“Melupakanmu ternyata sesakit ini, Mas. Mencarimu dalam setiap detik kenangan tentu membuatku semakin hancur. Yang aku bisa lakukan setiap kali rindu hanyalah menatap foto lamamu yang ku pasang di atas mejaku. Senyum itu, Mas. Senyum yang membuatku tak sanggup berpaling, namun membuatku candu. Tangisku yang enggan mereda setiap kali bayangmu datang. Semua kisah yang kamu ukir membuat hidupku saat ini hancur, andai saja waktu dapat aku putar kembali. Akan aku rekam setiap detik kebersamaan kita. Menjadi penawar rinduku. Mas, aku rindu. Aku rindu pelukmu yang hangat, kecupan mesramu yang membuatku melayang tinggi. Namun rindu hanya sebatas rindu, menyiksa bathinku yang nyaris ingin berontak, Mas.”
Kayana duduk di tepi ranjangnya, memeluk foto Julio dalam bingkai putih. Tangis menderu, membuatnya semakin pilu. Hari ini ia benar-benar lelah setelah aktifitasnya seharian yang menguras tenaganya. Red flo yang akan ia buka ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.
Apalagi itu benar-benar harus ia jalankan sendiri, dengan tenaga, pikiran dan materi yang dia sendiri lah yang harus berpikir secara penuh. Tidak mungkin kalau ia harus bergantung pada bantuan orang-orang sekitarnya, meskipun mereka sudah secara terang-terangan menawarkan bantuan.
Malam ini Kayana hanya sendiri di rumah. Erland, mama dan Ana sedang ada acara dengan saudaranya dan berniat untuk menginap.
Tidak banyak yang bisa ia lakukan saat ini selain menangis mengingat semua kenangan tentang Julio. Bingkai itu kembali ia letakkan pada tempat semula, ia mulai tidak kuat. Kedua tangannya memegang kepala yang mulai sakit, menjambak rambut dengan kasar. Berteriak. Kemudian menangis histeris.
Terdengar ada ketukan pintu di depan. Kayana diam sebentar. Mengusap matanya yang sembab lalu berjalan dengan malas mengarah ke pintu. Rambutnya sedikit acak akibat jambakannya sendiri tadi. Berharap yang datang adalah Erland yang memilih tidak jadi menginap.
Ceklek…
Pintu ia buka. Dan ia menemukan sosok Dion di balik pintu. Entah mengapa, tangisnya malah makin menjadi. Tidak tertahankan. Ia menyambut Dion dengan sebuah pelukan, kepalanya menempel pada d**a bidang laki-laki bertubuh hampir sama dengan Julio itu. Menumpahkan tangisnya disana. Ia tidak berharap apa-apa selain sebuah ketenangan. Dan ia pikir dalam dekapan Dion mampu membuatnya sedikit tenang. Entah, ia sama sekali tidak peduli bagiamana reaksi Dion setelah ia peluk.
Tangan yang melingkar di tubuh Dion, membuatnya hangat. Ada rasa berdesir dalam dadanya. Mungkin Kayana bisa dengan jelas mendengar jantungnya yang berdetak begitu acak. Tangan yang tadinya ragu untuk membalas dekapan Kayana akhirnya memberanikan diri mengusap punggung perempuan itu lembut. Hingga pelukan itu semakin erat. Nyaman dan hangat. Dion sungguh menikmatinya, merasakan kepala Kayana yang tidak berjarak dengan dadanya.
Dion masih belum tahu harus berbuat apa selain pasrah dengan pelukan Kayana. Mengusap rambutnya yang teramat mudah ia raih, mengingat tinggi badan Kayana hanya sebatas dadanya saja.
“Menangislah, Kay jika itu dapat membuat hatimu lega. Tumpahkanlah semua rasamu dalam dekapku jika itu mampu membuatmu lebih tenang. Tak usah kamu ragu, aku ada untukmu,” ucapnya dalam hati.
Cukup lama aksi saling memeluk itu terjadi, masih di depan pintu dan sepertinya belum ada keinginan untuk Kayana melepaskannya. Tangis masih menggebu disana. Sementara Dion semakin khawatir akan apa yang Kayana rasakan saat itu.
Rasa pegal dan lelah sudah tidak lagi Dion rasakan, ia rela asalkan Kayana lebih baik setelahnya.
“Mas… apa kamu tahu, hari ini aku capek. Red flo yang aku rencanakan membuatku menyita semua waktu, tenaga dan pikiranku. Ini baru awal, Mas. Tapi aku sudah hampir menyerah, fisik dan mentalku ternyata tidak sekuat yang aku bayangkan.”
Kayana mengadu masih dengan sisa tangisnya. Tak disadari kaos abu yang Dion kenakan di bagian d**a basah karena air mata Kayana yang menempel. Dion mengangguk, mulai mencerna ucapan Kayana. Sehingga paham apa yang membuatnya menangis sejadinya ini.
“Aku sama sekali belum pernah bekerja sekeras ini, Mas. Ini bukan aku. Aku nggak bisa apa-apa. Baru segini aja aku udah nggak mampu, gimana dengan yang bakalan aku hadapi nanti, Mas? Aku bisa apa? Selemah ini ya aku? Sebodoh ini kah aku, Mas?”
“Kay…”
“Dulu yang aku tahu, aku tinggal bilang apa yang aku mau. Dan semuanya sudah selalu Mas Julio sediakan. Sekarang tanpa dia aku harus berpikir sendiri. Membandingkannya dengan waktu di saat ada Mas Julio dulu membuatku berontak. Aku takut sendiri, Mas. Kesendirian ini membuat aku membayangkan yang aneh-aneh, pikiranku jadi kemana-mana, Mas”
“Kay… siapa yang sendiri? Kamu nggak akan sendiri. Aku udah berkali-kali bilang sama kamu, aku ada buat kamu.”
“Aku nggak berguna, Mas. Aku takut merepotkan banyak orang, tapi aku nggak bisa melakukannya sendiri. Beban ini sangat berat, Mas.”
“Kamu tahu, Kay? Kamu hanya tersiksa dengan pikiran kamu sendiri. Ini nggak baik Kay! Dengerin aku, berjalanlah pelan-pelan. Lakukan apa yang kamu bisa semampumu. Jangan kau paksa jika itu berat. Ada tangan-tangan lain yang siap membantumu. Nggak ada yang punya pikiran merasa direpotkan sama kamu.”
“Aku pikir seharian tadi aku bisa menghandel semuanya tanpa bantuan siapapun. Berpikir keras, kesana kesini sendiri. Tapi ternyata aku nggak sanggup, Mas. Aku malu, aku terlalu angkuh.”
“Terus apa gunanya hidup bersosialisasi kalau cara berpikirmu seperti itu. Orang yang benar-benar mandiri tidak selamanya bisa melakukan semuanya sendiri. Orang yang kuat tidak selalu bisa memikul bebannya sendirian. Bahkan orang yang tangguh selalu ada orang lain di balik berhasilnya usaha yang dia tekuni. Kamu bisa lebih kuat, lebih mandiri dari sebelumnya, Kay.”
“Kata-kata kuat, tangguh dan mandiri sama sekali nggak pernah ada di diriku. Aku Cuma perempuan lemah yang bisanya Cuma bikin repot orang banyak kan, Mas?”
“Kalau semua itu nggak ada saat ini dalam dirimu, apa kamu nggak mau membentuknya Kay? Apa kamu nggak pengen jadi seperti itu?” Dion melepas pelukannya, mengangkat dagu lembut Kayana dengan tangan kanannya. Ke dua pasang mata itu saling bertatapan, Dion bisa dengan leluasa mengabsen wayah ayu Kayana dalam jarak beberapa senti saja. Detak jantungnya mulai tidak beraturan. “kamu bisa, sangat sangat bisa Kay. Pribadi yang lemah terbentuk dari hati yang lemah. Kamu bukan perempuan seperti itu, Kay,” tangan itu kali ini mulai berani mengusap air mata yang jatuh mengenai pipi putih itu. Lembut dan menenangkan.
“Tapi kenyataannya saat ini aku lemah kan, Mas? Mana bisa aku jadi perempuan yang tangguh!”
“Nggak ada yang instan, Kay. Jangan mudah nyerah dengan badai yang datang, justru itu yang akan membantu kamu nggak mudah jatuh. Berpegangan kuat dengan niat awalmu. Jangan kamu pikir orang-orang sukses di luar sana selalu mulus jalannya. Nggak, Kay. Itu ujian untuk orang-orang yang ingin sukses dan itu prosesnya,”
“Tapi proses awal ini sudah begitu berat, Mas. Aku nggak bisa bayangin gimana proses-proses selanjutnya.”
“Itulah, Kay. Kamu terlalu takut dengan bayang-bayangmu sendiri. Padahal untuk saat ini kamu hanya butuh fokus dengan apa yang sudah ada di depan mata dulu. Semua akan baik-baik saja, Kay. Sekali lagi kamu nggak sendiri, kamu punya tim, kamu punya keluarga dan orang-orang yang peduli sama kamu. berperang melawan diri sendiri itu adalah hal yang paling berat, Kay. Tapi cukup mudah kalau kita tahu kuncinya. Kamu tahu apa? Hilangkan keangkuhan dan cobalah berdamai dengan dirimu sendiri.”
“Bantu aku, Mas... aku Cuma lagi capek banget,” tangan itu kembali memeluk.
“Kay, karena kamu memang belum terbiasa melakukan pekerjaan yang menguras tenaga. Wajar kalau kamu merasa sangat capek. Dan itu semua mempengaruhi perasaanmu. Kamu jadi ngerasa sendiri, jalan sendiri, berjuang sendiri. Sabar yah… kita jalani sama-sama.”
Dion selalu punya cara untuk membuat Kayana menjadi tenang. Kata-katanya, sikapnya dan perlakuannya pada Kayana begitu lembut. Seharusnya itu semua sudah cukup membuktikan bahwa Dion memang menaruh rasa.
Dion tidak menyangka untuk kali ini Kayana akan bersikap serapuh itu, apalagi sampai menangis dalam pelukannya. Itu membuat perasaan cintanya terhadap Kayana semakin besar. Dalam hati ia bertekad untuk tidak akan membuatnya tersakiti.
“Kamu udah makan, Kay?”
Kayana menggeleng dalam dekapan. Dion pun perlahan melepas tangannya yang melingkar dalam tubuh Kayana.
“Mau makan di luar? Atau mau pesan makanan aja?”
“Nggak usah, Mas.”
“Hm… kenapa? Takut ngrepotin? Kay… Kay, udah sekarang kamu siap-siap, kita keluar cari makan. Sekalian ajak Erland.”
“Aku di rumah sendiri, Mas. Erland dan mama lagi menginap di rumah bibi.”
“Oh, kamu di rumah sendiri? Pantas aja kamu segalau ini, Kay. ya udah gih siap-siap, aku tunggu disini!”
Kayana menurut, masuk ke dalam untuk mengganti pakaiannya. Dion masih menatapnya hingga perempuan itu masuk ke dalam kamarnya.
Menghela napas panjang satu kali, kemudian duduk di bangku teras rumah Kayana. Tangannya ia silangkan di depan d**a. Pikiran Dion masih dipenuhi oleh keadaan yang dialami Kayana.
“Jul, andai kamu tahu keadaan Kayana saat ini. Pasti kamu akan merasa sangat prihatin, atau malah bisa jadi menangis juga. Aku paham bagaimana rasanya menjadi Kayana, Jul. Dengan tanpa bekal, dia harus berusaha berpikir keras untuk memulai floristnya. Sesuatu hal yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan dan pikirkan akan menjalaninya sendiri. Berpikir, bekerja, jalan kesana kesini. Sungguh melelahkan pastinya, Jul. karena itu tidak butuh suport yang luar biasa, juga butuh sandaran. Maafkan aku lancang menjadi sandarannya untuk pertama kali, Jul. Menjadi tempat ia mencurahkan isi hatinya. Tapi demi Tuhan, aku sama sekali tidak ingin mencari kesempatan untuk saat ini. Aku tulus ada untuk Kayana.”
Dion berkata dalam hati, ia berdiri berjalan ke tepian teras, menatap langit jauh tanpa batas. Ia merasakan perasaannya semakin dalam. Semakin sakit saat melihat Kayana menangis. Ingin rasanya ia berada di sampingnya setiap saat. Tapi dia sadar bukanlah siapa-siapa, yang tidak punya hak atas Kayana. Rasa yang ingin menjadi pelindungnya, menjadi tempat pertama untuk ia bersandar.
Tatapannya menerawang jauh, sejauh harapannya. Hati dan perasaan Kayana memang terlalu kecil. Semua yang ia hadapi memang tidak mudah, apalagi untuk seorang wanita yang nyaris memiliki kehidupan yang sempurna sebelumnya.
Beberapa menit berlalu, Kayana kemudian keluar dari dalam rumah. Mengenakan dres dan dibalut dengan blazer santainya. Mengunci pintu dan mengekor Dion menuju mobil. Matanya masih terlihat sembab. Dion meraih box tisue di atas dashboard mobilnya, menawarkan pada Kayana dan ia terima. Mengambil selembar, kemudian setelah itu ia mengeluarkan bedak dari tasnya, membuka dan melihat gambarnya dari sana. Ada sisa aiar mata yang menggenang disana, ia usap dan lumayan lama mengedip-ngedipkan mata.
“Mas, maaf ya baju Mas Dion jadi basah gara-gara aku.”
“it’s oke, Kay. Santai aja lah.”
“Mas… “ Kayana menutup cerminnya, memasukkan lagi ke dalam tas. Laki-laki itu menoleh, “Mas Dion kenapa tiba-tiba ke rumah?”
“Oh… aku,” Dion gelagapan, memang tidak ada maksud apapun dia datang ke rumah Kayana selain ingin mengetahui keadaan Kayana, “aku kangen sama Erland aja sih, Kay. Eh malah dia nggak di rumah.”
“Iya, tadinya aku mau ikut Cuma aku llihat kerjaan hari ini banyak banget, kalau aku tinggal takut malah jadi kepikiran.”
“Hm, itu lah kamu, Kay. Suka memaksakan diri, udah tahu nggak bisa melakukan hal yang berat-berat tapi maunya dikerjakan sendiri. Coba tadi ikut Erland aja, kan jadi terhibur.”
“Iya, Mas. Ketakutanku selalu datang pas aku lagi sendiri ditambah kondisi badan yang capek, pikiran yang penat. Tapi untungnya Mas Dion datang sebelum fertigoku kambuh.”’
“Aku udah sering bilang sama kamu kan, Kay. Kamu nggak bisa sendiri, kamu nggak bisa menanggung beban sendiri.”
“Ya aku pikir dengan aku melawan ketakutanku, semua bakal hilang Mas. Aku bisa jadi terbiasa dengan bebanku ini, tapi ternyata aku salah.”
“Dengerin aku ya, Kay. Jangan menyiksa diri sendiri,” Dion menoleh ketika Kayana tengah menatap dirinya lalu mengangguk mencoba mengerti.
***