Mata Sedih

1013 Words
Akibat terlibat obrolan tentang masa lalu dengan sang kakak, ketika di perjalanan, Athar justru teringat kembali dengan masa lalunya. Masa lalu mereka bertiga lebih tepatnya. Seperti yang sudah diketahui, hubungan Archie dan Athar sudah tidak baik sejak keduanya masih kecil. Berawal dari Archie yang selalu dingin pada adiknya, karena rasa cemburu. Archie menganggap orang tua mereka lebih banyak menaruh perhatian pada Athar, dibandingkan dirinya. Athar yang dulu sering mendekati Archie. Sering minta maaf karena ia pun tahu bahwa orang tua mereka lebih banyak memperhatikan dirinya. Tapi sikap Archie tetap saja dingin padanya. Merasa seperti orang bodoh, Athar akhirnya memutuskan untuk meladeni sikap Archie. Ia pun mulai mengibarkan bendera perang pada sang kakak. *** Dua puluh tahun yang lalu. Archie saat itu berusia 9 tahun. Dan Athar 7 tahun. Jena 8 tahun. Mereka bertetangga. Jena tinggal berjarak 2 rumah saja dengan kediaman keluarga Virendra. Kebetulan hanya mereka anak kecil yang bisa dibilang seumuran. Yang lain sudah lebih besar, atau bahkan ada yang masih sangat kecil. Jadi ketiganya merasa lebih terkoneksi dan akrab. Hanya saja mereka bukan tiga bersahabat. Karena setiap ada Archie dan Jena, berarti tidak ada Athar. Sama pula sebaliknya, jika ada Athar dan Jena, berarti tidak ada Archie. "Archie ... dicariin Jena, Sayang." Sarah berbicara dari ambang pintu kamar putra sulungnya. Archie sedang asyik bermain PSP. "Suruh tunggu bentar ya, Ma. Bentar lagi selesai 1 babak." "Oke, jangan lama - lama tapi, ya. Kasihan Jena kalau kelamaan nunggu." "Iya, Ma." Sarah tersenyum akan reaksi Archie. Ia kemudian pergi dari sana, turun ke lantai dasar. Ia berbicara pada Jena yang duduk di ruang keluarga rumah mereka, di depan televisi yang sedang menayangkan kartun Doraemon. "Archie mana, Tante?" tanya Jena begitu melihat Sarah. "Sebentar lagi dia turun. Jena tunggu sebentar ya." "Oke, Tante. Makasih, ya." Jena pun lanjut menonton Doraemon. Sarah kemudahan menghampirinya sembari membawa satu toples nastar dan segelas jus jeruk. "Nih, sambil nunggu Archie, sembari dinikmati." "Wah, Tante Sarah emang yang terbaik. Makasih, Tante." "Sama - sama, Sayang." Jena memakan nastar dengan lahap. Kemudian minum jus jeruk segar karena tenggorokannya terasa kering. Jena sesekali melirik ke arah tangga. Berharap Archie ada di sana. Tapi ia tetap belum kelihatan batang hidungnya. Ketika Jena melihat ke tangga lagi. Ia sempat tersenyum karena mengira seseorang yang sedang turun dari tangga itu adalah Archie. Tapi bukan. Ternyata itu adalah Athar. "Wah ... ada Jena!" Athar nampak berbinar - binar dan antusias. Jena malah cemberut. Kalau sudah ada Athar, perasaannya selalu tak enak. Tidak, bukannya ia tak suka Athar. Athar juga selalu baik padanya, kok. Tapi .... Athar langsung lari turun, tak ragu segera berbaur dengan Jena di ruang keluarga. "Wah, Jena lagi nonton Doraemon, ya. Athar juga suka Doraemon." Jena memaksakan sebuah senyuman. Berharap setelah ini Athar akan pergi untuk bermain entah di mana. Sayangnya itu tak terjadi. Athar justru duduk di sebelah Jena, ikut makan nastar, ikut nonton Doraemon. Sarah memperhatikan dari kejauhan. Perasaannya sama tak enaknya dengan Jena. Semoga saja Archie tak segera turun. Perkiraan meleset, ternyata saat ini Archie sudah dalam perjalanan menuruni tangga. Archie menghentikan langkahnya saat tahu Jena ternyata sedang bersama Athar. Ia mengamati mereka sejenak, sebelum Akhirnya mengurungkan niat untuk turun. Justru sedikit berlari kembali naik ke atas. "Lho, Archie ...." Ternyata Jena sudah sempat melihat Archie yang akan turun. Ia langsung beranjak, hendak mengejarnya. Eh, Athar malah ikut - ikutan. Jena sedih karena Archie bahkan tidak menoleh saat ia panggil. Athar kemudian menghentikan laju jalan Jena dengan menggenggam jemarinya. "Jena main sama Athar aja deh. Mas Ar emang suka gitu. Suka nggak mau main sama Athar. Padahal Athar nggak salah apa - apa. Mas Ar pokoknya benci aja sama Athar. Ngeselin banget!" Athar mencak - mencak menjelaskan perihal masalah internalnya dengan Archie. Adalah internal yang tidak ia ketahui sebab. Archie hanya selalu membencinya. Itu yang ia tahu. Jena hanya pasrah saat Athar menggelandangnya kembali duduk di karpet ruang keluarga untuk menonton televisi. Tapi ia sudah kehilangan semangat main sepenuhnya. Sarah menatap dari kejauhan dengan mata sedih. Ini adalah salahnya dan suaminya. Ia pikir dulu rasa cemburu Archie pada Athar akan menguat seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata, semakin lama justru semakin parah. *** Archie tidak kembali ke kamarnya. Ia justru mampir ke kamar Marini, sang Nenek dari pihak ibu. Di eumah ini, Archie memang paling dekat dengan sang nenek. Karena sejak dulu Marini lah yang selalu merawat Archie dengan sepenuh hati, menyuapinya, mengajaknya bermain, menggendongku, menidurkannya. Semua dilakukan oleh Marini. Wajar jika bonding antara Archie dan Marini sangat kuat. "Lho, Ar ... ngapain di situ? Sini masuk!" Marini yang menyadari kehadiran cucunya langsung meminta Archie untuk masuk. Marini tentu sayang pada kedua cucunya. Tapi Archie punya satu tempat khusus di hatinya. Karena Archie adalah cucu pertama yang sudah ia nanti kehadirannya, dan ia juga banyak merawat Archie sejak dini. Tidak seperti Athar yang lebih banyak bersama Sarah. Archie tak ragu melangkah masuk. Marini menepuk sisi kosong ranjang di sebelahnya. Archie segera naik dan berbaring di sana. "Kamu kenapa, hm?" "Nggak apa - apa, Oma." "Beneran nggak apa - apa?" "Beneran." Marini tentu tahu Archie berbohong. Karena ia sangat mengenal cucunya ini. Pasti ini masalah dengan Athar lagi kan. Marini benar - benar tidak menyangka bahwa Archie dan Athar akan selalu terlibat perang dingin. Ekspektasinya, kedua cucunya akan akrab dan sering bermain bersama kayaknya kakak adik pada umumnya. Tapi ternyata tidak. "Oma, aku tidur siang di sini, ya." "Oalah, cucu Oma ngantuk ternyata. Ya, ya. Cepetan tidur kalau gitu." Archie tersenyum, lalu mengubah posisinya menjadi miring. "Oma, aku capek banget, deh." Archie mengatakannya dengan nada manja. Hanya dengan Marini ia bisa begitu. Menjadi dirinya sendiri. Saat bersama Sarah, Archie selalu bersikap gentleman. Seperti laki - laki yang sudah dewasa. Padahal jelas - jelas Archie masih 9 tahun. "Hmh ... pinter ya cucu Oma kalau modus." Marini terkikik, dan mulai memijat kaki Archie. "Nanti kalau Oma udah tua, kamu mau nggak mijitin Oma kalau lagi capek." "Pertanyaan Oma aneh deh. Ya pasti mau lah Oma. Apa sih yang nggak buat Oma cantikku yang satu ini." Archie memeluk lengan Marini dengan sayang. Marini kemudian mengelus rambut Archie dengan sayang, kemudian mengecup keningnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD