan dirinya di bawah shower.
Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Inggit berdiri di hadapan wastafel dan mengambil sikat gigi, lalu menyikat giginya sembari menatap pantulan dirinya di cermin.
Sejak 2 tahun yang lalu, kehidupannya berubah drastis. Inggit bukan lagi gadis polos yang tidak tahu apapun. Ia kini jadi seorang wanita mandiri yang tahu segalanya.
Jika memutar bagaimana Inggit bisa berkenalan dengan Bisma, wanita itu mengenal Bisma di panti asuhan. Lebih tepatnya itu karena Bisma tak memiliki saudara yang bisa mengurusnya. Pria keturunan Indonesia - Canada itu hidup sebatang kara, dan pemerintah setempat akhirnya memberikan hak asuh Bisma yang berusia 7 tahun ke Panti Asuhan Pelita.
Di tempat itulah Bisma dan Inggit bertemu. Hingga akhirnya hubungan mereka menjadi serius saat keduanya beranjak dewasa. Bisma yang juga paham dunia barat justru meniduri Inggit hingga mengandung anaknya. Setelah tahu, Bisma berencana menikahi Inggit.
Inggit pun tentu saja senang, terlebih dia sudah menyukai Bisma sejak usianya masih 5 tahun. Rasa sukanya semakin besar ketika Bisma selalu berada di sisinya. Mungkin itu pula yang menyebabkan gadis lugu nan polos seperti dirinya jatuh ke dalam lubang hitam dan terjerat dalam istilah hamil di luar nikah.
Demi mempersiapkan pernikahannya dengan Bisma, Inggit memutuskan untuk berhenti berkuliah sejenak, setidaknya sampai bayinya lahir. Namun takdir berkata lain. Bisma pergi tanpa kabar, Inggit harus mencari uang sendiri karena beasiswa yang diberikan padanya diberhentikan setelah ia mengajukan cuti, ditambah anaknya yang tak selamat karena Inggit yang terlalu kelelahan dan mengalami stress berat.
Tepat setelah Inggit ditinggal oleh Bisma, Inggit bertemu dengan Edo yang menawarkan pekerjaan. Dirinya menjalani pelatihan sebagai bartender minuman alkohol selama 2 minggu sebelum akhirnya bekerja di Angelwings Bar. Inggit juga mengambil pekerjaan lain di siang hari untuk menambah uang tabungannya.
Dan sejak Inggit bekerja di Angelwings bar, hidupnya berubah 180 derajat. Hingga detik ini mungkin tak ada yang tahu sisi gelap dari gadis lugu bernama Nesringgita Lucelence yang diagungkan sebagai mahasiswi pintar dari Universitas Depok.
"Sepertinya aku terlalu banyak mengingat kenangan masa lalu. Padahal aku sudah berusaha melupakan pria b******n itu. Tapi entah mengapa ia selalu kembali. Dasar licik!" ujar Inggit lalu membersihkan sisa busa pasta giginya dengan berkumur menggunakan air.
Setelah selesai menyikat gigi, Inggit langsung melepas pakaiannya dan masuk ke bawah shower untuk membersihkan dirinya.
"Ah segarnya," gumam Inggit saat merasakan air hangat menyentuh kulit putihnya.
Usai membersihkan dirinya, Inggit kembali keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan dress yang tadi telah ia siapkan sebelumnya. Inggit langsung memakai dress itu kemudian menambah perhiasan lain yang cocok dengan penampilannya.
Seperti biasa, Inggit akan memoles wajahnya agar terlihat menjadi lebih menarik, walau sebenarnya tanpa riasan pun orang - orang akan mengakui jika Inggit sangat cantik.
Inggit menatap ke arah kunci mobil dengan lambang huruf H di atasnya. Mobil itu adalah mobil pemberian dari Edo dari hasil kerja keras Inggit. Dengan adanya Inggit, banyak para VIP yang merasa terlayani dengan baik dan tidak segan memberikan tip lebih.
Dari tip itulah akhirnya Edo memutuskan memberikan Inggit mobil dengan merk Hando itu. Sebetulnya Edo menawarkan untuk membeli unit apartement yang ditempati oleh Inggit, namun Inggit menolak dan memilih untuk membeli unitnya sendiri tanpa bantuan siapapun.
"Sepertinya ada yang kurang. Ah iya parfum," gumam Inggit setelah menelaah penampilannya yang telah siap malam ini.
Tangannya mengeluarkan botol parfum dengan merk Chenel No.4 itu dan menyemprotkannya ke area lehernya.
"Aku sangat suka dengan wanginya," gumam Inggit lagi saat hidungnya menangkap wangi yang keluar dari parfumnya.
Inggit pun beranjak dari duduknya di hadapan meja rias. Lalu mengambil kunci mobil.
"Mungkin sebaiknya aku naik mobil saja. Berjaga - jaga takut pulang malam dan aku ketinggalan kereta terakhir," ujar Inggit dan memutuskan untuk memakai mobil pemberian Edo itu.
Walau kini dirinya tak lagi bekerja setiap hari di bar seperti biasa, Inggit biasanya akan tetap membantu Edo jika membutuhkan bantuan. Dan Inggit sendiri dijadwalkan untuk bekerja di akhir pekan yakni Sabtu dan Minggu.
Sedangkan hari Senin sampai Kamis, Inggit bekerja sebagai karyawan magang di tempat kkn nya dulu yakni Regular Company. Inggit menempati posisi sebagai asisten dari seorang sekretaris direktur. Kerjanya tak lain hanyalah membantu pekerjaan inti sang sekretaris.
Inggit pun keluar dari unit apartemen miliknya dan langsung menuju ke tempat parkiran yang berada di basemen. Langkahan kakinya pun dipercepat saat Inggit menyadari jam pada ponselnya yang sudah menunjukan angka 7.30.
"Astaga aku juga harus mempersiapkan gelas dan ruangannya," gumam Inggit kemudian melangkahkan kakinya lebih cepat lagi.
Sesampainya di basemen, Inggit berjalan menuju mobil berwarna merah muda miliknya dan langsung masuk ke dalamnya. Setelah memasangkan seat belt, Inggit langsung melajukan mobilnya keluar dari basement dan meluncur menuju Angelwings Bar.
* * * * *
15 menit pun berlalu, akhirnya Inggit tiba di depan Angelwings Bar. Dengan cepat, wanita itu memarkirkan mobil miliknya ke halaman parkir Angelwings Bar dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Kali ini suasana Angelwings Bar tentu saja ramai seperti biasanya. Berbeda dengan 2 tahun lalu, Angelwings Bar semakin melebarkan sayapnya dan memperluas wilayahnya.
Inggit keluar dari mobilnya, dan seperti biasa, ia menyapa sang penjaga pintu masuk.
"Selamat malam Vasko," sapa Inggit pada Vasko yang telah menjaga pintu masuk dan bertugas sebagai keamanan di Angelwings Bar sejak tempat itu berdiri.
Dan seperti biasa, Vasko pun membalas sapaan Inggit dengan ramah, "Malam, Inggit.. Kau cantik seperti biasa."
"Terima kasih," balas Inggit lalu masuk ke dalam. Sedangkan Vasko melanjutkan pekerjaannya dengan memeriksa kartu identitas para pelang gan yang akan masuk ke dalam Angewings Bar.
Inggit langsung berjalan menuju meja bar dan menghampiri Edo yang kebetulan sudah duduk di sana.
"Hei," sapa Inggit lalu memeluk Edo dan menyapa pria itu.
"Akhirnya kau datang. Terima kasih banyak Inggit. Aku pikir kau berubah pikiran," ujar Edo.
"Jadi bagaimana? Minuman di sini ditutup saja?" tanya Inggit.
"Tutup saja. Kau fokus dengan pelang gan VIP saja. Sudah aku siapkan di room 2 yang ada di lantai 2. Mungkin jika ada tambahan lain bisa kau tambahkan sendiri," ujar Edo.
"Oh oke. Oh ya, ada berapa orang?" tanya Inggit.
"Sepertinya ada 2 orang," jawab Edo.
"Ada pesanan tambahan untuk minuman yang disuka?" tanya Inggit lagi sebelum naik ke lantai 2.
"Wine. Mereka suka wine katanya."
"Mereka belum datang kan?" tanya Inggit memastikan jika klien nya belum datang.
"Belum. Mungkin sekitar 30 menit akan tiba. Kau bisa bersiap - siap Git," ujar Edo.
Inggit tersenyum lalu memeluk Edo lagi sebelum akhirnya naik ke lantai 2.
Di Angelwings Bar sendiri memang disediakan ruangan khusus bagi pelang gan VIP yang siap membayar biaya member hingga jutaan setiap bulannya. Fasilitasnya tentu saja bisa menikmati ruangan pribadi, mendapat bartender pribadi dan juga kamar yang bisa digunakan selama 2 kali dalam satu bulan/
Biasanya para pelang gan VIP mengutamakan kenyamanan sembari melepas penat. Mereka akan dilayani dengan baartender terbaik tanpa perlu menunggu lama sampai minuman mereka jadi. Bahkan tak ada batasan khusus maksimal gelas yang ditenggak.
Setibanya di Lantai 2, Inggit langsung berlari kecil menuju room 2 seperti yang dikatakan oleh Edo tadi. Sebelum masuk, Inggit menempelkan kartu akses miliknya. Hanya para pelang gan VIP dan staff tertentu yang bisa masuk ke dalam ruangan khusus VIP itu. Dan tentunya memerlukan kartu untuk masuk ke sana.
"Huft, untung saja sudah rapi. Mungkin aku keluarkan wine-nya saja," ujar Inggit lalu berjalan menuju meja penyimpanan dan mengeluarkan wine.
"Mereka suka wine putih atau merah ya?" gumam Inggit pada dirinya sendiri karena bingung terdapat 2 jenis wine di dalam laci.
Akhirnya Inggit memutuskan untuk mengeluarkan kedua macam wine. Tak lupa, Inggit memasukan tas kecil miliknya ke dalam laci agar barangnya tidak menyatu dengan klien.
Inggit juga memastikan mikrofon dan televisi agar dapat digunakan. Yap, ruangan itu juga bisa digunakan sebagai tempat karaoke. Inggit juga menyalakan pendingin ruangan yang ada di ruangan itu.
"Oke semuanya sudah siap," gumam Inggit sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar dan memastikan semuanya telah siap.
Baru saja Inggit membereskan semuanya, tiba - tiba seseorang mengetuk pintu ruangan itu.
Tok ! Tok ! Tok !
"Itu pasti mereka," gumam Inggit yang yakin jika itu adalah pelang gan VIP yang akan ia layani malam ini.
Inggit berjalan menuju pintu dan membukanya. Tepat di hadapannya Inggit bisa melihat 2 orang pria dengan jas rapi.
"Pasti mereka dari kalangan CEO," gumam Inggit dari dalam hati sebelum akhirnya tersenyum dan menyambut kedua orang itu.
"Selamat datang, silakan masuk," sapa Inggit pada pria itu.
Namun hanya satu pria yang menatapnya, sedangkan 1 pria yang lain justru memunggunginya, membuat Inggit tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu.
Pria yang tadi mengetuk pintu pun mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.
"Terima kasih, saya Gafin," ujar pria bernama Gafin itu pada Inggit.
"Inggit," ujar Inggit sembari membalas jabatan tangan Gafin.
Baru saja Gafin akan melangkah masuk, pria itu pun menoleh ke belakang dan melihat rekannya yang masih menatap ke arah lantai 1.
"Hei, ayo masuk!" ajak Gafin sembari menepuk bahu pria itu.
Inggit berinisatif membuka pintu lebih lebar, "Silakan Tuan," ujar Inggit.
Akhirnya pria yang sedari tadi membelakanginya membalikan badan.
Deg !
Wajah yang tak pernah ditemui oleh Inggit selama 2 tahun terakhir, wajah yang paling ia benci sekaligus ia rindukan di saat bersamaan tiba - tiba kini ada di hadapannya.
Pria itu, sosok yang membuat masa lalu Inggit terasa begitu kelam dan berat bahkan mati - matian Inggit berusaha melupakan pria itu. Tapi sekarang, tiba - tiba pria itu muncul di hadapannya lagi.
"Bi - bisma?" gumam Inggit saat menyadari pria yang ada di hadapannya.