Memilih yang Jelas

1118 Words
"Key, bisa tolong ambilin dompet gue gak?" pinta Kevin sambil menunjuk dompet nya yang berada di meja paling ujung. Keyla pun berjalan, mengambil dompet Kevin, dan kembali duduk di hadapan nya lagi. Kevin menyambut juluran tangan Keyla dan menyambar dompet nya. Tanpa sengaja, sisi dompet pun terbuka membuat Kevin tiba - tiba tersenyum. "Kenapa lo tiba - tiba senyum kayak gitu? Gue jadi ngeri" ujar Keyla memperhatikan gelagat Kevin. Kevin menunjukan tempat foto di bagian dompetnya dimana disitu menampilkan fotonya bersama Gita. "Lucu, 'kan? Sumpah ya gue pertama kali photobox dan dia ngegemesin banget" kata Kevin yang terkekeh pelan. Senyum Keyla mengembang, mencoba untuk terlihat biasa saja walaupun mungkin kalian tahu apa yang ia rasakan. Bila seharusnya bisa memilih, Keyla lebih memilih untuk keluar dari ruangan ini daripada harus terus terusan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengarkan. Bahkan ruangan yang biasanya dijadikan tempat mereka berdua menghabiskan waktu tiba - tiba serasa beda dan seolah olah menyesakan. Melihat Keyla yang daritadi hanya diam, Kevin mengantungi dompet nya dan memangku gitar yang berada di samping nya. Jemari kanan Kevin sudah berdiri di atas senar, siap untuk mulai menari indah, "Mau lagu apa, Key?" Bingung, Keyla menggeleng. "Gue tau pasti ada yang lagi lo pikirin, kan?" tanya Kevin menatap Keyla lekat - lekat. Keyla menggeleng lagi, "Enggak kok" Lintang gimana, ya? Kevin menghela nafas berat, "Gue bingung kalo lo gak mau milih" "Kenapa gue yang harus milih?" tanya Keyla. "Karena biasanya pilihan lo gak pernah salah, Key" jawab nya enteng. Dimana kata 'biasanya' yang terlontar itu terdengar seperti mengerti jelas seorang Keyla. Keyla menggeleng untuk yang kesekian kalinya, "Tapi gue salah milih orang yang gue suka" Serentak, dua - dua nya terdiam. Keheningan menyelimuti kedua nya. Sampai akhirnya, Kevin memetik senar gitarnya itu dan mulai bernyanyi. And I'd give up forever to touch you 'Cause I know that you feel me somehow You're the closest to heaven that I'll ever be And I don't want to go home right now Lagu Iris dari Sleeping With Sirens yang di nyanyikan Kevin dengan suaranya yang menyejukan hati membuat Keyla akhirnya ikut bernyanyi. And all I can taste is this moment And all I can breathe is your life And sooner or later it's over I just don't wanna miss you tonight Selang intro lagu sebelum memasuki reff, keduanya tertawa. Tertawa karena merasa canggung sudah lumayan lama mereka tidak bernyanyi bersama seperti ini. Di tambah lagi, biasanya Kevin lebih menyibukan diri dengan lukisan - lukisan nya. And I don't want the world to--- Tiba - tiba pintu ruangan terbuka, memperlihatkan sesosok yang sudah tidak asing lagi diantara keduanya sedang menatap kearah mereka dengan keringat yang bercucuran. Kevin sontak berdiri, "Ngapain lo masuk kesini?" Laki - laki itu tetap masuk dan berjalan kehadapan mereka. Tangan kanan nya memegang lengan Keyla, membuat Keyla langsung berdiri. "Gue gak mau buang - buang waktu. Tapi Keyla gak seharusnya ada disini" tukas nya yang kemudian menarik lengan Keyla keluar dari auditorium musik.   ☆~○~☆   "Gue daritadi tuh nyariin lo woi" ujar Lintang yang kesal seraya mengaduk es teh manis nya dengan sedotan. Keyla mengusap lengan nya yang merah akibat cengkraman Lintang, "Abisnya gue udah nungguin lo, tapi lo nya gak dateng - dateng" "Nunggu sepuluh menit aja gak bisa. Giliran nunggu yang udah jelas gak pasti, tetep aja ditungguin" gerutu Lintang yang masih sinis memperhatikan Keyla. Keyla memang sebelumnya mempunyai janji untuk pergi makan siang bersama Lintang, tetapi ketika Keyla sudah lama menunggu, Lintang tidak kunjung datang. Sehingga Kevin yang kebetulan lewat di depan nya mengajak untuk ke auditorium. "Maaf" tukas Keyla. Lintang menyembur Keyla dengan teh manis nya, "Cuma gitu doang?" Keyla memanyunkan bibir nya dan mendorong bahu Lintang, "Jangan rese" Keduanya pun terdiam, sibuk dengan fikiran nya masing - masing. Terlebih lagi Keyla, yang sedaritadi membiarkan mie ayam yang sangat lezat nya itu. Dehaman Lintang membuat Keyla tersadar dari lamunan nya dan merasa canggung ketika melihat mie ayam yang di nanti nya ternyata sudah ada di depan mata. "Percuma sih. Wujud lo emang ada di hadapan gue, tapi otak lo mikirin orang lain" kata Lintang menyeruput teh manis nya. Cukup terpukul dengan ucapan Lintang, Keyla menghiraukan ucapan Lintang dan mengambil sambal, lalu menuangkan di atas mie nya. Melihat apa yang dilakukan Keyla barusan, Lintang menggeleng dan mengambil alih mie ayam Keyla. Lalu membuang sambal yang dituangkan nya dengan sendok tadi, "Hargai waktu lo sendiri, jangan mikirin dia yang gak pernah mikirin lo" Bahkan saking fikiran nya terbang entah kemana, Keyla sampai lupa bahwa ia sama sekali tidak suka makanan yang pedas. Keyla tersenyum miris, "Seberusaha apapun lo bantuin gue buat move on dari dia, tetep aja gue gak akan bisa" Lintang menjulurkan jari telunjuk nya kedepan bibir Keyla, "Lo gak seharusnya sebodoh itu ngerasain putus asa cuma karena seseorang" Keyla menyengir, "Ah dasar ketos, kata - kata lo emang ngena banget ya" "Berdasarkan survei gue ya, move on itu cuma butuh tiga hal" kata Lintang dengan menunjukan tiga jari kanan nya. Mencoba meledek, Keyla menopangkan dagu nya di kedua tangan hendak menunggu lanjutan Lintang, "Apa aja tuh, kak ketos?" "Jarak, waktu, dan orang lain sebagai pengganti" jawab nya. Keyla mengelus dagunya, "Hm, jarak sih bisa aja karena gue gak sekelas sama dia" Lintang mengangguk. "Waktu? Kalo udah gak ketemu, seiring berjalan nya waktu juga gue udah biasa aja sih sama dia" kata Keyla. Lintang mengangguk lagi. "Tapi kalo orang lain sebagai pengganti....." ucap Keyla ragu - ragu untuk meneruskan ucapan nya. Lintang menegakan tubuh dan memegang d**a bidang nya, "Ada gue" Keyla hanya bisa tertawa menanggapi jawaban Lintang barusan. Karena sejujurnya, ia bingung apa hal tepat yang seharusnya dilakukan. Obrolan ringan diantara kedua nya sampai tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukan pukul tiga sore. Dan syukurnya, mie ayam Keyla sudah habis tak tersisa. Setelah selesai, Keyla melipat kedua tangan nya diatas meja, "Dah selesai. Pulang yuk?" Baru saja Lintang ingin menjawab, tetapi pandangan nya tertuju kepada pergelangan tangan Keyla yang masih merah akibat perbuatan nya tadi. Lintang menarik tangan Keyla pelan dan memperhatikan bekas kejahatan nya itu, "Gue kasar banget ya tadi?" Keyla yang kaget tangan nya di pegang pun akhirnya mengangguk, "Lo lebih kejam dari Bu Siti tadi" "Masih sakit gak?" tanya Lintang dengan hati - hati. Keyla memutar kedua bola mata nya, "Kalo lo pegang ya sakit" Cup! "Tuh gue jamin langsung sembuh" ujar Lintang menahan tawa. Seketika rasanya Keyla terbang ke atas, di perutnya terasa banyak burung - burung berterbangan sambil teriak 'cie', dan dirinya mematung melihat apa yang barusan dilakukan Lintang. Melihat ekspresi Keyla, Lintang pun tertawa dan berdiri sambil memegangi kunci motornya, "Tadi katanya mau pulang, 'kan?" Keyla hanya bisa berharap bahwa orang di sekelilingnya tidak melihat pipi Keyla yang mungkin sudah sangat merah seperti terbakar sinar matahari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD