KEMBALI BERLATIH

2050 Words
Aindra, terbangun ketika pagi buta. Perutnya terasa lapar. Ia pun meminum air dari botol sisa kemarin, lalu memakan roti. Usai perutnya terisi. Pemuda itu merenungi diri. "Kenapa aku bisa masuk ke tubuh lemah ini?" tanyanya bermonolog. Sebuah memori tiba-tiba melintas. Ia masih kecil, tengah bermain di sebuah halaman besar. Bersama beberapa orang. Lalu tiba-tiba mulutnya dibekap, pandangannya pun gelap seketika. Ia seperti tertidur cukup lama, hingga ketika ia terbangun, dirinya berada di sebuah kapal besar yang berisi banyak orang. Ada perempuan dan ada laki-laki, baik muda mau pun tua. Bahkan ada yang sepasang ibu dan anak, atau ayah dan anak atau suami istri. Mereka ketakutan dan seperti orang linglung. Aindra kecil menangis. Ia tidak ingat siapa dirinya kecuali hanya namanya saja. Sailendra Hovert. Kapal itu berhenti di sebuah dermaga, hari waktu itu masih gelap. Semuanya digelandang keluar dari kapal. Terdengar bunyi lecutan cambuk ketika ada beberapa laki-laki yang coba memberontak. Aindra sungguh bingung, kenapa begitu banyaknya orang tak bisa melawan orang-orang yang bisa dihitung dengan jari. "Semuanya diam, atau aku akan mengambil anak, istri atau suami berpisah dengan kalian!" ancam seseorang bertubuh tambun dan berambut botak. Aindra ingat, semua leher para penjahat ada gambar ular yang melingkari jangkar. Mendapat ancaman demikian mereka memeluk, anak, istri atau suami mereka masing-masing. Aindra kecil masih bisa mendengar suara letusan senjata. Beberapa orang yang mencoba melawan ditembak mati. Mayat-mayat itu ditaruh dalam drum lalu diangkat kembali ke kapal. "Kita akan larungkan nanti ke laut!" ujar salah seorang bertubuh kurus dan tinggi. Tiba-tiba beberapa mobil datang. Para penjahat itu tertawa senang. Mereka begitu antusias melihat kedatangan mobil-mobil mewah. "Uang menyambangi kita Tuan!" sahut pria tambun tadi pada sosok tinggi memakai topeng. Aindra mengamati topeng yang dikenakan pria itu. Ia sangat yakin jika pria itu adalah ketua dari kelompok ini. Beberapa pria dengan setelan mewah turun dari mobil. Para penjahat menyambut mereka dengan tawa. Hingga, tiba-tiba. Terdengar rentetan senjata. Dua buah helikopter berterbangan di atas kepala menembaki para penjahat. Semua penjahat lari tunggang langgang, termasuk ketua mereka. Semua berteriak ketakutan. "Lindungi para orang-orang itu!" titah salah satu pria bertubuh tinggi besar. Dari laut datang boat-boat berisi orang-orang berpakaian hitam-hitam dan menangkapi para penjahat. Ketua penjahat tewas tertembak. Aindra mengira itu adalah pihak kepolisian yang mencium adanya human traficking, atau jual beli manusia. Sepuluh orang berpakaian hitam-hitam turun dari helikopter dengan tali. Mereka memasuki kapal yang tiba-tiba ingin bergerak meninggalkan dermaga. Semua penjahat ditangkap. Ketua mereka langsung dibawa oleh ambulans yang dikawal oleh beberapa perwira memakai senjata lengkap. "Periksa mereka semua, bawa ke klinik setempat. Sepertinya mereka dibius dan disuntik untuk menghilangkan ingatan mereka!'' titah pria berpakaian panglima tertinggi. Aindra mengerjap menatap manik hitam yang memandangnya. Ia sangat ketakutan dan perutnya begitu lapar. Pria itu mendekatinya, lalu menggendongnya. "Siapa namamu?" "Sailendra." "Wah, namamu seperti sebuah jaman dinasti sebuah kerajaan di suatu wilayah sini," ujarnya antusias. "Tapi, jika melihat mata dan parasmu, kau bukan asli orang sini." Pria itu membawa Aindra ke sebuah klinik. Orang-orang di sana diperiksa, banyak dari mereka kembali mengingat dari mana negara mereka berasal, bahkan keluarga mereka. para petugas langsung menghubungi negara-negara yang bersangkutan atas temuan orang-orang yang menjadi korban jual beli manusia ini. Sayang, ketika Sailendra diobati. Ia tak juga bisa mengingat dari mana ia berasal, ia hanya ingat nama belakangnya adalah Hovert. Para petugas mencari dengan komputer, namun nama belakang Hovert begitu banyak dari berbagai penjuru. Aindra kecil dititipkan di sebuah panti asuhan. Ia berkumpul dengan anak-anak lain. Salah satu keluarga mengadopsinya. Ia pun tinggal di sebuah rumah yang cukup besar. Ia pun sempat menempuh pendidikan selama ia di panti dan ketika diadopsi. Sayang, perhatian keluarga adopsinya mulai berkurang ketika ibu angkatnya hamil. Dua belas tahun mereka belum dikaruniai anak. Mereka baru dikaruniai sekarang setelah satu tahun merawat Aindra. Lambat laun Aindra tersisihkan, ketika bayi itu lahir dan tinggal di rumah. Aindra makin tidak dipedulikan. Hingga ia diusir dari rumah karena bayi mereka menangis. Padahal Aindra tidak menyentuhnya sama sekali. Terusir dari rumah tanpa bekal apa pun. Si Mbok yang melayani di rumah itu iba.. "Ikut Mbok pulang kampung saja, yuk!" ajak wanita tua itu. Sailendra pun ikut dengannya. Masih bersekolah hingga ia remaja. Si Mbok meninggal dunia. Mbok yang hidup sebatang kara tiba-tiba datang keluarganya yang mengaku keponakan. Mereka merebut rumah peninggalan si Mbok. Sailendra terusir lagi dari tempat itu. Sailendra remaja, pun akhirnya berhenti sekolah dan mencari uang sebagai kuli angkat di pasar. Ia menaiki sebuah truk pengangkut pisang, lalu terbawa hingga ke kota besar. Menjadi gelandangan, tanpa pekerjaan tanpa pengalaman. Hanya sebagai buruh kasar. Tak ada identitas dan ijasah membuatnya sulit mendapat pekerjaan yang layak. Sailendra begitu cekatan dan rajin. Banyak cukong yang menyukainya. Tetapi hal itu malah membuat banyak pekerja lainnya iri. "Kau cari muka!" sindir salah seorang teman seprofesinya. "Tidak!" elak Aindra waktu itu. Mereka yang membenci pun membuat siasat licik. Aindra dipanggil oleh temannya yang licik itu. "Ndra, kamu disuruh Boss bersihin ruang itu!" ucap temannya memberitahu. Aindra melihat ruangan yang ditunjuk. Tempat itu sangat dilarang oleh siapa pun masuk. Ia pun menolak. "Ya, sudah aku aduin ke Boss. Kamu malas kerja!" ancam temannya itu. Aindra pun akhirnya memasuki tempat itu. Entah kenapa ruangan itu tidak terkunci. Padahal biasanya terkunci. Pikirannya yang polos pun mengatakan jika memang ruangan ini harus dibersihkan. Ketika memasuki ruangan itu. Tiba-tiba temannya tadi berteriak. "Boss, Aindra sembarangan masuk ruangan, dia mau mencuri!" Dari sanalah ia pun kembali terusir. Boss cukong tak percaya penjelasannya. Walau ia bersumpah sekali pun. Semua teman yang iri hanya memandangnya sinis. Sebuah ketukan di pintu membuyarkan ingatan Aindra. Pria itu menghela napas panjang. "Ndra, bangun. Kita sarapan, sudah itu ikut Bapak!" "Iya, Pak. Saya mandi dulu!" sahutnya. Usai mandi dan mengenakan pakaiannya. Ia pun mendatangi Sueb dan bergabung di meja makan. Istri Sueb juga sangat baik padanya. Mereka memiliki dua orang anak laki-laki yang semuanya sudah sukses. Aindra makan dengan lahapnya. Sueb terkekeh ketika pemuda di depannya tersedak karena makan terburu-buru. "Pelan-pelan, Nak!" peringat istri Sueb ketika menyerahkan air minum. Aindra meminumnya hingga tandas. Sueb bertanya apa yang akan dilakukan pemuda itu setelahnya. "Saya ingin bekerja apa saja, Pak. Saya mau melatih kembali otot-otot saya," jawab pemuda itu. "Lagi pula saya tidak memiliki sertifikasi apa pun jika ingin bekerja yang lebih baik dari itu," lanjutnya lemah. "Ikut kejar paket saja, Nak!" saran istri Sueb. Wanita itu bernama Rokayah. "Ah, iya kamu bisa kejar paket A untuk ijasah sekolah dasar, paket B untuk sekolah menengah dan paket C untuk sekolah menengah atas!" sahut Sueb antusias. Aindra yang mendengar itu langsung berbinar-binar. Ia bisa mendapat pendidikan. Sebenarnya, ia hanya ingin tahu. Seberapa bagus otaknya dalam berpikir, karena mengingat ia dulu memiliki otak cerdas. "Soal melatih fisikmu. Bapak punya teman guru bela diri. Kamu juga bisa mengolah dirimu di sana. Jika hanya sebagai buruh kasar. Bapak tidak yakin kau bisa membentuk otot-otot mu dengan benar," ujar Sueb memberi saran. "Iya, Pak, saya mau. Tetapi biarkan saya bekerja. Toh uang itu akan habis jika kita selalu memakainya," ujar Aindra dengan raut wajah gembira. "Ya, sudah. Kita fokus di pendidikanmu dulu," ujar Sueb lagi. Aindra pun mengangguk. Mereka pun berjalan menuju sekolah yang mengusung program paket A terlebih dahulu. Setelah mendaftar. Aindra ingin mencoba mengisi lembar jawaban kelulusan. Ternyata otak yang ada dalam tubuh ini memang sangat cerdas. Sailendra mengingat pelajaran yang dulu pernah ia pelajari. Pemuda itu berhasil mengerjakan semua lembar ujian kenaikan kelas hingga kelas empat SD. Karena waktu yang terbatas. Kepala sekolah menyuruh Aindra untuk kembali besok pagi untuk mengerjakan kembali ulangan umum hingga kelas enam. "Jika Sailendra bisa mengerjakan semua ujiannya. Dia tak perlu mengejar pendidikan hingga satu tahun. Hanya bayar uang saja. Bapak bisa menanyakannya dibagikan administrasi," jelasnya panjang lebar. Setelah membayar uang yang diperlukan selama ia sekolah. Aindra pun pergi ke pasar. Ia kembali menjadi buruh angkat. Sueb menitipkannya pada sebuah toko besar. Ternyata nama Sueb cukup dikenal oleh para buruh dan cukong. Sueb dulu juga bekerja di salah satu toko besar di sana. Aindra mulai bekerja untuk melatih kekuatannya. Pukul 16.11 pekerjaannya selesai semua buruh diwajibkan pulang, termasuk Aindra. Sore menjelang, pemuda itu pun diajak ke sebuah perguruan bela diri. Sailendra mendaftarkan diri. Hanya membayar bajunya saja dan selanjutnya bayar seikhlasnya. Sailendra memberi uang lima ratus ribu untuk latihannya sampai lulus tingkat. Setiap hari, ia terus melakukan rutinitas itu. Tak terasa sudah tiga tahun berlalu. Tubuhnya legam karena terbakar matahari. Wajahnya juga kusam karena tidak pernah dirawat. Ia menjatuhkan dirinya menjadi orang sangat rendah di pandangan orang lain. Ia pun telah lulus paket C dengan nilai akademik tertinggi. "Nak, mestinya kau rawat dirimu. Kulitmu jadi terbakar seperti ini," ujar Rokayah prihatin. "Padahal kamu ganteng loh, kalau pandai merawat diri!" Sailendra hanya tersenyum mendengar perkataan ibu semangnya itu. Ia senang hidup dikelilingi orang-orang baik. Tanpa pamrih seperti Sueb dan istrinya ini. Sementara di suatu tempat. Sosok pria berusia empat puluh tahun memandang sebuah foto. Ia mendapatkan kembali putranya yang hilang ketika berusia sepuluh tahun. Kini sebelas tahun berlalu, para suruhannya mendapatkan foto putranya dengan kondisi yang mengenaskan. "Putra mahkota. Kenapa kau seperti ini, Nak!" ucapnya tergugu. Bahkan permaisuri juga menangis melihat foto yang dipegang suaminya. "Yang Mulia, apa Yang Mulia yakin, itu adalah Putra Mahkota?" tanya salah satu perdana menteri. "Aku yakin. Ini, tanda ini hanya dia yang memilikinya!" ujar Sri Baginda Hovert. Semua perdana menteri tak melihat tanda itu. Hanya Sri Baginda Hovert saja yang bisa melihatnya. Dan pria itu sangat yakin dengan penglihatannya. Bahkan permaisuri pun yakin dengan suaminya. "Panglima Ziyad Alexander!" panggil Sri Baginda Hovert. "Daulat, Sri Baginda!" Sosok tinggi besar nan gagah datang lalu bersimpuh dengan kepala tertunduk. Panglima tertinggi, yang memiliki sejuta pasukan terkuat. Wajahnya begitu tampan dengan rahang kokoh dan tegas. Matanya tajam laksana elang begitu menusuk dan dingin. Hidungnya mancung dan bibir tipis. Tubuhnya tegap, kekar. Kulitnya putih bersih. Dadanya bidang dan punggungnya lebar juga kokoh. "Berdiri lah! Cari Putra Mahkota, bawa pasukanmu. Tumpas habis siapa saja yang membuat junjunganmu sampai seperti ini!" titah Sri Baginda Hovert. "Daulat Yang Mulia!" Titah Sri Baginda yang menyuruh menumpas habis siapa pun yang membuat putra mahkota seperti ini, membuat beberapa perdana menteri pucat. "Penggal mereka di alun-alun kota. Pengkhianat jangan diberi ampun!" titah tegas Sri Baginda Hovert. "Daulat Yang Mulia!" sahut panglima Ziyad Alexander. Bukti sudah didapat. Para pengkhianat tertangkap. Tanpa pengadilan, semuanya dipenggal di alun-alun kota. Harta kekayaannya disita, lalu dibagikan pada rakyat miskin yang ada di sana. Panglima tertinggi Ziyad Alexander, menatap foto yang menunjukkan sebuah wajah kotor. Jantungnya berdegup kencang. Ia meyakini sesuatu. "Yang Mulia, apa kah ini engkau?" tanyanya dalam hati. Matanya yang tajam dan dingin berubah sendu. Lalu sedetik kemudian binaran kesedihan itu pun sirna berubah menjadi nyalang. "Aku bersumpah, akan menghabisi siapa pun yang membuatmu terhina seperti ini, Yang Mulia!" sumpahnya dengan tangan terkepal erat. Bahkan rahangnya mengeras. Ia mulai memikirkan strategi untuk mendapatkan putra mahkota kembali tanpa kurang satu apa pun. Pria berusia dua puluh tiga tahun itu mendatangi Sri Baginda Hovert. "Yang Mulia, bolehkah hamba berbicara empat mata saja?" pintanya sambil menundukkan dirinya. "Baik. Ikut aku!" ajak Sri Baginda. Mereka berdua menuju taman belakang istana. Di sana ada beberapa kursi. Sri Baginda duduk di sebuah kursi besar. "Duduk lah!" titahnya. Beberapa pelayan langsung menghidangkan penganan juga minuman. Sri Baginda menyuruh mereka semua pergi dari tempat ini. Ketika merasa aman, baru lah Ziyad mengatakan usulnya. "Begini Yang Mulia. Hamba mohon maaf jika lancang. Bagaimana jika kepergian hamba mencari putra mahkota secara sembunyi-sembunyi. Hamba hanya takut keselamatan putra mahkota terancam jika hamba melakukan inspansi besar-besaran." Sri Baginda Hovert mengangguk membenarkan usul panglima tertingginya. Ia pun menyetujui usul pria yang duduk di hadapannya itu. "Lakukan lah. Aku akan menjaminmu!" titahnya. "Daulat. Terima kasih Yang Mulia!" Ziyad pun pergi dari hadapan Sri Baginda dengan tubuh membungkuk dan mundur sebanyak sepuluh langkah. Pria itu pun mulai membentuk pasukan khusus dalam pencarian putra mahkota. "Negaranya, sudah ditemukan. Kotanya pun sudah terlacak. Kita hanya perlu menyisirnya secara perlahan. Gunakan naluri kalian. Ingat jangan mudah terkecoh bahkan bisa dikelabui!" Pasukan berjumlah sepuluh orang itu pun menyatakan kesiapannya. Mereka pun disumpah kesetiaan juga kerahasiaan misi yang diemban. Pada dini hari, mereka pun berangkat secara sembunyi-sembunyi dan sangat berhati-hati. Hingga tak ada yang tahu. Kapan panglima tertinggi dan pasukannya mulai pergi mencari keberadaan putra mahkota. Butuh waktu lima belas jam mereka menempuh perjalanan melalui pesawat terbang. Sesampainya di sana mereka langsung berhadapan dengan cuaca yang panas. Orang berteriak-teriak dan kemacetan parah. Melalui insting. Mereka pun menaiki sebuah bus yang mengantarkan mereka ke pusat kota.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD