Flashback kapal pesiar (bab 1)
Musik berdentang sangat keras. Desiran angin laut yang begitu kencang, dipadu dengan musik disko yang sangat keras menggema, membuat malam yang mendung berubah menjadi malam yang begitu meriah mewah dan berkelas.
Para tamu undangan, kebanyakan berdansa di deck lantai kapal. Dibawah siraman langit mendung. Ada juga sebagian para pria yang duduk-duduk di sun lounger, kursi santai di dekat kolam renang.
Saka berdiri di sudut yang agak gelap, menjauh dari hiruk pikuk musik dan para penarinya. Pria itu benar-benar malas ikut acara yang seperti ini. Tapi temannya, Nathan, memaksanya. Nathan mendapatkan undangan eksekutif dari sebuah perusahaan untuk bersenang-senang di sebuah kapal pesiar. Tidak mau datang sendiri, akhirnya dia memaksa Saka untuk ikut dengannya. Tapi ketika sudah sampai di tempat tujuan, pria itu malah meninggalkan Saka dan asyik sendiri dengan kegilaannya. Padahal Saka sudah begitu menahan diri karena risih. Sejak tadi dia terus menerus digoda wanita setengah telanjang yang mendekatinya.
Mata Saka fokus tertuju pada Nathan yang ikut berdansa ditengah-tengah deck kapal. Angin malam yang berhembus kencang dari laut tidak mampu menyurutkan gairah para penggila dance itu.
"Benarkah?" Suara agak keras dari salah satu pria yang duduk di sun lounger, mengalihkan fokus Saka. "Istrimu yang cantik itu?" tanyanya lebih keras lagi, seperti mendapatkan sebuah kejutan yang menyenangkan.
Saka mengalihkan pandangannya pada para pria yang duduk di sun lounger, tak jauh darinya. Sedikit tertarik melihat gelagat si pria yang terlihat begitu senang tadi.
"Ya!" Pria dengan kemeja pantai warna biru menjawab. "Kamu pasti sudah tahu istriku."
"Tentu saja! Siapa yang tidak tahu istrimu?" Kini pria lain yang menjawab. Pria dengan kemeja pantai polos, yang kancing bajunya tidak ada yang dikaitkan. "Sejak kamu mengadakan pesta di rumahmu dulu, aku bahkan, tidak bisa melupakan wajah cantik dan mempesona istrimu!"
Saka menyipitkan mata, demi bisa menelisik ekspresi pria yang istrinya sedang dibicarakannya itu. Agak kaget Saka, ketika dia mendapati pria itu malah tersenyum bangga sambil memainkan gelas minuman di tangannya.
"Jadi gimana? Deal?" Pria berkemeja biru, menatap pria berkemeja tanpa kancing.
Si pria berkemeja tanpa kancing tergelak. "Kamu memang gila, Brian! Istrimu, kamu berikan padaku hanya demi membayar hutang judimu!"
"Dua milyar, Harry! Itu sudah cukup memberiku alasan untuk menyerahkan wanitaku." Kata pria berkemeja biru, Brian, kepada pria berkemeja tanpa kancing, Harry.
"Wow! Mahal sekali istrimu, Tuan Brian!" sindir pria yang lainnya.
"Kenapa tidak? Bukankah kamu sendiri juga tergila-gila pada istriku, Tuan Andre!" balas Brian penuh penekanan.
"Lalu apakah istrimu tahu, kalau dia dijual?" kini ganti Harry yang bertanya. Pria itu sudah tidak sabar seperti ingin mendapatkan istri temannya.
"Ayolah! Tentu saja dia nggak tahu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana istriku itu. Wanita yang cantik dan manis. Yang begitu penurut dan setia. Entah bagaimana aku harus menyebutnya. Istri yang baikkah atau malah justru bodoh?" Brian tersenyum miring, mengingat-ingat sikap istrinya.
Malas mendengar kelanjutan kegilaan itu, Saka berniat berbalik pergi, tapi tertahan karena sebuah teriakan.
"Laura! Sayang! Sebelah sini!"
Tiba-tiba tubuh Saka seakan membeku. Nama itu. Ya, nama itu. Nama yang diteriakkan itu, seolah-olah menghipnotis dirinya. Nama yang entah bagaimana, selalu bisa menjadi magnet yang selalu menarik Saka.
Dibalikkkannya tubuhnya, menghadap lagi pada para pria gila itu tadi. Dia melihat pria yang selalu dipanggil Brian oleh teman-temannya itu, memasukan sesuatu seperti serbuk ke dalam gelas air putih di depannya. Lalu, arah pandangnya mengikuti pandangan para pria gila tadi.
Seorang wanita bergaun merah yang teramat seksi melangkah pelan menuju tempat para pria di sun lounger. Gaunnya yang pas melekat tanpa lengan dan bawahannya yang hanya sampai pertengahan paha sangat mengekspos sebagian besar tubuh indahnya.
Dari gestur tubuhnya terlihat sekali kalau wanita itu tidak nyaman dengan gaun yang di kenakannya. Di saat tangan kirinya membawa tas kecil, tangan kanannya berusaha memegang ujung gaun agar tak terangkat ke atas bersamaan dengan setiap langkahnya.
Dari langkahnya pun terlihat sangat jelas takut dan ragu-ragu. Pandangannya yang sering menunduk menunjukkan bahwa dia ketakutan.
"Selamat malam, Nyonya Laura. Anda terlihat sangat cantik sekali memakai gaun itu." sapa Harry, salah satu pria di sun lounger.
"Terima kasih!" Wanita itu hanya tersenyum kikuk.
"Duduk di sini sayang!" Brian menggeser tubuhnya agar wanita yang bernama Laura itu bisa duduk di sampingnya.
"Mau minum, Nyonya?" Harry, pria pertama yang menyapa tadi menuangkan botol wisky ke gelas.
"Istriku tidak minum minuman beralkohol, Tuan Harry!" interupsi Brian, lelaki yang duduk di samping Laura,"Benarkan sayang?"
Laura hanya tersenyum tipis.
Ke empat pria di sun lounger itu kembali berbincang, bercanda gurau membicarakan apa saja. Bahkan ketika membahas bisnis pun mereka juga tertawa.
Laura terlihat hanya diam tanpa niatan ikut masuk dalam perbincangan, sesekali hanya menanggapi guyonan atau godaan para pria itu dengan mengangguk atau tersenyum seperlunya. Dia tak terlalu paham apa yang mereka bicarakan. Dari gelagatnya, wanita itu, seperti ingin segera pergi dari tempat yang tidak nyaman itu. Gaun yang dipilihkan suaminya itu benar-benar membuatnya begitu tidak nyaman. Apalagi melihat tatapan para pria itu terhadapnya, Laura nampak merasa begitu tidak nyaman dengan tatapan mereka.
Sedangkan, disudut yang lumayan gelap, Saka masih menyaksikan dalam diam semua kejadian itu. Ada yang terasa terbakar di dadanya. Panas. Saka menggenggam erat gelas ditangannya sebagai bentuk pelampiasan amarahnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Brian yang melihat Laura mengelus-elus lengan.
Dingin. Saka yakin yang dirasa Laura pada lengannya yang terbuka itu pastilah kedinginan. Malam yang telah larut dan angin yang begitu kencang, pasti membuat wanita itu dingin di seluruh tubuhnya. Tapi wanita itu hanya tersenyum dan menggeleng lemah. Mungkin dia takut mengganggu keasyikan suaminya.
"Mau minum dulu?" Brian menyodorkan segelas air putih.
Laura langsung menerima uluran air itu. Mungkin karena terlalu tegang atau gugup, segelas air putih itupun langsung tandas dalam sekali tegukan. Dengan sedikit gemetar dia meletakkan gelas kosong kembali ke meja.
5 menit kemudian Laura merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Kepalanya pusing dan tubuhnya menghangat. Suara Brian dan teman-temannya yang berbincang terdengar samar.
Mungkin karena cuaca. Batinnya
Laura hanya diam, mencoba menahan hawa tidak enak pada tubuhnya. Entah mengapa semakin lama pusingnya semakin menjadi-jadi dan tubuhnya terasa semakin panas.
"Sayang!" Panggil Laura dengan menyentuh lengan Brian.
"Laura ada apa denganmu?" Panik Brian ketika menoleh mendapati wajah Laura yang pucat.
Laura ingin menjawab tapi suaranya seperti hilang. Pertanyaan-pertanyaan Brian yang panik terdengar semakin samar. Detik berikutnya tubuhnya terasa berat dan tiba-tiba semua menjadi gelap.
Saka sudah tidak tahan lagi. Dilepaskannya semua kancing kemeja pantainya. Dilemparkannya gelas di tangan melewati pagar pembatas, sehingga gelas tersebut terjun bebas di laut yang luas. Dengan langkah penuh percaya diri, segera dia mendatangi tempat yang membuatnya meledak marah. Dengan langkah agak tergesa, segera dihampirinya para pria tengik itu.
"Hallo, Tuan-tuan!" sapa Saka. "Bolehkah saya ikut bergabung?"
"Siapa anda?" tanya Andre waspada.
"Saya hanya seseorang yang tidak sengaja mendengar perbincangan kalian tadi. Dan saya tertarik!"
"Maksud anda?" Brian bertanya.
"Saya ingin membeli istri anda yang pingsan di pangkuan Anda itu!"
Harry tergelak meremehkan. "Siapa anda? Apa anda tahu apa yang anda bicarakan?"
"Tidak penting siapa saya. Saya hanya tertarik pada wanita itu." Tunjuknya pada Laura yang masih pingsan. "Bukankah yang sedari tadi kalian bahas itu adalah wanita ini. Yang anda jual untuk membayar hutang judi anda?" Saka menatap Brian. "Saya bisa membeli wanita ini, dua kali lipat dari hutang judi anda."
"Jangan sombong dulu!" Andre meremehkan. " Memangnya anda tahu berapa jumlah hutangnya?"
"Apakah kurang?" Saka sama sekali tidak menggubris keberadaan Andre. Salah satu pria yang ikut duduk di sun lounger. Matanya hanya fokus pada satu lawan. Brian. "Mau saya tambahi?"
"Berapa penawaran anda, Tuan?" Tanya Brian, memulai penawaran.
"Empat milyar."
Andre, Harry dan Brian, menahan nafas kaget.
"Bagaimana?" Tanya Saka tak sabar. Pria itu ingin segera membawa Laura dari tempat menjijikkan ini.
"Tapi, Tuan ... !"
"Lima milyar!" Tukas Saka, tidak ingin mendengar penolakan Brian.
"Oke!" Putus Brian akhirnya.
"Tidak bisa!" protes Harry. "Bukankah kamu sudah berjanji memberikan istrimu padaku?"
"Ayolah, Harry! Ini adalah sesuatu yang sangat menguntungkan. Nanti aku akan membayar hutangku padamu dua setengah milyar. Gimana?"
"Tetap tidak bisa!"
"Oke! Kalau gitu aku akan membayar hutangku tiga milyar. Puas!"
Harry diam, walau masih tak terima dan dongkol, tapi dia tidak bisa menolak uang sebanyak itu.
"Bagaimana?" tanya Saka. "Deal?"
"Oke! Saya akan mengantarkan wanita ini ke kamar anda." Brian mendudukan Laura, berniat menggendongnya.
"Tidak perlu! Saya sendiri yang akan membawanya." Saka melangkah mendekat. Dan dalam sekali gerakan, mengangkat tubuh Laura masuk ke dalam dekapannya.
Ketika dia akan pergi, tiba-tiba seorang wanita datang menghalangi. "Siapa kamu? Mengapa kamu membawa wanita itu?"
"Mbak Siska!" Desis Brian kaget, tidak menyangka dengan perbuatan kakaknya itu. Pria itu segera menarik tangan wanita yang bernama Siska itu untuk menjauh. Brian membisikkan sesuatu yang membuat mata Siska membulat kaget.
Segera setelah mendapatkan informasi tersebut, Siska kembali mendekati Saka yang menggendong Laura.
"Maaf, Tuan, atas kelancanganku!" Tampak sekali sorot mata Siska berubah. Dari yang awalnya curiga berubah menjadi sorot kekaguman yang bahkan tidak disembunyikannya.
Saka diam tak menjawab.
"Ayo, Tuan! Saya antar ke kamar anda!" Rayu Siska. Padahal niatnya ingin tahu kamar pria ini di mana, agar nanti bisa mengorek informasi lebih dari pria itu.
'Sip! Tangkapan besar!' Batin Siska, yang memang suka dengan pria tampan dan kaya.
"Terima kasih! Tapi tidak perlu! Saya bisa pergi sendiri." Baru beberapa langkah berjalan, Saka kembali berhenti. Berbalik lagi menghadap Brian.
"Siapa nama anda, Tuan?" tanya Saka pada pria itu. Sebenarnya dia sudah tahu namanya lewat percakapan mereka dari tadi. Tapi untuk sebuah sopan santun, dia bertanya pada pria itu.
"Brian!"
"Tuan Brian! Berapa nomer ponsel dan nomer rekening anda?"
"Apa saya perlu mencatatakannya, Tuan?"
"Tidak perlu! Sebutkan saja, saya pasti mengingatnya!"
Brian menyebutkan beberapa nomer.
"Oke! Tunggu satu jam! Uang itu akan masuk ke rekening anda!" Setelah berkata seperti itu, Sak berbalik lagi, dengan niat ingin pergi. Tapi lagi-lagi pria itu berhenti. "Oh ya! Nanti, entah kapan, saya pasti akan menghubungi anda kembali, Tuan Brian! Jadi sampai bertemu lagi!"
Saka akan kembali melangkah, tapi terhenti lagi karena sebuah pertanyaan.
"Siapa nama anda, Tuan?" Siska yang bertanya.
"Tidak perlu tahu nama saya. Yang penting saya mengenal kalian semua." Kali ini Saka benar-benar berjalan meninggalkan sun lounger.
Saka masuk ke kamar inap milik Nathan, temannya yang mengajaknya ke sini. Dia tidak masuk ke kamarnya sendiri, karena dia tahu bahwa wanita yang bernama Siska tadi terus saja membuntutinya. Dia nggak ingin identitasnya diketahui oleh mereka.
Dengan pelan, Saka membaringkan Laura di atas ranjang.
Niat awal Saka hanya ingin membawa Laura pergi dari para pria b*****h itu. Berusaha agar tidak ada tangan-tangan jijik yang menyentuhnya. Tapi semua berubah ketika mereka sampai di kamar inap dan melihat Laura menggeliat seperti kepanasan.
Saka duduk dipinggir ranjang, mengamati gerak Laura.
'Brian! Dasar b******k!' umpatnya dalam hati. Pria itu kini tahu, apa yang dimasukkan ke dalam minuman Laura, yang sempat dilihatnya tadi.
Saka mengulurkan tangan ke wajah Laura, sebenarnya niatnya hanya ingin merapikan anak-anak rambut Laura yang berantakan di sekitar wajah. Tapi tiba-tiba, dengan mata yang masih terpejam, Laura menangkap tangan Saka, meremasnya dan membawanya ke dadanya sendiri.
Saka kaget, tapi tetap berusaha untuk sadar dan menahan diri. Laura, karena pengaruh obat, di alam bawah sadarnya mencoba menggapai Saka. Mencari sesuatu untuk dipeluknya dan melampiaskan keinginannya.
Saka berusaha keras untuk mengabaikan Laura. Melihat Laura yang menggeliat tak beraturan di atas ranjang, apalagi roknya yang pendek tersingkap makin ke atas dan baju atasnya juga acak-acakan, sungguh membuat Saka gusar setengah mati.
Pada akhirnya, pertahanan Saka yang sedari tadi diusahakannya, gagal. Pertahanannya akhirnya jebol juga. Diantara keinginan untuk melindungi dan rindu, Saka kalah dengan perasaan rindu.
Saka mencondongkan tubuh mendekat pada Laura. Merasa ada sesuatu yang bisa dipegang, Laura tanpa ragu segera meraihnya. Seperti orang kehausan, Laura segera mencium bibir Saka penuh nafsu.
Saka awalnya kaget. Tapi beberapa detik kemudian, pria itu memejamkan mata, ikut larut dalam gelora nafsu Laura. Pria itu tidak menolak ketika tangan Laura meraba tubuhnya. Bahkan dia melakukan hal yang sama pada wanita itu.
'Tolong maafkan aku! biarkan aku memilikimu malam ini saja!' batin Saka. Pria itu tahu, kalau dia salah, mengambil kesempatan ketika Laura setengah sadar. Tapi dia juga rindu. Rindu berat pada wanita ini. Rindu yang ingin dituntaskan dengan memiliki wanita ini dalam dirinya, walau cuma sekali.
Secepat kilat, melodi percumbuan mereka semakin cepat. Mencium, meraba, melepas, dan melepaskan gairah. Saka juga hilang kendali atas dirinya ketika b******a dengan Laura malam ini.
Dan di malam yang tidak terduga itu, mereka telah menuntaskan hasrat masing-masing. Walau yang satu karena pengaruh obat, dan yang satunya, karena rindu yang tertahan lama dan berat. Mereka b******a dan bersatu dalam alur yang panas dan menggairahkan.