Bab 8. Sera Kehilangan Mahkotanya?

1318 Words
“Tuan maafkan saya, Nona Vira memaksa untuk masuk,” kata Evan meminta maaf. Padahal tadi sudah sekuat tenaga menahan Vira, tetap saja wanita itu tak mengubrisnya. “Rama! Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu!” bentak Vira, tak suka melihat kedekatan Rama dengan Sera. Rama pun memakai bajunya kembali, ia tak mau ada wanita lain yang melihat tubuhnya itu. Cukup istrinya saja yang melihat dirinya tak memakai baju. “Apa salahnya dia istriku,” kata Rama dengan nada cibiran. “Tidak bisa, hanya aku yang boleh melakukan itu Rama!” Vira tambah marah saat Rama lebih membela Sera daripada dirinya. “Dan kamu, perempuan enggak tau diri, pergi dari sini!” Perintah Vira, bahkan Vira sampai menunjuk Sera agar Sera pergi. “Owh baiklah, aku pergi,” kata Sera, Sera tak ingin ikut campur masalah Rama dan juga Vira. Sera juga tau kalau Vira adalah kekasih Rama, mungkin Rama dan Vira ingin membicarakan hal penting. “Baguslah,” kata Vira, merasa menang dari Sera. Ternyata sangat mudah mengusir Sera. Baru melangkah satu langkah Rama langsung menahan tangan Sera untuk tak pergi. “Kamu yang pergi Vira!” bentak Rama tak suka saat Vira berbicara itu kepada istrinya. “Aku saja yang pergi,” ucap Sera, tak mau membuat Rama dan Vira bertengkar. “Diam kamu!” bentak Rama, sambil mencengkram kuat tangan Sera. Bisa Sera pastikan tangannya akan memerah akibat cengkraman dari Rama. “Au!” Sera berusaha menahan rasa sakitnya, ia tak berani bersuara saat melihat wajah Rama yang sedang menatap datar ke arahnya. “Selagi aku ngomong baik-baik, lebih baik kamu pergi,” kata Rama dengan nada dingin dan datarnya. Ia menatap Sera dengan tatapan tajam dan menusuk, berani sekali Vira mengusir Sera. Sedangkan Sera adalah istrinya. “Rama! Aku akan laporkan ke Ayah!” kata Vira, lalu pergi dari ruangan Rama. Bisa Rama tebak, seisi rumah akan memarahinya jika Vira sudah merajuk. Tak lagi memperdulikan Vira, Rama melihat Sera. Dengan kuat Rama mendorong Sera membuat Sera terduduk di sopa. “Sera Amanda!” kata Rama mendekat ke arah Sera. Ia pun mundur saat Rama mendekat ke arahnya, ia takut melihat wajah Rama yang menatapnya degan tatapan tajam. Apalagi Rama ada di atasnya. Itu lebih membuat Rama melakukan sesak hatinya kepada Sera. Rama masih mendekat ke arah Sera, dan sampailah mereka di ujung sopa. “Mau ke mana lagi hah!” Rama berbicara dengan nada berat. Sera mengelengkan kepala saat Rama mendekatkan wajahnya ke arah Sera. Ia pun mencoba kabur dari Rama. Namun gagal. “Mau kabur dariku hah!” Rama mendorong Sera dengan sangat keras, beruntung di belakang Sera adalah sopa yang empuk. “Ra-rama, aku minta maaf, jika telah menyinggungmu,” kata Sera bermohon-mohon kepada Rama. “Maaf?” Rama bertanya dengan nada cibirannya. Sudah berkali-kali Sera menolaknya, dan kali ini Rama sangat marah. Bisa-bisanya Sera ingin pergi di saat Rama membela Sera. Di mana pikiran Sera. Padahal Rama ingin menaikkan derajat Sera agar setara dengannya, tapi Sera sendiri yang merendahkan dirinya. Walaupun Rama belum mencintai Sera, tetap saja Rama ingin Sera dihargai dan tak direndahkan. Ia tak bisa melihat ada wanita yang direndahkan, apalagi wanita itu adalah istrinya. Sera tak mengindahkan perkataan Sera, ia terus saja mendekat sampai tak tersisa jarak lagi diantara mereka. “Ini hukuman untukmu!” Rama langsung saja mencium bibir Sera dengan kasar, ia bahkan tak peduli kalau Sera akan kesakitan akibat ciumannya itu. Tak habis sampai di situ saja, Rama juga mengigit bibir Sera agar Sera membuka mulut. “Ram—“ Suara Sera tertahan akibat ciuman dari Rama. Rama membuatnya tak bisa bernapas. Tak habis sampai di situ saja, Rama juga menjelajahi leher jenjang Sera. Sera sempat memberontak, namun Rama menahan kedua tangan Sera agar tak menggangu aksinya itu. “Oh tuhan, baru pertama kali ini aku merasa dilecehkan,” batin Sera, ia hanya bisa menangis saat Rama mencium bibrinya bahkan sampai ke leher jenjangnya. “Rama …” lirih Sera, berusaha menahan suaranya agar tak mendesah. Ia takut menambah hasrat Rama nanti. Rama tak memperdulikan perkataan Sera, ia terus saja mencium, menghisap bahkan memberi tanda di sana. Rama menikmati setiap sentuhan yang ia lakukan, bahkan ia semakin ketagihan untuk menyamah tubuh Sera. Toh Sera juga istrinya tak ada yang salah ia menginginkan tubuh Sera. Tak habis sampai di situ, Rama juga membuka kancing baju Sera. Ia ingin merasakan buah d**a Sera yang kenyal. Rama yakin Sera memiliki buah d**a yang indah. Dari luar saja terlihat indah. “Ini indah sekali,” kata Rama, meraba buah d**a Sera dari luar. Ia menyeringai saat merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan saat bercinta dengan wanita manapun. “Rama aku mohon jangan lakukan itu,” ucap Sera, berusaha menahan Rama agar tak membuka bajunya. “Ini milikku,” ucap Rama dengan cepat membuka satu persatu kancing baju Sera. Bahkan Rama tak peduli dengan tangisan Sera yang memohon padanya. Rama sudah dikuasai nafsu. Ia menginginkan lebih dari Sera. “Tidak, tidak, ini tak boleh terjadi,” batin Sera mengelengkan kepala saat Rama hampir membuka bajunya. “Rama!” Dengan sekuat tenaga Sera berteriak. “Rama aku mohon jangan lakukan itu.” Sera menangis tersedu-sedu saat mengatakan hal itu, sungguh ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai Rama melakukan itu padanya. “Apa yang sudah aku lakukan,” batin Rama baru tersadar apa yang telah ia lakukan, padahal tadi ia hanya mencium Sera, tak lebih dari itu. Ia hanya memperingatkan Sera agar tak main-main dengannya, tidak ada niatnya melecehkan Sera. “Sera …” lirih Rama dengan nada berat. Ia pun bangun dan duduk dengan benar di sopa. Sekilas ia menatap wajah Sera. “Aku mohon maafkan aku Rama,” ucap Sera meraih kedua tangan Rama seperti seseorang yang memohon. Rama masih setia pada tempatnya, ia hilang akal saat melihat Sera menolaknya seperti tadi. Tangis Sera masih terdengar, bayang-bayang Rama yang menyentuhnya masih terekam jelas di otaknya. Ia tak bisa membayangkan kalau sampai Rama bertindak lebih. “Sudah kubilang jangan main-main denganku!” tekan Rama pada setiap perkataannya. “Cepat! Perbaiki bajumu itu!” ucap Rama, melemparkan syal yang dipakai Sera. Sera masih saja menangis saat Rama melakukan hal itu, ia tak bisa berkata-kata lagi. Walaupun Sera terkenal keras kepala, tapi kalau ada yang melecehkannya ia juga tak bisa melawan. ***** Terlihat Sera sudah sampai di meja kerjanya, ia sudah memperbaiki dandanannya, namun jejak air mata masih terlihat di wajahnya. “Ke mana saja Sera?” tanya Elina, ia khawatir kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Sera. “Aku tadi ke fotocopy makannya lama,” balas Sera berusaha mencari alasan yang tepat agar Elina tak curiga. “Hei perempuan murahan.” Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengabrak meja kerja Sera. Ya orang itu adalah Intan—rekan satu devisi Sera. “Intan,” gumam keduanya. “Ada apa ke sini?” tanya Elina, ia melindungi Sera di belakang badannya. “Aku enggak ada urusan sama kamu ya,” kata Intan mendorong bahu Elina untuk menjauh dari Sera. “Sudah-sudah, aku tak apa,” kata Sera, ia berjalan ke depan untuk berbicara dengan Intan. “Dengar ya, Sera, aku peringatkanmu jangan mendekati Tuan Rama, karena Tuan Rama adalah kekasihku!” kata Intan, mendorong Sera. Intan sangat kesal, saat melihat Rama terluka demi menyelamatkan Sera. Tak hanya dia saja yang marah. Semua wanita di kantor yang menyukai Rama. “Aku enggak mendekati Tuan Rama!” kata Sera membela diri, apa mereka semua buta saat melihat Rama yang duduk bersamanya. “Bodo amat, pokoknya aku enggak mau tau kamu harus menjauhi Tuan Rama!” tekan Intan pada setiap perkataannya. “Ayo cabut,” ajak Intan ke temannya. Sera menghela napas saat Intan mengatakan hal itu, ia merasa masalahnya bertambah berkali-kali lipat saat bersama Rama. Deringan ponsel Sera, mengentrupsi mereka. Sera segera mengangkap panggilan itu. Itu adalah sebuah panggilan yang harus ia jawab. “Iya?” tanya Sera melalui ponselnya. “…” “Apa?” Sera kaget mendengar hal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD