Bab 49

1486 Words
"Masuk aja Dik. Gak dikunci, kok," ucapku. "Oke. Aku masuk, ya," katanya. "Iya," ucapku. Aku sudah siap dengan semuanya. Dia akan tahu kalau aku telah berkelahi habis-habisan dengan teman sekelasku, aku tidak peduli. Dia protes tentang aku yang seolah-olah melanggar janjiku, aku juga tidak peduli. Yang terpenting aku mempunyai alasan yang sangat jelas tentang kenapa perkelahian itu terjadi. Dia masuk dan memilih untuk berdiri daripada duduk di sampingku. Aku sudah menyuruhnya untuk duduk, tapi dia tidak mau. Sepertinya saat itu dia sangat kesal ke aku. Dia merasa aku telah mengkhianati kepercayaannya. Padahal asal dia tahu saja, aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengkhianatinya. Tapi keadaan telah mengalahkan usahaku itu. "Kakak berantem, kan?" tanyanya to the point. "Iya," jawabku jujur. "Sama siapa?" tanyanya lagi. "Kamu juga nggak kenal," jawabku. "Teman sekelas Kakak?" tebaknya lagi. "Iya," jawabku. Raut wajahnya yang super serius membuatku ragu untuk menanggapinya dengan sebuah candaan. Padahal dia itu adikku. Tapi dalam situasi tertentu dia bisa berperan seperti seorang kakak untukku, atau bahkan ibuku. Nasihat-nasihat yang ia berikan terlalu bijak untuk gadis seusianya. Pikirannya itu sudah sangat dewasa. "Kakak sudah janji lho sama aku. Kenapa Kakak ingkari?" tanyanya. "Kakak kan juga sudah bilang kalau ada beberapa momen di mana Kakak mau tidak mau harus melanggar kesepakatan sama kamu. Dan luka ini disebabkan oleh momen yang Kakak maksud itu," ucapku. "Tapi kenapa harus selalu diselesaikan dengan cara berantem sih, Kak? Apa gak bisa dengan cara lain?" tanyanya. Dalam pikirku, aku bergumam sendiri. Kalau bisa menyelesaikannya dengan cara lain, tentu aku sudah melakukannya sejak awal. Tapi masalahnya, apa yang terjadi pada hari itu, maksudku tentang perkelahianku dengan Alwi, meladeninya berkelahi adalah satu-satunya jalan yang bisa aku ambil. Kalau tidak maka habislah aku. "Kakak nggak usah jadi orang yang emosian. Apa-apa berantem. Ada yang jahat sedikit ke Kakak, Kakak langsung berkelahi sama dia. Ada yang menghina, Kakak memukulnya," ucapnya. "Kakak seharusnya belajar dari peristiwa Kak Soni. Kalau sampai Kakak juga dipenjara karena mukulin orang, bagaimana dengan aku sama bapak, Kak. Kakak mikir gak, sih?" lanjutnya. Aku tetap diam. "Itu kalau menang. Tapi kalau Kakak kalah, gimana? Kakak bisa terluka lebih dari ini. Kakak bisa masuk rumah sakit atau yang lebih parahnya lagi ...." Dia menggantung ucapannya, tak mampu untuk melanjutkan. Aku mengerti apa yang ia maksud. Sangat mengerti malahan. Dia tidak ingin aku kehilangan nyawa hanya gara-gara berantem. Pemikirannya memang luar biasa. Dia tahu, jika seandainya aku menang dalam berantem, konsekuensinya aku bisa saja dimasukkan ke dalam penjara. Akan tetapi jika aku kalah, maka konsekuensinya aku bisa saja dimasukkan ke rumah sakit atau lebih parahnya lagi malah ke liang lahat. "Udah! Pokoknya aku minta Kakak gak usah berantem lagi. Kalau Diapa-apain diam aja! Gak usah diladeni!" katanya. "Diam lebih baik. Kalau Kakak melawan, apa yang Kakak dapatkan nanti hanyalah sebuah kesalahan. Jadi mengalah saja, Kak," lanjutnya. Saran yang ia berikan itu, aku akui sudah cukup bagus. Tapi secara langsung, hati dan pikiranku menolak sarannya itu. Bukan karena tidak menghargai atau tidak menyetujuinya. Jujur aku suka dengan saran yang ia berikan. Tapi sialnya, aku tak bisa memakainya dalam keadaan tertentu. "Kalau saja tadi Kakak tidak melawan, mungkin sekarang Kakak gak akan berada di sini, Dik," ucapku. "Maksudnya?" tanyanya. Aku menghembuskan napasku pelan. "Mungkin sekarang Kakak udah berada di rumah sakit. Dirawat gara-gara mendapat luka yang jauh lebih parah daripada ini," jawabku. "Dia memukuli Kakak tanpa sebab. Kalau Kakak cuma diam tanpa melawan, kamu sendiri pun pasti tahu apa yang akan terjadi. Mau cuma menangkis atau menghindar pun tidak mungkin. Dia bukan anak kecil yang kehebatan berkelahinya masih sangat minim. Makanya itu Kakak lawan," lanjutku. Salsa hanya terdiam sambil terus memandangku. Itulah maksud dari aku yang sudah mempunyai alasan cukup jelas untuk menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Salsa. Harusnya dia tidak perlu tahu soal itu. Akan tetapi saat itu, kurasa dia perlu tahu. Setidaknya untuk menjelaskan padanya bahwa kakaknya ini selalu punya alasan yang jelas di setiap tindakannya. "Coba pikirkan! Mau Kakak masuk rumah sakit atau Kakak melawan dan cuma memberikan luka kecil untuk dia?" tanyaku. "Lagipula, dia yang mengawali, Dik. Tenang aja! Kalaupun Kakak dilaporkan ke polisi, Kakak bisa melakukan pembelaan. Kalau Kakak masih tetap akan dihukum, maka biarkan saja. Mungkin keadilan di dunia gak bisa Kakak dapatkan. Tapi kalau di akhirat beda lagi ceritanya," lanjutku panjang lebar. Aku berhasil membuat Salsa terdiam. Sebuah serangan balik yang hebat dariku untuknya. Gadis cerewet seperti Salsa pun pada akhirnya harus kehabisan kata-katanya untuk merespon segala kata yang aku ucapkan. "Jadi ... Kakak dipukuli sama orang itu tanpa sebab?" tanya Salsa. "Ya begitulah," jawabku. "Terus Kakak terpaksa melawannya, ya?" tanyanya lagi. Aku tersenyum tipis. "Salsa, dengerin ya! Apa yang Kakak lakukan itu pasti ada alasannya. Asal kamu tahu aja, Kakak udah berusaha sekuat mungkin untuk menjaga janji Kakak sama kamu. Tapi ... Ya kamu tahu sendiri, lah," ucapku. Dia mendadak merasa bersalah. Semua itu terlihat dari sikap diamnya. Aku tidak bermaksud membuatnya jadi begitu. Aku cuma ingin dia lebih mengerti tentang apa yang aku lakukan. Kalau soal ucapan demi ucapannya itu, sungguh sangat aku hargai. Lagipula, tidak buruk juga. Aku yang sedari awal duduk di kasur pun perlahan mulai mendekati Salsa yang berdiri beberapa meter jauhnya dariku. "Terima kasih udah mengkhawatirkan Kakak. Kakak tahu kok apa yang kamu rasain, meskipun gak sepenuhnya tahu. Terima kasih juga ya, tentang nasihatnya. Kakak senang lho kamu nasihatin kayak gini. Kamu emang gadis yang hebat," ucapku. Dia masih saja diam. "Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu. Akibat perkelahian Kakak tadi, Kakak kenap hukuman skorsing selama seminggu," ucapku. "Apa Kak? Kakak kena skorsing?" tanyanya dengan nada yang lumayan kencang. "Syut! Jangan keras-keras!" perintahku. "Ah, iya Kak. Maaf," ucapnya. "Kakak mohon sama kamu, jangan kasih tahu tentang ini ke bapak. Kasihan kalau dia tahu," ucapku. "Iya. Iya, Kak," ucapnya sambil mengangguk. Bersyukur sekali aku, karena akhirnya Salsa bisa mengerti dan mau menuruti permintaanku untuk tidak memberitahukannya ke bapak. Kalau sudah begitu, maka aku tidak perlu khawatir lagi untuk menyembunyikan luka-luka di wajahku itu. Kalau sudah ada Salsa, pastinya menyembunyikannya dari bapak bukanlah hal yang sulit. Malam harinya pun, ketika aku baru saja sampai di warung kopi, rekan kerjaku itu langsung menanyakan tentang keadaan wajahku. "Woi, kenapa tuh muka? Bonyok kayak gitu. Hahaha," tanyanya sambil menertawaiku. "Sialan! Udah tahu wajah bonyok gini malah diketawain," ucapku. "Hahaha ... Emangnya kenapa, tuh?" tanyanya lagi. "Habis berantem," jawabku jujur. "Ah, lo pasti kalah. Iya, kan?" tebaknya. "Mana ada. Gue menang. Tapi musuh gue bukan anak kecil. Pastinya sekalipun gue menang, gue tetap mendapatkan luka," ucapku. "Oh. Lumayan juga lo. Ada peningkatan," ucap Firman. "Apanya?" tanyaku bingung. "Lo lumayan. Udah jago berantem. Hahaha," katanya. "Lah. Dari dulu juga jago," ucapku sedikit menyombongkan diri. "Halah. Waktu nolongin Shela, lo kalah tuh," kata Firman. "Ya dibedain, woi! Dua lawan satu. Ya gak adil," ucapku. Dia tertawa lagi. Itulah sahabat. Aku tahu sebenarnya di dalam hatinya dia prihatin dengan luka yang aku derita. Akan tetapi lewat mulutnya dia malah menertawainya. Jujur aku lebih suka yang sepeti itu dibanding mulutnya mengucap kalau dia khawatir, tetapi hatinya mengatakan kalau dia bahagia dengan penderitaanku. Oh ya. Di malam itu pula, Shela datang bersama sopirnya dengan mengendarai mobil. Kejadian yang hampir menghancurkan masa depannya itu membuatnya tidak bisa sebebas dulu. Bahkan untuk keluar pada malam hari pun dia tidak diperbolehkan untuk sendirian. Harus ada yang menemani. Dia datang dan berbicara sangat banyak denganku. Mulai dari hukuman apa yang diberikan oleh Pak Handoko ke aku, dan bahkan sampai ia bertanya tentang reaksi bapak ketika melihat luka yang aku derita. Kalau tidak salah, saat ia bertanya tentang reaksi dari bapak, aku menjawabnya dengan sebuah canda. Bagaimana tidak? Bapak bahkan juga belum melihat keadaan wajahku kala itu. Mana mungkin bapak bisa memberikan reaksinya. Tapi dengan canda itu, aku bisa membuat Shela tertawa dan sedikit mengurangi keseriusannya. Entah dia percaya atau tidak tentang itu, aku juga tidak tahu. Pokoknya pada malam itu, dia tertawa mendengar ucapanku. Bukan itu saja. Ketika dia bertanya tentang masalah apa sehingga Alwi tiba-tiba memukulku, aku pun menjawabnya secara tidak lengkap. Pikirku, jawaban seperti apapun juga pasti akan membuat Shela tetap membelaku. Karena dia pun tahu aku tidak mungkin melakukannya. Selain itu, ada satu pembicaraan yang masih sangat kental di dalam ingatanku. Yaitu pada saat dia membicarakan soal Ryan, teman sekelasku. Dia bilang kalau Ryan telah menjelek-jelekkan aku soal kejadian perkelahianku dengan Alwi. Dia juga bilang kalau Ryan adalah dalang di balik aku yang selalu terbully. Sungguh dia mempunyai pemikiran yang sangat bagus. Karena aku pun juga sudah curiga sejak awal kalau memang Ryan lah yang menjadi penyebab atas terjadinya semua hal itu. Dia membuatku terpana dengan kata-katanya. Dia membuat janji ke aku bahwa dia akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk aku bisa keluar dari masalah yang aku hadapi. Niatnya untuk membantuku sudah tak perlu diragukan lagi. Dia benar-benar tulus untuk melakukannya. Meskipun ia tahu kalau mengubah semua hal yang sudah terlanjut terjadi itu tidaklah mudah, tapi ia tetap optimis. "Waduh! Beruntung banget lo dapat dia," ucap Firman ketika Shela baru saja masuk ke mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD