Pagi pertama.
Pintu kaca sudah terbuka lebar, mengkilap menandakan telah terjaga kebersihannya. Lantai bersih dan semerbak wewangian bunga menjadi khas sebuah florist. Shasy seorang karyawati red flo sudah berjaga di dalam, dengan penuh senyum yang hangat. Ia sudah siap untuk menyambut pelanggan di hari pertama. Menyalakan musik dengan lirih namun terdengar seisi ruangan.
“Selamat pagi, Bu Kay!” sapa Shasy dengan ramahnya, masih dengan tangan lincahnya merangkai buket bunga setelah tahu Kayana datang.
“Pagi Shas, sudah ada pelanggan?” Kayana berbinar saat tahu karyawatinya tengah sibuk. Ia terlihat begitu fresh pagi ini, dengan dres kotak-kotak kecil berwana cream putih. Menghampiri Shasy dan menepuk pelan pundaknya.
“Iya, Bu Kay. baru aja buka pintu udah ada yang datang minta buket, kayaknya mau kasih surprishe buat pacarnya,” Shasy tersenyum seolah membayangkan sesuatu.
“Oh ya, wah alhamdulillah ya Shas, pagi-pagi udah ada pelanggan aja. Jadi inget dulu suami saya sering banget bawain bunga kalau pulang kerja.”
“Iya, Buk? Romantis ya.”
“Iya, romantis banget Shas. Dia emang selalu tahu kalau istrinya suka sekali sama bunga.”
“Makanya Bu kay buka florist, ternyata berawal dari suka bunga ya?”
Kayana mengangguk, kemudian meninggalkan Shasy dengan aktifitasnya. Mengecek bunga-bunganya agar kualitas dan keindahannya tetap terjaga. Ia pun teringat waktu-waktu kebersamaan dengan Julio, memang benar suaminya sering sekali memberikan kejutan sebuah bunga. Entah di hari spesial atau tidak. Dan itu membuatnya tersenyum rindu.
Ia kemudian masuk ke dalam ruangannya, ruangan kecil namun nyaman yang Riyu desainkan untuknya. Ruangan yang hanya ada rak kecil, meja dan dua kursi. Menyalakan laptop dan melihat-lihat sesuatu yang berhubungan dengan florist dari beberapa situs internet.
Terdengar sudah ada pembeli yang datang, dengan suara mereka yang begitu jelas sampai ke ruangan Kayana. Ia tersenyum lega, bersyukur floristnya sudah dikunjungi beberapa orang. Dengan begitu ia semakin semangat mencari referensi dan iklan-iklan di media sosial seperti yang sudah Dion sarankan waktu lalu.
“Jeng, hebat ya si Kayana bisa langsung buka florist begini?”
“Iya jeng, tinggalan suaminya banyak kali. Makanya bisa langsung jadi, kalau modalnya pas-pasan kan mana mungkin jeng.”
“Pastinya, jeng. Kalau nggak paling juga dimodalin sama itu cowok yang lagi deket sama dia, yang kabarnya dia itu sepupu almarhum suaminya lho.”
“Ah masa sih jeng?”
“Iya, kemarin aja waktu grand opening kan Kayana udah didampingi sama cowok itu. Mesra lho jeng, acaranya juga ramai.”
“Wah, bener gitu jeng? Pesta-pesta dong?”
“Iya, pesta lah jeng. Meriah malah.”
“Bisa ya jeng begitu, padahal suaminya baru kapan sih meninggal. Udah bisa bikin pesta, udah bisa dekat dengan orang lain.”
“Iya sih jeng, ya kita nggak tahu sih gimana perasaan orang lain. Cuma kita sebagai penonton kayaknya belum pantas aja ya.”
Kayana tersenyum kecut dari dalam ruangannya mendengar sedang ada yang membicarakannya. Keluar menghampiri mereka dengan berani dan santai.
“Pagi, ibu. Selamat datang di Red flo. Ada yang bisa saya bantu? Ibu mau cari bunga apa? Atau mau tanya apa tentang saya? Nggak apa-apa bu, langsung aja tanya ke saya. Nggak perlu ngomongin saya di belakang, atau mengira ira yang belum pasti kebenarannya.”
“Oh Kayana, kok nggak kelihatan dari tadi? Floristnya bagus ya, bunganya lengkap.”
“Terima kasih, tadi ibu nanya apa ya? Saya kok dengar dari dalam ngomongin saya? Mumpung saya masih disini, bisa ngobrol juga kan bu!”
“Oh nggak kok Kay.” Dua perempuan itu menjawab dengan bersamaan juga terlihat begitu gugup. Kayana masih dengan senyum manisnya.
“Baik lah, kalau memang ibu ibu nggak mau tanya lagi. Saya yang akan menjelaskan toh sebenarnya apa pun tanggapan anda semua itu nggak mempengaruhi hidup saya, florist ini saya bangun murni dari tabungan saya dan Mas Julio. Alhamdulillah tabungan kami cukup untuk buka usaha dan makan sehari-hari. Tidak ada campur tangan siapapun apalagi laki-laki yang anda sebutkan tadi. Oh iya.. namanya dokter Dion, dia adalah sepupu almarhum mas Julio. Apa hubungan dia dengan saya juga bukan urusan anda. Jadi saya rasa anda tidak usah repot-repot memikirkan tentang hubungan ini. Saya senang bisa berdiri dan bangkit dari keterpurukan saya yang susah payah saya lalui, karena itu atas pembukaan pertama florist saya adakan syukuran dan pesta kecil-kecilan. Kalau pun menurut kalian ini pesta besar, itu tidak luput dari orang-orang yang peduli dengan saya yang dengan baik hati datang memberikan ucapan selamat. Nggak mudah lho bu untuk saya bisa memiliki rasa percaya diri untuk bangkit dan memperjuangkan anak saya. Tapi dengan mudahnya anda semua membicarakan hal yang tidak pasti kebenarannya. Di depan saya dan di toko saya. Sudah dua kali lho anda membicarakan saya dengan sengaja.”
“Maaf, Kay. Kami Cuma pengen tahu aja kok.”
“Untuk apa? Apa mencari-cari kekurangan orang lain itu penting untuk anda? Baik bu, saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni perkataan orang-orang yang membenci saya. Silahkan dilanjutkan bu, semoga betah di florist saya ya. Selamat pagi.”
Kayana dengan cantik melangkah ke dalam, tidak ingin berlama-lama debat dengan dua orang tadi. Belum sempat mereka menjawab apa-apa, Kayana sudah masuk ke ruangannya.
Kayana sudah tidak ingin lagi mengambil pusing omongan orang di luar sana. Kali ini ia ingin belajar masa bodoh dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya untuk dipikirkan. Cukup sebagai motivasi untuknya melompat lebih tinggi. Ia benar-benar ingin fokus dengan hal yang sudah pasti di depan mata. Kebahagiaan keluarganya dan kesuksesan red flo.
Sekitar dua jam setelah kedatangan dua orang perempuan tadi, Kayana keluar menemui Shasy yang tengah duduk di meja kasir. Membuka lembar demi lembar buku di depannya. Di mejanya ada sebuah vas berukuran sedang dengan bunga daisy putih yang cantik.
“Shas, dua ibu-ibu yang datang sekitar dua jam an tadi nyari apa kesini?”
“Oh yang satunya rada gemuk tadi ya bu?” Shasy tampak mengingat ingat sesuatu.
“Iya, tadi sempat saya tegur di sana.”
“Tadi pesan bunga papan buat lusa bu. Memangnya ditegur kenapa bu?”
“Ya aneh kok, jelas-jelas di sini tempat saya, kok bisa-bisanya ngomongin saya keras banget sampai kedengar di ruangan saya sana.”
“Ngomong apa sih bu?”
“Ya banyak lah Shas, biasa lah emak-emak julid emang suka kayak gitu. Kirain setelah saya tegur terus nggak jadi pesan.”
“Jadi kok, bu. Cuma tadi emang kayak cepat-cepat gitu terus pulang.”
“Ya syukur lah, biar jadi pelajaran, lain kali biar nggak sembarangan ngomongin orang di belakang.”
“Iya bu, Bu Kay yang sabar ya.”’
“Saya sekarang udah nggak mau capek-capek mikirin hal-hak kayak gitu lagi Shas, Cuma buang-buang waktu aja. Ya asal nggak keterlaluan sih. Oh ya Shas, kamu udah update gambar hari ini di media sosial?”
“Udah bu, tadi udah update beberapa kok sekalian testimoni dari pembeli.”
“Keren Shas, kerja yang bagus. Kamu emang bisa diandalkan. Saya harap kamu betah kerja di sini ya. Kalau gitu kamu istirahat, saya mau pulang dulu lihat Erland. nanti kalau ada apa-apa telephone saya aja.”
“Baik Bu Kay, terima kasih.”
Kayana tersenyum lalu meninggalkan Shasy pulang ke rumah, berjalan kaki sambil menenteng ponselnya. Tepat di depan pintu rumah, seseorang menelephone. Mas Dion, nama itu yang tengah tertera di layar ponselnya.
“Halo, Mas.”
“Kay, lagi dimana?”
“Di rumah, baru aja mau masuk rumah abis dari toko.”
“Oh gitu, gimana? Florist ramai?”
“Ya lumayan sih mas, cukup menyenangkan di hari pertama buka.”’
“Oh ya? Syukur lah, jangan lupa posting di media sosial. Tambah-tambah ilmu cari referensi di internet cara merangkai buket dan yang lain, biar makin banyak ragamnya, Kay.”
“Iya, Mas. Tadi aku juga udah iklan-iklan di beberapa kontak eo sama wo gitu, Mas.”
“Bagus lah, Kay. Semangat ya! Hari ini aku nggak bisa ke rumah, Kay. Mungkin besok ya.”
“Nggak apa-apa, Mas. Aku tahu kalau Mas Dion sibuk. Mas Dion jangan lupa makan.”
“Iya, Kay. Sampaikan salamku buat Erland. Ya udah kalau gitu ya.”
Tut tut tut. Telephone terputus, ada senyum yang terlukis di wajahnya. Akhir-akhir ini Kayana memang sering salah tingkah jika mengingat kebaikan Dion.