PART 5 : SYMPATHETIC

1646 Words
Begitu bel pulang sekolah berbunyi, hampir separuh kelas langsung membereskan peralatan sekolah, namun ada beberapa yang masih sibuk mencatat tulisan di papan tulis. Sementara Deeva masih duduk terdiam sedang berkontemplasi. Hari ini dia terlalu banyak menyerap informasi, lebih tepatnya informasi mengenai Rey. Deeva tidak habis pikir dengan tingkah laku orang-orang di sekeliling Rey. Tindakan dan ucapan mereka sangat kontras membuat Deeva semakin percaya dengan gagasan bahwa manusia memang menyeramkan. “Deev,” Panggilan itu membuyarkan pikiran Deeva, kedua matanya mengerjap karena sempat terkejut. Karrel tersenyum tipis. “Lo gak mau balik?” Tanpa menjawab pertanyaan Karrel, Deeva langsung membereskan barang-barangnya. Merutuki dirinya dalam hati karena kepergok melamun padahal kelas sudah kosong tersisa mereka berdua saja. “Lagi mikir apa sih?”tanya Karrel begitu Deeva berjalan mendahuluinya. Deeva menoleh sekilas. “Gak ada,” Karrel melebarkan langkahnya untuk mengejar Deeva. “Lo kepikiran Reynard?” “Hah? Kok dia?”balas Deeva setengah was-was. Terkadang Deeva berpikir kalau cowok ini memiliki kemampuan sepertinya karena tebakannya selalu benar. Karrel mengedikkan bahunya. “Ya mengingat kemarin lo abis berkonflik sama dia, terus sekarang dia kecelakaan, wajar aja sih kalau lo kepikiran,” Jawaban Karrel tidak sepenuhnya salah namun kurang tepat. Lebih tepatnya saat ini Deeva merasa bimbang dengan dua pilihan yang sedari tadi mengganggunya. Haruskah ia turun tangan dalam urusan Rey atau abaikan saja? “You can tell me, anytime,”timpal Karrel tanpa melihat ke arah Deeva. Deeva berpikir sejenak. Karrel satu-satunya seseorang yang memperlakukan Deeva dengan normal. Dalam pikirannya, yang terkadang tidak sengaja terbaca oleh Deeva, tak pernah sekalipun mengejek ataupun merendahkan Deeva. Ditambah dengan insiden di mana Deeva menangis di depan Karrel membuatnya mulai sedikit mempercayainya. Namun, rasa ragu untuk bercerita itu masih menyergapnya membuatnya tidak bersuara sedari tadi. “Deev, gue gak maksa lo buat cerita kok. Gak usah mikir keras gitu,” Suara Karrel yang menenangkan itu entah mengapa membuat Deeva berubah pikiran. Dirinya tidak bisa terus berada di situasi membingungkan ini. Deeva menghentikan langkahnya, tubuhnya dihadapkan ke arah Karrel. “Gue mau nanya pendapat lo,” Karrel terkejut dengan langkah Deeva yang terhenti ditambah dengan ekspresi gadis itu yang serius. Ralat, gadis itu selalu memasang wajah serius. Namun, kali ini benar-benar terlihat sangat serius. “Tentang apa?” Deeva melihat sekeliling koridor yang mulai menyepi. Namun, masih ada segelintir orang yang berlalu-lalang lantaran menunggu jemputan. Ia tidak mau membicarakan soal Rey di sekolah karena sosok itu terlalu berpengaruh. Deeva kembali menoleh ke arah Karrel. “Kenapa sih? Wajah lo serius banget,”tanya Karrel dengan kekehan kecil. “Jangan di sekolah,”jawab Deeva singkat. Salah satu alis Karrel terangkat. “Mau di mana? Café?” “Boleh,” Karena Deeva tidak mengerti spot yang tepat untuk berbincang, ia pun hanya mengiyakan. ** “Jadi?” Begitu tiba di Café dan duduk di kursi yang berada di sudut Café juga setelah memesan pesanan, karena rasanya tidak etis kalau menumpang ngobrol tanpa memesan apapun, Karrel langsung melontarkan pertanyaan. Deeva menelan ludah, padahal tadi ia sudah yakin namun sekarang rasa ragu menyerangnya kembali. Ekspresi gadis itu masih sama seperti saat di sekolah namun Karrel menangkap sorot keraguan dari mata Deeva. Gelagat Deeva yang aneh juga semakin menunjukkan keraguan gadis itu. “Gak jadi nih nanya pendapat gue?”pancing Karrel berusaha untuk bersikap biasa saja. Walaupun sebenarnya dia penasaran karena untuk pertama kalinya Deeva mengajaknya bicara. Padahal sejauh yang ia tau, Deeva bukanlah tipikal perempuan yang memulai obrolan. Deeva berdehem. Apa boleh buat, sudah terlanjur. Lagipula dari pikiran Karrel yang Deeva lihat, Karrel tidak merencanakan ataupun berniat jahat. Untuk hari ini saja, ia ingin bergantung pada seseorang. “Misalnya, lo pernah dijatuhkan oleh seseorang sampai membuat lo terus kepikiran sama hal tersebut, terus tiba-tiba terjadi suatu hal sama seseorang yang menjatuhkan lo itu. Lalu, orang tersebut ada di situasi yang sulit dan membutuhkan bantuan. Dan satu-satunya orang yang bisa membantu dia itu cuman lo. Lo akan melakukan apa?” Deeva akhirnya memutuskan untuk tidak benar-benar menceritakan apa yang ia alami saat ini. Walaupun Deeva yakin kalau Karrel tidak sebodoh itu untuk menangkap hal tersirat dari pertanyaan Deeva. Situasi yang dijelaskan Deeva itu tentu saja langsung dipahami oleh Karrel. Pertanyaan sedemikian rupa itu, biasanya berkaitan dengan apa yang orang itu alami. “Gue akan bantu,”jawab Karrel tanpa berpikir panjang lagi. Deeva memajukan tubuhnya, menantikan ucapan Karrel selanjutnya. “Alasan lo?” Tatapan Karrel menerawang jauh. “Gak ada alasan sih. Lagipula lo yang bilang sendiri kan, kalau cuman gue yang bisa bantu orang itu? Gak ada salahnya membantu orang yang udah menjatuhkan kita, toh gak selamanya kan air tuba dibalas dengan air tuba juga?” Deeva berusaha untuk mencerna ucapan Karrel. Ia masih belum yakin apakah harus membantu Rey. Sejujurnya, insiden dipermalukan di depan umum itu masih membekas di memorinya. Kejadian itu baru terjadi kemarin, tidak semudah itu ia bisa melupakannya. Namun, mendengar jawaban Karrel, hatinya sempat tergerak sedikit. Karrel menyesap frappucino pesanannya itu. “Kalau emang gak bisa membantu ya gak usah dipaksain apalagi kalo emang orang itu meninggalkan luka dalam buat lo. You need time to heal your wounds, right? Pelan-pelan aja, gak usah maksain diri. Kalau lo udah yakin dan bisa mengesampingkan rasa sakit lo, berarti udah saatnya lo ulurin tangan ke dia,” Deeva memandang Karrel dengan setengah kagum dan setengah tidak percaya. Ia tidak menyangka Karrel benar-benar serius dalam menanggapi pertanyaan Deeva. “Makasih banyak atas jawaban lo, Rel. Sangat membantu,” Tanpa ia sadari, sudut bibir Deeva terangkat ke atas namun hanya bertahan dalam hitungan detik. Tapi, Karrel berhasil menangkap momen langka itu. Ia terdiam menggagumi senyuman tulus itu walaupun hanya sebentar. “Ternyata lo bisa senyum juga ya,”komentar Karrel dengan senyuman yang tersungging. Deeva mengerjapkan matanya. “Ohiya? Gue gak sadar,” Karrel tertawa saat gadis itu kembali memasang wajah serius khasnya. Setidaknya, hari ini dia berhasil membuat Deeva membuka dirinya secara perlahan, walaupun secara tersirat Karrel sudah merasa puas. ** Pagi ini, Deeva tiba di sekolah lebih awal. Langit masih terlihat gelap namun di sisi timur matahari mulai menampakkan wujudnya. Setelah berkontemplasi sepanjang malam ditambah, Deeva telah memutuskan. Sejujurnya, percakapannya dengan Karrel cukup membantunya untuk menemukan jalan keluar. Deeva merasa lega dan senang, ternyata beginilah rasanya meminta bantuan orang lain. Ya, hari ini Deeva memutuskan untuk menemui Reynard. Deeva mencoba menebak-nebak keberadaan Reynard. Ia menjelajahi hampir seantero sekolah. Kantin, kelas, ruang guru, bahkan toilet pun ia datangi. Ya, walaupun ia tidak benar-benar memasuki toiletnya. Tapi, hingga pukul 6 kurang ia masih belum menemukan sosoknya. Deeva memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba saja ia ingin pergi ke rooftop untuk menghirup udara pagi yang dapat menenangkan jiwanya. Begitu membuka pintu rooftop, matanya mengerjap kaget saat melihat sosok Rey yang berdiri di tengah rooftop menatap jauh ke gedung-gedung yang menjulang. “Rey,”ucapnya tanpa ia sadari. Sang oknum menoleh. Aura yang semula terlihat suram berubah menjadi cerah. Rey melayang cepat menuju Deeva. Tampaknya, dia mulai bisa beradaptasi dengan keadaannya jika melihat perubahannya dari berjalan menjadi melayang. “Gue minta maaf, Deev,”ucap Rey begitu dirinya telah berhadapan dengan Deeva. Deeva mendongak karena laki-laki itu melayang agak tinggi. “Karena?” Rey menghela napas berat. “Karena omongan gue kemarin,” Deeva setengah tidak percaya dengan sikap Rey, bukan karena dia meragukan permintaan maaf Rey. Hanya saja, sosok arogan ini menyadari kesalahannya lebih cepat dari yang ia duga. Apa karena situasinya yang genting membuatnya dapat berubah dalam sekejap? Entahlah, rasanya jahat memiliki praduga seperti itu. Padahal dirinya sendiri dapat berubah pikiran hanya dalam sehari. “Ternyata lo bisa minta maaf juga,”balas Deeva sarkasme. Rey mengusap tengkuknya. “Setelah seharian sendirian, gue mulai berpikir banyak dan memori-memori hal buruk yang gue lakuin tiba-tiba aja berputar di otak gue. Seolah, Tuhan mau nunjukkin kalau waktu gue gak banyak. Makanya sekarang gue lagi dikasih kesempatan buat menebus kesalahan gue khususnya elo,” Deeva bergumam. “Kalau memang seperti itu, gue berterimakasih sama Tuhan,” Rey menatap gadis itu tidak percaya. “Wow, padahal pernyataan gue itu cuman spekulasi kok lo jadi kayak mengiyakan kalau waktu gue gak banyak sih,” Deeva mengangkat bahu tak acuh. Dia pun berjalan menuju pagar yang ada di rooftop. Ia menaruh kedua tangannya di atas pagar itu. Deeva mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan berlebihan seolah dengan seperti itu semua bebannya dapat ikut keluar. Rey melayang di sebelah gadis itu. Menunggunya untuk berbicara atau entahlah menikmati keheningan yang herannya terasa nyaman bagi Rey. Dua menit berlalu, gadis itu tiba-tiba duduk. “Lo tau? Gue benci banget sama lo, sebenarnya,” Rey menggigit bibirnya. Ia takut, Deeva akan meninggalkannya lagi. “Tapi, gue memutuskan untuk membantu lo. Terimakasih pada seseorang yang udah membukakan pikiran gue untuk berurusan dengan lo dan gue harap lo bisa bersikap sewajarnya,” Senyum Rey merekah lebar. Satu-satunya penyelamatnya akhirnya benar-benar mau membantunya. Rasanya sekarang ia dapat melihat secercah harapan dalam hidupnya. “Jadi, apa yang harus kita lakuin?”tanya Rey bersemangat. Bisa saja gadis itu sudah memiliki rencana hebat untuk mengembalikannya seperti semula. Deeva menoleh menatap Rey bingung. “Kita gak harus melakukan apa-apa,” Air muka Rey berubah kontras. Auranya juga mulai terlihat suram. “Maksudnya, kita beneran harus nunggu sampai gue sadar?” Deeva mengangguk. “Iya, lagian memangnya gue Tuhan yang bisa menyadarkan orang koma? Jangan ngaco. Dokter pun belum tentu bisa,” Rey berdecih. Kalau begitu untuk apa dia tadi sampai bersemangat dan berharap lebih pada Deeva kalau pada kenyataannya gadis itu tidak memiliki rencana apapun. “Nyesel minta maaf sama gue gara-gara tau kalau gue gak bisa bantu apa-apa buat lo?”sindir Deeva. Rey menggeleng kepalanya dengan cepat. “Enggak! Gue cuman kecewa aja ternyata gak ada yang bisa dilakuin,” “Ya, sebenarnya ada sih,” “Apa?!”tandas Rey tidak sabaran. Deeva diam mengulur waktu membuat Rey menunggu jawabannya dengan was-was. “Kita jenguk lo ke rumah sakit,” “Terus pas di rumah sakit, lo bakal ngebangunin gue?”tanyanya masih berharap bahwa dengan menjenguknya bisa membangunkannya. Deeva memejamkan matanya. “Enggak gitu, Rey. Udah gue bilang, gue bukan Tuhan. Kita kesana buat ngejenguk lo dan ngelihat keadaan lo gimana. Seenggaknya, lo bisa tau dan menganalisis keadaan lo. Itu udah terhitung membantu lo kan?” “WTF, menganalisis, Deev? Seriously?”balas Rey skeptis. Deeva mendengus. “Ya, end of discussion,” Ia pun beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk ke kelas karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi. Namun, saat di depan pintu rooftop, ia membalik tubuhnya lalu berkata, “gue tunggu pulang sekolah di depan kelas.” Rey mengembuskan napas keras. Ia tidak percaya, satu-satunya yang mereka lakukan hanyalah menjenguk dirinya di rumah sakit. Dia pun menjatuhkan dirinya ke lantai, menatap langit pagi yang mulai cerah. Jauh di lubuk hatinya, dia merasa lega dengan kehadiran Deeva karena setidaknya ada seseorang yang menemaninya dalam kesendiriannya. Tanpa ia sadari, bibirnya pun membentuk lekuk sabit ke atas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD