CHAPTER 3

1922 Words
SABTU PAGI di New Cresthill sangat berbeda dari sabtu pagi yang biasa aku lihat. Di kota kecil, suram, dan berada di pelosok daerah ini, sabtu pagi berarti hari sepi dan penuh kabut. Aku hampir saja mengumpat begitu aku keluar dari rumah. Kabut yang gelap dan cukup tebal menutup jalan di depanku. Sejujurnya, melihat kabut yang tebal begini, aku ingin mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Xander dan minum kopi bersamanya. Namun, karena janji yang sudah aku berikan, dan berhubung Xander adalah satu-satunya orang yang sudi berteman denganku di hari pertama, bahkan memebelaku dari Hunter sialan itu, aku sudah jelas tidak tega membatalkan janji dengannya. “Mau ke mana kau?” tanya Ibu dengan tangan di pinggangnya. Aku menoleh, pintu rumah kami sudah terbuka setengah. “Ke kedai kopi tidak jauh dari sini. Aku ada janji.” “Janji?” kening Ibu terangkat naik. “Janji dengan siapa?” “Teman.” Ibu tersenyum lebar. “Kau sudah memiliki teman?” “Tentu saja,” Aku hanya menaikkan bahuku. “Bagaimana aku bisa bertahan hingga lulus tanpa seorang teman? Aku tidak berniat untuk menjadi murid penyendiri yang kena rundung.” “Bukan begitu. Hanya saja, aku pikir kau tidak akan bisa beradaptasi dengan baik karena . . . yah, kau tidak menerima berita pindahan ini dengan senang.” “Bagaimana bisa aku senang jika kau merubah hidupku seratus delapa puluh derajat? Merebut semua kehidupan yang sudah aku bangun, dan membuatku berpisah dengan Axel?” Aku tidak bermaksud untuk membuat keributan di pagi hari. Tapi, aku masih belum bisa menerima hal itu. Axel sudah menjadi pasangan jiwaku sedari kecil. Sekarang, aku harus berpisah dengannya. Kami tidak pernah berpisah lebih dari satu bulan. Bayangkan. Satu bulan. Sekarang, aku tidak bisa bertemu dengannya secara langsung selama . . . entah berapa lama. Aku harap kami bisa pergi kuliah bersama. Ibu menarik napas panjang. “Kau tahu aku tidak punya pilihan lain.” “Mungkin jika kau memberitahuku alasan sesungguhnya mengapa kau tidak punya pilihan lain, aku akan bisa mengerti.” Jawabku dengan nada yang datar. Memang benar. Hingga saat ini, Ibu tidak memberikanku alasan yang pasti mengapa kami harus pindah ke New Cresthill. Untuk memulai hidup yang baru? Membuka lembaran baru bagi hidup kami? Melupakan Ayah? Karena memori Ayah terlalu banyak di rumah kami yang dulu? Ya, lalu mengapa harus New Cresthill? Mengapa harus kota terkutuk ini? “Aku sudah pernah bilang, ‘kan?” “Itu tidak cukup.” Kataku sambil bergegas ke luar. “Cordelia! Tunggu! Aku harus tahu dengan siapa kau akan bertemu.” Langkahku terhenti di teras rumah. Alisku menyatu. “Untuk apa?” “Aku hanya . . . Aku belum tahu setiap orang yang tinggal di sini. Untuk berjaga-jaga saja.” “Xander,” ucapku malas. “Xander Deathbone.” “Deathbone?” Ibu mendadak pucat. Bibirnya terbuka lebar. Aku meliriknya dengan tatapan bingung. Apa dia mengenali nama keluarga Xander? “Kenapa?” “Tidak. Aku hanya . . . tidak. Bersenang-senanglah.” “Baiklah.” “Cordelia!” Lagi-lagi langkahku terhenti. “Ada apa?” “Hati-hati.” “Tentu saja.” “Aku serius, Cordelia.” Ibu menegaskan lagi. “Hati-hati.” “Tentu saja. Kapan aku berubah menjadi remaja reckless? Tidak pernah. Aku akan pulang sebelum jam makan siang, oke?” “Baiklah.” Ibu akhirnya merelakan diriku pergi. Namun, sesuatu mengganggu hatiku ketika Ibu mengatakan kata itu. Hati-hati. Terhadap apa?   ~ ~ ~   Xander Deathbone sedang duduk di salah satu kursi yang menghadap jendela kedai tempat kami bertemu. Di jalan, kabut gelap dan menakutkan itu mendadak hilang dan membersihkan pandanganku dari kabut yang membutakan. Dari situ, aku mulai melangkah dengan berani dan percaya diri. Tidak rumit bagi diriku untuk menemukan kedai kopi itu. Olive Grove. Tempatnya terlihat rapih dan nyaman. Beberapa orangtua dan anak-anak mereka sedang menikmati sarapan. Para pelayan sibuk memasak, merapihkan meja, dan menerima pesanan. Saat aku melewati kedai itu, aku melihat Xander melambaikan tangannya dari balik jendela besar bertuliskan OLIVE GROVE DINER – SPECIALTY: BREAKFAST, COFFEE, AND DINNER. Xander hari ini terlihat sangat berbeda saat terakhir kali aku melihatnya di sekolah. Dia menengakan celana jeans pendek, dan hanya sebuah kaus berwarna cokelat gelap. Aku bisa melihat urat ototnya dan tubuhnya yang tinggi dan kekar. Buru-buru aku menghilangkan pikiran-pikiran aneh dan tidak pada tempatnya, dan bergegas menghampiri lelaki itu. Di meja, aku melihat dua gelas kopi hitam sudah tersedia di cangkir berwarna putih. Uap panas masih terlihat, menandakan kopi itu belum lama dihidangkan. Aku menawarkan senyum kecil pada Xander, yang dibalas dengan seringai lebar yang menggemaskan. “Aku harap tak apa.” “Apanya?” “Aku sudah lebih dulu memesakan secangkir kopi untukmu.” Jelas Xander pendek. “Oh, tentu saja. Tidak apa.” Sejujurnya, tentu saja itu kenapa-kenapa. Bukannya aku sok atau apa. Bukan juga aku paranoid. Namun, semenjak rajin mendengarkan cerita kriminal, teori konspirasi, dan sebagainya, rasa percayaku terhadap orang-orang semakin saja menurun. Terlebih semakin banyak saja kasus sianida atau semacamnya. Aku jujur saja tidak nyaman jika ada orang yang memesankan minum untuk diriku lebih dulu. Mana aku tahu apa yang sudah mereka lakukan terhadap makanan atau minuman itu, bukan? Tapi, yah, aku rasa Xander tidak akan melakukan itu. Maksudku, ini di tengah-tengah kedai yang cukup ramai. Masa iya Xander senekat itu? “Apa yang ingin kau pesan?” Aku sedikit terkejut mendengar itu. Pesan? Bukankah kita hanya akan meminum kopi? Tapi lagi, mana mungkin kita hanya memesan kopi hangat dan menghabiskan waktu cukup lama di kedai ini? “Hmh,” Aku melirik menu yang terletak di tengah meja. “Apa yang kau rekomendasikan?” “Panekuk di sini sangat lezat.” Aku menatapnya dengan geli. “Aku tidak menyangka kau suka panekuk.” “Lalu, apa yang kau pikir akan aku makan?” “Daging, daging, dan daging.” Candaku dengan tawa kecil. Dengan tubuh sebesar itu, sudah pasti Xander menerima protein yang tinggi dan banyak. Xander tertawa, tetapi ada nada lain yang terdengar dari tawa itu. Aku tidak tahu artinya. “Aku juga suka panekuk. Bahkan, sekedar informasi saja, aku menyukai makanan yang manis.” “Oh,” Aku menyunggingkan senyum tipis. “Baiklah. Aku rasa aku akan memesan panekuk mereka saja.” “Oke. Kalau begitu, aku akan memesan steak.” Mataku melebar. Xander lalu tertawa kencang. “Tidak. Aku akan memesan telur dan sosis aja.” Untuk beberapa saat kami terdiam. Aku sibuk menatap kopi hitamku, sementara Xander mengalihkan pandangannya pada para pelayan yang sibuk menyiapkan makanan. Rasa canggung mulai merasuki diriku. Apa yang harus aku katakan? Aku tidak tahu caranya berinteraksi begini. Apalagi membuat percakapan basa-basi. Dari bertahun-tahun aku berteman dengan Axel, lelaki itu yang selalu membuka topi pembicaraan terlebih dahulu. Dia yang hiperaktif, sementara aku hanya bias tertawa melihat tingkahnya yang berlebihan. Sekarang? Aku mati kutu. Di depanku, salah satu laki-laki paling tampan yang pernah aku temui sedang duduk dengan secangkir kopi di depannya. Bukannya aku secupu itu, tapi yah, memangnya jika ada lelaki tampan yang duduk di hadapan kalian, apa yang bisa kalian katakan? Halo, aku rasa wajahmu bisa memperbaiki keturunanku, apa kau bersedia menikah denganku? Aku rasa tidak. Xander akhirnya berhenti memperhatikan para pelayan yang sibuk memasak, dan memusatkan atensinya pada . . . yah, siapa lagi? Aku. “Cordelia.” Suaranya membuatku merinding. Aku tidak paham jika itu hal yang bagus atau tidak. Yang jelas, Xander membuatku salah tingkah. Aku tersenyum padanya, sambil menyeruput kopi hitam panas milikku. “Ya?” “Bagaimana menurutmu?” Alisku terangkat sebelah. “Bagaimana menurutku tentang apa?” “New Cresthill.” Jawabnya pendek. Untuk sesaat, aku pikir dia akan menanyakan bagaimana menurutku tentang dirinya. Atau tentang tawaran minum kopi ini—atau lebih tepatnya sarapan bersama. Atau mungkin tentang sekolah kami. Atau tentang kedai Olive Grove ini. Aku tidak menyangka dia akan menanyakan bagaimana perasaanku tentang kota kecil ini. Sial. Sejak awal aku tidak memiliki kesan yang baik tentang New Cresthill. Yang aku rasakan hanya rasa kesal dan tak suka. Sudah kecil, suram, misterius, dan berada di pelosok daerah pula. Sungguh, aku pikir aku bahkan tidak akan mendapat sinyal di kota ini. Hidup tanpa koneksi internet? Aku pasti tidak akan bertahan lama. Tapi tidak mungkin aku mengatakan hal itu padanya, bukan? Bagaimana bisa aku mengatakan kalau aku membenci New Cresthill pada penduduk aslinya? Xander menunggu jawaban dariku dengan sabar. Sesekali dia ikut menyeruput kopi miliknya. Aku melihat sebuah cincin di jari tangannya. Cincin itu membentuk dua tulang yang saling menyilang. Xander tersenyum padaku, lalu kembali bertanya, “Jadi?” “Hm, masih terlalu dini bagiku untuk bisa menyimpulkan. Sejauh ini . . . aku tidak menemukan sesuatu yang tidak biasa pada New Cresthill.” Oke. Aku rasa itu jawaban yang cukup, bukan? Xander tersenyum tipis. “Ya. Tidak ada yang tidak biasa dengan New Cresthill.” Aku menangkap nada aneh pada cara bicara Xander, namun aku tidak memedulikannya. “Bagaimana denganmu?” Xander mengangkat alisnya pada pertanyaanku. Lalu aku menambahkan, “Kau tinggal seumur hidup di New Cresthill. Bagaimana menurutmu tentang kota ini?” “Terkutuk.” Aku terdiam. Tidak aku sangka Xander Deathbone akan mengatakan kota kecilnya sebagai kota yang terkutuk. Aku memang berpikiran hal yang sama. Tapi itu karena aku harus pindah ke sini. Mengapa lelaki yang tinggal sejak lahir di kota ini akan berpikiran seperti itu tentang tempat tinggalnya? “Terkutuk bagaimana?” Xander mengedikkan bahunya. “Aku hanya tidak berpikir bahwa New Cresthill adalah kota yang menarik. Kau tahu maksudku?” Aku tahu maksudnya. Namun aku hanya mengakatakan, “Tidak menarik bagaimana?” “Kota ini tidak lagi seperti dulu. Aku tidak suka bagaimana New Cresthill mendadak berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Terlalu banyak . . . perubahan.” Untuk seseorang yang baru pindah ke kota ini, tentu aja aku tidak mengerti apa maksud dari perkataan Xander itu. Perubahan? Apa kota ini tadinya indah? Yah, aku akui memang kota ini sekarang pun indah. Tapi segalanya terlalu terlihat aneh dan . . . sedikit menakutkan. Kabut gelap. Hutan yang dalam. Pepohonan rindang. Hewan liar. Aku lebih memilik kehidupan perkotaan. “Perubahan seperti apa?” Aku menanyakan hal itu pada Xander. Lelaki itu terlihat tak dapat berkata-kata. Dia menggigit bibir bawahnya, seperti berpikir keras akan jawaban dari pertanyaan sederhanaku. Apa yang harus dia pikirkan selama itu? Kemundian Xander hanya berdecak, lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. “Jika aku katakan, aku rasa kau pun tidak akan mengerti.” “Hm,” Aku berdeham. “Aku rasa kau benar.” “Hanya saja, rasanya seperti semuanya berubah, kau tahu? Seperti, kehidupan yang tadinya aku ketahui, mendadak berubah seratus depalan puluh derajat dan kau tak dapat melakukan apa-apa. Kau hanya bisa diam, melihat setiap perubahan itu terjadi.” Jelasnya. “Dan tahu-tahu saja, seluruh kehidupan yang kau ketahui, menjadi masa lalu belaka.” Aku memandangnya dengan serius. “Aku tahu itu.” “Benarkah?” “Ya, aku tahu rasanya perubahan. Aku tahu rasanya meninggalkan kehidupanmu yang lama, dan memulai sesuatu yang baru. Aku tahu rasanya harus move on tanpa kau sadari.” Xander tersenyum. Kali ini, penuh rasa syukur. “Terima kasih.” “Tentu saja.” Pembicaraan kami terputus saat makanan datang. Pelayan bernama Sofie—yang ternyata saling kenal dengan Xander—mengantarkan makanan kami dengan senyum yang sudah terlatih. Panekuk pesananku terlihat menggiurkan. Sedangkan sosis dan telur Xander lebih terlihat menggugah selera lagi. Opini itu tidak bertahan lama. Begitu aku mengambil satu gigitan besar di panekuk pertamaku, mataku langsung melebar. Xander tertawa lepas melihat reaksiku saat memakan panekuk itu. Memang benar, panekuk ini rasanya istimewa. Berbeda dengan panekuk lain. Aku otomatis langsung menyantap sarapan itu dengan cepat.   ~ ~ ~ Xander memutuskan untuk mengantarku pulang. Lelaki itu berjalan di sampingku dengan celana pendeknya dan kaus tipis. Aku heran. Apa dia tidak merasa dingin? Udara di sini cukup sejuk. Terlebih tadi pagi ada kabut tebal yang membuat bulu kuduk merinding. Mengapa dia hanya mengenakan pakaian ala kadarnya begitu? Tapi tentu saja aku tidak megatakan apa-apa. Aku hanya menyimpan pikiran itu di hatiku. Sampai ketika kami sudah tiba di halaman rumahku, dan aku melihat sosok familiar yang membuatku hampir saja mengumpat saking terkejutnya. Yang membuat aku lebih tidak paham lagi, sosok itu juga mengenakan pakaian yang sangat similar dengan Xander Deathbone. Bajunya tipis, hanya berupa kaus hitam yang berlengan pendek. Lalu sebuah celana sport pendek yang juga berwarna hitam terlihat bagus di kaki jenjangnya. Aku menelan ludah. Tolong. Jangan ada perkelahian lagi. “Oh. Lihat ada siapa ini.” Hunter bersiul saat kami menghampirinya yang sedang bersandar di pilar teras rumahku. Aku memutar kedua bola mataku tinggi-tinggi. Hunter hanya melipat kedua tangannya di depan d**a, dan menyeringaiku dengan lebar. “Halo, Cordelia Abby Smith.” “Halo, Hunter Hawkwolf.” “Ah, senang rasanya mendengar namaku keluar dari bibirmu.” “Freak,” ujarku dengan wajah yang jijik. Sejujurnya, yah, lututku sedikit lemas melihat Hunter yang bersandar dengan pakaian ala kadarnya itu. Sejujurnya . . . he looks hot. “I can be a freak, if you want.” Hunter menggoda diriku dengan satu kedipan yang disengaja. Aku berpura-pura muntah, sambil menatapnya datar. “Apa yang kau lakukan di sini?” “Oh, aku? Menjemputmu tentu saja.” Aku mengangkat satu alis. Begitu juga Xander yang memperhatikan kami dengan penasaran. “Menjemputku ke mana?” “The Infernal Warriors.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD