Di negeri antah berantah. Berdiri satu kerajaan besar yang dipimpin oleh seorang kaisar bernama King Hovert. Tadinya negeri itu sangat makmur ketika masih dikendalikan oleh raja terdahulu. Tetapi, begitu bertambahnya usia. Sang raja akhirnya menurunkan tahta kepada putra mahkota. Hovert.
Hovert adalah sosok pria tampan dan rupawan. Memiliki ilmu kanuragan tinggi dan IQ di atas rata-rata. Kecerdasannya itu memukau semua kawan mau pun lawan.
"Yang mulia Hovert sangat cerdas. Ia tak bisa dikalahkan oleh ilmuwan mana pun. Bahkan ilmu kanuragannya juga sangat tinggi!" puji salah satu perdana menteri.
Sebagai raja terpilih tentu ia harus menjaga wibawa juga sikapnya. Sayang, keangkuhan menyertai perangainya. Tentu saja, ketika semua orang membungkuk padanya bahkan sebagian memujanya laksana dewa.
"Yang Mulia Kaisar Hovert tiba!" Pekik Kasim Oxer Philip.
Pria dengan postur tubuh 188cm dengan berat 80kg. Perawakan tampan dengan kulit putih bersih. Terlihatlah otot yang bertonjolan di lengan. Bahunya lebar dengan rahang kokoh. Iris matanya abu-abu terkesan dingin dan misterius. Hidung mancung dan bibir tipis merah alami.
Begitu sempurna. Belum lagi suaranya yang berat. Tatapan tajam menusuk. Aura kepemimpinan yang sangat kuat. Hovert memiliki seorang ajudan yang begitu setia bernama Mark Antonio.
Mark juga tak kalah tampan dengan rajanya. Pria itu selalu berada di sisi Hovert. Kekuatan Mark juga tidak ada yang bisa menakarnya. Nyaris sama kuat dengan Hovert, sang raja.
Lambat laun kekayaan kerajaan digerogoti. Para pengkhianat bermunculan. Tadinya bisa diatasi dengan hukuman cambuk seribu kali di hadapan rakyat. Lambat laun hukuman itu makin ringan.
"Yang Mulia. Kami ingin hukuman itu diperingan. Semua memang memiliki kesalahan tetapi, kita harus memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Mohon kebijakan Yang Mulia!"
Sebuah usul dari beberapa perdana menteri. Kaisar pun tergugah. Toh, benar adanya. Manusia tidak akan luput dari kesalahan.
"Tapi, ini bukan kesalahan biasa, Yang Mulia!' sela Mark tak terima. "Mereka sudah mencederai kepercayaan rakyat. Mereka sama dengan pengkhianat yang ingin menghancurkan keagungan kerajaan!"
"Yang Mulia. Anda adalah hukum tertinggi di negeri ini. Mestinya Yang Mulia tidak terpengaruh dengan usulan. Karena keputusan mutlak di tangan Yang Mulia!" hasut salah satu perdana menteri.
Hovert mulai bimbang. Kedua perkataan pria ini benar. Hukum memang ada di tangannya. Tetapi, seorang pengkhianat tidak boleh dianggap sebelah mata. Harus mendapatkan hukum jera, agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
"Akan kupikirkan usul kalian. Untuk sementara. Hukum para tahanan seperti biasa!" titahnya kemudian dengan tegas.
"Terima kasih atas kesempatannya Yang Mulia!" seru semua perdana menteri sambil menyembah sang kaisar.
Dagu Hovert terangkat menerima pernyembahan itu. Mark tidak bisa berkutik. Ia pun hanya membungkuk sembilan puluh derajat, menghormati keputusan kaisarnya.
Para menteri mulai melobby siapapun agar bisa mempengaruhi keputusan kaisar mereka. Termasuk Mark. Imbalan seribu batang emas, sangat menarik minat para penimbun harta kekayaan. Hovert belum beristri. Para bangsawan yang memiliki kedekatan khusus bahkan mampu menaikkan pamor kaisar mulai menyodorkan putri mereka.
Para penjilat mendekati bangsawan yang ingin menyerahkan putri mereka untuk dipersunting kaisar. Mereka mengiming-imingi sebuah bentuk kerja sama yang sangat menguntungkan.
Kaisar Hovert yang dingin dan tak tersentuh itu sangat menantang kaum wanita bangsawan. Mereka berbondong-bondong meluluhkan hati Kaisar. Melakukan segala macam cara, bahkan menjebak Kaisar dengan minuman dicampur obat perangsang.
Sayang. Mereka melewatkan satu pria yang begitu gigih menjaga sang kaisar yaitu Mark. Mereka pun mengadu pada ayah mereka.
"Mark yang bukan dari keturunan bangsawan. Akan sangat mudah disingkirkan dari sisi Yang Mulia, bukan?" tanya salah satu Duke.
"Memang. Tapi kedudukannya jauh lebih tinggi di atas kita para bangsawan. Kita benar-benar tak bisa menyingkirkannya!" gerutu yang satunya lagi kesal.
"Bukankah dia juga belum menikah?' tanya salah seorang Dukes.
"Benar, kenapa?"
"Kita paksa dia menikah juga!"
Mereka semua menggeleng. "Seorang ajudan tidak boleh menikah mendahului Rajanya," jawaban ini membuat bahu para Duke lemas.
"Ah, lalu bagaimana ini! Kita tak bisa menikmati kekayaan jika terus begini!"
Mereka akhirnya saling tuding dan saling tuduh. Pertengkaran antar bangsawan pun tidak bisa dihindari. Konflik kerajaan pun bertambah
"Ada apa ini. Kenapa internal menjadi kacau begini!" pekik Kaisar berang.
"Maafkan kami Yang Mulia!"
"Yang Mulia. Kami rasa kabinet harus banyak perombakan. Sistem dinasti sudah tidak cocok dengan perkembangan jaman!" usul salah satu Duke.
Kaisar Hovert hanya diam. kekuasaannya memang adalah mutlak. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Sistem dinasti sudah dari dulu menjadi acuannya dalam berpolitik.
"Jika dalam waktu dekat Yang Mulia tidak menikah dan memberikan kami putra mahkota. Kami tidak bisa menjamin Yang Mulia duduk di singgasana dalam waktu lama. Saya rasa akan banyak pergolakan terlahir, dan yang paling menyeramkan adalah kudeta dari para menteri!"
Ancaman itu bukan isapan jempol belaka. Kaisar Hovert sudah mendengar adanya pembentukan pasukan pemberontak di beberapa titik di wilayah kekuasaannya. Duke Juan Manuel adalah bangsawan paling berpengaruh. Dia adalah sosok yang tidak diragukan lagi kesetiaan juga kinerjanya dalam membangun kekuasaan kaisar. Sayang, ia tak memiliki seorang putri, keempat anaknya adalah laki-laki dan telah menjabat di parlemen penting kerajaan yang Hovert pimpin. Satu-satunya bangsawan setia berpengaruh yang memiliki putri adalah Marquez Albert Hall. Walau pengaruhnya tak sebanding dengan pengaruh bangsawan lain yang memiliki putri. Marquez Albert Hall adalah pria paling bijaksana.
"Aku akan menikahi putri dari Marquez Albert Hall!"
Semua terkejut. Bahkan Albert sendiri. Ia tak menyangka jika putrinya dipilih oleh kaisar. Sebagai ayah tentu ia senang puttinya akan menjadi ratu negeri ini. Tetapi ....
"InI tidak bisa!" sentak Duke Ballmore tak terima. Pria itu memiliki dua putri yang juga cantik.
"Aku yang memilih Ballmore!"
Pria bernama Ballmore terdiam. Titah kaisar sudah dilontarkan. Bahkan satu plakat pernikahan juga sudah dikeluarkan. Marqueza Aniyya Elizabeth Hall menjadi sorotan publik.
Gadis yang tidak pernah keluar rumah. Bahkan jarang berkumpul di acara minum teh bersama anak-anak bangsawan. Menjadi perbincangan. Rumor jika Aniyya memiliki wajah buruk rupa pun beredar.
Setiap keluar gadis itu selalu memakai topi dengan layer hitam yang menutupi wajahnya. Gadis bermata amber ini menjadi perbincangan publik dan membuat para gadis iri.
Dukes Sonyata Ballmore salah satu putri dari Duke Ballmore tak terima. Ia pun menyusun rencana jahat. Walau ia sendiri tidak tahu bagaimana menjalankan aksinya. Lalu kemudian ia pun tersenyum licik.
Persiapan perhelatan akbar sudah dimulai. Istana mulai dihias cantik. Begitu juga rumah sederhana milik marguez Albert Hall. Sedang Aniyya sendiri tak percaya jika ia akan dipersunting raja.
Aniyya menatap wajah putih mulus. Sungguh kecantikan bak dewi tercetak. Hidung mancung dan bibir berfolume. Dagu terbelah membayang dan lesung pipinya ketika tersenyum. Alis coklat teratur mata bulat dengan bulu mata lentik. Rambut bergelombang hitam kemerahan panjang hingga punggungnya. Tubuhnya tinggi dan seksi.
Gadis itu meraba dadanya yang beregub kencang. Hari ini Kaisar memanggilnya. Ia mencari gaun terbaik. Sebuah gaun sederhana milik mendiang ibunya. Gaun warna hijau dengan rok mengembang panjang hingga mata kaki. Dengan potongan d**a rendah sedikit memperlihatkan betapa indahnya leher Aniyya.
Dengan langkah sedikit gemetar ia turun dari kereta kuda yang menjemputnya. Gadis itu berjalan menuju singgasana dengan topi warna putih dengan layer yang menutupi wajah cantiknya.
Di luar sana. Dukes Sonyata Ballmore menyuruh orang-orang bayaran menghasut para warga. Mereka berdemo meminta putri Marquez memperlihatkan wajahnya. Mereka menolak terang-terangan jika wajah Aniyya seburuk rumor yang beredar.
"Kami tidak mau kaisar kami menikah dengan gadis buruk rupa. Tidak memiliki keahlian apa pun!"
Sedang dalam istana semua pria yang menatap kecantikan Aniyya menahan napas. Bahkan kaisar Hovert juga tak berkedip menatap wajah gadis itu. Aniyya kembali memakai topinya. Ia merasa risih.
"Maafkan hamba Yang Mulia. Hamba tidak biasa berpenampilan mencolok," ujar Aniyya takut-takut.
Para bangsawan yang tadinya menentang keputusan Hovert hanya bisa diam. Mereka mengakui kecantikan putri dari Marquez Albert Hall.
Tiba-tiba beberapa prajurit datan. Mereka melaporkan keributan yang terjadi di tengah kota. Menolak mentah-mentah pernikahan sang kaisar dengan gadis buruk rupa.
"Katakan pada rakyat. Apa pun keputusan pribadi Kaisar tidak ada yang boleh membantah!" sebuah ultimatum keluar dari mulut ajudan Mark.
Mark mengeluarkan ultimatum ketika kaisar Hovert memberinya tanda. Para prajurit pun kembali keluar sambil membungkuk. Mereka membawa plakat tentang ultimatum tersebut. Berarti pernikahan tetap dilanjutkan. Duke Bailmore hanya bisa mendengkus pasrah.
Sedangkan di kediaman Duke Ballmore. Sonyata uring-uringan rencananya gagal. Bahkan ia tak bisa mengeluarkan jurus lagi ketika plakat ultimatum dibacakan. Gadis itu hanya bisa menunggu hari pernikahan.
Benar saja. Berita pernikahan menyebar di penjuru negeri. Para pemberontak mulai mengulur rencana. Mereka ingin melihat bagaimana kepiawaian ratu pilihan Kaisar.
Hari pernikahan pun digelar. Seluruh rakyat menyambut dengan pesta pora. Kerajaan mengeluarkan banyak dana untuk pernikahan akbar itu.
Sepasang pengantin akan didaulat mengucap sumpah pernikahan yang akan diberkati oleh Duke paling berpengaruh, Juan Manuel.
Aniyya berjalan dengan gaun pengantin warna broken white dengan tabutan mutiara dan berlian asli. Wajahnya ditutupi layer putih. Nampak samar kecantikannya. Semua mata para Dukes masih penasaran. Kaisar akan membuka penutup kepala itu setelah sah menjadi istrinya.
Sumpah keduanya telah terucap. Pedang telah disematkan menandakan keduanya telah sah menjadi suami istri. Kaisar Hovert membuka penutup kepala Aniyya. Mencium lembut keningnya. Lalu mengamit mesra tangan sang istri dan dikalungkan di lengannya.
Kecantikan Aniyya pun terlihat. Semua terpekik tak percaya. Mereka yang hadir percaya jika dewi kecantikan telah turun ke bumi. Aura Aniyya sangat pas dengan aura yang dikeluarkan oleh kaisar Hovert. Kini semua mata tertunduk. Mereka malu ingin bersaing dengan gadis yang kini telah sah menjadi istri juga ratu kota ini.
Tapi, tidak dengan beberapa orang yang iri dan dengki. Tiba-tiba istana diserang oleh sekelompok orang berpakaian hitam-hitam. Kaisar Hovert pun berang. Bagaimana keamanan yang begitu ketat bisa disusupi oleh penyerang. Ajudan Mark juga sangat heran. Komandan tertinggi ternyata berkhianat. Semua menghunus pedang.
Sonyata melirik wanita yang baru saja menjadi istri kaisarnya itu. Rencananya berhasil panglima tertinggi kerajaan telah dibayar mahal oleh tubuhnya sendiri.
"Bunuh Ratu baru. Jika posisi keturunanmu tidak ingin digantikan oleh keturunan Kaisar. Kau tahu kan. Posisimu adalah awal mula seorang pangeran menjadi raja. Aku sangat yakin jika kau bisa menggantikan kaisar Hovert. Tenagamu lebih kuat, kau lebih pintar juga ... Kau lebih tampan."
Begitu rayuan Sonyata. Gadis itu bahkan rela menyerahkan kehormatannya. Membuktikan ucapannya jika ia serius. Panglima itu pun tergiur. Memang ia sedari dulu ingin menjadi raja. Sonyata sangat tahu jika panglima adalah anak hasil hubungan gelap kaisar sebelumnya.
Anak yang lahir dari hubungan terlarang tentu tidak bisa menjadi Kaisar. Berkali-kali posisinya ketika menjadi panglima harus terhenti terlebih dahulu karena putra mahkota menggeser kedudukannya untuk mengawali jabatan sebelum menjadi Kaisar.
Bunyi pedang nyaring terdengar. Para prajurit terbelah menjadi dua. Begitu juga para bangsawan. Tapi, Bailmore, Hall, Manuel dan Mark mengelilingi kaisar untuk melindungi. Sonyata mengambil pedang. Ia juga sangat mahir dengan benda tajam itu.
Gadis itu merangsek masuk pertarungan. Alih-alih ingin melindungi ratu. Justru ia memiliki rencana jahat membunuh ratu. Tubuhnya makin lama makin dekat. Aniyya juga tidak mau kalah. Ia mengambil pedang di atas singgasana raja yang terpajang.
Sring! Bunyi pedang dikeluarkan dari sarangnya itu memekakan telinga. Semua menoleh. Tak ada yang bisa mengangkat pedang dengan berat lima puluh kilogram itu dengan mudah. Tetapi, tangan Aniyya begitu mahir mengayunkan pedang simbol kerajaan itu. Hovert tersenyum bangga. Ia tak salah pilih.
Pertarungan pedang terus bergulir. Banyak korban dari pihak penyerang. Bahkan dengan tangan Aniyya kepala panglima terpenggal.
"Tak ada ampun bagi para pengkhianat kerajaan!" serunya lantang.
Sonyata bergidik ngeri. Ia salah memilih lawan. Panglima roboh dengan kepala lepas dari leher. Semua penyerang dapat dibekuk. Bahkan prajurit yang berkhianat pun langsung dipenggal oleh Bailmore sendiri.
Hovert mendatangi istrinya. Memeluknya erat. Mengucap seribu terima kasih dan menyatakan cintanya.
"Aku mencintaimu!" Aniyya tersipu.
Gadis itu memalingkan mukanya. Namun, ia melihat pergerakan musuh dibelakang hendak menikam rajanya. Ia pun langsung membalikkan tubuhnya.
"Aarrgh!" teriaknya.
"Yang Mulia Ratu!" pekik para bangsawan juga Kaisar sendiri.
Aniyya bersimbah darah. Punggungnya tertancap pisau. Ia tewas di hari pernikahannya. Sonyata tersenyum senang. Dengan begitu Ia akan langsung naik tahta. Karena memang hanya dia gadis yang berhak naik ke singgasana menggantikan ratu.
Sonyata menjadi ratu. Kepalanya terdongak pada para gadis yang menatapnya iri. Kaisar terpaksa mengambil langkah menikahi Sonyata agar meredam pergulatan pemberontak yang mulai bergerak.
Sayang. Usia kehamilan Sonyata terkuak. Wanita itu hamil sebelum malam pernikahan bahkan kaisar belum menyentuhnya.
"Ini aib Yang Mulia. Kita harus bungkam jika ingin meredam kembali pemberontakan!" begitu hasutan para menteri.
Kekuasaan kaisar Hovert mulai goyah. Pria itu tak lagi berkutik dengan segala keputusan yang dibuat oleh para bangsawan. Bailmore dituduh berkhianat oleh putrinya sendiri.
Bailmore mengetahui siapa ayah biologis anak yang dikandung Sonyata. Pria itu hendak membongkar kelicikan putrinya. Sayang. Sonyata membuat bukti palsu untuk menuduh sang ayah.
Kepala Bailmore dipenggal. Pemenggalnya adalah sang putri sendiri yang kini menjadi ratu.
"Tidak ada ampunan bagi pengkhianat kerajaan!" Sonyata menjiplak kata-kata mendiang ratu terdahulu.
Setelah Bailmore terpenggal. Duke Juan Manuel mengundurkan diri. Ia dan keluarganya mengasingkan diri ke daerah terpencil. Begitu juga Marquez Albert Hall. Pria itu sudah lama mengasingkan diri setelah meninggalnya sang putri.
Ditinggal oleh orang-orang kepercayaannya. Hovert mulai tak berkutik. Mark juga sudah mulai kualahan. Hingga ketika para pengkhianat mulai menjamur, kejayaan kekaisaran sudah mulai goyah. Para pemberontak mulai bermunculan bahkan kini mulai bergolak.
Hovert menatap singgasananya. Mengambil pedang simbol kekaisaran. Menyerahkan pada Mark. Ajudan itu paham.
“Maaf Yang Mulia, aku harus membunuhmu. Aku yakin kau akan kembali bangkit di mana kau jauh lebih kuat dan kau akan lebih banyak belajar mengenali sosok yang benar benar menyayangi juga menghormatimu,’ ujar ajudan kepercayaan sang raja.
“Mark ... aku percaya padamu,” ujar raja lirih.
Matanya terpejam rapat saat pedang simbol kerajaan menembus jantungnya. Sang raja mati di tangan pria kepercayaannya. Karena membunuh raja. Ajudan tersebut itu pun membunuh dirinya sendiri sambil meminta untuk dikembalikan bersama junjungan. Kekaisaran Hovert pun tumbang dan hancur.
Di negeri antah berantah. Berdiri satu kerajaan besar yang dipimpin oleh seorang kaisar bernama King Hovert. Tadinya negeri itu sangat makmur ketika masih dikendalikan oleh raja terdahulu. Tetapi, begitu bertambahnya usia. Sang raja akhirnya menurunkan tahta kepada putra mahkota. Hovert.
Hovert adalah sosok pria tampan dan rupawan. Memiliki ilmu kanuragan tinggi dan IQ di atas rata-rata. Kecerdasannya itu memukau semua kawan mau pun lawan.
"Yang mulia Hovert sangat cerdas. Ia tak bisa dikalahkan oleh ilmuwan mana pun. Bahkan ilmu kanuragannya juga sangat tinggi!" puji salah satu perdana menteri.
Sebagai raja terpilih tentu ia harus menjaga wibawa juga sikapnya. Sayang, keangkuhan menyertai perangainya. Tentu saja, ketika semua orang membungkuk padanya bahkan sebagian memujanya laksana dewa.
"Yang Mulia Kaisar Hovert tiba!" Pekik Kasim Oxer Philip.
Pria dengan postur tubuh 188cm dengan berat 80kg. Perawakan tampan dengan kulit putih bersih. Terlihatlah otot yang bertonjolan di lengan. Bahunya lebar dengan rahang kokoh. Iris matanya abu-abu terkesan dingin dan misterius. Hidung mancung dan bibir tipis merah alami.
Begitu sempurna. Belum lagi suaranya yang berat. Tatapan tajam menusuk. Aura kepemimpinan yang sangat kuat. Hovert memiliki seorang ajudan yang begitu setia bernama Mark Antonio.
Mark juga tak kalah tampan dengan rajanya. Pria itu selalu berada di sisi Hovert. Kekuatan Mark juga tidak ada yang bisa menakarnya. Nyaris sama kuat dengan Hovert, sang raja.
Lambat laun kekayaan kerajaan digerogoti. Para pengkhianat bermunculan. Tadinya bisa diatasi dengan hukuman cambuk seribu kali di hadapan rakyat. Lambat laun hukuman itu makin ringan.
"Yang Mulia. Kami ingin hukuman itu diperingan. Semua memang memiliki kesalahan tetapi, kita harus memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Mohon kebijakan Yang Mulia!"
Sebuah usul dari beberapa perdana menteri. Kaisar pun tergugah. Toh, benar adanya. Manusia tidak akan luput dari kesalahan.
"Tapi, ini bukan kesalahan biasa, Yang Mulia!' sela Mark tak terima. "Mereka sudah mencederai kepercayaan rakyat. Mereka sama dengan pengkhianat yang ingin menghancurkan keagungan kerajaan!"
"Yang Mulia. Anda adalah hukum tertinggi di negeri ini. Mestinya Yang Mulia tidak terpengaruh dengan usulan. Karena keputusan mutlak di tangan Yang Mulia!" hasut salah satu perdana menteri.
Hovert mulai bimbang. Kedua perkataan pria ini benar. Hukum memang ada di tangannya. Tetapi, seorang pengkhianat tidak boleh dianggap sebelah mata. Harus mendapatkan hukum jera, agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
"Akan kupikirkan usul kalian. Untuk sementara. Hukum para tahanan seperti biasa!" titahnya kemudian dengan tegas.
"Terima kasih atas kesempatannya Yang Mulia!" seru semua perdana menteri sambil menyembah sang kaisar.
Dagu Hovert terangkat menerima pernyembahan itu. Mark tidak bisa berkutik. Ia pun hanya membungkuk sembilan puluh derajat, menghormati keputusan kaisarnya.
Para menteri mulai melobby siapapun agar bisa mempengaruhi keputusan kaisar mereka. Termasuk Mark. Imbalan seribu batang emas, sangat menarik minat para penimbun harta kekayaan. Hovert belum beristri. Para bangsawan yang memiliki kedekatan khusus bahkan mampu menaikkan pamor kaisar mulai menyodorkan putri mereka.
Para penjilat mendekati bangsawan yang ingin menyerahkan putri mereka untuk dipersunting kaisar. Mereka mengiming-imingi sebuah bentuk kerja sama yang sangat menguntungkan.
Kaisar Hovert yang dingin dan tak tersentuh itu sangat menantang kaum wanita bangsawan. Mereka berbondong-bondong meluluhkan hati Kaisar. Melakukan segala macam cara, bahkan menjebak Kaisar dengan minuman dicampur obat perangsang.
Sayang. Mereka melewatkan satu pria yang begitu gigih menjaga sang kaisar yaitu Mark. Mereka pun mengadu pada ayah mereka.
"Mark yang bukan dari keturunan bangsawan. Akan sangat mudah disingkirkan dari sisi Yang Mulia, bukan?" tanya salah satu Duke.
"Memang. Tapi kedudukannya jauh lebih tinggi di atas kita para bangsawan. Kita benar-benar tak bisa menyingkirkannya!" gerutu yang satunya lagi kesal.
"Bukankah dia juga belum menikah?' tanya salah seorang Dukes.
"Benar, kenapa?"
"Kita paksa dia menikah juga!"
Mereka semua menggeleng. "Seorang ajudan tidak boleh menikah mendahului Rajanya," jawaban ini membuat bahu para Duke lemas.
"Ah, lalu bagaimana ini! Kita tak bisa menikmati kekayaan jika terus begini!"
Mereka akhirnya saling tuding dan saling tuduh. Pertengkaran antar bangsawan pun tidak bisa dihindari. Konflik kerajaan pun bertambah
"Ada apa ini. Kenapa internal menjadi kacau begini!" pekik Kaisar berang.
"Maafkan kami Yang Mulia!"
"Yang Mulia. Kami rasa kabinet harus banyak perombakan. Sistem dinasti sudah tidak cocok dengan perkembangan jaman!" usul salah satu Duke.
Kaisar Hovert hanya diam. kekuasaannya memang adalah mutlak. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Sistem dinasti sudah dari dulu menjadi acuannya dalam berpolitik. "Jika dalam waktu dekat Yang Mulia tidak menikah dan memberikan kami putra mahkota. Kami tidak bisa menjamin Yang Mulia duduk di singgasana dalam waktu lama. Saya rasa akan banyak pergolakan terlahir, dan yang paling menyeramkan adalah kudeta dari para menteri!"
Ancaman itu bukan isapan jempol belaka. Kaisar Hovert sudah mendengar adanya pembentukan pasukan pemberontak di beberapa titik di wilayah kekuasaannya. Duke Juan Manuel adalah bangsawan paling berpengaruh. Dia adalah sosok yang tidak diragukan lagi kesetiaan juga kinerjanya dalam membangun kekuasaan kaisar. Sayang, ia tak memiliki seorang putri, keempat anaknya adalah laki-laki dan telah menjabat di parlemen penting kerajaan yang Hovert pimpin. Satu-satunya bangsawan setia berpengaruh yang memiliki putri adalah Marquez Albert Hall. Walau pengaruhnya tak sebanding dengan pengaruh bangsawan lain yang memiliki putri. Marquez Albert Hall adalah pria paling bijaksana.
"Aku akan menikahi putri dari Marquez Albert Hall!"
Semua terkejut. Bahkan Albert sendiri. Ia tak menyangka jika putrinya dipilih oleh kaisar. Sebagai ayah tentu ia senang puttinya akan menjadi ratu negeri ini. Tetapi ....
"InI tidak bisa!" sentak Duke Ballmore tak terima. Pria itu memiliki dua putri yang juga cantik.
"Aku yang memilih Ballmore!"
Pria bernama Ballmore terdiam. Titah kaisar sudah dilontarkan. Bahkan satu plakat pernikahan juga sudah dikeluarkan. Marqueza Aniyya Elizabeth Hall menjadi sorotan publik.
Gadis yang tidak pernah keluar rumah. Bahkan jarang berkumpul di acara minum teh bersama anak-anak bangsawan. Menjadi perbincangan. Rumor jika Aniyya memiliki wajah buruk rupa pun beredar.
Setiap keluar gadis itu selalu memakai topi dengan layer hitam yang menutupi wajahnya. Gadis bermata amber ini menjadi perbincangan publik dan membuat para gadis iri.