Part 03: Kita Putus!

1482 Words
Joan itu ibarat ponsel baru yang mengalami malfungsi saat pertama kali di coba. Rupa dan penampilannya bagus, Joan juga perhatian–walaupun tidak seromantis orang lain. Tipe semua cewek, boyfriend material banget pokoknya. Namun sayang, Joan menyia-nyiakan karunia Tuhan karena tidak menggunakan mulutnya alias tidak pernah bicara. Jangankan bicara, bersuara juga Joan tidak pernah. Alisa heran, kenapa Joan sebegitu gabutnya hingga memilih pura-pura bisu. Dasarnya, Alisa memang memiliki rasa penasaran lebih dari orang-orang biasa tentang hal yang tidak jelas asal usul, atau penyebabnya. Hal itu juga yang membuatnya begitu penasaran akan suara Joan, yang justru orang lain sebut 'obsesi'. Alisa masih tidak mengerti dimana letak obsesi itu. Dia hanya penasaran, apa salah? Alisa membuat segala cara yang dia bisa, asalkan pacar mode silentnya kembali bicara. Minimal jadi mode nada dering pun tak masalah selama dia mendengar suaranya. Kejadiannya sudah lama sejak Alisa bertemu pacar misteriusnya. Hari itu, masih melekat jelas dalam ingatan Alisa saat pertama kali mereka bertemu. Kala itu, Alisa terjatuh saat bermain arung jeram, terbawa arus hingga akhirnya dia terkulai lemah disis sungai. Dalam keadaan gelap dan dingin yang hampir membunuhnya, Alisa bertemu Joan untuk pertama kalinya. Alis, mata, hidung, bibir, dan rahangnya nyaris seperti sempurna. Alisa berfikir begitu sebelum dia tahu bahwa Joan bisu. Awalnya Alisa menduga begitu, tapi ternyata Joan tidak memiliki penyakit apapun, bahkan pita suaranya baik-baik saja. Sebenarnya, hubungan ini dimulai karena sebuah ketidaksengajaan atas apa yang Alisa ucapkan secara spontan. Di hari ketiga usai di tolong, Alisa kesal karena belum mendengar suara Joan padahal cowok itu tidak bisu. Alisa sudah bertanya ratusan kali, mengoceh sampai adik Joan merasa risih. Sialnya, itu tidak berlaku bagi Joan. Cowok itu malah menanggapi dengan senyuman seolah tidak terganggu dengan semua tanya dan ocehan Alisa. Dihari ketiga, Joan mengantar Alisa ke Kamp. Saat di perjalanan, hanya di penuhi keheningan dan Alisa tidak suka. Dia kembali memancing Joan dengan bertanya tentang makanan kesukaan, sekolah dimana, umur berapa, dan pertanyaan random lainnya. Namun, lagi-lagi Joan menjawab dengan menuliskan kalimat di telapak tangan Alisa. Tentu saja dia geram, yang Alisa mau Joan menjawabnya secara langsung. "Lo bisu kan?" tanya Alisa kesal kala itu. Joan menggeleng. "Terus kenapa lo sia-siain pemberian Tuhan?" Joan hanya diam. "Kalau lo gak ngomong, gue gak mau pulang!" Alisa berucap sambil mengepalkan tangan dan merutuki dirinya. Joan berbalik, tiba-tiba berjalan kearahnya. Menarik tangannya untuk kembali ke rumah cowok itu. Alisa terbelalak, yang benar saja! Dia kan hanya bercanda, bermaksud mengancam Joan agar bicara. Tapi agaknya, Joan itu buodoh luar biasa, batin Alisa nista. "Gue laporin ke polisi kalau lo–," Alisa menghentikan ucapan, masih ragu. "–lo culik gue!" lanjutnya. Sedang Joan malah terkekeh tanpa suara sambil menggeleng heran. Alisa dibuat kesal. Menyentak tangan Joan dan berucap spontan tanpa memikirkan akibatnya. "Kalau lo gak ngomong juga, kita pacaran!" Alisa berujar marah kala itu. Berniat mengancam Joan entah yang sudah keberapa kalinya. Alisa yakin Joan akan menolak sebab baru tiga hari mereka saling kenal. Joan termangu, seperti dugaannya. Alisa tersenyum miring. Namun selanjutnya cowok itu mengangguk dan memeluk Alisa. Menghentikan senyum jahatnya. Apa-apaan ini?! "W-oy, gue becanda, Lepas!" Joan menggeleng, menatapnya seakan mengatakan; "Nggak ada penarikan kata, kita pacaran!" God! "Alisa ya ampun, astaga! Lo gak papa kan? Dua hari ilang, hari ketiga malah berbuat messum dihutan!" Teriakan Bima membuat Alisa lega, refleks mendorong Joan. "Bima ayo pulang, bisa gila gue disini terus." "Lo kenapa kayak habis di kejar settan?" "Siapa dia, Alisa?" tanya Pak Bambang menatap Joan. "Pak, ampun. Kita harus pulang, dia jelmaan settan." Mendengar itu buat semua orang bergidik ngeri dan kembali menuju kamp. Bima merangkul Alisa yang nampak shock. Alisa melotot ngeri melihat Joan tersenyum padanya. Senyum yang menyiratkan 'sampai ketemu lagi, Pacar.' Dia pergi, meninggalkan Joan yang tetap diam disana. Alisa pikir, semua kembali normal setelah dia pulang. Namun, tak ada angin tak ada hujan Joan datang ke sekolahnya sebagai murid pindahan. Awalnya, dia selalu menghindari Joan yang selalu mengikutinya. Hingga Alisa sadar dia tidak akan bisa lari dari pacar tidak sengajanya. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencoba menerima hubungan mereka. Sekaligus, memecahkan misteri hilangnya suara Joan. "Lis!" "Alisa! Ngelamun mulu, lagi mikirin pacar mode silent lo?" Alisa tersentak, mendesis kesal pada temannya. "Harus pake cara apalagi coba biar Joan ngomong?" "Masih aja Lis? Gue kira saking bucinnya si Joan rela ngelakuin apa aja demi lo, termasuk buat ngomong," heran Meisya. "Joan bucin demi ngalihin perhatian gue dari suaranya." "Gue gak sanggup bayangin suara Joan bakal secakep apa. Gak ngomong aja damagenya parah banget, apalagi kalau deep talk tiap malem. AAAA merinding gue," ujar Meisya heboh, pipinya bersemu. "Tolong ya, jiwa pelakor lo dikondisikan dulu, gue mager marah-marah," dengus Alisa. Namanya, Meisya Aqilla. Dia tertawa kecil mendengar penuturan Alisa. Sahabatnya sejak SMP. Sultan. Sifatnya Ya Allah, Alisa tidak tahu bagaimana menjabarkan selain, Meisya itu sangat amat tidak peka. Receh dan pastinya, senggol bacok. "Coba Lo jadi bad girl bandel ala ala novel gitu," saran Meisya sesat. Alisa memutar mata jengah. "Sering, dia marah. Ngadu ke mama, makanya gue lepas ring nose sama kalung." Meisya tertawa. "Lagian lo jatohnya kayak preman bar-bar bukan bad girl." Alisa mendelik. "Lo coba ancem Joan." Alisa menghela lelah. Ratusan mungkin jutaan kali cara itu di coba dan selalu gagal. Dulu, mamanya sudah menyeramkan luar biasa jika sedang marah. Sekarang ditambah Joan, buat Alisa semakin tertekan. Tidak lagi, terimakasih! "Bolos?" "Lo lupa gue bolos udah hampir tiap hari? Sampe di ceramahin mama dua hari dua malem. Dan itu sia-sia!" Alisa kembali kesal. Lalu keduanya terdiam hingga Meisya tiba-tiba berseru. "Ah, gue tahu. Gue yakin yang ini gak akan gagal!" Mata Alisa berbinar terang, bergeser saat Meisya meminta. Cewek dengan lesung pipit di kedua pipi itu membisikkan sesuatu. Sudut bibir Alisa terangkat, ia nampak senang. Menyetujui usulan temannya. "Joan kan sangat amat teramat bucin, gue jamin berhasil." Alisa mengangguk. "Lo emang terbaik, Mei. Nanti gue traktir." "Wih, mantap!" ujar Meisya berseri-seri. "Tapi duitnya minjem dulu sama lo oke? Lo tahu Joan ngadu ke mama, duit jajan raib." Senyum Meisya luntur. Nasib memiliki teman settan ya gini. "Sekalian nih bayarin dulu bakso gue. Makasih Mei-Mei kesayangannya Pak Mail!" Alisa pergi dari kantin dengan bahagia. Meninggalkan Meisya yang tengah menyabari dirinya. *** Alisa menoleh kala mendengar suara dering bel sepeda yang sudah dia hafal. Menatap Joan yang tersenyum padanya. Entah kenapa, senyum itu selalu membuat Alisa kesal karena Joan bisa membuatnya luluh dengan jurus rahasianya itu. Tapi tidak untuk kali ini! Alisa harus membuat Joan bicara dengan menjalankan usulan Meisya. Alisa berusaha untuk tidak luluh, meski sudah menerima permintaan maaf Joan, dia masih kesal. Alisa melanjutkan langkah tanpa mengindahkan Joan yang kebingungan. Pun, pacar mode silentnya itu mengikuti Alisa. Menghela sabar, sadar Alisa masih kesal. Joan mengikuti Alisa sambil memakai sepeda. Keluarganya bukan pekerja kantoran dengan mobil dan setelah mahal. Orangtuanya seorang petani yang rela panas-panasan demi mencukupi kebutuhan. Ia pindah ke sekolah ini karena titah dari ibunya untuk menerima beasiswa. Ia bukan orang berada yang memiliki banyak kendaraan. Meski sebenarnya ibu sudah menawarkan untuk membeli motor, Joan menolak dengan alasan belum cukup umur. Padahal usia Joan sudah lebih dari tujuh belas tahun. Joan hanya tidak mau merepotkan ibunya. Alisa yang sadar diikuti Joan. Berbalik. Memasang wajah sinis seolah Joan adalah penguntit yang mengganggu ketenangan dirinya. "Gue pulang sendiri, gak usah ikutin gue!" Dan kembali berjalan kesal. Joan tetap mengikuti, mencegat Alisa untuk menunjukkan tanya di ponselnya. "Bby kenapa?" "Lo pikir aja sendiri," ketus Alisa. "Joan belum dimaafin, ya?" Sialll, tatapan teduh Joan adalah kelemahan Alisa. Maka dari itu, dia memalingkan wajahnya dan memilih untuk melanjutkan langkah. Namun, lagi-lagi Joan mencegatnya. "Joan ada salah apa lagi?" "Lo gak salah, gue cuma mau Lo ngomong." "Joan belum bisa." Alisa mendecak. "Sampai kapan?" Keduanya saling diam. Selanjutnya, Joan kembali mengetik, "Tolong mengerti." "Lo mau gue ngerti, tapi lo aja gak ngertiin gue. Mau lo tuh apasih?!" kesal Alisa. Lantas Joan menunjuk Alisa, menarik kedua sudut bibirnya. Joan ingin Alisa tersenyum. "Kalau gitu ngomong!" Senyum Joan hilang. Raut Joan berubah datar, tergurat sendu disana. Joan tidak suka topik ini. Sebab, Joan selalu merasa takut Alisa pergi karena tanya-nya tidak pernah mendapat jawaban. Karena Alisa terlalu lelah menunggu atau Alisa bosan. Joan takut, tapi Joan belum bisa. Mungkin tidak. "Gue akan nerima apapun alasannya. Tapi lo seolah gak percaya sama gue. Lo gak pernah jelasin kenapa." Tentu saja. Tidak tahu apa-apa padahal hubungan mereka sudah hampir tiga tahun. Alisa merasa sia-sia sebab tidak tahu apapun tentang Joan. Alisa kecewa Joan tidak pernah bercerita, Joan tidak mempercayainya. Joan mendekat, menulis di telapak tangan Alisa. "Joan belum bisa, sayang." Mata itu saling tatap. "Lalu kapan?" Joan menggeleng. Ah, sakit sekali. Alisa mendengus. "Terserah." Joan mengejar Alisa, bahkan sampai menjatuhkan sepeda. Memegang tangannya erat sekali. Joan meminta maaf. Alisa sudah mulai hafal dengan semua gerakan dan gelagatnya. Alisa menarik tangan. Berucap kecewa, "Kalau lo gak ngomong, kita putus. Semuanya sia-sia, gue gak tahu apapun tentang lo. Jadi, buat apa?" Dan yang Joan takutkan datang juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD