Sofia masih terduduk di kedai itu hingga beberapa jam setelah Ilham pergi. Tamu kedai begitu ramai tapi ia merasa sepi. Sofia masih melamun sambil menahan tangis. Mungkin orang-orang yang datang silih berganti di meja sebelah merasa heran melihat tingkah Sofia, tapi ia sama sekali tak peduli. “Sof, lu masih di sini?” tiba -tiba Nadia datang dan menepuk pundak Sofia. Menyadari kedatangan Nadia, Sofia buru-buru menghapus air mata yang jatuh di pipinya. “Eh, Nad, tahu dari mana gue di sini?” “Gak penting tahu dari mana, lu gak apa-apa kan?” jawab Nadia khawatir. “Hmm... Ilham... Ilham ke mana?” tanya Nadia sambil mencari-cari. “Gak usah tanya dia, dia udah pergi!” jawab Sofia sambil membuang muka. Nadia menggeser kursi di sebelah Sofia, kemudian mengelus pundak Sofia. “Sesuatu terja

