Karena ancaman sang istri, Arian terpaksa berangkat ke kantor hari ini. Rasanya sangat malas, dia tidak mau sedetikpun berpisah dari istrinya. "Kok cemberut gitu sih. Senyum dikit dong." mencubit gemas pipi sang suami. "Ara ikut Mas ke kantor ya?" Pinta Arian penuh harap. Memeluk pinggang istrinya yang sedang memasang dasi di lehernya. "Bukannya Ara nggak mau. Tapi Ayah nggak bakal kasih izin." Mengatupkan bibirnya. "Selesai." menepuk dada Arian. Arian menghela nafas berat, "Kamu sudah menjadi istri Mas, tapi Mas tidak berkuasa sepenuhnya atas dirimu." Mengingat setiap keputusan yang akan mereka ambil hanya dengan persetujuan Ayah. "Maafin Ayah ya Mas. Ara juga nggak tau harus gimana. Ara nggak bisa kalau harus memilih di antara kalian berdua lagi. Sekarang Mas hanya perlu bersabar, d

