Kedua mata Jonathan membulat dengan sempurna, “Sayang, a—apa ma—maksud kamu?” tanyanya terbata-bata. “Apa kamu ingin mengelaknya, Jo? apa kamu gak akan mengakuinya, hah!” geram Diva. “Bu—bukan seperti itu, Sayang. Kamu dengerin aku dulu. Aku sudah dijebak. Dina menjebakku. Tapi, bagaimana kamu bisa...” “Aku melihat dengan kedua mata kepala aku sendiri, Jo. Bagaimana kamu tertidur lelap di kamar apartemen Kak Dina. Bahkan kamu sampai tak mendengar suaraku saat aku memanggil Kak Dina.” Kedua mata Jonathan semakin membola, “apa? kamu datang ke apartemen Dina?” “Aku awalnya gak tau, kalau kamu ada di apartemen Kak Dina. Kak Dina menghubungiku dan memintaku untuk mengantar pakaian kerjanya ke apartemennya. Dia bahkan memberitahu aku password apartemennya.” Air mata itu kembali mengalir ta

