CHAPTER 8

2210 Words
“HUNTER . . .” Hanya itu yang bisa aku katakan ketika aku melihat sosok binatang terbesar yang pernah aku lihat. Serigala. Bukankah sangat tidak normal jika ada serigala sebesar itu? Yah, aku sendiri juga tidak pernah melihat serigala secara langsung. Yang aku tahu, serigala yang begitu, berbentu seperti anjing dan mungkin sedikit lebih besar dari pada binatang peliharaan paling loyal itu. Namun, sudah pasti serigala normal tidak sebesar ini! Mana ada serigala yang besarnya hampir menutup pintu tinggi dan mampu membuat pintu dengan kayu jati kuat itu hancur berantakan? Lagi pula aku pernah meliat anjing malamut Alaska, atau Siberian husky, atau samoyed, cekoslowakia!  Oh, atau anjing kugsha! Mereka semua anjing yang dibilang mirip dengan serigala, dan tidak ada satu pun dari mereka yang sebesar ini! Aku menahan napas. Rasanya duniaku ikut berhenti. Yang terdengar di ruangan ini hanya hembusan angin dari pintu yang sudah roboh, dan suara geraman dari sang serigala raksasa. Aku tidak berani mengambil resiko dengan mundur atau melakukan pergerakan apa pun itu. Aku tidak ingin serigala itu mengira aku ini sebuah ancaman dan akhirnya melompat dengan ganas ke arahku. Yah, bukannya dia akan menganggap aku seorang teman juga ‘sih. Dari bawah, secara samar aku mendengar ribut yang membuatku membelalakan kedua mataku. Sial, jika mereka gaduh begitu, bisa-bisa hewan liar ini akan menjadi terintimidasi dan menyerang. Tapi, aku harap kegaduhan itu menandakan bahwa akan segera ada pertolongan yang datang. Di mana Hunter? Di mana saudara-saudaranya yang tadi itu? Di mana si bapak paruh baya yang datang dengan sangat cemas tadi? Apa mereka semua sangat sibuk dengan urusan Dean ini? Nyawaku sedang dalam bahaya! Aku melihat matanya yang berwarna biru terang. Bayangan tubuhku yang membeku bisa terlihat jelas dari pupil matanya yang bulat dan besar. Aku menelan ludah. Jika aku bayangkan, kalau serigala ini membuka mulut selebar mungkin, ukurannya pasti bisa melahapku satu kali dengan langsung. Sekaligus mengambil nyawaku dengannya. Aku hampir saja menangis begitu aku melihat pergerakan dari arah tangga yang terlihat dari belakang tubuh serigala yang sedang menimbang-nimbangku itu. Hunter. Wajahnya merah. Kausnya basah dengan keringat. Celananya sudah penuh becek dan lumpur, entah bagaimana caranya. Aku melihat rahangnya yang mengatup kuat, dan dua kepalan tangan yang siap dia lontarkan kapan saja. Matanya menatapku tajam, mencari tanda-tanda jika aku terluka. Lalu pandangan itu teralih ke arah serigala yang sedang menghalangiku dan dia. Hunter menggeretakkan giginya dengan kesal. Aku ingin sekali berteriak agar dia diam, agar  jangan macam-macam, atau mengambil resiko. Hunter memang lelaki yang besar dan kekar dan kuat, dan apa pun itu yang menyangkut dengan sisi maskulin pria. Tapi ini serigala! Binatang buas dan liar dan sangat besar. Aku tidak ingin membayangkan Hunter yang berani menantang serigala sebesar ini dan berakhir dengan darah dan tulang yang sudah hancur berantakan seperti pintu malang kamar tidurnya. Aku menggeleng, memberikan Hunter sebuah sinyal ketika dia melangkahkan kaki untuk mendekat. Pria itu terdiam, mengangkat satu alisnya. Aku menggeleng lagi, memohon agar dia tidak bertindak bodoh. Setidaknya panggil bantuan! Tapi memang Hunter yang sudah kelewat bodoh atau memang sok berani atau dia sudah tidak punya otak yang berjalan, lelaki itu malah semakin mendekat, membuat gerakan serigala di depanku terhenti. Dengan sangat perlahan, serigala itu menoleh ke belakang, gigi taringnya terlihat jelas, air liur yang mengerikan berjatuhan dari mulut laparnya. Hunter tidak mundur, tidak juga terlihat takut. Sungguh, apa dia bodoh? i***t. Seharusnya dia lari tunggang langgang sekarang, mencari bantuan, mencari pasukan yang lain, mencari siapa pun yang bisa menghadapi serigala ini (yah, walaupun aku rasa tidak akan ada yang bisa dengan mudah melawan serigala dengan ukuran seperti raksasa ini). “Hunter!” bentakku dengan bisikan yang sangat pelan. Sebesar rasa cemasku pada Hunter, aku juga tidak ingin mengambil perhatian si serigala dan membuatnya kembali memusatkan atensinya padaku. Hunter menggeleng cepat, namun serigala itu sudah mendengar bisikan menyedihkan dariku itu. Dia kembali menghadapku, mengaung, menggeram dengan kuat. Setelah itu, aku tidak tahu harus berkata apa. Rasanya seperti sedang berada di dalam film dan sedang melakukan adegan slow motion yang keren. Tapi bedanya, ini sangat tidak keren sama sekali. Yang ada, ini sangat berbahaya dan menantang nyawa. Aku tidak bergerak cepat. Seumur hidupku aku selalu menunda waktu dan bermalasan. Akibatnya, aku tidak mempunyai reflek yang cukup kuat dan gesit. Begitu serigala tadi mendengar bisikanku, menggeram dengan kuat dan menakutkan, tahu-tahu saja dia sudah menderap ke arahku dengan kecepatan penuh, gigi dan taringnya dia perlihatkan padaku sebagai ancaman paling utama. Mungkin aku berteriak dan menjerit dan menangis secara bersamaan saat itu terjadi, tapi yang jelas aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Aku juga tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi. Yang aku tahu, aku merasakan tubuhku tersentak ke belakang. Kepalaku membentur sesuatu yang sangat kuat dan tajam. Aku merintih dan meringis kesakitan. Namun, bukan itu saja. Mendadak aku merasa sesak dan keberatan. Aku sempat berpikir untuk tidak membuka mataku, memilih untuk tidak melihat kematian dengan dua mata yang jelas. Tapi, aku berpikir lagi, dan akhirnya memilih untuk tersadar. Serigala itu sedang menunduk di atas tubuhku, satu kakinya menginjak dadaku dengan tanpa ampun. Aku hampir saja berteriak lagi, atau menjerit ketakutan. Horor menyelimuti tubuhku hingga aku menggigil dan bergetar hebat. Yang aku tahu, aku pasti akan mati. Tidak mungkin gigitan dari hewan buas yang sangat besar ini bisa membuatku bertahan. Air liur yang begitu banyak menetes di wajahku, sementara aku hanya bisa membeku seperti orang bodoh. Tubuhku rasanya mati rasa. Hanya pupilku yang bekerja dengan baik. Mataku mengikuti setiap tetesan air liur yang keluar dari mulutnya. Begitu juga matanya yang menelusuri kepalaku seperti aku ini makanan empat course yang menggiurkan. Aku akhirnya pasrah. Aku biarkan serigala itu melakukan apa yang dia mau, lalu aku memejamkan mataku. Namun, rasa sakit yang aku takutkan atau rasa teror yang membuatku membeku tidak terjadi. Dadaku kembali terasa normal, napasku kembali lancar. Memberanikan diri, aku membuka mataku lagi. Bukannya mulut serigala penuh air liur yang aku lihat, melainkan hanya atap sebuah kamar dengan desain Eropa yang sangat mewah dan megah. Aku terdiam untuk beberapa lama sebelum aku mendengar bunyi gaduh, dan benda-benda berjatuhan. Suara raungan dan teriakan, dan teriakan, dan teriakan. Aku mendengar suara patah tulang yang menggema ke seluruh ruangan, dan sebuah lolongan tangis dari seekor binatang. Lalu aku rasanya melayang. Seperti tubuhku menjadi sangat ringan—sesuatu yang tidak mungkin karena aku tahu tubuhku ini berat dan besar dan gempal, jadi tidak mungkin aku bisa merasa ringan. Kepalaku berputar atau ruangan ini yang berputar aku tidak paham. Mataku yang terasa kabur, atau memang hari mulai malam? Lalu kenapa aku tidak bisa merasakan kakiku? Atau tanganku? Kenapa rasanya detak jantungku terasa begitu jauh, seperti tidak berada di dalam tubuhku sendiri. Kenapa segalanya terasa berputar? Kenapa? Aku memejamkan mataku. Membiarkan diriku tenggelam dalam kegelapan. Membiarkan tubuhku merasakan segalanya. Membiarkan kepalaku beputar dan berputar dan berputar di dalam pikiranku. Napasku semakin lama semakin terasa lambat, namun aku bisa memastikan aku masih hidup. Aku masih hidup ‘kan? Aku tidak ingat apa-apa. Yang terakhir aku ingat, aku bisa merasakan sesuatu di tanganku akhirnya. Rasanya hangat dan sangat menenangkan. Rasanya seperti dipegang oleh matahari namun dengan kasih sayang. Rasanya, aku ingin tidur saja. Lalu, suara itu. Suara yang membuatku seperti terbang. Dan dia menyebut namaku dengan lirih. “Cordelia . . .”   ~ ~ ~   Aku pikir aku mati. Berlebihan memang. Tapi ‘kan, tadi aku diserang serigala? Siapa yang tidak akan berpikir kalau hidupnya akan berakhir saat itu juga? Dan herannya, berbeda dengan apa yang sering ditampilkan di televisi, kejadian itu tidak terjadi padaku. Itu ‘loh, kejadian di mana saat kita sedang diambang kematian, atau sedang dalam bahaya, atau saat akan dibunuh dan semacamnya, seluruh kehidupan kita akan kembali terbayangkan di dalam pikiran kita seperti sebuah flash back yang terus berputar. Aneh. Apa itu hanya omong kosong biasa? Yang aku ingat hanya merasa menabrak sesuatu yang begitu keras. Lalu dadaku diinjak. Napasku tercekat. Setelah itu ruangan di mana aku berada saat itu terasa berputar dan berputar dan berputar. Aku tidak bisa merasakan kaki dan tanganku. Dan lebih parahnya lagi, aku tidak tahu apa aku hidup atau sedang berada di antara kematian dan kehidupan. Sehabis itu aku hanya ingat tanganku terasa hangat, dan sebuah suara yang merdu membuatku tidur dengan nikmat. Cordelia . . . Tunggu dulu. Aku diserang! Aku ingat! Aku diserang serigala besar dan tinggi dan mengerikan! Serigala yang seharusnya tidak ada itu alias tidak normal! Mana ada serigala sebesar itu? Dan ada di pemukiman warga pula! Aku membuka mataku dengan susah payah. Bagian belakang kepalaku masih terasa berat dan nyeri. Aku merasakan sakit di seluruh tubuhku. Tapi yang paling membuatku merintih adalah bagian d**a dan kepalaku. Aku memegang dadaku dengan kuat, mencoba menarik napas namun hanya merasakan nyeri yang cukup menyakitkan. Aku mencoba melihat sekeliling. Segalanya putih. Bersih. Di mana aku? “Kau sedang berada di salah satu bangsal rumah ini.” Sebuah suara membuatku kembali mendongak dan menoleh ke sebelah kiri. Sebuah tirai putih yang tinggi menutup siapa pun itu yang sedang berbicara. Aku menelan ludah dan membasahi bibirku yang sangat kering. “Siapa kau?” Orang itu tertawa tipis, tapi aku mendengar nada lain dari tawa tersebut. “Seseorang yang akan segera mati sebentar lagi.” Aku merinding mendengar pengakuan itu. Buru-buru aku mencoba meraih tirai tersebut, namun tentu saja aku gagal. Seperti biasa. Aku selalu gagal dalam melakukan apa pun. Ya sekolah, ya hubungan sosial, ya hidup. “Bisakah kau menggeser tirai ini?” pintaku dengan pelan. “Bisa saja. Tapi, tidak bisa.” Aku mengernyitkan dahiku padanya. “Maksudmu?” “Hm . . . aku tidak bisa bergerak.” Katanya dengan suara serak. Oh. Apa dia juga diserang serigala buas dan mematikan? Sama sepertiku? “Siapa namamu?” tanyaku. “Dean.” Rasanya aku ingin lari keluar saja. Selamat dari kandang singa, hanya untuk masuk ke dalam kandang buaya? Apa yang Dean lakukan di sini? Di sini itu di mana? Aku di mana? Bangsal rumah ini? Apa aku masih di rumah Hunter? Lalu kenapa dia bilang dia tidak bisa bergerak? Dan kenapa juga Dean masih di sini jika dia orang yang jahat? Tunggu dulu. Hunter tidak pernah mengatakan kalau dia orang yang jahat ‘sih. Tapi, dari gelagat dan perilaku Hunter juga pria paruh baya itu, aku bisa melihat jika saat itu mereka sedang tidak suka dengan perbuatan Dean. “Dean?” ulangku. “Bukankah kau yang kabur tadi pagi?” Tadi pagi? Rasa terkejut mulai benar-benar membangunkanku. Apa kejadian itu masih tadi pagi? Sudah berapa alam aku tidak sadarkan diri? Ya ampun, Ibu akan membunuhku! Dia akan memotong tubuhku jadi dua belas bagian dan membuang ampasku ke sungai dengan tanpa belas kasihan. “Hari apa ini?” “Sabtu.” Jawab Dean. Sabtu. Masih hari yang sama. Tapi, apa masih sabtu yang sama? Aku masih terus berusaha membuka tirai agar aku bisa melihat wajah dan kondisi orang di sebelahku itu. Tapi tentu saja, lagi, aku gagal. Aku membuang napas dengan kesal. “Apa yang membuatmu berakhir di situ?” tanyaku penasaran. “Kau tidak mau tahu.” “Try me.” “Hm . . . aku ingin saja cerita. Tapi aku rasa ini bukan tempatku untuk mengatakan apa yang terjadi. Dan lagi, seperti yang aku bilang, sebentar lagi aku akan mati. Jika aku mengatakan apa yang kau minta, jadwal kematianku akan semakin dekat.” “Kau berkata apa?” Aku mendengus kesal. “Apa kau masih berada dalam pengaruh obat atau semacamnya?” Dean tertawa kecil. “Tidak. Tapi sudahlah, sebentar lagi juga kau akan mengerti segalanya.” “Lalu, apa yang terjadi padamu sekarang hingga menyingkap tirai pun tak sanggup?” “Dua kaki yang patah, satu tangan yang patah, dua gigi hilang, dan wajah yang . . . yah, mungkin babak belur. Aku belum melihat bagaimana bayanganku di kaca.” Aku terkesiap. “Apa kau tertabrak truk? Jatuh dari jurang? Melompat dari gedung tinggi? Bagaimana bisa kau berakhir dengan luka seperti itu? Gila . . .” “Tidak dan tidak dan tidak. Percaya padaku, kau akan terkejut jika mengetahui apa yang terjadi padaku.” “Well, bukan hanya kau saja, tapi kau juga akan terkejut jika mengetahui apa yang terjadi padaku.” balasku tak mau kalah. “Apa kau tahu ada serigala yang berkeliaran dengan bebas?” Dean tidak menjawab untuk beberapa lama. “Dean?” Apa jadwalnya sudah datang? “Ya?” “Apa kau tahu ada serigala yang berkeliaran dengan bebas?” “Hah?” Aku berdecak. “Apa kau tahu ada serigala yang berkeliaran dengan bebas?” “Oh . . . hm . . . tahu.” “Bagaimana bisa? Serigala sebesar itu pula. Taringnya mungkin sebesar telapak tanganku! Dan ya ampun, dia bisa mendobrak pintu dengan sangat kuat hingga pintu itu tidak berbentuk lagi. Dan parahnya lagi, dia menyerang manusia dengan sangat ganas dan tanpa belas kasihan.” Dean tidak membalas perkataanku. “Itu yang terjadi padaku, Dean. Serigala tadi yang berkeliaran dengan liar. Dia menyerangku hingga aku kehilangan napas dan yah, pingsan.” Deanmasih belum menjawab. “Dean apa kau tidur?” “Tidak.” “Lalu, kenapa kau tidak menyahut? Apa aku membosankan? Maaf.” “Tidak . . . tidak . . .! Aku hanya . . . sedang berpikir.” “Berpikir tentang apa?” tanyaku untuk yang kesekian kalinya. Dean tidak menjawab. Dia hanya terdiam. Lalu aku mendengar suara orang yang bersusah-payah untuk bangun. Suara rintihan dan meringis kesakitan. Lalu tirai di sampingku itu terbuka, memperlihatkan seorang lelaki yang rasanya masih lebih muda dariku dengan perban dan bekas luka yang menyakitkan. Aku hampir saja menangis melihat kondisinya yang terlihat seperti mumi hidup itu. “Aku sedang berpikir apa aku harus mengatakan sesuatu padamu.” Aku terdiam seribu bahasa. Ya ampun, apa dia akan mengaku padaku tentang semua yang telah dia lakukan? Aku bukan polisi atau apa! Kenapa dia ingin bercerita padaku? “Aku merasa bersalah.” “Bersalah? Pada siapa?” “Pada semua orang . . . terutama . . .” “Terutama . . . ?” “Hm . . . aku rasa ini bukan ide yang baik.” Jika tidak mengingat kalau dia sedang terluka parah dan aku juga sedang tak berdaya, aku pasti sudah akan mengajak anak ini berkelahi. “Tidak baik membuat orang penasaran begitu.” “OK.” Ucapnya pelan. “Jadi begini . . .” Belum juga dia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, mendadak pintu bangsal rumah sakit terbuka dengan sentakan yang kuat. Hunter masuk dengan langkah lebar, wajahnya murka. Dean dengan sigap meringkuk di tempat tidurnya, terlihat takut dan bergetar. “Apa yang kau lakukan, Dean?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD