“Aku paling benci pada pengkhianat…” bentak Vincent dengan suara berat menahan amarah. Matanya berkilat tajam menatap Molly yang gemetar ketakutan di hadapannya. “Tapi kau… kau telah melakukannya padaku… kau bahkan lebih memalukan daripada kakakmu!” “Lepaskan…!” kata Molly dengan suara terputus-putus, tangannya mencengkram pergelangan tangan Vincent yang masih menekan lehernya. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca menahan sakit dan sesak. Vincent menatapnya dengan sorot mata yang kini mulai berkaca-kaca, namun amarahnya masih membara. Nafasnya memburu cepat. Perlahan dia melepaskan cengkeramannya, dan tubuh Molly langsung terhempas ke lantai dengan suara bruk yang terdengar menyakitkan. Molly terbatuk-batuk, kedua tangannya memegangi lehernya yang memerah akibat cekikan Vincent. Air m

