Siang hari kemudian, Ricardo pergi ke luar negeri untuk mencari pekerjaan. Amanda merelakan kepergian suaminya untuk beberapa hari, karena tujuan suaminya tersebut adalah untuk mencari nafkah.
"Kak Ricardo, aku hanya bisa mendoakan kamu untuk segera mendapatkan pekerjaan dan lancar dalam bekerja, agar kamu bisa cepat pulang," ucap Amanda didalam hatinya.
Beberapa hari kemudian, Amanda masih tertidur didalam kamarnya karena Amanda merasa sangat lemas dan mual.
"Apa yang terjadi padaku, mengapa aku lemas dan mual seperti ini?" ucap Amanda.
Tak berapa lama kemudian, masuklah Nana dan Fadil ke dalam kamar Amanda untuk menanyakan kondisi Amanda.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Nana pada Amanda. Amanda menjawab, "Entahlah, Bu! Amanda sangat lemas dan mual, kepala Amanda juga sedikit pusing."
"Sepertinya di rumah ini ada lagi yang jadi Bumil?" sahut Fadil.
"Abang ... " jawab Amanda. Sang Ibu kemudian mencoba menenangkan suasana, "Sudah, sudah, kalian ini memang tidak pernah akur, saling jahil!"
"Abang itu yang jahil, suka benar mengejek Amanda!" jawab Amanda.
"Amanda, Abang itu sudah beristri dan istri Anang sekarang sedang mengandung, kan? Jadi, Abang sudah tahu ciri-ciri kehamilan!" ucap Fadil.
"Sudahlah, lebih baik kita bawa adik kamu ke rumah sakit!" ucap Nana. Amanda awalnya menolak, "Tidak usah, Bu. Amanda tidak apa-apa!" Fadil kemudian berkata, "Terus gimana caranya kamu tahu apa yang terjadi padamu, begini saja, Abang pergi ke apotik untuk beli alat tes kehamilan, bagaimana?"
"Iya, cepat belikan!" Nana yang menjawabnya. Fadil kemudian pergi ke luar dari rumahnya untuk membeli alat tersebut.
Disebuah perusahaan yang cukup besar, terlihat seorang pria yang sangat tampan tengah duduk di kursi yang ada didalam ruangan direktur dari perusahaan tersebut. Pria itu sedang mengetik di laptopnya, tiba-tiba ponsel yang ada di meja yang terletak di depan pria tersebut berdering, pria tersebut kemudian mengambil ponsel tersebut dan mengangkat panggilan masuk yang ada di ponselnya.
"Halo?" ucap pria tersebut.
"Kak Ricardo, kapan kakak pulang?" tanya seorang wanita.
"Malam ini kakak akan pulang, Amanda!" jawab Ricardo.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar dua tahunan, masuk ke dalam ruangan Ricardo sambil memanggil Ricardo, "Daddy?" Ricardo kemudian langsung memutuskan panggilan masuk di ponselnya tersebut.
"Rival, kamu kesini dengan siapa, Sayang?" tanya Ricardo pada Rival yang ternyata adalah anak kandungnya. Bocah tersebut kemudian menjawab, "Dengan Bunda, Daddy!" Tiba-tiba seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan Ricardo sambil berkata, "Iya, Sayang. Rival ingin bertemu denganmu, dia begitu manja pada ayahnya!"
***
"Mengapa dia mematikan teleponnya, dan siapa yang memanggilnya Daddy tadi?" ucap Amanda. Tiba-tiba Nana datang menghampiri Amanda dan bertanya, "Ada apa, Amanda?" Amanda menjawab, "Tidak ada apa-apa, Ibu!"
Malam hari kemudian, Ricardo berkata pada seorang wanita yang ada didalam rumah yang sangat mewah, "Lavender, aku ingin izin ke luar kota untuk urusan pekerjaan, tidak lama. Mungkin hanya tiga hari!"
"Kamu ini, selalu saja mementingkan pekerjaan kamu daripada anak dan istrimu ini!" jawab Lavender. Sebenarnya, Ricardo sudah menikah lima tahun lalu dan Ricardo sudah memiliki anak berusia dua tahun yang bernama Rival tadi.
"Sayang, kalau aku tidak rajin bekerja, perusahaan bisa rugi besar, lalu akan bangkrut. Aku melakukan ini semua untuk keluarga kita, Sayang! Untuk kamu dan anak kita," ucap Ricardo.
"Benar, Lavender! Kalau bukan dia siapa lagi?" sahut wanita paruh baya yang sempat makan di restoran kuliner yang pada saat itu Ricardo tiba-tiba saja lari, seakan menghindar darinya, ternyata wanita dan pria paruh baya tersebut adalah kedua orangtua Ricardo, Ricardo berbohong pada Amanda jika kedua orangtuanya bekerja di luar negeri.
"Benar juga, baiklah! Pergilah!" ucap Lavender yang kemudian mengizinkan suaminya untuk pergi. Ricardo kemudian pergi dari sana dan menuju ke kota Bandung untuk menemui istri keduanya.
Beberapa jam kemudian, Ricardo tiba dirumah istri keduanya dan ia langsung diberi beberapa pertanyaan oleh istrinya.
"Kak Ricardo, aku butuh penjelasan!" ucap Amanda. Ricardo balik bertanya, "Penjelasan tentang apa, Sayang?"
"Siapa bocah yang memanggilmu dengan sebutan Daddy?" tanya Amanda pada Ricardo.
"Bocah ... oh, bocah yang tadi suaranya masuk ke dalam telepon kita?" ucap Ricardo. Amanda kemudian menjawab, "Iya!"
"Oh, bocah itu bukan memanggilku, akan tetapi memanggil rekanku, jadi gini! Aku bekerja sebagai driver taxsi online di Jakarta, jadi sudah pasti banyak orang berlalu-lalang di depanku yang tadi sedang ada di pangkalan!" jawab Ricardo yang lagi-lagi membohongi Amanda.
"Oh, jadi ..."
"Iya, Sayang! Tolong kamu percaya padaku," pinta Ricardo pada istri keduanya untuk percaya padanya.
"Oh, iya. Kak, aku hanya mau beri tahu kamu, kalau aku saat ini hamil!" ucap Amanda. Ricardo tersenyum dan kemudian berkata, "Benarkah? Alhamdulillah, Sayang! Sebentar lagi, aku akan menjadi ayah!"
"Iya, Kak!" jawab Amanda sambil tersenyum.
Keesokan harinya, Ricardo hendak membawa Amanda ke dokter kandungan, untuk memeriksa kesehatan kandungan Amanda. Akan tetapi, hal itu tidak jadi, karena Ricardo di telepon oleh istrinya pertamanya, bahwa anaknya sedang demam tinggi dan saat ini ada di rumah sakit. Mendengar kabar tersebut, Ricardo langsung pergi ke Jakarta, setelah Ricardo berkata pada Amanda, bahwa dirinya di panggil oleh bosnya dan harus segera datang, jika tidak maka ia akan dipecat. Sungguh jahatnya, Ricardo yang terus-menerus membohongi istri keduanya dengan berbagai alasan.