Sembilan

1227 Words
Setelah puas bermain di Mall. Dimas, Elvina serta Yonna pun kembali ke rumah orang tua Elvina. Mengingat hari yang sudah semakin malam saat Dimas mengantarkan Elvina dan putrinya pulang kerumah. Beruntung ayah Elvina belum tidur, sehingga dia memutuskan untuk mengutarakan niatnya melamar Elvina. Dia ingin melangsungkan pernikahan secepatnya, karena itu dia tak mau membuang waktu sedikitpun. Dia sudah mendapat restu dari Yonna tadi ketika mereka pulang dari Mall, sudah mendapat lampu hijau dari Elvina, kini hanya tinggal meminta restu kedua orang tua Elvina. Ayah Elvina duduk di kursi depan rumahnya, ada empat buah kursi berbahan kayu dengan meja berbentuk lingkaran. Kursi yang identik dengan rumah tradisional betawi karena bentuknya yang setengah lingkaran. Elvina menyuguhkan pisang Goreng yang dimasak ibunya tadi, juga teh hangat untuk Dimas dan ayahnya. Elvina duduk di tengah, antara Dimas dan ayahnya yang berbincang basa basi. Hingga Dimas melirik Elvina dan wanita itu telah mengangguk, memberikan kode agar Dimas menyuarakan isi hatinya saat ini. “Jadi Pak, saya dan Elvina sudah sepakat ingin menikah, karenanya saya mengharapkan Bapak merestui hubungan kami,” ujar Dimas. Elvina menggigit bibirnya, menunggu suara dari ayahnya. Ayah Elvina menatap sang putri yang memberikan senyumnya pada sang ayah. “Benar El? Apa kamu sudah siap menikah lagi?” tanya sang ayah. Elvina menatap Dimas dan ayahnya bergantian. “Elvina siap Pak,” ucapnya. Ayah Elvina menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Sebenarnya Bapak melihat kalian baru dekat belakangan ini, namun bapak pernah mendengar bahwa niat baik itu tak baik jika ditunda, karenanya bapak merestui pernikahan kalian,” ucap sang bapak membuat Dimas tersenyum lega. “Namun pesan bapak,” imbuhnya, baik Dimas maupun Elvina menatap sang ayah dengan seksama, “Tolong sayangi dan lindungi Elvina, dia putri bapak satu-satunya, dia pernah kehilangan yang membuatnya terpuruk, jadi nak Dimas, bapak harap Dimas tak pernah meninggalkannya atau menyakiti hatinya, juga sayangi Yonna seperti anak sendiri.” Dimas menatap Elvina yang matanya sudah berkaca-kaca. Elvina bahkan mengusap lengan sang ayah dengan sayang. Dimas menelan salivanya, sesuatu terasa tercekat di tenggorokannya. Hingga ayah Elvina melemparkan tatapan dengan kernyitan pada keningnya karena Dimas tak jua menjawab permintaannya. “Iya Pak, saya janji,” ucap Dimas, ayah Elvina mengangguk mantap. “Kapan kira-kira keluarga kamu akan melamar Elvina?” tanyanya lagi. “Minggu depan Pak,” jawab Dimas mantap. Ayah Elvina pun menatap Elvina yang sudah tersenyum sumringah, dia memastikan bahwa Elvina sudah jatuh cinta pada pria di hadapannya ini, dan dia berharap Elvina bahagia dengan pernikahannya kali ini, langgeng sampai mereka mempunyai cucu, bahkan hingga sampai ke surga nanti. Dia pernah melihat Elvina yang sangat terpuruk ketika ditinggalkan suaminya, dia berpikir Elvina mungkin tak akan menikah lagi, jika melihat dirinya yang seolah tak tertarik pada lawan jenisnya. Namun dia patut merasa lega ketika melihat binar cinta tersirat dari mata sang putri. Dia berharap Dimas bersungguh-sungguh dengan ucapannya untuk menjaga dan menyayangi putrinya. ***   Elvina mengantar Dimas sampai ke mobilnya, sementara ayahnya telah masuk lebih dahulu setelah percakapan mereka tadi. Dimas melongokkan wajahnya dari jendela mobil dan memberikan senyuman mautnya pada Elvina yang masih membeku. “Hati-hati dijalan,” ucap Elvina. “Ya, kamu langsung tidur ya, sudah malam.” “Iya, sampai rumah kabarin ya,” ucap Elvina sambil melambai. “El,” panggil Dimas yang tak jua menyalakan mesin mobilnya. Elvina menunduk demi bisa melihat wajah Dimas, Dimas menjilat bibirnya sendiri dan mengulurkan tangan, mengusap pipi Elvina, dan agak memajukan kepalanya, mengecup bibir Elvina singkat, kecupan yang membuat Elvina terpaku dan seolah terhipnotis. “Love you El, udah sana masuk,” kekeh Dimas. Elvina memegangi dadanya yang berdegup kencang, heran dengan Dimas yang selalu saja bisa membuat detakan itu berpacu dengan cepat. “Ya ... dagh,” ucap Elvina setelah menguasai keadaan, berjalan meninggalkan Dimas yang sudah mulai menstarter mobilnya dan memundurkan mobil itu untuk parkir, lalu melaju meninggalkan Elvina yang kini membereskan sisa jamuan tadi di meja depan. Dimas mengetuk kening dengan punggung tangannya, membiarkan jendela mobilnya terbuka dan angin malam menerpa wajahnya. Dia memilih menyalakan radio untuk mengusir sepi, dan mengusir bayangan yang berkelebat di otaknya. Panggilan telepon diabaikannya. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak disimpannya, namun memakai foto profil perempuan. Kamila! *** Acara lamaran sederhana itu berlangsung dengan khidmat. Elvina dan Dimas memakai seragam yang serupa, rok batik yang dikenakan Elvina, sama persis motifnya dengan kemeja Dimas, sementara Elvina memakai atasan kebaya brukat modern berwarna abu-abu muda. Baju yang mereka beli di butik kemarin, setelah pulang kerja. Wajah  Elvina sangat cantik dengan riasan natural yang dilakukan penata rias. Dean ikut datang untuk memotret acara itu, selain ibunya dan Dean, Dimas juga mengajak beberapa anggota keluarga lainnya dari pihak ayahnya, sementara Elvina meminta saksi pertunangan itu dari keluarganya dan juga beberapa tetangganya termasuk kepala rumah tangga atau biasa dipanggil Pak RT di tempatnya tinggal. Dimas membawa banyak seserahan untuk acara tunangan itu, dan rencananya pernikahan akan dilangsungkan tiga minggu lagi dari sekarang. Ya mereka telah menentukan harinya, hari baik yang dihitung oleh keluarga Dimas yang menjalankan tradisi dari leluhurnya. Bahkan pihak mereka meminta melangsungkan acara resepsi pernikahan, karena Dimas memang tak pernah melangsungkan resepsi, mengingat pernikahannya dengan Kamila yang tanpa restu, membuat kedua orang tuanya tak mengadakan resepsi kala itu. Pada saat itu keluarga Kamila pun seolah enggan melangsungkan resepsi, mungkin terkendala biaya yang tidak sedikit. Jadi mereka hanya melangsungkan akad nikah saja. Awalnya Elvina merasa keberatan karena mereka berdua tak pernah merencakanan tentang resepsi pernikahan yang seolah tercetus dadakan dari ibu Dimas, namun Dimas yang memang tak mau membantah keingina ibunya pun berusaha meyakinkan Elvina, dengan berkata bahwa semuanya akan diatur olehnya, sehingga Elvina tak perlu terlalu repot membantu persiapannya. Dean hanya sibuk mengambil gambar, dan sesekali bercanda dengan Yonna yang tampak terpesona dengan sikap ramah dan lucu nya. Mereka sudah tampak klop sebagai keponakan dan om tentunya. Banyak gambar Yonna yang diambil Dean, gambar yang bagus atau gambar Yonna dengan berbagai ekpresi untuk meledeknya.  Setelah acara lamaran itu, keluarga Dimas pun pulang dengan dua mobil, namun sebelum pulang, keluarga Elvina sempat memberikan bingkisan untuk dibawa keluarga Dimas. Yang diterima dengan tangan terbuka, ibu Elvina cukup senang mempunyai calon besan yang tampak menyayangi putrinya, tak sombong meskipun terlihat berasal dari keluarga yang berada. Setelah kepergian keluarga itu, Elvina pun membantu membereskan sisa-sisa acara lamaran tadi, sementara Yonna dengan semangat memindahkan seserahan lamaran ke dalam kamar ibunya. Lalu dia keluar sambil menyerahkan ponsel Elvina yang tampak sudah menerima panggilan, “tante Lita, Mah,” ujar Yonna. Elvina mengernyitkan kening dan menerima panggilan itu. “Gimana lamarannya?” tanya Lita dengan suara khasnya yang cablak. Saat Elvina baru saja menyapanya. “Lancar, kenapa nggak kesini?” cebik Elvina. “Maaf lagi dirumah mertua ini, syukurlah kalau lancar, semoga pernikahannya juga lancar.” “Aamiin,” sahut Elvina namun Lita terdiam tak menanggapi ucapannya hingga Elvina mengetuk ponselnya, memastikan bahwa wanita itu masih tersambung di seberang sana. “Kok diem?” tanya Elvina. “Lo udah lihat surat cerai mereka?” tanya Lita. “Iya udah, kemarin dikirim via wa fotokopiannya, soalnya dia yang ngurus semua berkas, kenapa Ta?” “Hmm, nggak apa-apa sih, ya udah deh, lo pasti mau istirahat ya?” “Boro-boro istirahat, ini masih beres-beres, berantakan banget.” “Hahahaha yowis semangat beresin yang berantakan, termasuk tata tuh hati lo biar nggak mikirin masa lalu terus!” “Iye iye, dah sana ngobrol sama mertua lo, pedekate kek apa kek jangan dijudesin!” sindir Elvina membuat Lita merutukinya dan mematikan panggilan itu setelah mengucap salam. Elvina menggeleng melihat ponselnya. Entah mengapa dia bingung dengan Lita yang tampak tak akur dengan mertuanya? Beruntungnya dia dengan ibu Radhika berhubungan cukup baik, bahkan kini ibu Dimas pun tampak baik terhadapnya dan dia berharap ibu Dimas pun memperlakukannya seperti anak sendiri, sama seperti ibu mendiang Radhika yang memperlakukannya seperti anak sendiri. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD