Semakin Dekat

1029 Words
Mereka kembali saling tersenyum setelah Freya membukakan pintu, dan pandangan keduanya saling bertemu. Freya mempersilakan Archie masuk. Archie mengikuti Freya masuk ke dalam kamarnya, mereka menuju set sofa di samping mini bar. Jika waktu itu Archie memilih duduk di Single sofa, kali ini ia memilih duduk di sofa panjang. Ia diam menunggu Freya yang sibuk berkutat dengan kopi di mini bar. Tak butuh waktu lama hingga Freya selesai membuat kopi. Ia membawa nampan berisi dua cangkir kopi itu ke ruang tamu. "Silakan Tuan Archie." Archie menatap Freya lekat. "Selama satu Minggu ini kita banyak berinteraksi. Tapi gaya bahasa kita masih begitu kaku ... terlalu formal." Freya terkikik. Ini adalah kesempatan bagus. Archie sudah mulai mencair. Ia sudah mulai nyaman dengan keberadaan Freya di sekitarnya. Freya pun memanfaatkan kesempatan emas ini untuk semakin mengakrabkan hubungan mereka. "Lantas kita harus berkomunikasi kasih dengan cara yang bagaimana, Tuan Archie?" "Cukup Archie saja ...." Freya pura - pura terkejut. Padahal ia sudah menunggu - nunggu saat ini. "A - apa? Rasanya tidak mungkin saya memanggil CEO Virendra Inc. hanya dengan nama saja." "Kenapa tidak mungkin, Freya?" Archie pun mula memanggil namanya tanpa embel - embel Nona. "CEO itu hanya jabatan. Selebihnya aku hanya manusia biasa." Ia juga mengubah konteks bahasa 'saya' menjadi 'aku'. Freya benar - benar bahagia. Archie mulai takluk dengan pesonanya. Dan ia yakin saat sudah benar - benar jatuh cinta padanya, Archie akan sangat mempercayainya. Kelak jika Athar berusaha membongkar kedoknya, Archie tidak akan mudah percaya. Tentu saja. Freya lega karena posisinya sudah cukup kembali aman. Meski belum 100 % aman juga. Freya memasang raut gugup. "B - baiklah ... akan saya ... ah ... akan aku coba, Archie." Freya berusaha mengimbangi Archie dan segera menuruti keinginan lelaki itu. Archie tersenyum. "Nah, begitu lebih baik." Archie menepuk sisik kosong sofa di sebelahnya. "Duduk lah." Freya lagi - lagi memasang raut wajah sok terkejut -- dan sok polos. "Apa tidak apa - apa aku duduk di sana?" Archie terkikik. "Astaga Freya ... tentu nggak apa - apa. Siapa juga yang melarang?" Freya berpura - pura gugup. Padahal ia sedang bahagia setengah mati. Untung ia sudah mempersiapkan diri, berjaga - jaga jika kejadian seperti ini mendadak menjadi nyata. Ia sudah memakai parfum mahalnya dengan aroma yang menggoda itu. Archie pasti suka. Freya perlahan duduk di sebelah Archie. "Sudah lama aku nggak terlibat obrolan pribadi dengan semua manusia di dunia ini. Satu - satunya orang yang banyak tahu tentang aku -- selain mendiang Oma -- adalah Raya. Tapi Raya juga sudah pergi. Kepalaku rasanya mau pecah, dadaku rasanya sesak seakan tidak ada lagi oksigen di dunia ini. Ingin bicara tapi ngga tahu sama siapa. Terus si ketemu kamu. Dan kita jadi akrab. Aku lega." Freya mendengarkan setiap ucapan Archie dengan saksama. Ingin rasanya Freya berjingkrak heboh. Karena berkat keterangan Archie itu, sudah jelas bahwa lelaki di hadapannya ini memang sudah terjatuh padanya. Ia bahkan disejajarkan dengan mendiang nenek dan juga calon istrinya. "Kamu bisa cerita apa pun sama aku, Archie!" Freya membuka pintu lebar - lebar mumpung kesempatan datang. "Benarkah? Kamu nggak terganggu?" Freya menggeleng. "Tentu enggak. Aku malah seneng kalau kamu nyaman ngobrol tentang masalah kamu. Biar kamu lega. Aku yakin posisi sebagai CEO itu sama sekali nggak mudah. Pasti kamu mengalami masa - masa yang sulit kan." Archie tersenyum mendengar jawaban Freya. Apa yang ia katakan benar - benar sama persis denga mendiang nenek dan Raya. Archie sampai merasa bahwa seseorang yang dihadapannya ini benar - benar Raya - nya. Seperti sebuah keajaiban. Selain mirip secara fisik, kepribadian dan cara bicara Freya benar - benar sama dengan Raya - nya. "Frey, ceritakan tentang kalian. Raya dulu sedikit cerita -- belum lama -- hanya beberapa hari sebelum dia berpulang. Katanya dia akhirnya tahu fakta bahwa dia bukan anak kandung di keluarganya. Dia juga bilang punya saudari kembar. Apa kamu juga sama dengan Raya? Juga nggak tahu kalau kami terlahir kembar?" Freya mengangguk. "Ya, aku juga sama seperti Raya. Aku juga nggak tahu bahwa aku terlahir kembar. Suatu hari saat aku pulang kerja. Aku sangat terkejut saat melihat ada tamu di rumah. Seorang perempuan yang mirip banget sama aku. Saking terkejutnya, aku sampai sembunyi. Aku tunggu sampai dia pulang, baru aku masuk rumah. "Aku tanya ke orang tua kami, sisa itu tadi? Kenapa kok mirip banget sama aku. Terus tadi aku juga lihat orang tuaku berpelukan sama dia sambil nangis - nangis. Akhirnya orang tuaku ngaku, bahwa dulu aku terlahir kembar. Tapi karena masalah ekonomi keluarga kami, Bapak dan Ibu terpaksa melepaskan salah satu dari kami untuk diadopsi orang lain. "Karena ingin menyembuhkan luka hati pasca kehilangan seorang anak untuk diberikan pada orang lain, Bapak dan Ibu menghilang semua jejak tentang Raya. Mereka juga nggak ingin aku tahu. Takut aku sedih juga. Dan terjadi lah hari itu. Raya tiba - tiba datang. Katanya dia baru saja menemukan dokumen adopsinya. Dia sedih karena baru tahu tentang itu, bahkan dia menemukan sendiri fakta itu. "Dia langsung nemuin Papa Mama - nya untuk minta penjelasan. Dan ternyata benar. Dia memang diadopsi. Setelah tahu, Raya segera nemuin orang tua kandungnya -- Bapak dan Ibu. Ironisnya, ternyata itu adalah beberapa hari saja sebelum dia dipanggil Tuhan untuk selama - lamanya. Lebih ironis lagi ... aku dan dia belum sempat saling bertemu sama sekali." Freya begitu mendalami aktingnya hingga ia benar - benar menangis. Ia menceritakan semua secara jujur dan sebenar - benarnya. Hanya saja, kejadian aslinya benar - benar terjadi dalam konteks dan situasi yang berbeda 180 derajat. Archie tentu merasa prihatin dan empati. Ia sedikit ragu sebenarnya. Tapi baginya, menenangkan Freya saat ini jauh lebih penting dibandingkan keraguannya. Archie membelai rambut lurus Freya, kemudian merengkuh gadis itu dalam pelukannya. "It's okay, Frey. Kamu percaya bahwa masih ada kehidupan lagi setelah mati kelak, kan? Nah mungkin Tuhan sudah mengatur akan mempertemukan kami dan Raya di sana. Kalian tidak bertemu di dunia, tapi akan bertemu di sana nanti. Aku percaya, di sana aka jauh lebih indah dari pada di dunia." Archie memberikan kata - kata bijak yang sungguh menyentuh. Freya pun tersenyum. Tapi bukan senyuman penuh syukur atas kebaikan Archie, tapi lebih karena ia telah benar - benar memenangkan hati Archie, dan semakin melangkah dekat pada tujuan utamanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD